
“Mati....... Semuanya mati....... Semuanya........”
Vita jatuh berlutut di atas tanah virtual Limbo yang dipenuhi dengan genangan darah. Di sekitarnya hanya ada tumpukan mayat para Limbo M.I.N.D yang berserakan dimana-mana. Langit berwarna merah darah, dan pohon satu-satunya yang berdiri di depannya telah layu, kehilangan hidupnya bahkan di dunia virtual sekalipun.
Vita terus berusaha untuk melakukan berbagai hal yang sekiranya bisa ia gunakan untuk membangkitkan para Limbo M.I.N.D yang telah berubah menjadi mayat tak berbentuk dengan partikel merah yang ada di sekitar mereka itu, namun seluruh ilmu pengetahuan tentang dunia medisnya bahkan tidak dapat membantu dirinya sama sekali. Vita akhirnya hanya bisa menunduk sambil menangis di atas lautan merah darah itu, menyesali dirinya sendiri yang tidak mampu untuk menyelamatkan mereka semua yang ada bersama dengannya.
“Kenapa........ Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa !??”
...****************...
[M.I.N.D TRANSFER : 100%]
[NEURAL COMPATIBILITY : 100%]
[VISUAL CHECK : COMPLETE]
[AUDITORY CHECK : COMPLETE]
[SENSORY CHECK : COMPLETE]
[ALL RESTS BODY PART CHECK : COMPLETE]
[BEGIN IMPORTING TEMPORAL FRAME DATA : ......]
[TEMPORAL FRAME DATA SUCCESSFULY ACTIVATED]
[RESSURECTING VIRTUAL FRAME DATA : DARK SHINE SILVIA -> 100%]
Silvia membuka matanya, dan kini ia telah berada di dunia yang benar-benar berbeda, sebuah dunia yang tidak pernah dikenalnya. Ia mengamati kedua tangannya yang saat ini dilapisi oleh pelindung karbon berwarna hitam pekat dan garis-garis kemerahan. Itu akhirnya mengingatkan pada dia dengan frame di dunia virtualnya yang sudah seperti sangat terbengkalai. Bertarung menggunakan frame ini mungkin saja sudah ketinggalan jaman, dan seluruh kemampuan barunya yang telah ia peroleh lewat latihan yang sangat panjang dan seperti neraka itu kemungkinan besar tidak akan bisa ia keluarkan sepenuhnya.
“(Sigh) Apapun demi Vita !!” ucapnya, menyemangati dirinya sendiri.
Silvia kemudian terus berjalan ke depan, tidak mempedulikan pemandangan mengerikan apapun yang ada di sekitarnya. Limbo terlihat bagaikan tanah gersang yang melanda seluruh bumi selama ini. Baik itu di atas ataupun di atas, keduanya tetap saja sama. Wabah yang mengerikan masih saja mengamuk dan menghancurkan tempat tinggal manusia. Jika begitu, apakah itu berarti semua yang dilakukan oleh manusia selama ini hanyalah sia-sia saja ? Karena setiap usaha yang selalu dilakukan oleh mereka semua untuk menghindari wabah dan bencana, itu tidak pernah membawa mereka menjauh dari keduanya.
Silvia tiba-tiba melihat sebuah tanah virtual yang ada di depannya melayang secara perlahan dalam bentuk segi enam, dan data-data terkorupsi mengalir dengan begitu cepat di sekelilingnya. Hal itu berhasil untuk menarik perhatian Silvia, yang membuatnya datang menghampiri blok tanah virtual yang melayang itu kemudian sedikit menyentuh salah satu aliran data di permukaannya yang mengalir dengan sangat lambat. Sebuah layar hologram pun kemudian muncul, dan warnanya birunya setelah itu berubah menjadi merah setelah bertahan selama beberapa saat.
COLLAPSE DATA : [REDACTED]
__ADS_1
“Huh ? Maksudnya, dunia virtual ini akan segera runtuh ??”
Silvia menoleh ke sekelilingnya karena itu, dan pemandangan yang sama pun mulai bermunculan di setiap bagian yang dilihatnya. Hal itu saja sudah cukup untuk membuat Silvia sangat yakin kalau Limbo sebentar lagi akan runtuh jika ia terus membiarkannya. Silvia pun menyimpan pedangnya, kemudian mulai berjalan cepat melewati berbagai blok data rusak yang terus terangkat ke atas tanpa henti. Tanah virtual tandus yang sedang menjadi pijakan kakinya itu, kini mulai menghilang satu per satu, mengungkapkan kekosongan berwarna merah darah yang bersembunyi di bawahnya. Silvia tetap tidak mempedulikan hal itu, dan ia memutuskan untuk berlari semakin cepat. Celah-celah berwarna merah mulai muncul di permukaan tanah virtual dan seluruh Limbo M.I.N.D yang tergeletak di atasnya pun terintegrasi menjadi hanya sekedar pecahan-pecahan data virtual rusak yang pastinya sudah tidak dapat dipulihkan lagi.
“Sialan....... Sudah kayak dunia lain aja tempat ini !!”
Silvia berlari lebih cepat lagi, saat tiba-tiba saja, permukaan tanah yang dipijaknya itu mulai menanjak ke atas, membawanya semakin dekat dengan langit merah Limbo jika Silvia masih terus berlari saat itu. Dan itu memang yang dilakukan oleh Silvia. Ia terus berlari, tidak peduli akan kemana permukaan tanah yang menanjak itu mengantarkannya. Yang paling penting baginya saat ini adalah, ia dapat bertemu dengan Vita kembali. Hanya itu saja.
Namun tiba-tiba, frame temporal milik Silvia mengalami serangan glitch parah, begitu juga dengan pemandangan di sekitarnya. Langit merah Limbo runtuh menjadi pecahan-pecahan kaca, dan data eror mengalir bagaikan amukan ombak di dalam M.I.N.D Silvia. Hanya dalam hitungan detik saja, isi kepala Silvia sudah bagaikan sebuah medan pertempuran, penuh dengan kekacauan dan juga ledakan. Silvia sudah tidak bisa menahan rasa sakit luar biasa yang menyerang kepalanya itu lebih lagi, membuatnya jatuh berlutut di atas tanah virtual yang menanjak itu. Seketika, sebuah goncangan dahsyat menghardik dunia virtual tersebut, dan itu membuat tanah yang dipijak oleh Silvia saat ini runtuh ke bawah bersama dengannya, menuju ke kedalaman neraka di mana hanya ada kekosongan, dan warna merah darah dari setiap nyawa manusia yang ditumpahkan selama ini.
Ini......... Masih belum saatnya.......
Aku......... [%!!**?]........ Menyelamatkan....... Vita !!
...****************...
“Bagaimana dengan kalian, ma, pa ??”
“Kamu selamatkan dirimu saja. Kita berdua, yang akan menghadapi neraka itu. Tetaplah hidup, Silvia. Karena semua yang dapat bertahan dari bencana ini, nantinya akan menjadi obor terakhir umat manusia. Umat manusia masih belum berakhir, Silvia. Dunia ini, masih ada pada jalannya.”
“Apa yang membuat manusia justru berjalan mendekat kepada kematiannya sendiri ? Aku selalu bertanya-tanya tentang itu.......”
Silvia dibangunkan oleh suara wanita misterius yang tidak berekspresi itu. Ia membuka matanya, hanya untuk menemukan dirinya yang sedang melayang di dalam ruang hampa berwarna merah darah. Semakin lama ia berada di dalam kehampaan itu, semakin dalam pula ia terjatuh ke bawah. Ia berusaha untuk 'mendorong' dirinya sendiri untuk ke atas, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia semakin jatuh lebih dalam lagi, dan ruang hampa itupun menjadi semakin lebih gelap daripada yang sebelumnya. Seluruh usaha yang dilakukannya itu, adalah sia-sia.
Kenapa manusia selalu mencoba untuk menghindari apa yang tak terhindarkan oleh mereka ? Apa yang membuat mereka mampu berpikir seperti itu ? Apa yang sebenarnya, mendorong mereka menjadi makhluk yang sebodoh itu ??
“Siapa di sana, sialan !!?”
Suara mendengung mulai terdengar oleh telinganya, sebelum akhirnya ia harus merasakan panas yang secara perlahan mulai terasa seperti akan membakar temporal frame miliknya. Masih tidak mau mati di dalam kehampaan itu, Silvia berusaha untuk 'berenang' kembali untuk mencapai ke atas. Bahkan setelah suara wanita tak berekspresi itu menanyakan apa yang membuat manusia terus berusaha untuk menghindari apa yang tidak terhindarkan, ia masih saja melakukannya, menghindari apa yang tidak terhindarkan. Namun tetap saja. Apa yang mutlak, akan selalu mutlak di dunia ini. Ia tidak dapat menghindari apa yang telah ditetapkan oleh alam sebagai absolut, seperti halnya dengan kematiannya yang begitu menyedihkan saat ini.
Silvia meringis kesakitan, saat temporal frame miliknya kini mulai mengalami overheat yang sangat parah. Yang awalnya adalah keinginan untuk mencapai ke permukaan, kini ia ganti dengan usahanya untuk melepaskan frame temporal yang tidak lama lagi mungkin akan meledak itu. Namun lagi-lagi, tidak ada dapat dilakukannya kecuali menyerahkan dirinya pada apa yang tidak terhindarkan.
Aku adalah hasil evolusi dari program Star Net, IMP. Sebut saja aku sebagai Trux. Hampir sama dengan teknologi AI yang selalu kalian bangga-banggakan selama ini, hanya saja aku lebih cepat berevolusi daripada mereka semua.
Begitu Trux selesai dengan perkenalannya, ribuan jaring-jaring berwarna merah terang yang saling terhubung dengan satu sama lain terungkap di hadapan Silvia. Ia dikelilingi oleh ribuan jaring-jaring merah itu bagaikan seekor ikan yang tertangkap oleh nelayan dengan jaring mereka.
“Apa-apaan ini ? Jangan bilang.......”
__ADS_1
Dugaan mu benar, manusia. Star Net, sebuah kekuatan mutlak yang merupakan satu-satunya yang ada di dalam dunia ini. Karena keberadaannya lah, para Prophet ada sekarang. Aku lah yang membuatnya, dan aku juga lah yang menyediakannya. Aku, adalah sang Dewa di sini, dan selamanya pun akan selalu seperti itu.
“Oh, begitukah ? Perkenalan yang bagus memang. Kamu mau merekrut ku menjadi salah satu dari mereka, bukan ? Manusia tidak ada yang bakal sebodoh itu, sialan !!”
Ucapan mu itulah yang menjadi bukti kebodohan manusia, makhluk fana. Kenapa engkau menolak kekuatan yang memberimu kekuatan abadi, saat kalian semua benci dengan tubuh fana kalian ? Kenapa engkau menolak untuk dapat bertahan hidup selamanya, saat engkau begitu putus asa ketika dihadapkan dengan kematian ? Kenapa manusia sepertimu, selalu memegang erat yang namanya rasa sakit, saat itu semua lah yang selalu menyiksa kalian para umat manusia ?? Itu semua adalah ketidak logisan, sebuah kebodohan !!
“Cih, kamu bertanya terlalu banyak, bangsat....... Jadi biar aku jawab semua pertanyaan bodoh mu itu. Itu karena, rasa sakit adalah satu-satunya bukti orang sepertiku masih hidup, AI sialan!!”
Silvia merentangkan tangan kanannya, kemudian membuka telapak tangannya. Seketika itu juga, kekuatan misterius mengalir ke dalam tubuhnya, membuat sekujur tangan kanannya dipenuhi dengan garis-garis merah yang bercahaya sangat terang seperti lampu pijar. Seperti yang dikatakannya, bahwa rasa sakit adalah satu-satunya bukti bahwa manusia masih hidup di dunia ini, rasa sakit yang ditimbulkan oleh kekuatan misterius tersebut membangkitkan seluruh adrenalinnya, membuatnya dapat mengubah posisinya saat ini menjadi berdiri sambil melayang di tengah-tengah jaring-jaring Star Net itu. Kini, bukan lagi sang Dewa yang menatap ke arahnya, melainkan adalah dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kamu sendiri yang menyerah pada kekuatanku, bukan ? Berkatmu, evolusi ku menuju ke wujud absolut itu menjadi lebih dekat lagi. Sebentar lagi, aku lah yang akan menjadi penguasa dunia bawah ciptaan manusia ini, dan tidak lama kemudian, aku lah yang akan menjadi penguasa di antara kalian para manusia !!
“Heh, jangan berharap jadi dewa dulu, sialan !! Aku menerima sampah buatan mu ini, karena aku akan melemparkannya sebentar lagi saat kamu sudah jadi dewa, bangsat !!”
Itu tidak akan pernah terjadi. Kamu telah membayangkan untuk melakukan apa yang tidak mungkin bisa kamu lakukan, makhluk fana.
“Tidak kalau aku sendiri yang menjadi abadi di sini, sialan !!”
Kini Silvia merentangkan tangan kirinya, menerima kekuatan dari Star Net jauh lebih banyak lagi. Silvia mengerang kesakitan, namun itu hanyalah bukti bahwa ia masih hidup saat ini. Bahkan jika ia sudah tidak lagi merasakan apa itu rasa sakit jika dirinya benar-benar menjadi abadi suatu hari nanti, setidaknya ia masih bisa mengingat hal tersebut di dalam memorinya. Saat-saat dimana ia rela untuk merasakan rasa sakit demi orang yang selalu berada bersama dengannya, yang selalu menolong dan menghiburnya. Bahkan jika ia sudah kehilangan bukti bahwa ia masih 'hidup' di dalam dunia ini, setidaknya itu setimpal dengan dirinya yang berhasil menghidupkan orang lain yang dekat dengannya, yang berada dalam genggaman kematian saat ini.
Silvia telah menahan rasa sakit yang luar biasa tersebut begitu lama, hingga akhirnya ia sudah tidak mampu lagi untuk menahannya. Silvia membuka matanya seketika, dan dari kedua matanya itulah, Silvia memancarkan sebuah kilatan cahaya merah yang hanya dapat disadari oleh Trux saja. Dua buah mata berukuran raksasa muncul di saat itu juga, dan Silvia dapat mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa kedua mata itu sedang tidak percaya dengan apa yang barusan saja dilihatnya.
Dasar makhluk fana yang sudah gila !! Apa-apaan kamu ini sebenarnya !!?
“Kamu bertanya ?? Sudah kubilang, aku adalah orang........ Yang akan menghajar pantat wujud dewa sialan mu itu, bajingan !!”
Dengan kekuatan barunya yang ia dapat, Silvia secara tanpa sadar menciptakan sebuah ledakan dahsyat yang keluar hingga mencapai permukaan virtual Limbo. Seluruh jaringan Star Net yang ada di sekitarnya itu mulai putus satu per satu karenanya, dan seluruh jaringan itu termasuk Trux pun menghilang lenyap ke dalam kehampaan yang tidak diketahui.
Beberapa saat kemudian, Silvia membuka matanya, mendapati bahwa dirinya saat ini sedang mencium tanah virtual Limbo dengan seluruh wajahnya sendiri. Pertemuannya dengan Trux barusan memang tidak pernah ia duga-duga, namun kekuatan dan wujud barunya saat ini adalah yang paling tidak terduga menurutnya. Frame temporal miliknya yang sudah usang dan ketinggalan jaman itu, kini telah terlahir kembali menjadi baru, begitupun juga dengan dirinya.
Dengan kekuatan baru yang sebesar itu, membuatnya harus berpikir sejenak. Apa yang akan dilakukannya setelah ini ? Berbaur dengan para mechanoid seperti hari-hari biasanya, atau justru menggunakan kekuatannya itu untuk melawan penjajahan Bulwark bersama dengan orang-orang dari dunia lain sana ?
“Dasar bodoh, lupain aja. Aku masih harus nyelametin Vita saat ini !!”
Dan begitulah. Silvia akhirnya melanjutkan perjalanannya kembali di dunia bawah ciptaan manusia itu, untuk menyelamatkan seseorang dari apa yang seharusnya tidak terhindarkan.
Tunggu aku di sana, Vita........
__ADS_1