
Engkau harus bertarung seperti laki-laki.
Jadi dia bertarung seperti laki-laki.
Engkau harus membunuh semua anjing gila.
Jadi dia membunuh semua anjing gila.
Engkau harus menemukan kedamaian di balik arus.
Jadi dia berlari melawan arus demi kedamaian yang hilang.
Engkau akan membawa keadilan seperti cahaya ilahi yang membawa pelipur lara abadi.
Tetapi dia tersesat di tengah pelipur lara yang abadi.
Ada sebuah kisah lama, tentang harta karun dan bajak laut. Di tengah lautan yang sangat luas, dan hampir tak terjangkau ujungnya, sebuah kapal besar sedang terombang-ambing oleh gelombang laut kecil. Kapal itu sudah ada di sana sejak lama, lebih dari lima hari tepatnya. Di dalam kapal itu, adalah para bajak laut dengan tubuh gagah mereka dan wajah yang sangat mengerikan. Setiap harinya, para bajak laut hanya berlalu kesana-kemari di dalam kapal, tidak memiliki tujuan apapun selain menjalani sisa hidup mereka yang membosankan di dalam kapal besar itu. Juru mudi tidak sedang memutar roda kapal, dan komando tidak menyuruh awak kapal yang lainnya melakukan sesuatu. Sang pelaut tidak ada di tempatnya mengatur layar kapal. Para penjaga kapal tidak sedang memegang pedang mereka atau pistol mereka. Mereka tidak seperti apa yang dibayangkan oleh anak-anak sebagai petarung yang kuat selama ini. Sang dioptra menganggur di tempatnya, masih menunggu satu tangan manusia siapapun itu untuk menyentuhnya dan menggunakan fungsinya. Dek kapal dipenuhi oleh kru kapal, menemani kotak-kotak penyimpanan mereka yang diisi oleh udara saja. Lima hari berlayar, dan para bajak laut itu tidak mendapatkan apa-apa sama sekali.
Angin sepoi-sepoi, seakan-akan enggan untuk mendorong kapal itu lebih jauh lagi. Permukaan laut hanya naik turun, seolah sang laut yang luas bekerja sama dengan angin untuk menjebak kapal besar itu di tengah-tengah kehampaan alam. Para bajak laut hanya duduk diam di dek kapal tanpa melakukan apa-apa. Mereka hanya minum, tidur, bangun, dan kemudian minum lagi. Hanya itulah keseharian para bajak laut yang mengerikan seperti binatang buas itu. Harapan mereka untuk melihat kapal ini bergerak kembali sama seperti debu yang terangkat tinggi ke atas langit, menghilang hanya dalam satu detik saja. Namun keputusasaan itu sirna seketika saat suatu hari, seorang bajak laut muda memutuskan untuk naik ke atas tiang kapal lagi, melihat ke kejauhan laut yang seperti tidak berujung.
“Aku melihat kapal ! Aku melihat kapal !!” seru bajak laut muda itu.
Awalnya tidak ada yang menghiraukan seruan bocah itu, namun setelah beberapa saat keheningan, sang kapten memutuskan untuk bangkit kembali dari keterpurukan ini dan melihat ke kanan dan kiri, ke depan dan ke belakang menggunakan teropong panjangnya. Matanya seperti mata elang saat memburu mangsa, tidak melewatkan sedikitpun dari jangkauan pandangnya. Sang nahkoda kemudian terkejut, saat seruan bajak laut muda itu ternyata adalah benar, hanya saja lebih buruk daripada perkiraannya.
“Bocah-bocah, kencangkan kerah bajumu ! Angkat pedangmu, dan siapkan pistol mu !! Dari arah Utara adalah kapal penyerang ! Kita akan berperang sebentar lagi !!!”
Seruan sang nahkoda segera membangunkan awak-awak kapal yang langsung berlarian kesana-kemari mengambil peralatan-peralatan tempur mereka yang berserakan dimana-mana. Tidak ada yang perlu diragukan lagi dari seruan sang nahkoda.
“Pak, bagaimana caranya kita berperang di kapal tanpa ada angin ?”
“Kamu bertanya, bocah !? Kalau kapal sialan itu mendekati kita, sudah pasti ada angin !!”
Dan seperti yang dikatakan oleh sang nahkoda, angin tiba-tiba berhembus sangat kencang dari arah selatan, meniup layar kapal dengan amukannya yang begitu dahsyat.
“Ini bantuan dari Dewa !! Kita maju sekarang !!”
Para bajak laut mengangkat pedang mereka dan berteriak keras. Semangat mereka terbakar kembali. Tanpa rasa takut sama sekali, sang juru mudi mengarahkan kapalnya sedikit serong ke Utara. Para pengangkut berlarian ke dalam lambung kapal membawa peluru meriam di tangan mereka. Kedua kapal semakin dekat dengan satu sama lain. Suara amukan dapat terdengar keras di kedua kapal.
“Tembakkan bocah bundar itu !!” seru sang nahkoda.
Meriam pun ditembakkan, menghancurkan lambung kapal penyerang dan membiarkan air laut dengan ganasnya memenuhi bagian dalam kapal penyerang tersebut.
“Sialan kau, kumis hitam !! Bocah-bocah, serang !!” seru nahkoda kapal penyerang.
Ribuan peluru berterbangan kesana-kemari. Ledakan bom meriam ada dimana-mana, membisingkan lautan yang luas itu. Korban berjatuhan di kapal penyerang, sedangkan dari kapal bajak laut, mereka semakin beringas dalam pertempuran itu. Sang bajak laut muda melemparkan sebuah tali yang dengan cepat mengikat tiang utama dari kapal penyerang, dan ia pun berayun ke dalam kapal penyerang itu dengan keberanian yang tidak pernah padam. Sang nahkoda tercengang, dan kemudian mengacungkan pedangnya ke atas langit hingga membelah awan-awan.
“Ikuti bocah pemberani itu !! Dekatkan kapal, dekatkan kapal !!”
Juru mudi mendekatkan kapal ke kapal penyerang, dan di saat itu juga, para bajak laut yang pemberani tanpa basa-basi melompat ke dalam kapal penyerang dan membantai siapa saja yang masih selamat dari penyerang tersebut. Dengan berani, sang bajak laut muda langsung berhadap-hadapan dengan pemimpin kapal penyerang. Bajak laut muda itu berdiri dengan gagah sambil menghunuskan pedangnya ke arah pemimpin kapal penyerang. Sekalipun wajah pemimpin kapal penyerang itu bertekuk-tekuk dan sangat mengerikan seperti orang galak, bajak laut muda itu tidak mengambil satu langkah mundur sekalipun.
“Kau cari mati, bocah !!”
Pertarungan yang hebat pun terjadi. Dentingan pedang menggelegar hingga ke lapis langit ketujuh. Percikan-percikan api bermunculan setiap kali pedang keduanya saling bertemu dan bertabrakan. Sang pemimpin kapal perang itu tidak pernah berada di dalam pertarungan yang sesengit ini, begitu juga dengan sang bajak laut muda.
“Harus ku akui, kau hebat, bocah !! Siapa namamu !!?”
“Panggil aku Billy the Innocent ! Sekarang giliranmu, pak tua !!”
“Billy ? Akan kuingat itu !! Panggil aku Black Beard sang Tiran..... Bocah !!”
Black Beard mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat hingga bumi pun bergetar, laut bergelora, langit terbelah, dan pedang bajak laut muda itu terbang meluncur ke ketinggian cakrawala.
“Kamu memang hebat, bocah. Tapi hari ini, tetaplah hari kemenangan ku !!”
Black Beard meluruskan pedangnya yang membelah udara. Sudah tidak ada harapan lagi bagi sang bajak laut muda untuk selamat dari serangan pamungkas Black Beard. Namun itu semua dihentikan oleh sang nahkoda kapal yang rela menjadikan dirinya sebagai perisai bagi bajak laut muda.
“Apa !!?”
“Black Beard..... Itu adalah namaku, pala botak !!”
Black Beard asli menembakkan peluru panas dari pistolnya ke arah kepala si palsu, membunuhnya di tempat seketika. Sang nahkoda jatuh ke belakang, namun dirinya langsung disanggah oleh sang bajak laut muda. Nafasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Namun terlepas dari itu semua, sang nahkoda masih bisa tersenyum lebar pada Billy. Sang nahkoda kemudian mengambil cerutunya yang ada di kantong celana, kemudian menaruh cerutu itu di mulutnya dan menghisapnya untuk yang terakhir kali.
“Bocah.... Namamu Billy, huh ? Heheheh, kamu hebat. Kamu satu-satunya orang yang layak dapat penghargaan dari aku, bocah. Ahahahah !”
“Dan kau si Black Beard yang legendaris itu.”
“Si palsu itu juga hebat sebenarnya, tapi dia keceplosan di saat-saat terakhir, saat senjata runcingku sudah menghadap ke kepalanya. Heheheh !”
“Keceplosan ? Itu bukan kata yang tepat sepertinya......”
“Tertawa saja, bocah. Itu adalah candaan terakhir dari Black Beard mu yang legendaris itu. Era ku berakhir di sini, Billy. Sekarang adalah saatnya buat era mu berjaya....... Semua kekuasaan ku buat sekarang, bocah !!”
Setidaknya, pak tua berjenggot hitam panjang ini tahu....... Bahwa legendanya tidak akan hilang begitu saja.......
Pada akhirnya, Black Beard sang bajak laut legendaris menutup matanya, dan ia digantikan oleh Billy yang berganti julukan menjadi Billy the Bad. Pada hari itu, para bajak laut mendapatkan jarahan yang luar biasa hebat banyaknya, namun juga kehilangan sesuatu yang besar di saat yang bersamaan. Mereka bersorak-sorak kegirangan, namun juga menangis dalam kesedihan yang mendalam. Sejak hari itu, kapal mereka berlayar kembali dengan dek yang penuh perhiasan berharga. Namun Billy dan para bajak lautnya tetap dihantui oleh hal yang sama, yaitu amukan laut yang tak terbatas. Badai yang dahsyat, gelombang laut yang hebat, dan angin riuh yang kencang. Semuanya itu telah dihadapi oleh Billy dan para bajak lautnya yang selalu teguh dan perkasa. Namun, semua keburukan itu pada akhirnya harus berakhir dengan sorak-sorai kemenangan.
Di malam yang ke lima puluh satu, Billy menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di antara tumpukan harta mereka. Sebuah peta harta karun, yang terletak di sebuah pulau yang tak diketahui. Di dalam dek kapal yang luas itu, ia berteriak sekencang mungkin hingga membangunkan awak kapal yang lainnya. Mereka semua berlari dengan cepat ke luar dek dengan panik, hanya untuk menemukan Billy sedang tersenyum lebar ke arah mereka semua.
“Ada apa, bos ??”
“Kamu, si pelaut !! Apa peta ini benar !?” tanya Billy sambil menunjuk ke arah tiga orang yang merupakan pelaut.
__ADS_1
Ketiga pelaut itupun mengamati peta tersebut dengan seksama. Dahi mereka yang berkernyit itu dapat dengan jelas mengatakan seberapa serius mereka saat ini. Setelah beberapa saat dikurung dalam rasa penasaran yang teramat tinggi, Billy dan awak kapal yang lainnya mendapati ketiga pelaut itu saling menatap satu sama lain. Salah satu dari mereka yang berada di tengah kemudian menoleh kepada Billy dan membuka mulutnya.
“Bos, biarkan aku melihat dengan dioptra sebentar saja.”
“Lakukan itu !” jawab Billy dengan lantang.
Pelaut itu dengan cepat pergi memanjat tiang utama, dan dengan matanya yang jeli dan tangannya terampil, ia mengutak-atik dioptra tersebut hanya dalam waktu singkat saja. Ia terkejut seketika.
“Bos, peta ini benar !! Ada pulau di arah Utara !!!“ seru pelaut itu sambil mengangkat peta tersebut tinggi-tinggi.
Di malam itu, semuanya kembali melakukan semua tugasnya masing-masing dengan semangat yang membara seperti hari pertama mereka berlayar. Sambil bersenandung ditemani alunan musik dari kecapi dan bagpipe para awak kapal, sang juru mudi mengendalikan kapal besar tersebut dengan riang gembira, sangat menikmati perjalanan yang tak pernah berhenti tersebut tidak seperti sebelumnya. Dek kapal menjadi penuh dengan lalu lalang kembali. Para kru saling tertawa bersama, mengangkat gelas bir mereka sebagai tanda akhir dari segala kesengsaraan mereka selama berada di laut yang tak terbatas ini. Perjalanan panjang mereka masih baru saja dimulai, namun mereka semua sudah tahu dengan pasti bahwa kapal yang berlayar selama lima puluh hari lebih ini akan berlabuh dengan aman di pulau harta karun tersebut.
Hingga pada akhirnya, perjalanan mereka yang hebat berakhir di pulau harta karun tersebut. Sejarah baru tertulis di buku keabadian dunia. Para awak turun dari kapal mereka dengan wajah mereka yang berseri-seri. Pulau itu kosong, hanya penuh dengan pohon-pohon kelapa dan pasir kekuningan yang selalu bersih dan tak bernoda sedikitpun. Para bajak laut itu dan Billy juga sama-sama mengira bahwa pulau itu tak berpenghuni, namun mereka tidak mengetahui bahwa ada suku terpencil yang tinggal di sana.
Pencarian mereka terhadap harta karun di pulau ini pun dimulai. Di hari pertama, mereka tidak menemukan apa-apa, namun mereka masih tidak menyerah. Hari kedua, mereka mulai menemukan tanda-tanda kehidupan. Para bajak laut pun mulai berjaga-jaga. Dan mulai dari hari ketiga hingga ketujuh, mereka kehilangan banyak rekan mereka karena serangan dari suku terpencil tersebut. Mereka tak berdaya melawan kemampuan gerilya dari suku terpencil tersebut. Di hari ketujuh, Billy dan pasukan paling terakhirnya dikepung oleh prajurit dari suku tersebut. Pertarungan yang sengit terjadi selama berjam-jam. Waktu seakan terasa berhenti di saat itu juga. Panas terik matahari tidak menghentikan mereka untuk terus menyerang balik para prajurit perkasa suku terpencil itu. Lama telah berlalu, dan seluruh tanah di pulau tersebut telah dinodai oleh darah. Billy dan kedua teman terakhirnya berhasil memenangkan peperangan tersebut, semua berkat ia mengingat kembali heroisme yang dimiliki oleh Black Beard. Seluruh orang dari suku tersebut terbantai habis, hanya menyisakan tubuh jasmani mereka yang telah berserakan dimana-mana. Namun, keinginan mereka untuk menemukan harta karun tersebut tetaplah kuat. Billy jatuh di lututnya karena kelelahan, dan ia tetap menggunakan sisa tenaganya untuk mengambil peta tersebut. Dengan seluruh tubuhnya yang berlumuran dengan darah, ia sangat terkejut bahwa yang dicarinya selama ini, ada tepat di bawahnya.
“Harta karunnya...... Ada di sini ??”
Kedua temannya yang lain tanpa sengaja mendengar itu juga. Mereka seketika berdiri bersamaan, dan sama seperti anjing liar yang gila, mereka berdua langsung mengambil tombak yang tersisa dari suku tersebut untuk menggali tanah sekuat tenaga. Sayangnya, Billy juga salah satu dari anjing gila tersebut, mengais-ngais tanah dengan kedua tangannya sendiri. Setelah apa yang terasa seperti berabad-abad berlalu, mata ketiganya mendapati sesuatu yang bercahaya emas di bawah tumpukan pasir. Itu adalah harta karun yang selalu mereka ingin cari. Billy seketika tertawa dengan sangat keras. Kegilaan melahap seluruh kesadarannya setelah ia kehilangan banyak dari kru-kru kapal yang hebat. Kedua tangannya ia gunakan untuk mendorong dua temannya yang tersisa itu, dan sambil menggumamkan sesuatu, Billy terus menggali pasir yang menutupi harta karun itu.
“Harta karun itu...... Punyaku, bangsat !!”
Billy ditendang di perutnya dari kanan oleh seseorang. Orang itu adalah salah satu dari ketiga pelaut yang ada di tengah saat itu.
“Aku yang menemukannya..... Aku yang mendapatkannya !!”
Pelaut itu terkena pukul di pipi kanannya. Pemukul itu adalah sang juru mudi.
“Itu punyaku, bajingan !! Buat anakku yang sakit-sakitan !!”
Juru mudi itu terkena pukul di perutnya oleh Billy.
“Aku yang memimpin kalian, brengsek !!”
Kaki kanan Billy ditusuk oleh sang pelaut dengan tombak.
“Aku yang mengarahkan kalian !!”
Kepala sang pelaut dipukul dengan batu oleh sang juru mudi.
“Aku yang mengantarkan kalian ke sini, dungu !!”
Billy menyergap sang juru mudi dan menusuk lehernya, membunuhnya di tempat saat itu juga.
“Aku yang melindungi kalian semua, bajingan !!”
Sang pelaut mengayunkan ujung tombaknya ke wajah Billy, meninggalkan bekas luka horizontal di wajahnya.
Dalam kesakitan yang sangat menyiksa, Billy menusukkan pedangnya ke mata kiri sang pelaut dengan pedangnya.
“Aku disuruh pemerintah bajingan itu buat membangun kembali sebuah kota sialan, bangsat ! Sebuah kota sialan !!”
Hampir dekat dengan kematian, sang pelaut menusukkan tombaknya ke perut Billy. Darah bercipratan kemana-mana. Pulau yang awalnya indah, kini penuh kekacauan dan berdarah-darah. Tidak akan ada korban yang tidak melayang saat penjajahan telah dimulai.
Pada akhirnya, tidak ada sama sekali yang mendapatkan harta karun berharga tersebut.
...****************...
itu adalah hari yang menyenangkan saat Silvia ditemani oleh Echo dan Amelia berkeliling di Elysium. Walaupun hanya sebentar saja, tetap saja Silvia akan selalu mengingat momen yang menyenangkan itu. Namun di saat yang bersamaan, itu juga adalah hari yang paling menyebalkan baginya. Setelah memakan es krim pemberian dari Echo dan Amelia, Silvia kembali ke area Bulwark. Dan di sanalah Silvia bertemu dengan Incurso yang dikawal oleh beberapa mechanoid elit. Saat itu, Silvia bertanya langsung kepada Incurso tentang apa yang akan dia lakukan. Walaupun Incurso tidak mengenali siapa Silvia saat itu, ia tetap dengan bangganya menjawab akan menginjak-injak beberapa monyet dari dunia lain.
Dan hari ini juga, si bajingan itu sudah kembali !!
Sudah lewat dua minggu sejak Silvia mengamuk karena mendengar jawaban kurang ajar dari Incurso dan pengawal-pengawalnya itu, dan hari ini, amarahnya itu justru semakin membesar daripada mereda. Tanpa mengubah penampilan dan kulit sintetis nya sama sekali, Silvia keluar langsung dari kamarnya, membiarkan orang-orang mengenali dirinya dengan cepat.
“Bukannya itu Silvia ? Si mechanoid gagal itu ?”
“Aku tidak pernah melihatnya selama dua minggu ini, dan tiba-tiba, dia muncul lagi ?”
“Dia kelihatannya lagi marah tuh.”
Sedang sangat marah, bodoh !! Kemanusiaan dari orang-orang ini patut dipertanyakan !!
Silvia berjalan cepat melewati lorong-lorong di Bulwark, dan berbagai berita harian yang didengarnya hari ini adalah tentang keberhasilan Bulwark dalam mengambil alih sebuah kota di bumi baru mereka. Itu hanya semakin membuat dirinya semakin kesal lagi. Bisikan-bisikan para warga Bulwark juga sama. Mereka terlihat sangat puas dengan kinerja dari para mechanoid Bulwark.
“Akhirnya, aku bisa menanam dengan tanah asli lagi !”
“Apa bedanya dengan hidroponik, bodoh !?”
“.......”
Berbagai hiruk-pikuk yang memekakkan telinga Silvia sudah tidak terdengar lagi olehnya. Ia tanpa berjalan tanpa memperdulikan apakah dirinya menyenggol orang lain atau tidak. Yang paling ia pentingkan hanyalah bertemu dengan Incurso, dan kemudian menampar wajahnya yang sangat bangga setelah kembali dari dunia lain bernama Arthurians tersebut.
Hingga akhirnya, tibalah Silvia di sebuah lorong yang dekat dengan hangar utama. Matanya yang tajam langsung mendapati Incurso yang sedang berada di tengah-tengah kerumunan wartawan yang menanyainya dengan berbagai pertanyaan seputar dunia Arthurians. Tangannya mengepal dengan sangat kuat, dan ia tanpa basa-basi lagi langsung menerobos kerumunan wartawan tersebut sambil meneriakkan nama Incurso dengan keras.
“Incurso !!!!”
Hanya beberapa detik saat mata Incurso bergulir ke arah sumber suara, bajunya seketika sudah dicengkeram erat oleh Silvia bagaikan seekor rusa tertangkap oleh singa yang melesat secepat kilat. Kehadiran Silvia yang secara tiba-tiba membuat para wartawan itu terkejut, kebingungan, dan juga kesal di saat yang bersamaan, namun Silvia tidak menghiraukan mereka sama sekali. Matanya lurus dan menatap wajah Incurso dengan tajam.
“Aku bertaruh kalau kamu tidak mengenaliku, huh !?”
“Heh, apa masalahmu, nona kecil ? Kamu yang paling berbeda dengan orang-orang di sini, tahu.”
__ADS_1
Silvia mendekatkan wajahnya ke wajah Incurso. Tatapannya menjadi semakin lebih tajam lagi daripada yang awal.
“Panggil aku Silvia, anak ****** !!”
Amukan massa seketika meledak saat itu juga. Lagi-lagi, Silvia menjadi sorot utama dari berita Bulwark sebagai pembuat masalah besar di sana. Silvia justru senang karena itu. Itu berarti, dia bisa menunjukkan betapa busuknya sosok yang bernama Incurso ini saat itu juga.
“Ternyata, kamu si mechanoid yang gagal itu, huh ? Senang bertemu denganmu, gadis kecil.....”
“Aku tidak butuh ejekan bodohmu itu sekarang. Jelaskan, bagaimana perasaanmu setelah menjajah dunia lain itu sendirian ! Sudah memperbudak seseorang !?”
Incurso menyeringai. Ia dapat melihat sebuah kesempatan besar untuk mempermalukan gadis mechanoid yang bernama Silvia ini di depan umum. Di matanya, sebuah tulisan besar bertuliskan 'KEBODOHAN' terpampang jelas di dahi Silvia saat ini.
“Nay nay nay...... Aku bukan menjajah sebuah negara. Aku hanya membunuh seorang kera, itu saja.”
“Dan apa maksudmu dengan kera !? Kamu menyebut manusia-manusia yang ada di sana sebagai kera !!?”
“Sisanya, aku serahkan pada kapal luar angkasa yang megah dan luar biasa ini !! AHAHAHAHA !!”
Tawa maniak Incurso menggelegar hingga ke tiap ujung lorong yang penuh sesak dengan kerumunan wartawan dan pengawal Incurso. Silvia akhirnya mengetahui sisi iblis dari Incurso, cukup untuk membuatnya mengayunkan tangan kanannya ke arah pipi kanan Incurso. Sayangnya, tangan Incurso sudah bergerak lebih dulu untuk menangkap dan menghentikan tamparan Silvia yang akan sangat keras itu.
“Tamparan yang bagus, gadis kecil...... Tapi, refleks ku jauh lebih cepat daripada tangan mungil mu ini.” ucap Incurso sambil melirik ke arah tangannya yang masih menahan tangan kanan Silvia dengan kuat. Ia kemudian mendekatkan wajahnya kepada Silvia sambil memainkan jarinya di bawah dagu Silvia, membuat Silvia merasakan kejijikan yang teramat dalam.
“Cih !”
“Biar aku tebak, kalau setelah ini, kamu akan menanyakan tentang kemanusiaan. Benar, kan ?”
Incurso tiba-tiba mendorong Silvia dengan sangat kuat hingga ia jatuh ke lantai. Incurso menatap Silvia dengan rendah, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ayo kita buat otak kecil dan tidak berguna mu itu berpikir sejenak. Kamu sudah tahu berapa lama Bulwark melayang di kehampaan ini, bukan ? Kira-kira, lima puluh tahun atau lebih ? Yah, gadis tolol sepertimu tidak akan pernah memikirkan apakah Bulwark memakai bahan bakar atau tidak. Yang ada hanyalah tinggal dan bermain bersama di Elysium, sambil memakan es krim sialan yang bahkan kamu tidak bisa merasakannya. Bukankah itu yang kamu lakukan di sini, bocah gagal ? Berpikirlah sedikit, bodoh !! Bahan bakar Bulwark itu terbatas, dan tidak lama lagi, spaceship ini bakal kehabisan bahan bakar itu ! Mencari dunia lain yang kosong pun kamu tidak bisa, dan di bumi, apa yang orang-orang tidak berguna sepertimu lakukan !? Bukannya mengusir anomali, kalian malah hanya menambah kematian saja yang semuanya itu sia-sia !! Hanya dengan menjajah dunia yang ketinggalan jaman itu saja yang bisa menyelesaikan masalah bodoh ini ! Sekarang, apa aku harus mengatakan lebih banyak rahasia tersembunyi Bulwark lainnya hanya untuk mencerahkan otak yang tidak berguna punyamu itu !?”
Silvia masih duduk diam di lantai, merasa sangat ditusuk hatinya oleh kalimat panjang dari Incurso. Hampir sama seperti sebuah ceramah, namun lebih kejam dan tajam dari apa yang biasanya dikatakan oleh pendeta-pendeta di gereja. Ia jarang berpikir dengan rasional, dan saat yang seperti inilah akibat dari kebiasaannya itu. Ia dipermalukan di depan umum. Wajahnya yang sedang menahan malu itu tersebar di seluruh siaran berita Bulwark secara langsung. Cacian dan makian dilontarkan padanya oleh para wartawan yang ada di sana dan juga para warga di sisi Bulwark yang lain di saat yang bersamaan. Setelah ini apa ? Apakah dirinya akan berjalan pulang ke kamarnya sambil menunduk malu ? Tentu saja tidak. Karena ia lebih memilih untuk bangkit kembali dengan cepat dan menampar wajah Incurso kembali hingga mulut Incurso meneteskan darah beberapa kali. Hal yang seperti itu tidak pernah diduga oleh Incurso sebelumnya. Bahkan tangannya tidak bergerak sama sekali saat ia melihat tangan kanan Silvia mengayun di udara dengan kecepatan yang sangat tinggi dan kekuatan yang luar biasa mengerikan. Setidaknya, Silvia puas sudah berhasil menampar wajah kera yang ada di hadapannya itu, walaupun hanya sekali saja.
“Rasakan itu...... bajingan.”
Incurso menggeram, menoleh ke arah Silvia dan menatapnya dengan tajam, sambil mengelus-elus pipi kanannya yang sepertinya mengalami retakan tulang akibat tamparan yang terakhir itu.
“Kurang ajar...... Kembalikan ****** ini ke kamarnya, sialan !!”
Seketika itu juga, tamparan Silvia berbalik sendiri kepadanya dari belakang. Silvia sempat ingin membalas orang yang melakukan itu, namun dirinya mematung seketika saat orang yang melakukannya itu ternyata, adalah teman dekatnya.
“Yang kamu lakukan itu sudah kelewatan, Silvia !!!”
“Exceels...... ?”
...****************...
Exceels menarik tangan Silvia dan menggiringnya ke sebuah persimpangan lorong yang sepi. Tidak ada orang lain, hanya mereka berdua. Dengan emosi yang terlihat sangat jelas, Exceels membanting Silvia hingga membuatnya menghantam tembok besi Bulwark. Sambil meringis kesakitan, Silvia terus menatap ke arah Exceels dengan tatapan tidak percaya. Exceels sudah berubah sepenuhnya. Penampilannya, begitu juga dengan sifatnya. Mereka saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya Exceels mendengus kencang karena kesal, sangatlah kesal.
“Kamu sudah gila, Silvia !?”
Silvia tidak menjawab. Ia tidak pernah dibentak oleh Exceels seperti saat ini sebelumnya.
“Luar biasa, bocah. Sekarang kamu jadi trending nomer satu di berita utama Bulwark berkat kebodohanmu. Kamu bangga dengan prestasi mu itu ?”
Suara muncul secara tiba-tiba dari sebelah kanan Silvia. Suara langkah kaki dengan high heels yang menggema dari balik bayangan, serta warna merah menyala dari rambut hingga ke baju dress nya. Walaupun tertutup oleh gelapnya bayangan di lorong sebelah kanan itu, Silvia dapat mengetahui dengan mudah siapa orang tersebut. Dia adalah Einsteina.
“Mulai sekarang, bukan hanya para Militus saja yang membencimu, tapi murid-murid di akademi juga ke depannya. Kamu menghancurkan reputasi mu sendiri, Silvia.” lanjut Einsteina masih dari balik bayangan itu.
Silvia benar-benar terpojok oleh kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh mereka. Seakan masih belum cukup, Exceels menghela nafasnya, hanya untuk melanjutkan apa yang diucapkan oleh Einsteina barusan.
“Apa yang membuatmu sebodoh ini, Silvia ? Kamu sama saja dengan bunuh diri saat menampar Incurso seperti itu. Cuma orang yang sudah bosan hidup yang berani melakukan itu di tengah-tengah kerumunan, bodoh !!”
“Rasa keadilan dan kemanusiaan mu itu, mungkin harus kamu pikirkan lagi apa artinya. Karena aku hanya melihat omong kosong saja, bocah.” ucap Einsteina lagi, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua sendirian.
Exceels lagi-lagi menghela nafasnya dengan berat sambil memejamkan matanya. Ia kemudian bergumam.
“Bahkan orang jenius sepertinya sudah menyerah buat mengurus mu, Silvia.”
Silvia layaknya berubah menjadi patung batu karena kalimat-kalimat yang diucapkan oleh mereka berdua. Mulutnya tertutup rapat-rapat seraya ia hanya mendengarkan apa yang sebenarnya tidak ingin ia dengar. Tanpa kata-kata perpisahan, Exceels pergi meninggalkan Silvia juga, sendirian di persimpangan lorong yang kosong itu.
Kamu sudah berubah terlalu banyak, Exceels.....
Sementara itu, di ruang Head Center.
Viktor sedang duduk di kursinya sambil melipat jari-jari tangannya. Di hadapannya, hanya beberapa meter dari mejanya itu, adalah hologram Hassen yang hanya setengah badan saja. Viktor memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya menatap ke arah hologram Hassen kembali.
“Bagaimana dengan misinya ?”
“Setengah kota sudah berhasil dikuasai, hanya saja.... Ada kemungkinan kalau selanjutnya, tidak akan berjalan semudah seperti di awal.”
Viktor terlihat masih sangat tenang, terlepas bahwa kabar yang baru saja ia dengar dari Hassen akan menjadi kabar buruk tidak lama lagi. Pikirannya masih jernih, dan Viktor hanya menghela nafasnya setelah mendengar itu.
“Ada apa ? Mereka menyerang balik ?”
Hologram Hassen mengalami glitch selama beberapa saat, sebelum akhirnya itu berakhir seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Mereka menyerang balik itu sudah pasti. Harus diakui kalau manusia-manusia di sana juga punya kekuatan yang hebat seperti kita. Tapi, bukan itu masalahnya.....”
Jeda pada kalimat Hassen membuat Viktor langsung duduk tegak di kursinya karena penasaran. Kedua matanya menatap lurus ke arah hologram Hassen di depannya, dan telinganya yang tajam siap untuk mendengarkan kabar terburuk apa saja yang akan diucapkan oleh Hassen setelah ini.
“Gereja itu...... Mereka bangkit kembali.”
__ADS_1