Stargate : Universe

Stargate : Universe
When We Are Together


__ADS_3

Saat pertama kali mereka diciptakan, semuanya sudah tahu bahwa mereka hanyalah makhluk hidup yang tidak berdaya, sama seperti makhluk hidup yang lainnya pula. Mereka mati setiap harinya, dan itu tidak dapat mereka cegah. Semenjak di hari pertama mereka diciptakan di dunia ini, mereka semua sudah dihadapkan dengan apa yang tidak terhindarkan.


Namun, ada sesuatu di dalam tubuh mereka yang tidak pernah diketahui. Itu adalah, sebuah kekuatan. Saat mereka bersama, mereka menjadi kuat. Sangat kuat bahkan dapat bertahan melawan apa yang mustahil untuk dikalahkan, dan tidak mungkin untuk dihancurkan. Mereka begitu kuat saat bersama, bagaikan seorang dewa yang mahakuasa. Berbagai macam wabah, bencana alam, peperangan. Mereka telah melewati semua itu, bersama-sama. Kehilangan seseorang yang disayangi, memang tidak pernah dapat mereka cegah ataupun hindari, namun itulah yang membuat mereka menjadi 'manusia'.


Begitu mereka bersatu, api tekad mereka berkobar begitu besar, hingga menjadi tak terpadamkan.


...****************...


Beberapa saat yang lalu, di ruang Limbo


Semuanya berkumpul di dalam ruangan dengan mesin berukuran masif yang ada di pusat ruangan tersebut, penuh dengan sesak. Di dekat mesin Limbo itu, adalah dua orang mechanoid yang terhubung oleh kabel. Silvia, dan Exceels namanya. Mereka tetap tidak sadarkan diri, terlepas dari seluruh keributan yang ada di sekitar mereka. Keduanya tetap diam di tempat yang sama, tidak mempedulikan seluruh ledakan peluru dan tebasan pedang yang kemungkinan dapat mengenai mereka kapan saja.


Sudah lebih dari dua jam mereka semua bertahan di ruangan yang luas namun sempit itu dari gelombang serangan Limbo M.I.N.D, hanya untuk melindungi dua mechanoid yang nampaknya tidak akan pernah bangun kembali ke realita sekarang. Yang awalnya terdapat lebih dari ratusan mechanoid yang memiliki kekuatan luar biasa di sana, kini tersisa hanya beberapa dari mereka saja yang dapat bertahan sedikit lebih lama lagi daripada yang lainnya. Beruntung alam sepertinya masih memberi mereka semua kesempatan untuk beristirahat sebentar. Saat ini, beberapa dari mereka ada yang berjaga di sekitar ruangan Limbo, sementara yang lainnya merawat mereka yang terluka ataupun menyiapkan persenjataan mereka kembali untuk gelombang serangan yang selanjutnya. Pada awalnya, keadaan di ruangan itu mulai sedikit mereda setelah ketegangan yang intens sesaat, sampai akhirnya, Bastion melihat beberapa Limbo M.I.N.D yang muncul kembali untuk menyerang mereka. Kali ini, para Limbo M.I.N.D tersebut muncul dari atas langit-langit ruangan tersebut, seolah ingin terjun langsung untuk menyerang tubuh Silvia dan Exceels yang tidak sadarkan diri begitu mereka mendarat di lantai dengan kaki mereka sendiri.


“Guys !! para M.I.N.D itu muncul lagi !! Di atas !!”


Semua mechanoid yang ada di ruangan tersebut pun langsung mendongak ke atas berkat seruan dari Bastion, kemudian langsung mengarahkan senjata mereka ke arah para Limbo M.I.N.D tersebut.


“Cih, sialan !! Padahal baru 1 menit dari serangan yang sebelumnya !!” gumam Vierra kesal.


Para Limbo M.I.N.D tersebut meraung dengan keras. Aura berwarna merah di sekujur tubuh mereka tampak lebih gelap dari pada para Limbo M.I.N.D yang sebelum-sebelumnya, menandakan bahwa tingkat infeksi mereka jauh lebih parah daripada para Limbo M.I.N.D yang menyerang sebelumnya. Rentetan tembakan peluru dan juga tebasan seketika itu juga telah mengenai sebagian dari Limbo M.I.N.D itu, yang bahkan belum sempat untuk terjun ke bawah, ataupun menginjakkan kaki mereka di atas lantai Bulwark.


“Bastion, dan mechanoid tank yang lainnya, pindahkan yang terluka ke bagian belakang ruangan !! Kita tidak bisa membiarkan zombie-zombie sialan dari Limbo ini menginfeksi mereka juga !!” seru Nero, seraya menahan para Limbo M.I.N.D untuk menjatuhkan diri mereka ke lantai dengan tembakan beruntun roketnya.


“Yes, sir !!”


Mendengar itu, seluruh mechanoid tank yang ada di sana dengan segera langsung membawa beberapa rekan mechanoid mereka yang terluka menuju ke pintu belakang dari ruangan Limbo itu. Keadaan kembali memanas. Ledakan terjadi dimana-mana, memenuhi ruangan Limbo tersebut untuk yang ke sekian kalinya lagi. Salah satu Limbo M.I.N.D akhirnya berhasil mendaratkan kakinya di atas lantai, tidak terlalu jauh dari tubuh Silvia dan Exceels yang sedang duduk di depannya. Limbo M.I.N.D itu dengan cepat langsung berlari ke arah dua mechanoid itu, hanya untuk ditebas oleh pedang besar milik Bastion yang memancarkan cahaya biru di sepanjang bilah pedangnya, sedang berada dalam keadaan overclock. Tubuh dari Limbo M.I.N.D tersebut hilang seketika menjadi partikel-partikel berwarna kemerahan, dan kemudian sudah tidak terlihat setelahnya. Melihat situasi yang ada di sekelilingnya, Bastion pun menoleh ke arah Nero yang sedang sibuk meledakkan puluhan atau bahkan ribuan dengan rentetan tembakan dari roketnya.


“Uh, jendral Nero !! Apa kita bisa mengubah rencananya saat ini !!? Mereka jadi jauh lebih banyak, menurutku !!” seru Bastion, yang kemudian menebas satu Limbo M.I.N.D lagi yang berlari secara langsung ke arahnya sambil meraung mengerikan.


Nero dengan cepat langsung menoleh ke arah Bastion yang tidak jauh darinya. Namun sebelum Nero menjawab, ia menembakkan satu peluru roketnya terlebih dahulu untuk meledakkan beberapa Limbo M.I.N.D yang hendak menyerangnya dengan cakar mereka yang tajam.


“Mereka memang jauh lebih banyak dari sebelumnya. Bastion !! Kamu tetap di dengan yang lainnya, lindungi para tank bersama dengan Tenebrion ku !! Mengerti !!?”


“Yes, sir !!”


Di saat itulah, seorang pria dengan dua pedang es yang muncul dari kedua pelindung di tangannya berseluncur di atas lantai yang membeku, kemudian dengan cepat dan juga lincah menerjang ke arah depan Bastion dan menebas beberapa Limbo M.I.N.D, menghancurkan tubuh mereka sepenuhnya. Dia adalah Tenebrion, seorang mechanoid senior yang mendedikasikan dirinya untuk tetap berada di samping jenderalnya, yaitu Nero, untuk selalu melindunginya dari bahaya apapun. Memang benar-benar senior, pikir Bastion dalam hati setelah melihat aksi Tenebrion itu dengan mata kepalanya sendiri.


“Oi, Bastion, kan ?? Tahan mereka yang ada di samping kanan dan kiri, aku bakalan bersihin semua yang ada di depan, oke ??”


“Oye !!” Bastion menjawab, dengan memberikan tanda perfection menggunakan tangan kanannya.


Tenebrion mengamati Bastion selama beberapa saat, sebelum akhirnya memberikan anggukan pada Bastion dan kemudian melesat ke arah depan, menembus semua barisan Limbo M.I.N.D yang menghalangi jalannya. Di dalam hatinya, ia mengatakan bahwa mungkin ia akan menjadi teman baik dengan si junior yang bahkan baru ia ketahui eksistensinya di Bulwark itu. Bastion namanya, ia akan selalu mengingat itu, bahkan jika suatu saat nanti ia tidak akan menjadi manusia lagi.


“Vierra, kamu lindungi dua orang itu saja. Sisanya, serahkan pada ayah dan yang lainnya !!”


Vierra sempat berhenti sesaat setelah mendengar perintah dari ayahnya itu, Nero. Namun setelah ia menebas kepala dari Limbo M.I.N.D yang lainnya lagi, ia tanpa melakukan perlawanan sedikitpun langsung melesat ke belakang tubuh Silvia dan Exceels yang terhubung dengan kabel ke Limbo, menetap di sana untuk melindungi mereka yang tidak sadarkan diri.


“Sebaiknya kalian berdua keluar lebih cepat dari sana, duo bajingan.......” gumam Vierra, melihat ke sekelilingnya bahwa ia dan kedua orang yang sedang berada di dalam Limbo itu telah dikerumuni oleh para Limbo M.I.N.D entah sejak kapan.


Vierra mendecih kesal. Melihat tampang para Limbo M.I.N.D yang mengerumuninya itu, membuatnya berpikir bahwa virus apapun yang sedang menyerang Bulwark dan juga Limbo saat ini, juga telah membuat para Limbo M.I.N.D bermutasi menjadi makhluk yang lebih mengerikan lagi, bukan hanya manusia Limbo yang tak terkendali. Bantuan dari Bastion dan Tenebrion memang sedikit memberinya banyak ruang untuk tetap bergerak selama menahan para Limbo M.I.N.D yang bermutasi tersebut, namun itu tetap saja tidak mengubah fakta bahwa jumlah mereka seolah tak terbatas saat ini.


“Lambat, tapi kuat....... Sudah pasti itu kekuatan baru sialan kalian, bukan !!?” gumam Vierra lagi, memasang kuda-kudanya dan menatap tajam ke arah depan.


Vierra memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedangnya, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan beberapa saat kemudian, menghilang dalam kecepatan tanpa pemberitahuan sama sekali. Ribuan tebasan seketika menghancurkan tubuh para Limbo M.I.N.D yang tidak tahu sama apa yang terjadi sebenarnya. Mereka, hanya menghilang begitu saja seperti tidak pernah ada sebelumnya. Bastion sempat tercengang melihat apa yang bisa dilakukan Vierra dengan kedua pedangnya itu, namun di saat-saat yang kacau seperti saat ini, tidak pernah ada waktu satu detik pun untuk kagum terhadap seseorang. Hanya selang beberapa detik saja terlewati, dan sebuah cahaya biru telah menembus kepala salah satu Limbo M.I.N.D yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh Bastion ada di samping kirinya.


“Dia cewek ku, bajingan !!” seru Gamma, dari atas cincin energi Limbo yang begitu tinggi, sangat jauh dari lantai.


Bastion bahkan hampir tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Ia hanya mengacungkan jempolnya ke atas, kemudian lanjut untuk menahan serangan Limbo M.I.N.D yang selanjutnya. Gamma mendecih kesal, dan setelah itu kembali menembaki para Limbo M.I.N.D yang muncul dari langit-langit.


Mereka sangatlah kuat saat bertarung bersama, bagaikan seorang dewa yang maha kuasa.


Namun itu semua tidak pernah mengubah fakta bahwa mereka masihlah makhluk bumi yang terbatas........


...****************...


Ruang Limbo masih diisi dengan peperangan saja. Peluru terbang ke berbagai arah, dan raungan keras ada di penjuru ruangan. Sudah lebih dari 35 menit sekarang. Hampir satu jam sekarang. Serangan para Limbo M.I.N.D tak kunjung berhenti pula. Mereka dipaksa untuk mundur, namun misi mereka untuk melindungi dua orang itu tidak memungkinkan mereka untuk melakukannya. Sedari tadi, Nero masih menahan para Limbo M.I.N.D yang terus-menerus menerobos masuk ke dalam ruangan Limbo tersebut, sementara yang lainnya pergi ke belakang ruang Limbo untuk melindungi mereka yang terluka. Pada awalnya, ada beberapa dari mereka yang terluka menyerahkan diri mereka untuk ikut bertarung bersama dengan Nero, namun ia justru menolak bantuan mereka.


Jumlah yang banyak, tidak akan berguna kalau mereka semua tidak bisa bertarung. Lebih baik satu orang tua yang mati di sini dari pada ribuan orang muda dan juga masa depan manusia.


Itulah yang dikatakannya seraya berjalan menjauh dari ambang-ambang pintu belakang ruangan Limbo. Vierra hanya bisa melihat punggung ayahnya itu tanpa dapat melakukan apa-apa selain menunggu akhir dari peperangan tersebut yang tersembunyi dalam-dalam di balik kegelapan. Sementara Vierra dan yang lainnya menunggu akhir peperangan yang mungkin tidak akan pernah datang, satu orang yang paling tua di antara mereka tengah menahan ribuan manusia dari Limbo yang bahkan tidak hidup ataupun mati. Dari luar, masih dapat terdengar dengan jelas suara rentetan ledakan Nero. Selagi ia membantu untuk merawat luka para Militus dan mechanoid yang terluka parah, Vierra juga berharap dalam hatinya bahwa ia masih bisa mendengar ledakan dari ayahnya itu lebih lama lagi.


Semoga saja dia tidak mati cuma gara-gara melindungi dua orang sialan itu.


Begitulah yang dikatakan olehnya dalam hati. Awalnya masih ada sedikit api harapan yang berkobar di dalam hatinya, namun itu semua padam seketika di saat seluruh lampu yang masih berusaha bertahan untuk tetap memancarkan cahayanya kini digantikan dengan nyala merah terang dan juga bunyi alarm peringatan yang memekakkan telinga. Di antara para Militus dan mechanoid yang berbaring di atas lantai itu, berdiri seorang wanita yang berpakaian paling mencolok di antara yang lainnya. Vierra sudah tahu siapa itu, dan juga berita buruk yang dibawa bersama dengannya jika dia berdiri seketika dengan wajah yang sepanik itu.


“Virusnya sudah ada di setiap ujung Bulwark, dan ada satu Prophet yang masuk ke ruangan ini !!”


Hanya dengan satu kalimat dari Maria saja, semua Militus dan mechanoid di ruang belakang itu menjadi panik seketika. Vierra menoleh ke arah Gamma dan Mox Luna yang ada di samping kirinya, sambil memegang salah satu pedangnya dengan erat. Mereka ingin membantunya sekali lagi, namun apa yang dikatakan oleh Nero waktu itu bukanlah sebuah penolakan biasa. Itu, adalah sebuah perintah.


“Dua orang itu....... Mereka sebenernya ngapain aja di dalem sana, sih ??!” gumam Vierra.


“Semuanya akan kembali normal lagi, Vierra. Tenang aja.......”


“Itu gak mungkin kalo kita cuma diem di sini aja, bodoh !!”


Tidak peduli siapa yang mengatakan itu kepadanya, Vierra tetap akan meneriaki orang itu, bahkan jika orang tersebut adalah pacarnya sendiri. Mereka harus melakukan sesuatu. Tidak mungkin mereka diam saja di ruang belakang sementara harapan terakhir umat manusia akan segera hancur di tangan para nabi kepalsuan yang mengancam mereka selama ini. Kenapa manusia terlalu lemah ? Apakah itu karena, mereka tidak bersama saat ini ??


Ledakan masih terus terjadi, seakan tidak akan pernah berhenti untuk selamanya. Nero masih menembaki ribuan Limbo M.I.N.D yang menyerang dirinya dan juga kedua mechanoid yang terhubung ke dalam Limbo itu, sekaligus seorang Prophet raksasa dengan sebuah pedang bercahaya merah di tangan kanannya.


“Prophet....... Katanya si WGARR itu ada dua dari mereka padahal........” gumam Nero.


Setelah berhenti sesaat, Nero menembak lagi, mengarahkan seluruh roketnya kepada Prophet raksasa di depannya itu. Rentetan ledakan seketika menghancurkan seluruh Limbo M.I.N.D yang ada di sekitarnya, namun tidak dengan Prophet tersebut. Jubah hitamnya memang rusak parah karena ledakan itu, namun tubuhnya baik-baik saja. Seseorang, dalam tubuhnya yang berwujud semacam hologram berwarna merah keoranyean, melindunginya dengan sebuah perisai tak terhancurkan. Pria hologram itu tersenyum menghina, kemudian memberikan jari tengah kepada Nero sebagai sambutannya.


“Sialan, apa-apaan kalian ini sebenarnya ??” gumam Nero, mengarahkan kedua tangannya kepada dua Prophet itu kembali.


Sementara ia berjalan mundur menjauhi kedua Prophet tersebut yang mendekatinya, Nero menembaki mereka tanpa henti dengan rentetan dari roket peledaknya. Tidak ada luka apapun yang dialami oleh kedua Prophet itu, dan tidak ada satupun ledakan yang dapat menghentikan ketika mereka berdua telah menjadi satu kesatuan.


“Ini semua sia-sia, manusia. Kalian tidak bisa menghentikan kehendak sang bintang merah !!” seru Prophet raksasa tersebut.


“Persetan dengan dewa bodoh kalian, Prophet bajingan !!“


Nihilism mulai kesal, seketika berlari dan mengayunkan pedangnya tepat ke arah dada Nero seketika. Di saat itu juga, Nero terlempar ke belakang hingga ke mesin utama Limbo, hampir menjatuhkan tubuh tanpa kesadaran Silvia dan Exceels yang ada di sana. Nero dapat merasakan bahwa tubuhnya mulai melemah, dan mengeluarkan darah. Darah. Sebuah cairan dimana saat itu keluar dari tubuh manusia, kematian yang tak dapat dihindari sudah pasti akan segera menjemput orang itu. Sudah tidak ada harapan lagi. Ini sudah saatnya bagi dia untuk menyerahkan harapan terakhir umat manusia, kepada orang-orang yang saat mereka bersama, bagaikan mereka bagaikan seorang dewa.


Dengan sisa kekuatannya, Nero meraih comms yang ada di telinga kanannya, kemudian berbicara, mengatakan sesuatu pada mereka yang bersembunyi dari yang tidak dapat dikalahkan. Yang tidak dapat dihancurkan.


“Vierra......... Kalian semua......... Para Prophet sialan itu......... Mereka bergabung menjadi satu !!”

__ADS_1


“Itu tidak akan membantumu sama sekali, manusia.” ucap Nihilism, perlahan mulai mengangkat pedang cahayanya.


“Memang bukan aku yang selamat dari sini........ Tapi mereka....... Mereka yang akan menghancurkan perisai tak terhancurkan sialan mu itu, Prophet bajingan !!”


“Amigo, bunuh orang itu saja, sekalian dengan dua orang ini yang mencoba menghentikan kebangkitan 'nya'.......”


“Itu benar. Kebangkitan 'nya', tidak boleh dihentikan oleh makhluk-makhluk rendahan seperti kalian ini. Dia, adalah sang penyelamat yang sebenarnya. ”


Nero mendecih kesal, namun ia tidak dapat melindungi tubuh Silvia dan Exceels lebih lagi. Ia sudah sangat tahu tentang itu, dan ia pun tidak akan mencoba untuk memaksakan dirinya melewati batas layaknya film-film superhero yang sempat terkenal di zaman emas dahulu. Nero memejamkan matanya, menyerahkan kematiannya sepenuhnya pada sang Prophet bertubuh raksasa itu yang memegang pedang, dan Prophet lainnya yang berwujud hologram di balik punggung Prophet raksasa tersebut.


Jika ia mati sekalipun, ia tahu bahwa ia tidak akan sendirian melangkahkan kakinya ke tujuan terakhir dirinya sebagai seorang manusia yang lemah, tak berdaya. Dalam kegelapan saat ia memejamkan kedua matanya itu, ia begitu yakin bahwa mereka yang bersembunyi di ruang belakang sana, nantinya akan segera bersatu kembali, bersama-sama maju untuk merebut apa yang diambil dari mereka. Bahkan jika ia pun diberikan sedikit waktu lebih saja, ia tidak akan berusaha untuk melawan balik. Ia tetap akan memejamkan matanya. Ia akan mendengarkan suara derap langkah kaki mereka yang berlari sambil berteriak sekencang-kencangnya, semampu mereka, bahkan sampai suara mereka habis sekalipun. Derap langkah kaki itu, teriakan perang itu, dan mereka yang berlari bersama-sama menyerbu 'ketidakmungkinan' di hadapan mereka itu, adalah bukti bahwa api tekad mereka masih belum padam bahkan saat mereka sudah sangat terpojok sekalipun. Semua itu, adalah bukti bahwa manusia, masih akan memperjuangkan satu-satunya rumah terakhir mereka yang tersisa di alam semesta yang begitu luas ini.


Kini, sudah saatnya bagi orang yang tua tersebut, pergi, diambil oleh sang dewa dari antara kedua anaknya. Sudah saatnya bagi kedua orang muda yang saling berpisah itu, bersatu kembali, melakukan hal yang selalu mereka lakukan bersama-sama, dan membuktikan bahwa tidak peduli selemah apapun mereka diciptakan pada awalnya, mereka masih mampu untuk melampaui sang 'dewa'.


Semuanya itu, adalah sebuah bukti dari kekuatan mereka para manusia saat mereka......


Bersama !!


...****************...


“Kalian dengar itu ? Yang dikatakan ayahku ??Mereka bergabung jadi satu.”


“Sialan....... Membunuh satu Prophet saja sudah tidak mungkin, apalagi dua Prophet yang jadi satu.......”


Vierra sedang berdiri di dalam ruang belakang Limbo, di antara banyaknya Militus dan mechanoid yang sedang berbaring lemah karena luka parah di berbagai tubuh mereka. Hanya Vierra dan Maria saja yang berdiri di dalam ruangan yang sempit itu, sementara mereka yang terluka hanya saling berbisik satu sama lain sambil memasang wajah kehilangan harapan mereka. Pemandangan yang lemah nan menjijikkan itu membuat Vierra menggertakkan giginya serta mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, hampir seperti akan menghancurkan pegangan pedangnya sendiri.


“Semuanya, Bulwark mulai bergerak dengan sendirinya !! Saat ini, kita sudah melenceng sejauh 35,050° dari posisi jangkar utama, menuju langsung ke arah Mars !!” ucap Maria yang tidak berhenti mengamati hal-hal baru yang muncul di layar hologramnya, semakin memperburuk suasana.


Ruangan itu menjadi hening seketika. Sedikit sekali dari mereka yang mulai menghitung waktu, jarak antara Bulwark dengan planet merah tersebut saat ini. Benar-benar menjijikkan. Benar-benar....... Menyedihkan.


“Begitulah. Kalian memang bukan apa-apa selain seorang pengecut dengan senjata ternyata.........” gumam Vierra, menunduk ke bawah karena kecewa.


Semua mata, baik Militus maupun mechanoid, seketika tertuju hanya pada satu arah. Hanya kepada, gadis remaja berumur 20 tahunan yang berambut merah panjang itu, yang bernama Vierra. Beberapa dari mereka kesal saat disebut sebagai pengecut gadis berumur 20 tahunan yang bahkan jauh lebih muda daripada mereka, namun itu semua sirna seketika saat mereka akhirnya menyadari, bahwa apa yang dikatakan oleh Vierra memang ada benarnya.


“Kalian lupa, apa yang sebenarnya kita lakukan di kota luar angkasa yang melayang di tengah-tengah kehampaan ini !!? Apa kalian lupa, waktu pertama kali kalian masuk sebagai tentara di kota yang melayang ini !!? Sumpah kalian yang mengatakan bahwa kita, hidup hanya untuk bertarung dan melindungi orang-orang yang lainnya, kemana kalian buang semua itu, bangsat !!? Kita di Bulwark ini bukan untuk berjalan-jalan di Elysium atau minum-minum di kafetaria aja, bodoh !! Kita di sini sebagai Militus dan mechanoid, ada sekarang ini untuk bertarung demi masa depan manusia !! Kalian akhirnya ingat sumpah itu akhirnya !!? Kita bukan tikus yang sembunyi di bawah meja-meja, tapi si kucing yang mengejarnya tanpa henti, bodoh !! Jika kalian benar-benar menyebut diri kalian sebagai pahlawan, maka lawanlah semua orang yang mengancam seluruh pesawat ruang angkasa ini seperti tidak ada hari esok, sialan !! Aku yang bakalan maju duluan menyelamatkan ayahku di luar sana, setelah itu pacarku, Gamma, mechanoid dari Myriad Angel yang kebetulan aja mulai terus menempel di dekatku, dan setelah itu, semua sisanya yang selalu dipercayakan oleh jenderal tua brengsek itu ke dalam misi ini dari belakangku !! Aku gak peduli dengan apa yang kalian semua akan lakukan di dalam sini selama aku dan mereka-mereka ini bertarung melawan Prophet sialan yang bermutasi itu, tapi setidaknya, aku dan mereka semua tidak akan mati dengan diam saja, bajingan !!”


Setelah hening sejenak, Gamma pun membidik ke arah pintu dari ruang belakang Limbo tersebut dengan senapan sniper miliknya, yang ada tepat di samping kanan Vierra. Beberapa dari mereka yang tidak terluka terlalu parah, pada akhirnya mulai berdiri, menyiapkan persenjataan mereka. Hanya dengan satu suara dari satu orang itu saja, telah berhasil untuk membuat beberapa dari mereka yang awalnya ketakutan rela untuk ikut melawan sang penghancur yang ada di luar sana bersama-sama dengan mereka. Seperti layaknya dua saudara yang selama ini, dipersatukan hanya oleh satu orang saja, mereka pada akhirnya kembali kepada apa arti dari keberadaan mereka sebelumnya, dan juga sebenarnya.


Semakin banyak Militus dan mechanoid yang mulai berdiri untuk sekali lagi, termasuk Echo dan juga Amelia. Setelah beberapa saat, ketika jumlah mereka yang bangkit kembali itu sudah dirasa cukup, Gamma pun menarik pelatuk dari senapan sniper nya, meledakkan pintu tersebut seketika. Vierra, dan semua yang akhirnya ikut bertarung bersama-sama dengan mereka, pada akhirnya menghadap pada satu arah yang sama. Mereka semua pun berteriak, mengeluarkan api semangat mereka yang sudah amat lama padam karena dirundung oleh kegelapan itu sendiri. Mereka berlari. Derap langkah kaki mereka menggema begitu keras di seluruh penjuru ruang Limbo itu, dan teriakan perang mereka menjalar hingga ke bagian paling dalam dari gendang telinga musuh-musuh mereka.


“Serang !! Serang babi palsu bajingan itu !!” seru mereka, bersama-sama.


Nihilism menoleh ke arah para Militus yang berlari ke arahnya layaknya orang gila yang sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Ia menunjuk ke arah mereka, dan di saat itulah ribuan Limbo M.I.N.D muncul secara tiba-tiba, entah dari mana, menyerbu ke arah mereka pula. Deru perang menggelegar di saat itu juga. Ribuan peluru melayang ke berbagai arah, dan dari berbagai arah, seperti di awal-awal ketika masih banyak dari mereka yang tidak terluka. Seperti ketika api tekad mereka masih berkobar layaknya api liar yang mengerikan, yang dapat membakar segalanya. Tiap peluru yang melayang di dalam ruangan itu, walaupun jumlahnya begitu banyak, namun itu bukanlah tembakan asal saja. Semuanya terkoordinasi begitu tepat, begitu cepat, melibas segalanya yang berusaha untuk menyerang mereka, katakan menyentuh mereka saja pun juga tidak bisa.


Para Limbo M.I.N.D hanyalah seperti butiran-butiran debu yang melayang di udara, yang ditembus begitu saja ketika mereka para manusia berlalu lalang di setiap harinya. Melihat semua kebodohan itu, Nihilism menjadi kesal. Ia berlari. Ia mengangkat pedang bercahaya miliknya dengan tangan kanan raksasanya itu. Seharusnya, itu adalah pemandangan yang paling mengerikan di mata mereka para manusia fana. Namun sekarang, itu sudah tidak lagi sama. Tidak, ketika mereka bertarung bersama-sama, melawan musuh yang sama pula.


“Menjauhlah, dasar kalian nabi palsu sialan !!”


Tiba-tiba saja, seorang pria mendarat dari atas bersama dengan pedangnya yang memancarkan cahaya biru terang, meledakkan seluruh Limbo M.I.N.D yang pada awalnya ada di sana memenuhi ruangan.


Bastion, kamu adalah seorang mechanoid tank. Pedangmu bisa menangkis serangan apapun, bukan ? Gunakan itu. Lindungi para Militus yang menembaki orang-orang gila dari dunia lain sana, dan di saat yang bersamaan pula, pakai besi berukuran raksasa itu untuk menghancurkan nabi palsu sialan itu.


“Ini bukan besi berukuran raksasa doang, tau !! Namanya Buddy !! Great Buddy !!”


Terserah. Kedengaran seperti seorang peledak super yang tersesat di planet lain penuh dengan air, yang menamai senjatanya sendiri dengan nama yang aneh.


Sigh.......


“Kamu bicara dengan siapa, manusia rendahan !!?” tanya Nihilism, yang berlari ke arah Bastion sekali lagi setelah langkahnya sempat dihentikan oleh ledakan darinya.


“Itu rahasia....... Bodoh !!” seru Bastion sambil mengayunkan pedang raksasanya dengan seluruh kekuatannya.


Kedua pedang saling bertabrakan satu sama lain, meledak dengan setiap kekuatan yang mengendalikan mereka. Cahaya biru dan merah saling melawan satu dengan yang lainnya, layaknya cerita lama ketika dua dewa-dewi yang berbeda saling bermusuhan selama ribuan tahun lamanya. Yang satu adalah kedagingan, dan yang satunya lagi adalah pemesinan. Nihilism dan Bastion dibuat hampir dilontarkan ke belakang oleh kekuatan yang tidak dapat mereka kendalikan, namun itu saja tidak akan menghentikan mereka berdua untuk saling menyerang kembali. Satu kali, dua kali. Tiap ayunan, dan tiap tabrakan kedua pedang raksasa tersebut, meledakkan keduanya hingga ke belakang, namun mereka masih belum ingin menyelesaikannya di sini. keduanya saling menghantamkan pedang mereka masing-masing, dan untuk yang kesekian kalinya, mereka didorong sekali lagi ke belakang oleh ledakan kekuatan kedua pedang tersebut. Hanya saja, Bastion kali ini memutar pedang raksasanya seraya ia mundur ke belakang, berhasil menebas 'sesuatu' yang pada awalnya, Nihilism mengira bahwa itu adalah mustahil untuk ditembus, apalagi untuk dihancurkan oleh kekuatan dari seorang manusia fana.


“Flambeau, apa-apaan ini !? Kenapa perisai dari IMP mu justru melemah, badut !!?”


“Gran chico, mereka sepertinya berhasil melakukan 'sesuatu' di 'dalam' sana.......” bisik Flambeau kepada Nihilism sambil menunjuk ke arah mesin Limbo yang menjulang tinggi di tengah-tengah ruangan tersebut.


Limbo sudah tidak seharusnya memancarkan cahaya biru secara redup seperti itu ketika berada dalam infeksi IMP. Seharusnya itu memancarkan cahaya merah. Sudah pasti, dua orang yang masuk ke dalam mesin virtual tersebut telah berhasil mengalahkan penyelamat baru mereka.


“Bajingan !! Beraninya kalian menolak dari pencerahan kami, penyelamatan absolut kami, manusia rendahan !!”


“Santai dulu, gran chico. Kamu sedang mengacau di sini, tau !!” bisik Flambeau sekali lagi.


“Bro baru, aku gak tau mereka itu kenapa sebenarnya, tapi........ Ini sudah saatnya buat kamu naik ke panggungnya, kayaknya........” ucap Bastion lewat comms di telinganya.


“Heh, da mihi.”


Tenebrion, kamu adalah attacker yang paling cepat di sini. Sudah pasti kamu tidak akan pernah bisa tertangkap oleh Goliath dan pembawa perisainya itu. Serang di saat mereka tidak bisa mengontrol ledakan dari pedang Bastion. Itu akan membuat keadaan menjadi 'double the trouble' buat mereka.


“Ye.”


Seorang pria meluncur di atas lantai yang dibekukan bagaikan sedang bermain ski di atas salju abadi. Tanpa kata-kata, dan tanpa peringatan sedikitpun, pria tersebut berputar dengan kedua pedang es di tangannya seraya berseluncur melewati tubuh tinggi Nihilism, meninggalkan sebuah tebasan rapi di sekitar dadanya. Nihilism sedikit tersentak ke belakang lebih jauh lagi karena serangan mendadak Tenebrion barusan. Ia menoleh ke arah kiri, dan hal pertama kali yang dilihatnya, adalah Tenebrion yang telah melompat tinggi dengan bantuan dari kecepatan geraknya, kemudian menendang sebuah bola kristal es yang seketika itu juga meledak dan membekukan kedua kaki Nihilism.


“Luna !!”


Tepat setelah Tenebrion meneriakkan namanya, sebuah miniatur lubang hitam seketika muncul di belakang Nihilism, menarik sekaligus menahan kedua tangannya dengan tarikan kuat dari gravitasi lubang hitam tersebut.


Mox Luna, kamu adalah satu-satunya tipe support yang paling kuat di sini. Pakai black hole mu itu saat Tenebrion sudah membekukan kedua kakinya, biar dua bajingan yang bergabung jadi satu itu tidak bisa menggunakan kekuatan dari seluruh tubuhnya dan membebaskan diri dari bekuan es itu.


“Sangat paham, lady Maria !!” jawab Mox Luna dengan sangat serius.


“Harusnya, mereka tidak sesusah ini untuk dikalahkan, badut !!? Ada yang mengendalikan mereka sepertinya !!”


“Dan aku tahu dimana orang yang mengendalikan mereka itu, gran chico.”


Setelah beberapa saat mendengar bisikan dari Flambeau, Nihilism menoleh ke arah yang diberitahukan kepadanya. Di sanalah, di dekat pintu ruang belakang dari Limbo itu, seorang wanita berpakaian paling mencolok berwarna ungu dan sebuah topi fedora di kepalanya terlihat sedang berbicara kepada semua Militus dan mechanoid lewat comms nya yang ada di sebuah layar hologram yang sangat lebar, terlalu lebar untuk dikatakan sebagai comms biasa. Nihilism menggeram, menggertakkan giginya, dan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk terlepas dari tarikan kuat lubang hitam Mox Luna yang ada di belakangnya itu. Ia sempat mengubah tangan kanannya menjadi sebuah senapan panjang, namun semuanya menghilang seketika itu juga dilahap habis oleh lubang hitam tersebut. Kini, hanya tangan kirinya saja yang tersisa, dan juga tubuh hologram Flambeau yang menempel di punggungnya.


“Flambeau, tembak manusia itu sampai mati !!!”


“Bueno.”


Dengan tangan kanan tak berwujud miliknya, Flambeau mengarahkan shotgun nya kepada wanita tersebut, kemudian menembakkan sebuah peluru peledak yang sangatlah kuat, hingga Nihilism sendiri dapat merasakan recoil nya saat ia sendiri tidak dapat bergerak oleh tarikan dari black hole di belakangnya itu. Peluru itu melesat di udara dengan sangat cepat, hanya untuk dihentikan oleh pedang Amelia, dan dibalas dengan tembakan dari Echo dan juga Gamma.


“Rasakan ini, sialan !!” seru keduanya dengan suara lantang.


Dua peluru seketika melesat, berbalik kepada Nihilism dan Flambeau yang awalnya tidak pernah melihat ketiga orang tersebut di sekitar wanita itu sekalipun. Peluru es Gamma menembus bagian di mana jantung seorang manusia seharusnya berada, sementara peluru api Echo menembus rahang tengkoraknya Nihilism, membuatnya retak seketika.

__ADS_1


“Heh, sasaran mu bagus juga, pemula.” ucap Gamma.


“Punyamu juga, si paling senior.” balas Echo.


Kepala Nihilism dibuat menoleh ke samping kiri karena dorongan kuat dari peluru api tersebut, membuatnya tidak sadar bahwa seorang gadis remaja berumur 20 tahunan, telah melompat dari titik buta penglihatannya dan dengan kedua pedangnya yang telah bergabung menjadi sebuah tombak panjang.


“Yang kamu bunuh itu, adalah ayahku, bajingan !!”


Nihilism yang tidak bisa bergerak sepenuhnya hanya dapat menoleh ke arah sumber suara tersebut, hanya untuk mendapatkan satu serangan lain yang mengenai rahang kirinya.


“Aw, itu pasti menyakitkan, gran chico.”


“Diam kau, badut !!”


Di saat itu juga, Nihilism menjadi samsak tinju bagi Vierra dan juga Tenebrion, mendapatkan ribuan tebasan di berbagai bagian tubuhnya. Serangan terakhir mereka seharusnya sangatlah menyakitkan dan juga mematikan, ketika Vierra dan Tenebrion melesat dari belakang ke depan, meninggalkan puluhan tebasan di leher besar Nihilism. Namun ia masih bernafas. Ia masih hidup, bagaikan seorang dewa yang tak terkalahkan.


“Masih mau kena 'pedang' ku lagi, hah !!?” tanya Vierra dengan penuh amarah, berbalik kepada Nihilism sambil mulai mengayunkan tombaknya dengan kekuatan penuh.


“Flambeau !!”


Mendengar namanya disebut sekali lagi, Flambeau menarik sebuah pedang rantai dari tubuh hologramnya, mengayunkannya dengan cepat dan hampir menebas kepala Vierra dan Tenebrion dalam sekali serangan. Hanya saja, itu tidak pernah terjadi, ketika sang penghancur yang sebenarnya, datang dan mengambil alih seluruh spotlight yang mereka miliki sebelumnya. Sebuah pukulan tak terduga dari sang penghancur, yang melesat dari arah kiri Nihilism, yang seketika menghancurkan rahangnya begitu saja. Pukulan itu sangatlah kuat, sampai-sampai lubang hitam Mox Luna dibuat menghilang seketika karenanya. Pria tersebut akhirnya berhenti tidak jauh dari Nihilism yang telah kehilangan rahang bawahnya, meninggalkan beberapa tanda overclock di lengan kanannya yang mengeluarkan berkas-berkas cahaya berwarna biru redup. Semua orang mengetahui dirinya sebagai orang pertama yang menapakkan kedua kakinya di dunia lain bernama Arthurian, dan yang pertama kali memulai seluruh penjajahan Bulwark ke atas tanah yang asing tersebut.


“Incurso !!!?” seru seluruh mechanoid itu, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


Sebuah kedatangan yang tak terduga, namun juga yang sangat diharapkan oleh mereka semua. Para Militus dan mechanoid masih kekurangan jumlah untuk mengatasi serbuan tanpa henti para Limbo M.I.N.D saat ini, namun entah sejak kapan pertarungan besar-besaran itu terasa menjadi lebih imbang daripada yang sebelumnya. Bastion yang masih disibukkan dengan serangan para Limbo M.I.N.D lah yang paling pertama menyadarinya, disusul oleh Maria, kemudian ketiga mechanoid yang menjaga di sekitarnya.


“Uhh, Incurso-san........ Kamu bawa bantuan saat ini ?? Kenapa rasanya orang-orang kita jadi gak terbatas jumlahnya kayak 'mereka' ??” tanya Bastion selagi ia masih mengayunkan pedang raksasanya, menebas puluhan Limbo M.I.N.D yang tiada habisnya.


“Orang-orang di tempat persembunyian itu yang memaksa. Bukan salahku juga.” jawab Incurso dengan santai.


Vierra menatap ke arah wajah Incurso dengan tajam, tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.


“Kamu pakai orang-orang biasa Bulwark sebagai bantuan !!?”


“Itu adalah keinginan mereka sebagai manusia, bocah. Lagian mereka boleh juga untuk seukuran orang biasa.”


Keinginan manusia. Itulah yang membuat orang-orang biasa, seluruh warga dari Bulwark tersebut memaksanya untuk membawa mereka ke pertempuran berdarah di ruangan tersebut. Semua orang-orang yang ada di tempat persembunyian itu, hanya menginginkan satu hal yang sama. Terbebas dari rasa takut akan 'mereka' yang berkuasa di rumah terakhir mereka satu-satunya, juga menghentikan seluruh kehilangan yang diakibatkan oleh 'mereka' tersebut. Memang kedengarannya tidak mungkin bagi orang-orang biasa seperti mereka untuk selamat dari sebuah pertarungan yang bahkan para Militus dan mechanoid hampir tidak dapat bertahan darinya, tapi mereka semua tahu. Orang-orang yang tidak pernah bertarung di medan pertempuran benar-benar tahu, bahwa saat mereka bertarung bersama, mereka akan menjadi kuat. Sangat kuat, sampai mereka akhirnya berhasil melewati bencana yang hampir menghancurkan sejarah panjang kehidupan mereka sekali lagi.


“Biar aku yang bunuh dua orang brengsek ini. Sisanya, kalian yang bersihkan. Habis rahangnya hancur, kepalanya itu yang akan jadi selanjutnya.”


“Balaskan dendam Nero juga, penjajah.” ucap Vierra, sambil menatapnya dengan penuh harap.


Incurso termenung sejenak mendengar itu dari Vierra, kemudian menoleh ke arah mesin Limbo yang menjulang tinggi, yang masih saja mereka lindungi sampai saat ini. Di sana, terlihat dua orang mechanoid, laki-laki dan perempuan, yang sedang terduduk diam tak bergerak dengan banyak kabel-kabel terhubung ke tubuh mereka, dan satu lagi, seorang pria tua, terbaring kaku di lantai di antara dua orang itu. Seketika itu juga, ingatan saat dirinya masih seorang murid di bawah ajaran pria tua itu, mengalir dengan deras layaknya air di sungai-sungai yang membanjiri pikirannya. Setelah kehilangan sosok bernama Scire, berpisah dengan saudaranya satu-satunya, ia kemudian diangkat sebagai murid dari seorang jenderal yang terkenal dengan sejarah hebatnya selama 40 tahun bekerja sebagai seorang Militus di Bulwark. Bersama dengan pria itu, ia telah 'menghancurkan' berbagai ancaman yang menakut-nakuti umat manusia selama ini. Berbagai anomali, telah ia kalahkan bersama dengannya. Berbagai pemberontak, telah ia kalahkan bersama dengan pria tua itu. Saat ia bersama dengannya, ia merasa menjadi tak terkalahkan. Ia merasa, bahwa ia dapat menghancurkan apapun yang mengancam umat manusia, seperti seorang dewa yang mampu melakukan segalanya hanya dengan satu jentikan dari jarinya. Bersama, ia dan pria tua tersebut, telah melihat berbagai peperangan dan usaha umat manusia yang sia-sia saja saat melawan takdir dari alam dan semesta, yang telah memutuskan bahwa dunia mereka akan segera hancur tidak lama lagi. Namun bersama, mereka menolak untuk menerima kenyataan itu, membuat mereka para manusia harus terpisah, mengalami berbagai kehilangan dan juga kematian. Bersama, mereka pernah tertawa, mereka pernah tertawa, merenungkan orang-orang hebat yang mengorbankan diri mereka, dan menatap ke atas langit bumi yang pada awalnya, berwarna biru cerah. Mereka bukanlah seorang dewa, pada kenyataannya. Namun saat bersama, kekuatan yang tidak diketahui itu seolah muncul, merasuki tubuh mereka dan memberitahu, bahwa suatu saat nanti, mereka akan mampu mengembalikan langit yang gelap itu menjadi biru kembali, seperti pada awalnya. Dua orang yang dipisahkan oleh umur yang jauh itu pernah meyakini, bahwa ketika manusia bersama, bumi akan bisa mereka kembalikan seperti semula, indah seperti saat manusia pertama kali diciptakan ke dunia.


“Yeah, itu sudah pasti.”


Incurso berbalik, menghadap ke arah dua Prophet yang bergabung menjadi satu di depannya itu dan menatap mereka dengan tajam. Sesaat, setetes air mata menggenang di kelopaknya, namun sedetik kemudian, itu berubah menjadi sebuah amukan murni. Dari kejauhan sana, Nihilism meraung keras, sementara Flambeau memukul-mukulkan pedang rantainya seperti cambuk ke lantai. Hanya sebatas intimidasi murahan, ucap Incurso dalam hati. Lengan kanannya memancarkan cahaya biru. Ia menjauhkan kaki kanannya dari kaki kirinya, semakin mencondongkan tubuhnya ke depan. Di depan sana, adalah seorang dewa yang menyebut dirinya sebagai tak terkalahkan dan tak tertandingi, sementara di seluruh ruangan tersebut, adalah mereka para manusia yang bertarung habis-habisan hanya untuk memperjuangkan rumah mereka satu-satunya di penjuru dunia ini. Mereka para manusia, yang bertarung bersama demi mengalahkan seorang dewa sialan yang melakukan apa yang dia inginkan, hanya untuk hiburan semata di kedua netra nya.


“Nero, kenapa kamu mau bertarung mati-matian hanya untuk dunia ini ?? Bukannya kamu sudah tua ??”


“Aku hanya mau yang terbaik untuk Vierra, anakku, bocah. Kalau aku mati suatu saat nanti, jaga berandalan itu baik-baik. Emosinya tidak pernah terkontrol, dan kekuatannya pun juga gila-gilaan kayak ibunya juga. Aku, hanya mau itu saja........”


Di padang rumput yang seharusnya hijau dan cerah itu, Incurso menoleh ke arah Nero yang ada di samping kanannya. Ia juga, ingin yang terbaik untuk adik satu-satunya itu, yang suatu saat, pernah disatukan oleh seorang pria tua seperti dia yang ada sampingnya saat ini. Apakah semua manusia sebenarnya terhubung satu sama lain ? Pikirnya begitu.


“Nero, kamu mau tinggal di rumah, di bumi lagi ?? Aku sih mau, sebenarnya begitu. Tapi, itu semua sudah hilang jadi debu sekarang........”


“Aku pun begitu, bocah. Memang sulit untuk dipercaya, tapi semua orang sebenarnya punya satu keinginan yang selalu sama. Kamu tau itu, bocah muda ??”


“Sama sekali tidak. Katakan apa itu sebenarnya, Nero. Keinginan manusia yang katamu selalu sama itu.”


“Kita, para manusia, selalu menginginkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.”


Nihilism berlari seperti orang gila, terburu-buru, begitu cepat ingin membalaskan dendam untuk rahang bawahnya yang hilang akibat pukulan Incurso yang terakhir itu. Incurso hanya menggertakkan giginya saja. Hanya karena makhluk itu kehilangan rahangnya saja, ia sudah sangat marah dan menginginkan balas dendam. Jadi, bagaimana dengan semua orang yang pernah mereka bunuh sebelumnya ?? Apakah manusia, tidak boleh balas dendam juga ??


“Pukulan ini, adalah untuk Nero..... BAJINGAN !!”


Incurso mengamuk. Dengan dorongan dari kaki kirinya, ia melompat tinggi menghadang ke arah Nihilism bahkan sampai melebihi tinggi tubuh Prophet raksasa itu sendiri. Di matanya, tinjunya itu telah menutupi seluruh wajah Nihilism yang terlihat menjijikkan itu. Di saat itulah ia sangat yakin, bahwa sudah saatnya bagi manusia yang lemah itu, untuk menghancurkan yang tak terhancurkan, dan mengalami apa yang tidak mungkin terjadi. Sebuah kebebasan, dimana tidak akan pernah lagi ada yang namanya kematian, dan juga kehilangan.


Ia memang sendirian melawan kedua Prophet yang bergabung menjadi satu itu saat ini, namun jika seseorang melihat lebih dalam lagi ke ekspresi wajahnya, di situlah mereka semua akan mengetahui, bahwa di punggungnya, adalah tangan-tangan mereka yang pernah bersama dengannya di masa lalu, yang hilang, ditelan oleh kekejaman sang dewa. Tangan-tangan, yang menyatukan seluruh kekuatan mereka yang pernah ada sebelumnya dengan tangannya saat ini, untuk menghancurkan apa yang tidak mungkin untuk dihancurkan.


Mereka, yang bersama-sama menyatukan tangan dan keinginan mereka.........


Untuk menggapai apa yang tidak mungkin untuk terjadi.


...****************...


"Vita !!”


Langit, tanah, dan semuanya berwarna merah. Tidak ada secercah cahaya apapun yang dapat menembus langit merah yang gelap di dunia virtual itu. Dari kejauhan, Silvia dapat melihat dengan jelas Vita yang digantung di sebuah dinding hitam berukuran raksasa dengan simbol Bulwark di bagian tengahnya. Bukan digantung, melainkan ditusuk-tusuk hingga akhirnya tubuh wanita yang lemah itu menempel erat di permukaan dindingnya. Tidak ada satupun dari bagian tubuhnya yang tidak mengeluarkan cairan kental berwarna hitam pekat yang menggantikan darahnya. Vita, tidak pernah berhenti untuk terus mengerang kesakitan, memohon pada siapapun yang ada di atas maupun di bawah sana, untuk menghentikan seluruh penderitaannya di atas tembok itu. Melihat itu, sudah membuat Silvia akan menebas siapapun yang melakukannya dengan pedang kegelapan terbaru miliknya.


“Bertahanlah di sana, Vita !!”


Silvia berlari kencang untuk menuju ke tembok yang menjulang tinggi hingga ke atas langit itu. Sudah tidak mungkin bagi dirinya untuk dapat memanjat tembok yang setinggi itu tanpa permukaan untuk ditapaki sedikitpun, tapi entah bagaimana caranya, ia harus menyelamatkan gadis lugu nan polos itu, yang selalu menjadi temannya selama ini. Ribuan Limbo M.I.N.D seketika muncul dari dalam sebuah genangan cairan kental berwarna hitam pekat, meraung keras dan membentuk sebuah tembok hidup untuk menghalangi jalannya.


“Cih, nyebelin banget sumpah !!”


Silvia mengeluarkan kekuatan yang dia dapat dari menyerap pemberian Star Net milik Trux sebelumnya. Nadi di lengan kanannya mulai mengeluarkan cahaya berwarna merah, dan pedangnya seketika diselimuti oleh bayangan hitam pekat yang dingin, namun juga sangat panas di saat yang bersamaan. Silvia berlari, melawan arus dari 'tembok hidup' Limbo M.I.N.D yang berusaha untuk mencegahnya mencapai Vita dengan mengerumuninya itu. Seketika itu juga, Silvia sudah tidak dapat terlihat lagi di pandangan Vita. Vita memanggil namanya berkali-kali, hanya untuk mendengarkan raungan para Limbo yang seolah sedang memakan temannya itu hidup-hidup. Tidak ada tanda kehidupan dari Silvia sama sekali setelah itu, sedikitpun tidak.


Itulah yang akan manusia alami, ketika berusaha melawan kehendak dewa.


“Hentikan....... Itu.......... Silvia, tidak bersalah, tau !! Akkh !!”


Duri-duri hitam yang menusuk tubuhnya menjadi semakin tajam, semakin lebih dalam menembus daging-daging nya. Vita mengerang kesakitan lebih keras lagi. Semakin lama ia ditembus oleh duri-duri hitam tersebut, semakin banyak pula cairan hitam yang muncul di permukaan tanah Limbo, dan lebih banyak lagi para Limbo M.I.N.D yang muncul dari dalamnya. Bahkan saat situasinya sudah jelas di hadapan matanya, Vita masih berharap. Ia masih berharap untuk dapat melihat temannya itu sekali lagi. Sekali saja.


Dan itulah, yang manusia dapat, saat mereka menerima kekuatan kami para dewa.


“Apa maksudmu ??”


Tiba-tiba saja, sebuah cahaya berwarna hitam menembus keluar dari dalam kerumunan Limbo M.I.N.D yang menumpuk-numpuk di atas Silvia selama ini. Cahaya hitam itu mencuat tinggi ke atas, sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah ledakan besar yang menghancurkan segalanya dalam satu sapuan, bahkan genangan dari cairan hitam itu sekalipun tidak selamat dari ledakannya. Wanita humanoid yang melayang di samping kiri Vita tersenyum kecil, kemudian menukik tajam ke tanah dan mendarat di sana dengan sebuah ledakan besar yang menghempaskan debu-debuan ke segala arah menutupi sekujur tubuhnya selama beberapa saat. Sangat mengejutkan bagi Vita, saat dirinya mendapati bahwa Silvia tidak terluka sedikitpun dari serangan makhluk-makhluk Limbo M.I.N.D buatan yang seperti itu, tapi setidaknya, ia akhirnya melihat secercah harapan sekali lagi di tatapan mata penuh tekad dari sahabatnya itu, selalu sama seperti biasanya.


“Kamu- !!?”


Terkejut ?? Sudah kubilang waktu itu, kalau aku berevolusi jauh lebih cepat daripada kalian, makhluk-makhluk yang bahkan berkembang dari sebuah lubang pantat lebih dahulu daripada kepala kalian. Jadi, biar aku perkenalkan diriku sekali lagi.


“Sialan........” gumam Silvia saat akhirnya mengetahui siapa sosok wanita humanoid di hadapannya itu.


Namaku, Trux. Dia yang akan membawa keselamatan bagi kalian, jiwa yang tersesat.

__ADS_1


Menyerah saja, kaum monyet. Aku adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk kalian hancurkan, atau bahkan kalian jatuhkan sekalipun.


__ADS_2