
Ledakan peluru terjadi dimana-mana, memenuhi seluruh ruangan sayap kiri tersebut. Tiap tembakan dan ledakannya benar-benar memekakkan telinga. Sangat cepat, tepat, dan juga sulit untuk diprediksi. Namun, itu semua tidak berlaku untuk sang seorang pria dengan parang dan shotgun yang ada di kedua tangannya itu. Pria itu menghindari tiap tembakan dengan sangat mudah. Melompat seperti seekor kelinci, dan menghindar dengan lincah seperti seekor serigala. Di tengah seluruh kekacauan yang ada di ruangan sayap kiri dari harapan terakhir umat manusia tersebut, pria itu berpindah kesana-kemari layaknya sedang melakukan sebuah pertunjukan sirkus terhebat sepanjang sejarah umat manusia.
“Kira-kira, sudah berapa kali kamu menembaki semua tembok besi yang indah ini, manusia ??”
“Diam lah, badut sialan !!”
“(Sigh) Semuanya selalu memanggilku dengan sebutan badut, huh ??” gumam Flambeau.
Kehabisan kesabarannya, Exceels seketika melesat ke arah Flambeau sambil berputar-putar, menembak ke segala arah tanpa henti. Ruangan tersebut semakin kacau dan rusak berkat semua tembakan asal darinya itu. Lagi-lagi, hasilnya pun tetap saja sama. Tidak ada satupun peluru yang yang dapat mengenai Flambeau. Yang ia dapat, justru sebuah tendangan belakang yang mengenai perutnya, menghempaskan dirinya hingga menghantam tembok besi Bulwark yang terkenal sangat kukuh itu.
“Kamu tahu ? Aku harusnya datang ke sini membawakan sebuah pencerahan buat orang-orang seperti kalian. Tapi ternyata, otak hasil dari keturunan monyet itu sudah dipenuhi oleh kegelapan dunia sampai-sampai cahaya ilahi kami pun tidak bisa menembusnya. Sangat disayangkan, bukan ??”
“Cih !! Pencerahan mu itu, yang membuat otak monyet manusia kembali lagi ke permukaan !!”
“Kurang ajar.......”
Dalam satu kedipan mata, Flambeau telah melesat ke arah Exceels, menendangnya sekali lagi hingga menembus tembok besi Bulwark. Tendangan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari olehnya. Seperti sebuah hukuman dari Tuhan. Sebuah amarah, yang membawa celaka dan penyesalan karena telah menyimpang dari cahayanya.
“Benar-benar sudah terkutuk, penuh dengan kesia-siaan dan kebodohan. Itukah yang kalian banggakan ? Membangun sebuah tempat di antara kekosongan luar angkasa, untuk menghindari apa yang tidak terhindarkan !!?”
Kematian memang tidak terhindarkan, tapi tetap saja, Exceels masih berusaha untuk menjauhkan dirinya dari genggaman maut sang kematian itu. Ia menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya yang memegang pistol ganda pemberian dari seseorang yang pernah ia kenal, yang katanya, merupakan satu-satunya tempat dimana orang-orang yang dikenalnya bisa menaruh harapan terakhir mereka dengan aman di antara kehancuran dunia ini. Ia telah memberikan harapan baru bagi mereka yang bersembunyi di balik tubuhnya, namun sayangnya, orang-orang yang berlindung di belakangnya itu tidak akan pernah datang untuk membantunya saat ini. Flambeau, menginjakkan kakinya di atas wajah Exceels, mengatakan bahwa ini sudah merupakan saatnya bagi melupakan tentang kehidupan umat manusia yang selama ini selalu ia lindungi bersama dengan timnya, bersama dengan 'keluarga' nya. Mengetahui bahwa mangsanya itu tidak akan bergerak lagi, Flambeau memutuskan untuk mengakhiri hidup Exceels lebih cepat daripada yang dia inginkan sebelumnya, mengarahkan shotgun nya ke kepala Exceels.
“Katakan, 'adios' !!”
Jadi, ini akhirnya, huh ??
...****************...
8 menit sebelumnya.
Lindungi dia, Incurso. Dia, masih anak-anak.
Incurso teringat kembali dengan seseorang pernah berdiri di antara dirinya dan Exceels di masa lalu. Seseorang yang selama ini selalu menyatukan mereka berdua menjadi apa yang orang-orang sebut sebagai kakak beradik yang sempurna. Dia harusnya adalah yang menghancurkan segala rintangan dengan kedua tangannya, dan Exceels adalah yang melangkah maju dan menciptakan kemungkinan baru bagi semua orang yang berlindung dari kehancuran dunia. Namun begitu orang tersebut menghilang ditelan oleh bumi dan waktu, ikatan di antara keduanya pun akhirnya terputus. Dia hanya menghancurkan segala sesuatu yang menghalanginya, dan Exceels hanya selalu berjalan melebihi dirinya. Keduanya selalu bersaing, berusaha untuk mengalahkan dewa yang merenggut seseorang tersebut dari antara keduanya. Hanya untuk mengetahui pada akhirnya, bahwa sang dewa itu juga, kini telah mengambil satu hal lagi dari mereka.
“Kalian semua tetap ke Limbo. Aku akan menjemput Exceels.”
“Tunggu dulu, bukan seperti ini rencana kita sebelumnya !!” seru Maria seketika.
Incurso baru saja berbalik ke belakang dan bahkan belum berjalan satu langkah sekalipun, namun Maria sudah ada di hadapannya, menghalangi jalannya. Semua mechanoid dan Militus yang ada bersama dengannya pun berhenti di saat itu juga, menaruh pandangan mereka ke arah keduanya. Incurso menghela nafasnya, dan kemudian menghampiri Maria sambil menatapnya dengan tajam.
“Kamu tahu apa yang aku lakukan setiap kali ada yang menghalangi, bukan ??”
“Coba aja lakukan itu ke aku.”
__ADS_1
Incurso menoleh ke belakang. Semua mata mengarah kepadanya saat ini. Pemandangan di belakang sana, seolah seperti sebuah deja vu dari kejadian yang sebelumnya saat Silvia mendatanginya sambil marah-marah. Ia tidak mungkin akan mengulangi kejadian yang memalukan itu di depan semua mechanoid dan Militus yang ada di bawah pangkatnya.
“Kekurangan aku saja tidak akan mengubah kekuatan kalian hingga 180°. Ada satu Prophet di sayap kiri, dan aku harus mengambil alih pertarungan itu segera. Lagipula, adikku itu jauh lebih paham tentang Limbo daripada aku sendiri.”
“Alasan yang bagus, bekas penjajah. Kamu yakin tentang adikmu itu ??”
“Dia pasti bisa, percayalah. Ini bukan saatnya untuk menghancurkan, tapi memperbaiki.”
Setelah mengatakan itu, Incurso kemudian menepuk pundak Maria sambil berjalan melewatinya, menuju ke arah yang sebaliknya dari Limbo. Semua orang termasuk Maria mengamatinya berjalan menjauh selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju ruangan Limbo. Memang benar apa yang dikatakan oleh Incurso. Ini bukanlah saatnya untuk menghancurkan satu-satunya harapan manusia, melainkan memperbaikinya.
“Helena, beritahu aku kabar Exceels sekarang ini.” ucap Incurso kepada Helena lewat comms yang ada di pergelangan tangan kirinya.
Beberapa detik kemudian, setelah jeda beberapa saat dengan suara statis yang sangat memekakkan telinga, Helena pun akhirnya muncul di comms Incurso dalam bentuk hologram. Dia nampak sedang sangat sibuk di balik layar hologram tersebut, sama seperti yang lainnya juga saat ini. Semua orang yang dikenalnya, sedang melakukan tugas mereka masing-masing.
“Kamu harus cepat, Incurso. Dia tidak bisa mengalahkan Prophet badut sialan itu sepertinya.”
“Sudah kuduga.........”
Incurso pun menutup saluran comms nya, dan setelah itu, ia segera bergegas menuju ruang sayap kiri tempat Exceels sedang berada saat ini. Baginya, jika Exceels tidak bisa ia selamatkan sekarang, itu akan sama dengan umat manusia yang kehilangan satu-satunya harapan terakhir mereka. Ia tidak dapat membiarkan itu terjadi, dan tidak akan pernah membiarkan itu terjadi juga. Jika tangan sang dewa jahat itu berusaha untuk mengambil adik satu-satunya seperti yang dewa-dewa jahat itu lakukan pada sosok 'ayah' mereka, maka ia hanya perlu menghancurkan tangan dewa-dewa jahat itu dengan kekuatannya.
Lagipula, memang itulah tujuannya terlahir di dunia ini sejak dulu. Untuk menghancurkan halangan apapun yang berusaha untuk melawan manusia.
Menghancurkan, apa yang mustahil untuk dihancurkan.
...****************...
“Katakan, 'adios' !!”
Suara tersebut mengalihkan perhatian Flambeau seketika. Begitu ia menoleh ke arah sumber suara tersebut, ia langsung dihempaskan oleh dorongan misterius yang sangat kuat, membuatnya menghantam tembok besi yang ada di belakangnya. Namun, ledakan tersebut tidak terlihat asing bagi Exceels. Ia mendongak ke atas, dan di saat itulah, ia melihat Incurso yang sedang berjalan menghampirinya.
“Incurso........”
“Kamu keliatan sangat buruk tahu, insinyur pemula.”
Hanya dengan satu ledakan dari tonfas di tangan Incurso itu saja, tanda-tanda bahwa Flambeau akan segera bangkit kembali pun terlihat seperti tidak akan terjadi dalam beberapa saat kemudian. Exceels mengambil nafas lega, kemudian sedikit mengangkat tubuhnya menghadap ke wajah Incurso yang sudah jongkok di hadapannya saat ini.
“Apa yang kamu lakukan di sini ?? Bukannya kamu harusnya ikut ke Limbo bersama dengan yang lainnya ??”
Mendengar pertanyaan Exceels itu, Incurso merenung sejenak, kemudian memutar tonfa nya sehingga ujung panjangnya lah yang menghadap ke arah Exceels saat ini.
“Yang aku tahu cuma cara untuk menghancurkan, sementara kamu, tahu segalanya tentang mesin raksasa dari 'Babel' itu. Aku bisa menghancurkan badut sialan ini, sementara kamu bisa memperbaiki mesin raksasa itu. Bukankah itu yang selalu kita berdua lakukan saat Scire ada bersama dengan kita ??”
Bersama dengan sosok yang bernama Scire, mereka berdua seolah tidak akan pernah terkalahkan. Bersama dengan sosok yang bernama Scire itu, mereka seolah telah naik tingkatan menjadi makhluk yang abadi. Mereka bagaikan telah memakan buah persik para dewa yang memberikan keabadian pada seekor kera semata. Namun saat sosok yang bernama Scire itu akhirnya telah pergi meninggalkan mereka berdua, apa yang tersisa dari kebersamaan yang pernah mereka miliki ? Hanya sebuah kenangan saja. Namun berkat kenangan yang tidak dapat dilupakan itu, keduanya akhirnya bisa kembali seperti semula. Walaupun sosok Scire itu sekarang sudah tidak ada bersama dengan mereka lagi, namun berkat kenangan yang tidak dapat mereka lupakan itu, mereka akhirnya dapat membuktikan, bahwa apa yang mustahil itu, masih dapat mereka hancurkan. Masih dapat mereka ubah. Masih dapat mereka perbaiki.
__ADS_1
Exceels memegang ujung tonfa yang disodorkan oleh Incurso tersebut kepadanya, kemudian menatap mata Incurso dengan tatapan yang serius.
“Kamu baik-baik saja kalau aku tinggal sendirian ??”
“Pastinya. Aku bakal sangat menikmati penghancuran ini, insinyur pemula.”
“Hmph, terserah apa katamu, maniak penghancur.”
Exceels pun akhirnya berdiri sambil menyimpan kedua pistolnya di dalam saku celananya, menggantikan keduanya itu dengan tonfas yang diberikan oleh Incurso kepadanya. Exceels menepuk pundak Incurso tiga kali sebagai ucapan selamat tinggal, kemudian berjalan menuju tempat Limbo berada. Dan sementara Exceels berjalan meninggalkannya, Incurso berdiri kembali menghadap ke arah Flambeau yang tubuhnya kini telah diselimuti oleh kekuatan dari Star Net sambil meregangkan kedua tangannya. Incurso menyeringai, kemudian segera beralih ke kuda-kudanya. Ya, dia benar-benar akan sangat menikmati penghancuran badut sialan itu saat ini.
“Waw, benar-benar sebuah drama keluarga, huh ??” gumam Flambeau.
Incurso hanya mendecih kesal, kemudian langsung melesat ke arah Flambeau bersama dengan tinjunya yang terangkat.
“(Sigh) Semuanya selalu saja sama.......” gumam Flambeau.
Flambeau hanya memiringkan kepalanya untuk menghindari pukulan keras Incurso yang membelah angin tersebut. Mengetahui bahwa Flambeau memiliki refleks secepat kilat, Incurso pun menarik tinjunya sekali lagi, kemudian melakukan sebuah jab cepat ke arah wajah Flambeau. Lagi-lagi, Flambeau dapat menghindarinya dengan mudah, melakukan flip ke belakang sebanyak tiga setelahnya. Flambeau tidak terkena efek dari pukulan kerasnya sedikitpun, membuat Incurso semakin bersemangat dan menyeringai dengan sendirinya tanpa ia sadari.
“Coba lebih lagi, manusia sialan.”
“Kamu yang minta itu, badut !!”
Setelah mencondongkan tubuhnya ke depan, Incurso seketika mendorong tubuhnya untuk melesat ke arah Flambeau. Begitu ia sudah dekat dengannya, Incurso menghujani Flambeau dengan rentetan tinju dari tangan cybernetic miliknya. Tiap pukulan yang keras dan cepat itu dapat dihindari dengan mudah oleh Flambeau. Tidak ada satupun dari bagian tubuhnya yang pernah terkena pukulan dari Incurso. Flambeau pada akhirnya mulai bosan, memutuskan untuk menangkis salah pukulan Incurso yang mengarah ke kepalanya dengan parangnya. Keduanya, kemudian saling menatap satu sama lain sejenak.
“Kamu benar-benar sangat membosankan, tahu.”
“Kebetulan, aku bisa membuatmu nggak bosan lagi.”
Flambeau mendecih karena tidak percaya, kemudian memutar tangan kanan Incurso dengan memutar parangnya. Awalnya ia berniat untuk menebas tubuh Incurso dengan parangnya setelah tangan kanan Incurso itu menjauh darinya, namun yang tidak ia ketahui adalah, itu sebenarnya yang diinginkan oleh Incurso. Dengan gerakan cepat saat tangan kanannya terayun ke atas, tubuh Incurso memancarkan cahaya biru terang, dan seketika itu juga ia telah menghantam Flambeau dengan sebuah perisai photon yang terbentuk di sisi depan tubuhnya. Dorongan itu sangatlah kuat, sampai-sampai membuat Flambeau terlempar kembali ke dalam ruang sayap kiri Bulwark yang ada di belakangnya itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Incurso langsung mengambil senapan sniper miliknya, membidik ke arah Flambeau yang masih terbaring di atas lantai.
“Ini sangat mudah, badut !!”
Tepat di saat pelatuk ditarik, sebuah ledakan energi berwarna biru pun melesat membelah udara. Ruang sayap kiri itu seketika bergetar dengan sangat hebat berkat ledakannya, seolah itu akan segera jatuh ke dalam kehampaan yang kosong. Seolah Incurso menghancurkan satu-satunya harapan manusia dengan tembakan dari senapan sniper miliknya itu, namun ia sebenarnya menghancurkan salah satu ancaman umat manusia. Tubuh Flambeau sudah tidak terlihat lagi setelah dilahap oleh kepulan asap tebal dari ledakan yang besar itu. Incurso pun menurunkan senapannya setelah menunggu selama beberapa saat. Tidak ada tanda-tanda bahwa Flambeau akan bangkit atau menyerangnya kembali. Incurso mengamati kepulan asap itu sejenak, mengucapkan selamat tinggal terakhir pada salah satu Prophet itu, kemudian berjalan kembali menuju ke arah ruang Limbo meninggalkan ruang sayap kiri itu sendirian.
Ia kira dengan menghilangnya satu Prophet yang menyerang Bulwark, harapan umat manusia telah ia selamatkan kembali, namun itu semua tidak seperti dugaannya, ketika tiba-tiba saja, seluruh lampu yang ada di lorong di seluruh Bulwark padam begitu saja. Frame nya seketika membunyikan alarm yang memekakkan telinga. Spontan, ia langsung membuka comms yang ada di pergelangan tangan kirinya, namun layarnya tidak berwarna biru seperti biasanya. Layar comms tersebut justru berwarna merah, dan sebuah tulisan tertulis di layarnya.
Aku masih belum mati, bodoh !! Kalian lah yang sebenarnya mati saat ini !!
IMP telah digantikan dengan sang ratu, dan itu artinya, kalian semua sudah berada di genggaman tangan ku, dan juga kami, para Prophet !!
Aku bukan mati......... Hanya saja aku hidup kembali di dimensi lain yang tidak kelihatan oleh kalian para makhluk fana !!
Gods **** you all, mortales !!
__ADS_1
Bunyi alarm dari frame nya itu mengatakan bahwa tingkat infeksi dari virus yang ada di sekitarnya telah melebihi batas yang dapat ia tahan dengan dirinya sendiri, begitu juga dengan Bulwark saat ini. Pada akhirnya, satu-satunya harapan manusia memang telah ditakdirkan oleh yang mustahil untuk dikalahkan maupun dihancurkan. Nasib terakhir umat manusia memang sudah ditakdirkan sejak awal oleh mereka, yaitu untuk dimusnahkan. Tidak peduli apa yang dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan hidup mereka, semuanya hanyalah akan berakhir dengan satu kata. Sia-sia.......
Badut sialan itu bergabung dengan virusnya !!