Stargate : Universe

Stargate : Universe
Impending Doom


__ADS_3

“Kiel grandaj ili estas....... Mereka sudah membangun markas sebesar ini di tanah jajahan baru mereka ? Benar-benar luar biasa.”


“Kamu memuji sesuatu yang fana, bodoh.”


“Ya ya ya, aku juga sudah tahu itu, madam. Kamu tidak perlu memberitahu ku lagi, mia mosto.”


Aestus membalas godaan Flambeau itu dengan sebuah decihan kesal dan tatapan jijik yang langsung mengarah ke wajahnya. Itu adalah sudah menjadi hal yang biasa saja bagi Flambeau, dan karena menyukai hal yang sudah biasa itulah, ia selalu melakukannya di setiap saat yang paling memungkinkan. Flambeau tersenyum puas, saat kedua matanya dapat melihat wajah kesal sekaligus malu milik Aestus itu.


Mereka saat ini sudah ada di atas pegunungan Tian Long, sebuah pegunungan tinggi yang mengelilingi kota Long Zhen sebagai benteng alami kebanggaan mereka semua. Namun tetap saja, setinggi apapun bentengnya, kota yang berlindung di balik kekokohan batu-batuannya masih saja hancur sehancur-hancurnya. Flambeau masih duduk di atas sebuah batu kapur, sementara Aestus berdiri di kirinya, mengamati pemandangan kota Long Zhen yang telah hancur lebur dan hanya menyisakan kepulan asap saja. Mereka berdua masih menunggu seseorang, dan hanya butuh beberapa waktu saja bagi seseorang yang ditunggu tersebut akhirnya datang menghampiri mereka dari belakang. Tidak ada satu sapaan ramah sekalipun yang menyambut kedatangan orang bertubuh tinggi dan raksasa itu, seolah hanya ada dirinya sendirian di sana. Setelah beberapa saat matanya masih melihat ke arah kota Long Zhen, Aestus pun akhirnya menoleh ke belakang, mendapati Nihilism yang membawa sebuah tabung penyimpanan putih di cangklongan pundak kanannya.


“Bagaimana dengan 'cahaya' baru kita itu ? Sudah siap untuk dipakai ?”


“Hmph, aku bisa melepaskannya kapan saja yang kalian mau.”


“(Sigh) Baiklah. Kalau begitu, simpan itu untuk nanti.” ucap Aestus sambil menoleh kembali ke arah kota Long Zhen yang ada di bawahnya saat ini.


Flambeau pun kemudian beranjak dari batu dudukannya, berdiri menghadap ke arah kota Long Zhen sambil meregangkan kedua tangannya seperti seorang pengkhotbah di atas mimbar gereja.


“Nah, akhirnya. Saat yang ditunggu sudah datang. Bersiaplah para manusia fana yang tersesat di dalam lembaga kekelaman, karena azab yang akan datang kini segera tiba.” seru Flambeau dengan suaranya yang nyaring.


...****************...


Suara alarm berbunyi dengan sangat keras, mengeluarkan cahaya merahnya yang berkelap-kelip di sepanjang lorong basement. Orang-orang berlarian kesana-kemari sambil membawa senjata mereka, sementara ada satu orang lain yang memerintahkan mereka dengan suara yang lantang dan otak yang memutuskan sebuah keputusan dengan tepat.


PERHATIAN : PERISAI BAGIAN PERTAMA TELAH DITEMBUS, PERISAI BAGIAN PERTAMA TELAH DITEMBUS.


Suara berulang kali dikumandangkan oleh alarm tersebut sampai-sampai itu terngiang-ngiang di dalam otak mereka. Itu semua terjadi dengan sangat cepat, dan juga tidak terduga, sama sekali tidak. Tidak ada lagi waktu bagi para tentara tersebut untuk saling berbincang-bincang dengan satu sama lainnya, bahkan ketika beberapa dari mereka berlari melewati lorong-lorong secara beriringan. Muka mereka was-was, berharap bahwa yang akan mereka hadapi saat ini bukanlah sesuatu yang terlalu berbahaya, namun tidak mungkin ada sesuatu yang tidak berbahaya mampu untuk menembus perisai utama mereka di bagian luar itu. Sementara para tentara berlarian kesana-kemari seolah sedang mencari kematian yang akan menunggu kedatangan mereka, para staf justru dievakuasikan ke daerah yang jauh lebih aman. Itu adalah hal yang sempat terpikirkan oleh seorang tentara wanita dengan pedang katana berada di bagian samping kiri pinggangnya, betapa iri nya dia terhadap para staf yang dipindahkan ke tempat yang lebih aman itu. Namun pikirannya itu buyar seketika, saat tembok di bagian kanan mereka tiba-tiba roboh karena diterobos oleh seorang raksasa dengan tabung di pundak kanannya.


“Sialan, mereka adalah prophet !!?”


Spontan, berbagai tembakan dikerahkan ke arah raksasa itu, namun semuanya sia-sia belaka. Ribuan peluru yang seharusnya menembus badan musuh itu hanya menabrak tubuh sang raksasa dan kemudian jatuh kembali ke lantai. Tentara wanita itu kebingungan, bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.


“Amelia, lakukan sesuatu !!” seru seorang tentara yang bahkan tidak dikenalinya sama sekali.


“Melakukan apa -!?”


Baru saja Amelia selesai bertanya balik kepada tentara yang tidak diketahuinya tersebut, orang itu telah kehilangan kepalanya karena sebuah ledakan merah yang melesat dengan sangat cepat. Bukan hanya memecahkan kepala saja, namun tembakan itu juga memecahkan keramaian di lorong tersebut menjadi sebuah keheningan yang berlangsung selama beberapa saat. Semua orang tercengang, begitu juga dengan Amelia yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Amelia kemudian menoleh ke arah raksasa tersebut secara perlahan, dan barulah terungkap bahwa peluru berasal darinya.


“BAJINGAN !!!” seru tentara yang tidak diketahui lainnya.


Tentara itu dengan berani mengganti senapannya dengan sebuah pedang energi, kemudian langsung berlari ke arah raksasa tersebut seperti sudah menerima nasib kematiannya. Tidak perlu waktu lama bagi tentara tersebut untuk menghilang dari muka bumi selamanya, setelah kaki sang raksasa itu mendarat di atas kepalanya, dan membuatnya hanya menyisakan darah saja. Lagi-lagi Amelia melihat kejadian yang mengerikan itu dengan mata kepalanya sendiri, membuatnya harus menyadari bahwa ini semua mungkin adalah hukuman dari Tuhan karena dirinya yang ikut menjajah dan membunuh orang yang tak bersalah dari dunia lain. Raksasa itu, Nihilism, berjalan dua langkah mendekati kelompok pasukan Amelia, kemudian menghela nafasnya sebentar.


“Kalian boleh hidup, kalau kalian memberitahu kami tentang pesawat yang digunakan untuk pergi ke 'rumah' kalian.”


“B-Bulwark ??”


Beberapa dari mereka mulai berpikir kritis dan saling berdiskusi dengan satu sama lain. Mungkin saja ini adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan bagi mereka untuk bertobat dari dosa-dosa kekejian mereka. Namun itu tidak berlaku bagi Amelia. Ia, justru menggeram dan sudah bersiap untuk menarik katana nya dari dalam sarung pedangnya.


“Prophet bajingan...... Apa yang mau kalian lakukan di sana, sialan !!?”


Amelia berhasil menarik perhatian teman-temannya itu dengan melompat ke belakang dan langsung masuk ke kuda-kudanya. Dalam pikiran, mereka sudah menduga-duga bahwa korban yang ketiga akan segera datang setelah ini, dan itu memang tidak salah.


“Amelia, kamu sudah gila !!?”


Amelia tidak mempedulikan teriakan teman-temannya itu, dan ia tanpa berpikir panjang lagi langsung melesat ke arah Nihilism, yang dengan cepat menendangnya hingga menghantam tembok besi di sebelah kiri lorong itu.


“Akhhhh !!”


Darah segar keluar dari dalam mulutnya, dan Amelia pun jatuh ke atas lantai, terkulai lemas seakan tubuhnya sudah tidak memiliki tulang lagi. Ia berusaha untuk mengambil nafas sebanyak mungkin, namun bahkan jantungnya terasa seperti sudah tidak berdetak lagi. Ia tidak dapat merasakan adanya udara yang masuk ke dalam trakea nya, ataupun mengalir melalui bronkiolus ke dalam paru-parunya. Sepertinya, diafragmanya sudah sobek dan tidak dapat bekerja seperti biasanya kembali. Ia berusaha untuk mengucapkan permintaan tolong, namun tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya sama sekali. Hanya ada darah dan suara nafas yang sesak saja. Dari sana, Amelia melihat bahwa teman-temannya mulai memberi Nihilism jalan sambil menunjuk ke arah utara. Dia ingin meneriaki teman-temannya itu atas kebodohan mereka, namun ia sedang mirip dengan orang bisu saat ini, bergumam pun sudah tidak bisa lagi.


Dasar bodoh...... Kalian semua......


Nihilism pada akhirnya berjalan melewati mereka tanpa melakukan serangan sedikitpun, begitu juga dengan mereka yang tidak mengangkat senjata mereka sama sekali. Hidup mereka memang berlangsung lebih lama daripada dua orang yang membunuh diri sendiri itu tadi, namun itu hanya berlangsung selama setengah menit saja dalam keheningan. Begitu Nihilism telah berada di luar lorong, pintu dari tabung yang dibawanya terbuka, dan seorang humanoid wanita berkulit putih pucat jatuh seperti tak bernyawa dari dalamnya. Sebuah kejadian buruk telah berlalu, namun kejadian buruk yang lainnya datang menyusul mereka, begitulah kira-kira. Tiba-tiba saja, kedua sisi dari lorong tersebut, depan, belakang, dan lubang di kanan, semuanya tertutup oleh dinding berwarna merah transparan, yang mana membiarkan mereka untuk melihat Nihilism sekali dan untuk selamanya. Nihilism menoleh ke arah mereka, dan sebuah gumaman dengan suara agak kecil dapat terdengar darinya.


“Bertobatlah, wahai manusia fana.”


Amelia dan teman-temannya terkurung di dalam lorong itu, dan mereka tidak sendirian di sini. Gadis humanoid yang ditinggalkan oleh Nihilism barusan tadi mulai bangkit berdiri secara perlahan. Setelah menekuk-nekuk tubuhnya beberapa saat, akhirnya gadis humanoid itu berdiri sama seperti manusia pada umumnya, dan kemudian matanya yang cerah seperti awan putih di atas langit biru pun terbuka menatap mereka dengan tajam.

__ADS_1


“Sialan, kita sudah dibohongi sepertinya......”


Sudah kubilang........ Bajingan.......


Gadis humanoid itu akhirnya melompat ke arah mereka, dan cakarnya tidak menyisakan satupun dari tentara-tentara yang ada di dalam lorong itu selamat, kecuali Amelia yang sudah dianggapnya mati sejak lama.


Sementara itu, di sisi lain.


“Adiaŭ, ŝafideto.”


Sebuah peluru panas menembus kepala seorang letnan yang diinjak oleh Flambeau di atas jembatan besi. Benar-benar malang, ucap Flambeau dalam hati. Kematian sang letnan itu membuat semua tentara yang mengikutinya menjadi diam seperti patung. Flambeau berbalik ke arah para tentara Bulwark yang mengelilinginya itu, dan sebuah senyuman santai menggantung di bibirnya yang kecil.


“Esta bien, siapa lagi yang mau menolongnya di dunia lain ??”


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, tentu saja. Kebanyakan dari mereka mulai mundur secara perlahan, namun ada satu pengecualian di sini, lagi-lagi adalah seorang wanita. Wanita itu masih berada di tempatnya yang sama, tidak mundur bahkan satu langkah pun. Hatinya tetap tegar menghadapi musuh manusia paling mengerikan di zaman ini, dan hal itu berhasil menarik perhatian Flambeau kepadanya.


“Hola, chicas. Kamu sepertinya mau mengatakan sesuatu ??” tanya Flambeau sambil sedikit membungkuk kepada wanita itu.


Wanita itu hanya menjawab Flambeau dengan memegang kapak Labrys nya lebih erat daripada yang sebelumnya. Di latar belakang, ribuan tebasan pedang ditembakkan ke berbagai arah oleh Aestus, membunuh ribuan orang yang berani untuk melawannya. Mereka bagaikan kawanan domba yang akan segera disembelih oleh pemiliknya. Tidak ada jalan lain, selain melawan balik atau menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang penyembelih.


“Jangan pikir kalian bisa menapakkan kaki kalian di Bulwark setelah ini !! Jenderal Hassen ada bersama kami di sini !!!”


Flambeau sempat mengernyitkan keningnya sesaat, sebelum akhirnya mengambil shotgun nya dari belakang punggungnya dan mengarahkan itu kepada sang wanita mechanoid.


“Aku benar-benar penasaran dengan siapa orang itu, tapi setidaknya...... Terima kasih buat informasi berguna barusan, princesa.”


“Prophet sialan....... Semuanya, jangan biarkan badut ini menginjakkan kakinya di Bulwark !! Serang dia !!”


Wanita mechanoid itu bahkan bukanlah seorang komandan ataupun mechanoid yang ternama, namun tetap saja perintahnya diikuti oleh semua teman-temannya itu. Setelah melihat kematian sang letnan, sebuah api semangat muncul di dalam hatinya. Itulah yang menyebarkan adrenalin penegak keadilannya ke seluruh bagian tubuhnya saat ini. Bersama-sama, wanita mechanoid itu dan teman-temannya menyerang Flambeau seperti gerombolan manusia yang sedang berusaha untuk menangkap lalat yang terbang dengan cepat di udara. Setiap serangan mereka selalu dibalas oleh kedua senjata yang dipegang oleh Flambeau, baik itu terkena tebasan dari parangnya, ataupun terkena tembakan peluru panas dari shotgun nya. Namun seluruh kesia-siaan itu masih belum cukup untuk memadamkan tekad seseorang yang berusaha menusuk Flambeau dari belakang dengan tombaknya, hanya untuk melihat Flambeau yang dengan lincahnya melompati ujung tombaknya dan kemudian mengarahkan shotgun nya ke kepala orang itu saat ia masih berada di udara.


“Kalian boleh juga......”


Ledakan peluru shotgun Flambeau berhasil melubangi kepala orang itu dan meninggalkan sisa-sisa api panas yang membakar bagian dalam dari kepalanya. Lebih banyak lagi orang yang berguguran di tangan dan kaki Flambeau, namun itu masih belum cukup untuk membuat mereka yang masih hidup juga ikut tumbang di bawah kakinya. Mechanoid dengan Labrys itu menyerang kembali dengan memukulkan bilah kapaknya ke lantai, namun yang ia dapatkan justru sebuah serangan balik dari tendangan berputar milik Flambeau. Ia masih dapat mempertahankan keseimbangannya itu, dan juga berhasil menghindari satu tembakan shotgun dari Flambeau dengan melakukan roll ke samping kanan. Namun begitu ia berdiri kembali dari roll nya, ia dapat merasakan bahwa tubuhnya telah terkena tebasan dari sesuatu, bahkan saat Flambeau pun tidak mengayunkan pedangnya.


“Kamu terlalu lama mengurusi orang-orang ini, badut.”


Wanita mechanoid itu pada akhirnya jatuh terkapar ke lantai tak bernyawa sama seperti yang lainnya alami, menunjukkan Aestus yang baru saja menurunkan katana nya hingga hampir menyentuh lantai dengan ujung panjangnya yang tajam. Aestus berjalan melewati mayat mechanoid itu sambil menghela nafasnya dan memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian ia juga melewati Flambeau yang masih ada di tempatnya yang sama saat ini.


“Cepatlah badut, kita menghabiskan waktu sia-sia melawan semua orang gila ini di sini.” ucap Aestus sambil memutar katananya beberapa kali, kemudian memasukkannya ke dalam sarung pedangnya.


“Baiklah, baiklah. Selalu saja tidak sabaran, seperti biasa.”


“Diam kau, brengsek.”


Aestus dan Flambeau melanjutkan perjalanan mereka kembali, masih terus dihalangi oleh beberapa mechanoid yang sama tidak berdayanya seperti yang sebelum-sebelumnya. Dengan sangat mudah, tebasan pedang Aestus menebas tubuh seorang mechanoid hingga badannya itu hampir terbelah menjadi dua, sebelum akhirnya jatuh terkapar ke lantai. Flambeau masih berdiri di belakang Aestus, terus mengamati punggungnya sementara Aestus menembakkan seluruh tebasan pedangnya ke arah para mechanoid Bulwark yang menghadangnya itu. Flambeau memang sangat tertarik dengan tiap gerakan tubuh Aestus sepertinya. Ketenangan yang dirasakan oleh Flambeau itu hanya berlangsung sementara saja, begitu juga dengan Aestus yang masih disibukkan oleh pertarungan saat ini, ketika tiba-tiba saja Nihilism menghubungi mereka berdua lewat telepati.


Aku sudah menemukan letak pesawat mereka, ada di utara. Juga si 'cahaya' baru itu sudah ku lepaskan dari sangkarnya.


“Aku sedang fokus, sialan.....” gumam Aestus yang teralihkan perhatiannya karena telepati dari Nihilism itu.


Ia tidak menyadari bahwa dirinya saat ini sedang diam mematung dalam kuda-kudanya, dan sebuah pedang dari seorang mechanoid sebentar lagi juga akan menebas dadanya secara horizontal. Namun tebasan itu tidak terjadi, karena tembakan ke kepala dari Flambeau telah menghentikan mechanoid itu untuk melanjutkan serangannya. Begitu mechanoid itu jatuh ke lantai, Aestus secara bersamaan juga menoleh ke arah Flambeau, menatapnya dengan kesal. Ia seperti sedang mengamuk karena salah satu mangsanya telah diambil oleh si badut yang bahkan tidak membantunya sejak tadi itu.


“Hei, harusnya kamu berterima kasih kepadaku, bukan ?”


“Aku bisa menghindarinya sendiri, sialan.”


Flambeau berjalan sambil menguap, mendahului Aestus yang masih berdiri dengan kuda-kudanya itu, tidak sadar bahwa sudah tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Mechanoid itu adalah yang terakhir dari jembatan besi ini nampaknya.


“Aku benar-benar tidak yakin dengan itu, estupido.”


“Apa katamu !!?” seru Aestus sambil menoleh ke arah Flambeau mengikuti pergerakannya.


Flambeau kemudian berhenti sambil melirik ke arah Aestus dengan malas.


“Yah, lihat saja. Kamu mau menyerang apa sekarang ?”


Perlu beberapa detik bagi Aestus untuk mencerna apa arti dari perkataannya Flambeau itu barusan. Dia akhirnya, menyadari bahwa kini hanya tinggal mereka berdua saja yang masih tinggal di atas rangkaian jembatan besi itu.

__ADS_1


“Cih...... Aku bisa jelaskan, bodoh.”


“Dan aku tidak perlu itu.” ucap Flambeau sambil melanjutkan untuk berjalan, meninggalkan Aestus beberapa meter di belakangnya.


Untuk pertama kalinya, Aestus merasa seperti seorang badut di dunia ini. Ia menghela nafasnya sambil menahan malu, bisa terlihat dari kedua pipinya yang mulai memerah. Baru setelah beberapa saat kemudian ketika ia akhirnya berhasil menenangkan dirinya sendiri, Aestus memutuskan untuk menyusul Flambeau kembali, menuju ke pesawat luar angkasa Bulwark itu untuk mendatangkan malapetaka bagi mereka yang telah tersesat di dalam kesia-siaan dunia ini.


...****************...


Pintu ruangan hangar dirobohkan oleh sebuah tendangan keras dari Flambeau, dan hal yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah pesawat terbang berwarna putih dan bersenjata lengkap. Ia tersenyum kecil melihat pesawat itu. Itu berarti tandanya bahwa ia akan bisa segera pergi dari tempat kotor yang dipenuhi oleh manusia fana ini.


“(Sigh) Perfecto......” gumam Flambeau.


Ia kemudian berjalan dengan cepat menuju ke arah pesawat itu. Ia hanya perlu menunggu dua temannya yang lain saja setelah ini. Namun sebuah hal yang tak terduga terjadi, ketika seorang manusia melompat dari dalam lubang ventilasi dan melemparkan sebuah tebasan pedang ke arahnya saat ia masih berada di udara. Sungguh sebuah reflek yang luar biasa bagi seorang manusia biasa, pujinya.


Tebasan pedang berwarna biru itu dapat dengan mudah dipantulkan kembali oleh Flambeau ke orang tersebut, dan orang berhasil menghalau serangannya sendiri dengan mudah juga. Orang yang profesional sepertinya, begitulah ucap Flambeau di dalam hati. Pria misterius itu mendarat di depan Flambeau, menatapnya dengan tatapan tajam.


“Hola, el extranjero....... Bukankah yang tadi itu, bisa dibilang cukup tidak sopan untuk dijadikan sebagai sapaan ??”


“Prophet seperti kalian tidak perlu sapaan. Hanya perlu mati cepat saja sekarang.”


“Ara ara, mengerikan sekali.......”


Pria itu, tanpa basa-basi langsung menyerang Flambeau, melesat ke arahnya dengan sebuah pedang laser berwarna biru di kedua sisi, atas dan bawah. Namun, bahkan saat dirinya sedang lengah pun, Flambeau masih dapat menghalau serangan pria itu, menahan pedangnya yang unik dengan menggunakan parangnya. Muka mereka saling berdekatan satu sama lain, hanya dihalangi oleh percikan api yang muncul dari kedua senjata mereka.


“Kamu...... Yang namanya Hassen itu, kan ? Soalnya cuma kamu yang paling kuat di sini.”


“Heh, terima kasih buat pujian tidak bergunanya, bangsat !!” seru Hassen, sambil menendang perut Flambeau hingga ia terpental dan menghantam ke atas tembok. Itu adalah sebuah serangan yang tidak terduga bagi Flambeau, namun dia masih terlihat baik-baik saja setelah mendarat kembali ke lantai, seperti baru saja tidak terkena apa-apa. Flambeau berdiri kembali, kemudian mengusap sisa ludah yang mengotori samping kanan mulutnya.


“Hei, kamu tahu kemana arah Bulwark- ?”


Basa-basi nya itu tidak direspon dengan baik oleh Hassen, karena ia langsung dikejutkan oleh serangan beruntun yang lainnya dari Hassen. Ia terus menghindar sambil beberapa kali menangkis serangan Hassen, sangat lincah seperti lalat terbang.


“Prophet sialan !!”


“Ups......”


Flambeau berniat untuk menangkis serangan berputar dari pedang dua sisi milik Hassen, namun dia justru terhempas hingga keluar dari pintu hangar karena hal itu. Seumur hidupnya sebagai seorang Prophet, baru kali ini Flambeau bertemu dengan seseorang yang mampu menghempaskannya dengan sangat mudah, bahkan sampai berkali-kali. Seluruh adrenalinnya mulai mengalir dengan cepat dari jantung hingga ke sekujur tubuhnya, membuat dirinya merasa tertantang dan mengeluarkan sebuah seringai di mulutnya.


“Finalmente, sebuah pertarungan yang sesungguhnya !!”


Flambeau melontarkan dirinya sendiri dengan menggunakan ledakan dari shotgun nya, melesat ke arah Hassen secepat kilat. Kini keadaan menjadi terbalik. Flambeau lah yang menyerang secara brutal, sementara Hassen hanya menangkis serangan beruntunnya sambil berjalan ke belakang secara perlahan. Rima gerakan mereka bagaikan sebuah tarian pasangan yang saling bersinkronasi dengan satu sama lainnya, sangat indah jika dipandang dari kejauhan. Tiap tebasan dari parangnya selalu dibarengi dengan tembakan dari shotgun miliknya setelahnya, membuat serangan beruntun dari Flambeau terasa seperti hampir mustahil untuk dihindari. Namun tidak ada yang tidak mungkin bagi Hassen, karena ia baru saja melakukan apa yang seharusnya terlihat mustahil bagi manusia biasa untuk dilakukan. Ia berputar menghindari tebasan Flambeau, menendang dada kirinya, kemudian menembaki Flambeau sebanyak dua kali saat dia masih ada di udara. Itu adalah luka parah yang dia alami untuk pertama kalinya, dari seorang manusia biasa.


“Oi, badut !! Kamu ini kenapa !!?”


Dunia selalu saja punya sebuah kejutan untuk menghibur seseorang yang sedang menderita, selalu seperti itu rasanya. Begitu Flambeau jatuh terkulai lemas di lantai, ada seorang putri yang meneriakinya dari balik pintu hangar yang sudah rubuh itu. Sepertinya dia adalah Aestus, atau mungkin juga peri dari cerita dongeng lain yang selalu ia dengarkan dari ibunya saat ia masih seorang anak kecil di masa lalu. Di detik-detik terakhir matanya masih bertahan untuk tetap terbuka, dia akhirnya melihat sang putri yang selalu didambakannya itu, berdiri membelakanginya dengan gigih seolah berusaha untuk melindunginya.


Ah, aku melihat paradiso sedang bercahaya terang di atas sana......... Apakah ini adalah kedamaian yang sesungguhnya.


Pertarungan mereka masih berlanjut, kini dengan Aestus dan Nihilism yang menggantikan Flambeau yang jatuh pingsan karena luka panas yang membakar di dadanya. Bahkan saat dirundung oleh dua Prophet sekaligus, Hassen masih dapat bertahan cukup lama dan menangkis semua serangan mereka berdua dengan mudah. Aestus berputar ke belakang Hassen dan meninggalkannya dengan ribuan tebasan yang menyerangnya dari berbagai arah, dan Nihilism terus mengganggunya dengan hantaman pedang merahnya yang menghancurkan lantai basement setiap kali serangan itu tidak mengenainya.


“Hebat juga kau, manusia........” gumam Aestus yang memasuki kuda-kudanya.


Aestus memasukkan katananya ke dalam sarungnya, dan kemudian memusatkan seluruh gravitasi ke tengah kakinya. Matanya hanya terfokus ke satu tujuan, yaitu Hassen yang ada di depannya saat ini. Ia mengamati setiap gerak-geriknya dengan seksama, sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya ke depan, bersiap untuk segera melesat ke arahnya dan menghancurkannya dengan sekali serang.


“Oi, Nihil !! Menyingkir dari lintasan ku dan bawa si badut itu ke dalam pesawat !! Aku akan menahan manusia ini di sini sampai kalian berdua pergi keluar dengan pesawatnya !!”


Nihilism langsung mengerti apa maksud dari perintahnya Aestus itu, seketika melompat ke arah Flambeau yang pingsan dan meninggalkan Hassen yang kebingungan sesaat. Itu memberikan kesempatan yang cukup bagi Aestus untuk mengejutkan Hassen yang masih lengah dan ingin menyerang Nihilism sekali lagi. Aestus melesat ke arah Hassen tanpa pemberitahuan sama sekali, dan kemudian mulai menarik katananya saat Hassen sudah berada di dalam jangkauan serangnya.


“Lawanmu adalah aku, manusia bodoh !!”


“!!?”


Hassen masih dapat melindungi dirinya dari tebasan maut Aestus itu, seperti yang sudah Aestus duga bahwa ia terpaksa harus tidak ikut pergi ke Bulwark bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Sayangnya, tangkisan dari Hassen saat itu masih belum cukup kuat karena perhatiannya yang masih teralihkan kepada Nihilism, membuatnya masih terkena efek lain dari serangan pamungkas milik Aestus, yaitu terhempas hingga keluar dari hangar. Aestus mengetahui semua yang terjadi di belakangnya, bahwa Nihilism dan Flambeau telah masuk ke pesawat itu, dan kini mesinnya sudah dihidupkan, tinggal menunggu waktu penerbangan saja.


Aestus menoleh ke arah pesawat itu untuk yang terakhir kalinya, mengucapkan salam perpisahan kepada rekan-rekannya itu.


Pada akhirnya, tempat perlindungan manusia yang paling megah pun akan mengalami kejatuhannya, bahkan saat letaknya pun di antara kegelapan luar angkasa dan dikelilingi oleh ribuan bintang dan planet-planet besar di sekitarnya.

__ADS_1


Yang hidup, tidak akan pernah tidak mengalami yang namanya kematian.


__ADS_2