
Garis pertahanan terakhir kota Pendragon.
Para pasukan dan petualang sedang disibukkan oleh tugas pengiriman logistik. Beberapa dari mereka saat ini juga mengambil posisi untuk mengawasi garis pertahanan mereka yang sekarang ini sedang dalam keadaan kritis. Athena, sang komandan pasukan utama pasukan kerajaan Pendragon, juga ada di antara mereka. Hiruk pikuk di perkemahan tidak menghentikannya untuk tetap mengawasi area di depannya tanpa henti. Ia dan beberapa prajurit pemberani lainnya masih berdiri tegak di belakang barikade berduri dan karung-karung pasir sebagai pelindung satu-satunya bagi mereka. Awan panas menggantung sepanjang hari hingga bahkan berminggu-minggu, namun itu masih tidak cukup untuk membuat mereka kelelahan dan ingin beristirahat. Seorang petualang pemula kemudian berjalan menghampiri Athena dari belakang secara diam-diam, merasa gugup karena perbedaan tingkat yang sangat jauh di antara mereka berdua.
“P-permisi, Madam Athena..... Ada situasi gawat..... Saat ini......”
“Bicara saja, aku akan mendengarkan.”
Athena bahkan tidak menoleh atau apa sama sekali, membuat petualang tersebut menjadi semakin gugup. Namun situasi memaksanya untuk meminta bantuan saat ini. Ia harus mengatakannya, atau semua korban luka yang berada di dalam kemah perawatan saat ini akan meninggal tidak lama lagi.
“Medis kita...... Kekurangan obat-obatan......”
Mendengar itu, Athena menghela nafasnya. Untuk pertama kalinya, ia akhirnya menoleh ke arah petualang itu, yang merupakan seorang gadis berusia sekitar 14 tahunan. Dari tampangnya saja, Athena sudah dapat mengetahui bahwa gadis itu adalah salah satu petugas medis dari gereja suci Pendragon. Ia kemudian tersenyum kecil, sambil menepuk kepalanya dengan lembut.
“Siapa namamu, nak ?”
“Uh, n-namaku...... L-Lyniette...... Hormat untuk anda, Madam Athena.”
“Jangan panggil aku seperti itu. Saat ini, aku tidak lain adalah seorang prajurit yang bisa mati kapan saja karena perang. Antarkan aku ke sana.”
“T-tapi kenapa ?? Gereja suci sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menyembah dewa, madam.”
“Bukan untuk menyembah, tapi hanya itu saja yang bisa kami lakukan saat ini.”
Lyniette tertegun saat itu juga, tidak bisa percaya saat mendengar perkataan Athena. Walaupun intinya tidak dijelaskan secara gamblang oleh Athena, Lyniette sudah paham apa maksud dari perkataannya itu.
“Maksudnya...... Masih belum ada bantuan untuk korban sampai sekarang ??”
“Maafkan aku, Lyniette.”
Athena memejamkan kedua matanya. Begitulah kenyataan yang terjadi saat ini. Suplai sangat sulit untuk didapatkan, seperti sebuah barang langka yang tertimbun dalam-dalam di bawah tanah, dan bantuan dari negara tetangga pun tidak kunjung datang bahkan hingga hari ini juga. Korban-korban yang terluka akibat jajahan sebuah bangsa yang tidak diketahui bergelimpangan dimana-mana, berteriak dalam kesakitan dan kesengsaraan, tidak terawat sama sekali. Rumah-rumah hangus terbakar, dan jejak-jejak kehidupan seolah sudah terhapus begitu saja dari muka bumi ini. Seluruh pengorbanan yang dilakukan oleh rekan-rekannya itu, masih belum cukup juga untuk membawa perubahan bagi kota ini. Pada akhirnya, yang hanya bisa mereka lakukan adalah mempertahankan satu-satunya area yang masih belum terjangkau oleh bangsa manusia misterius tersebut.
Beberapa jam kemudian, Athena dan Lyniette telah sampai di pelataran gereja suci. Penuh dengan korban luka, hanya itu pemandangan yang dapat mereka lihat saat ini. Tenaga medis duduk di samping para korban luka karena kelelahan. Keringat mereka bercucuran hingga membasahi baju gereja mereka. Setidaknya, kehadiran Athena di antara mereka semua berhasil membuat orang-orang itu mendapatkan secercah harapan dan semangat untuk bertahan hidup kembali. Mereka meneriakkan nama Athena, dan senyuman terlihat kembali di wajah-wajah para warga yang sedang terluka kritis tersebut. Hanya dengan kehadirannya saja, Athena telah menyalakan semangat hidup orang-orang yang putus asa itu layaknya seorang malaikat suci yang datang untuk menjamah dunia dengan cahaya ilahi nya.
“Anda benar-benar terkenal, ya ??”
“Begitulah, walaupun aku sebenarnya tidak pernah mengharapkannya.”
“Kenapa ? Bukankah menjadi terkenal dan dipuja banyak orang seharusnya menyenangkan.”
Sambil berjalan beriringan, Athena menghela nafasnya sejenak. Ia teringat kembali akan alasan yang membuatnya menjadi sosok yang terkenal karena ketangguhannya seperti saat ini. Itu semua karena sebuah peperangan, yang membuat dirinya kehilangan hampir keseluruhan dari keluarganya yang tercinta.
“Lupakan saja. Setidaknya karena itu, aku bisa membawa senyuman mereka kembali seperti dulu, sebelum kota menjadi hanya reruntuhan belaka.”
Lyniette pun tidak bertanya atau berbicara lagi setelah mendengar itu dari Athena. Setelah berjalan cukup lama melewati jembatan panjang yang dipenuhi oleh warga-warga yang terluka, mereka akhirnya memasuki altar gereja. Hanya ada pemandangan yang sama, dimana ribuan bahkan jutaan orang terbaring di atas lantai gereja suci yang awalnya digunakan untuk berdoa kepada sang Mahadewa.
“Saint dan Saintess kami sudah terlalu kelelahan. Energi sihir mereka habis, membuat hampir dari semuanya tidak dapat menggunakan sihir penyembuhan lagi. Bahkan ada beberapa yang sampai meninggal karena itu.” ucap Lyniette sambil menahan kesedihannya.
Gereja suci itu sudah runtuh, dengan atap berbentuk kubahnya telah berlubang besar tidak memiliki atap sama sekali. Banyak orang yang kedinginan dan juga kepanasan karena hal itu. Iman mereka goyah, ketika patung sang Mahadewa telah tumbang menyisakan tubuh bagian bawahnya saja. Harapan mereka yang terluka parah telah menghilang, pupus menjadi butiran debu saja ketika seluruh tenaga medis yang mereka miliki satu-satunya juga ikut gugur bersama dengan salah satu dari mereka. Yang ada hanyalah kematian yang menunggu, karena kelaparan, infeksi luka, dan penyakit-penyakit yang mengerikan.
“Maafkan aku, Lyniette. Aku tidak becus sebagai seorang komandan dari kerajaan ini.”
“Eh ? Anda tidak perlu-”
“Tidak perlu apanya ? Di saat aku dan rekan-rekanku yang lainnya makan sebuah makanan, mereka semua menderita karena kelaparan. Di saat luka kami diperban dengan baik, luka mereka dibiarkan membusuk hingga mati karenanya. Di saat kami tidur di dalam kemah yang dapat menghangatkan kami saat malam tiba, mereka, dan kalian semua, justru membeku dan kedinginan. Bukankah itu sebuah kegagalan besar untukku, Lyniette ?”
Lyniette tidak menjawab apa-apa. Faktanya, ia tidak dapat menjawab sama sekali. Yang dikatakan oleh Athena memang benar. Semuanya menderita di sini. Tidak ada yang mampu berbahagia ataupun tertawa riang. Tidak ada seorangpun yang dapat berlari-larian sambil mengejar dan bermain satu sama lain dengan kaki mereka sendiri. Semuanya, bagaikan dikurung di dalam sebuah penjara kekelaman, yang mendatangkan keputusasaan, dan kesengsaraan. Apakah suatu saat nanti, seluruh warga Pendragon dapat terbebas dari kurungan itu ? Apakah di masa depan yang jauh nanti, kehidupan mereka yang damai itu akan kembali seperti semula ?
“Lyniette, demi kamu dan seluruh warga yang ada di sini, aku akan berjuang dengan seluruh tenaga dan kekuatanku di garis depan itu. Demi Pendragon, dan orang-orangnya yang tercinta ini.”
Tekad itu seolah tidak akan pernah menghilang, tidak akan pernah pudar, dan tidak akan pernah musnah ataupun padam. Setiap kali ada satu lilin yang kehilangan nyala apinya, selalu saja ada lilin baru yang sumbunya terbakar oleh api yang jauh lebih besar dan lebih panas. Seperti itulah tekad manusia. Ketika seseorang telah menyatakan tekadnya, maka yang lain juga akan terinspirasi, ikut terbakar oleh api semangat yang sama itu. Itu, bagaikan sebuah virus yang menular, dan kemudian menjalar ke seluruh tubuh.
“Madam Athena, apa aku boleh meminta satu permohonan kepadamu ?”
Athena menoleh ke arah Lyniette, penasaran dan juga kebingungan.
“Ah, apa itu ?”
Dengan keputusannya yang sudah bulat, Lyniette membalas tatapan Athena dengan tatapan yang penuh tekad, penuh dengan api semangat yang berkobar demi teman-temannya yang terluka di gereja suci ini.
“Biarkan aku...... Ikut bersamamu di garis depan !!”
****************
Garis pertahanan terakhir Pendragon.
“Kamu tidak akan percaya ini, Roland. Kita dapat satu bantuan lagi, dari seorang gadis kecil.”
Athena, saat ini sedang berada di dalam sebuah kemah, duduk berhadap-hadapan dengan seseorang yang bernama Roland. Ia hanya mendapat dengusan panjang dari Roland, yang masih membaringkan kepalanya di atas meja.
“(Sigh) Paling juga dia akan mati tidak lama kemudian. Jangan berharap terlalu banyak, Athena.”
“Dia akan berguna, tahu. Untuk garis belakang.”
Roland sedikit mengangkat kepalanya seketika saat mendengar perkataan Athena itu, seperti baru saja melihat secercah harapan.
“Apa ? Seorang healer ?”
“Yup. Makanya, jangan terlalu putus asa karena perang.”
Roland beranjak dari kursinya dengan cepat, sambil menggebrak meja. Pendragon sedang kekurangan kekuatan militer saat ini, karena peperangan yang begitu mengerikan dan merenggut banyak korban jiwa, dan hanya petugas medis saja yang dapat menyelesaikan masalah itu. Harapannya untuk mengalahkan bangsa yang misterius tersebut akhirnya berkobar kembali.
“Oi, antar aku ke bocah itu sekarang !!”
“Sabar sedikit, bangsat. Dia sudah melakukan tugasnya sejak tadi.”
__ADS_1
“Oh, begitukah ?”
Athena mengangguk sebagai jawabannya. Seluruh semangat yang tumbuh di dalam hati Roland itu padam seketika saat mendapat jawaban dari Athena barusan. Ia menghela nafasnya, kemudian mengambil opsi kedua.
“Sudah berapa orang yang bisa ikut perang lagi berkat dia !?”
“Kamu ini tidak pernah sabaran, huh ? Belum ada, tapi setidaknya mereka tidak akan dekat dengan kematian. Jumlah energi sihirnya juga lumayan.”
Keduanya kemudian diam sejenak, seperti sudah kehabisan kata-kata
“(Sigh) Kalau kamu sebegitu penasarannya dengan gadis petualang itu, aku bisa mengantarkanmu kepadanya. Dia harusnya sedang beristirahat saat ini.”
“Heh, itu adalah hal paling baik yang pernah kamu lakukan menurutku.”
“Kurang ajar.”
Dan begitulah. Mereka berdua keluar dari kemah tersebut, dan kemudian berjalan berduaan menghampiri si gadis petualang baru itu yang bernama Lyniette. Setibanya mereka di sana, Roland langsung disambut oleh sebuah pemandangan yang menurutnya tidak akan pernah mungkin terjadi selama peperangan. Para prajurit yang terluka di hadapannya, saling bercanda dan tertawa bersama-sama, dan Lyniette pun juga ada di antara mereka.
“Apakah situasi yang tidak tegang seperti ini benar-benar diperbolehkan di tengah peperangan, Athena ?”
“Sudah kubilang dia itu lumayan, bodoh.”
“Kamu menyebutnya lumayan ? Dia itu sama seperti kiriman dari dewa, bodoh.”
Lyniette berlari kecil menghampiri Athena dan Roland. Sebuah senyuman kecil dapat terlihat dengan jelas di wajahnya. Jujur saja, Roland tidak pernah melihat prajurit-prajurit yang ada di dalam tengah pertempuran seceria seperti saat ini.
“Bagaimana perasaanmu di sini, Lyniette ?”
“Semua orang di sini menyenangkan, aku mungkin bahkan bisa tinggal di sini sampai perang selesai sekalipun !”
Dunia serasa berubah seperti di fantasi bagi Roland. Peperangan yang seharusnya tidak seperti ini. Gadis petualang yang bernama Lyniette itu terlalu naif untuk hal sekeji seperti perang di dunia ini. Roland tidak tahu, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Tiba-tiba, salah satu prajurit yang mengawasi garis pertahanan berhenti di ambang-ambang pintu, terengah-engah setelah berlari cukup jauh dari sana. Kedatangannya yang mengejutkan itu langsung disambut dengan tatapan bukan hanya Athena, Roland, dan Lyniette, melainkan seluruh prajurit yang sedang terluka itu juga.
“Ada apa ?” tanya Athena.
Wajah prajurit tersebut terlihat sangat ketakutan, seperti baru saja melihat hantu ataupun monster buas yang tak dapat dijinakkan. Athena dan Roland sama-sama mengernyitkan dahi mereka. Keduanya tahu dengan jelas, bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di sana.
“Orang-orang bintang itu........ Mereka berusaha menerobos barikade kita !!”
“Cih, sialan.....”
...****************...
Beberapa menit kemudian, di garis pertahanan terakhir kota Pendragon.
Begitu Athena dan Roland telah tiba di sana, sudah tidak ada perkemahan lagi. Orang-orang sudah berlarian ke depan menyerbu sesuatu yang tidak dapat mereka serbu, menyerang sesuatu yang tidak bisa mereka serang. Sekali lagi, pemandangan di peperangan itu muncul kembali di dalam benak Roland.
“Maju !!! Hajar kepala kera-kera sialan itu !!!” seru salah satu kapten di antara mereka.
“Roland, apa yang harus kita lakukan ?”
“Kamu bertanya !? Tentu saja serang benda terbang aneh itu bersama dengan yang lainnya, bodoh !!”
“Itu terlalu ceroboh, tahu !! Mereka membutuhkan kita, dan kalau kita berdua mati juga, siapa yang akan memimpin sisa yang lainnya !!?”
Roland menoleh ke arah Athena, dengan dibarengi oleh sebuah ledakan yang tidak jauh dari tempatnya berpijak. Pikirannya seperti dicerahkan seketika oleh Athena.
“Yang kamu katakan benar juga. Kalau begitu, kita susup masuk ke dalam benda terbang aneh itu.”
“Memang kedengarannya sangat sulit, atau bahkan hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Bagaimanapun juga, kita tetap akan melakukannya demi Pendragon, bukan ?”
“Yeah, demi Pendragon !!”
Roland mengangkat pedangnya, kemudian ikut berlari ke depan bersama dengan prajurit gagah perkasa dan juga pemberani, disusul oleh Athena yang ada di belakangnya. Seluruh mata para prajurit tertuju pada Roland dan Athena seketika, bagaikan ditarik oleh kekuatan gravitasi yang memaksa mereka untuk melihat ke arah dua orang itu. Seorang kapten yang saat itu sedang bersembunyi di balik tumpukan karung pasir berdiri dengan cepat di saat itu juga, berteriak sekencang-kencangnya menyemangati mereka yang putus asa untuk mengalahkan monster tak terhentikan di depan mereka itu, yang menginginkan untuk menjajah tanah mereka dengan kekuatan penuh.
“Komandan Athena dan Roland ada bersama dengan kita !! Majulah, dan mengamuk lah !! Kita tak akan terkalahkan saat ini !!”
“Tak terkalahkan !!” balas para prajurit yang lainnya.
Sebuah deklarasi yang naif memang, menyamakan dua orang manusia setara dengan dewa. Namun hanya itulah yang mereka miliki saat ini, hanya sebuah kepercayaan bahwa mereka benar-benar mampu untuk mengalahkan sesuatu yang terlahir sebagai tak terkalahkan. Para prajurit berlari tanpa henti, menerjang berbagai macam ledakan, semburan api, dan ribuan rentetan peluru dari atas langit. Serangan musuh mereka, sama seperti sebuah hukuman ilahi yang tak dapat dihentikan. Tidak ada seorangpun yang dapat bersembunyi darinya, dan tidak akan ada yang mampu selamat dari padanya. Tanpa ada seorangpun dari pihak musuh yang terlihat berjalan di tanah, Athena berniat untuk menjatuhkan salah satu kapal luar angkasa itu dengan lemparan tombaknya yang tak tertandingi, namun niatan itu musnah seketika saat dirinya dilahap oleh sebuah ledakan besar bersama-sama dengan Roland dan pahlawan yang lainnya.
Sementara itu, di garis belakang medan pertempuran.
“Apa yang kita lakukan sekarang ?”
“Kita orang yang sudah cacat, bung. Tidak mungkin bisa ikut perang.”
Para prajurit terluka yang dirawat oleh Lyniette saat ini sedang saling berdiskusi satu sama lain, menanyakan apakah mereka harus membantu yang lainnya di garis depan sana, atau tetap di sini sebagai kumpulan orang yang tidak mampu dan menunggu hingga kematian datang menjemput. Hiruk-pikuk di dalam bangunan bobrok itu tidak mempedulikan Lyniette sama sekali, yang saat ini sedang berusaha untuk menenangkan mereka semua. Lyniette bagaikan seorang hantu di antara manusia asli saat ini. Dihiraukan di dalam dunia gaib, tidak ada yang mempedulikan dirinya sama sekali.
“Apa yang kita lakukan di sini sebenarnya ? Menunggu mati dan membiarkan anjing-anjing itu menyentuh gereja suci kita !? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi pastinya !!”
“Semuanya juga merasa begitu, brengsek !! Lyniette, biarkan kami menghajar pantat orang-orang sialan itu sekarang juga !!”
“Tunggu dulu !!”
Di saat para prajurit yang terluka itu berdiri dan mulai mengambil persenjataan mereka, Lyniette berdiri di depan mereka, berusaha mencegah mereka untuk keluar dari dalam kemah perawatan sementara itu.
“Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal bodoh ini dengan kondisi kalian yang seperti itu ! Bisa-bisa kalian malah meninggal, bodoh !!”
Seorang tentara dengan perban yang melingkari bahu kirinya menepuk pundak Lyniette, kemudian menatapnya dengan tatapan yang serius.
“Lyniette, kami tentara dari seluruh penjuru Pendragon lebih baik mati daripada melihat tanah suci ini disentuh oleh anjing-anjing brengsek yang serakah itu.”
Kalimat dari tentara tersebut benar-benar menusuk hati Lyniette. Apakah ia tidak cukup kuat untuk menyelamatkan nyawa mereka yang berharga itu ? Yang pasti, ia tidak akan membiarkan tentara-tentara yang perkasa di sekelilingnya saat ini meninggal di medan pertempuran dan tidak mendapatkan pemakaman yang layak. Ia tidak akan membiarkan keluarga-keluarga mereka mengalami kehilangan yang hebat dan terkurung di dalam kesedihan yang bertahan untuk selamanya. Ia ingin menyelamatkan semua orang yang ada di sekelilingnya saat ini. Bahkan jika ia mati sekalipun, setidaknya ia melihat yang lainnya bertahan hidup.
__ADS_1
“Lin Chen, kamu dan setengahnya, pergi dan lindungi gereja suci. Sementara aku dan sisanya, kami akan berusaha memperlambat para brengsek itu.”
“Aku paham. Segera lakukan !”
Lyniette dikelilingi oleh ribuan orang yang hebat saat ini. Ia terbakar oleh inspirasi berkat mereka semua. Ia ingin menjadi sama seperti mereka, namun yang ia pegang saat ini hanyalah sebuah tongkat sihir yang memiliki satu tujuan saja, yaitu untuk menyembuhkan luka seseorang. Apakah dengan kehilangan rasa takut seperti mereka, akan membuat dirinya menjadi sama dengan mereka ?
“Tunggu dulu, kalian semua.......”
“Ada apa, Lyniette ? Bukankah sudah jelas-”
“Bukan soal itu lagi !! Sigurdr, biarkan aku ikut bersama kalian......”
Sigurdr, tentara yang bahu kirinya diperban itu, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lyniette, begitu pula dengan sisa tentara yang lainnya. Untuk semakin terlihat lebih meyakinkan, Lyniette memegang tongkat sihirnya dengan dua tangan, menggenggamnya dengan sangat erat.
“Garis depan tidak seperti tempat ini, Lyniette. Itu adalah tempat yang berbahaya-”
“Aku sudah tahu dengan jelas, bodoh !! Di sana ada banyak orang yang kehilangan nyawanya, bukan !? Tidak ada yang namanya istirahat sama sekali, bukankah begitu !? Karena itulah aku ikut kalian, untuk mengurangi korban jiwa !! Kenapa aku tidak bisa menjadi keras kepala seperti kalian !? Bukankah itu tidak adil sama sekali !? Kenapa !!?”
Semuanya dibuat diam, kecuali Lin Chen yang menghampiri Lyniette dan menepuk kedua pundaknya sambil menghela nafas. Lin Chen tersenyum kecil kepadanya, terlihat seperti seseorang yang tidak rela untuk kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya.
“Karena kami hanyalah tentara kecil saja, sementara kamu adalah malaikat suci bagi kota ini. Lyniette, kota ini membutuhkan seseorang yang sepertimu. Kamu, adalah masa depan dan harapan satu-satunya bagi kami semua.”
Lin Chen kemudian menoleh ke arah Sigurdr.
“Saudaraku, bertarung lah demi Pendragon, dan malaikat suci kita ini.”
“Tentu saja. Akan ku lakukan dengan senang hati, bahkan kalau aku harus mati sekalipun di tengah medan pertempuran itu.” jawab Sigurdr dibarengi dengan sebuah anggukan.
Pada akhirnya, Lyniette tiba di gereja suci bersama dengan rombongan yang dipimpin oleh Lin Chen, dan harus berpisah dengan Sigurdr dan yang lainnya. Warga-warga yang sedang dirawat di sana kebingungan dengan kehadiran mereka semua.
“Ada apa ini ? Bukankah mereka harusnya ada di garis pertahanan ? Kenapa mereka justru ke sini ?”
“Aku dengar kalau orang-orang dari bintang itu menyerang kembali, tapi mengirimkan prajurit yang terluka ? Bukankah itu sudah keterlaluan ?”
Namun para prajurit itu tidak menghiraukan bisikan para warga sama sekali. Mereka semua tetap melakukan tugasnya seperti yang mereka sepakati selama perjalanan menuju ke gereja suci ini.
“Lyniette, masuk ke dalam gereja dan mulai rawat mereka yang terluka parah seperti yang biasa kamu lakukan. Tidak ada jalan untuk keluar lain di gereja ini, jadi kita harus bertahan selama mungkin jika saja hal yang paling buruk terjadi dan menimpa kita sekarang.”
“Tidak, aku akan tetap disini bersama dengan kalian !”
“Itu berbahaya, Lyniette.”
“Dan karena itulah aku bersama kalian !!”
Lin Chen menghela nafasnya, dan akhirnya terpaksa membiarkan Lyniette bersama-sama dengan mereka di jembatan gereja. Beberapa prajurit dikerahkan oleh Lin Chen untuk memindahkan orang-orang yang masih ada di luar ke dalam gereja suci. Banyak Saintess yang menolak mereka karena gereja suci sudah terlalu penuh dan juga sesak, namun para tentara itu tetap bersi keras untuk mengamankan sisa warga Pendragon ke dalam gereja suci. Dari kejauhan, Lyniette melihat adu mulut itu dengan kesedihan yang mendalam. Padahal, Pendragon bukanlah sebuah kota yang seperti ini di awal.
“Lin Chen, aku melihat benda terbang aneh dari arah timur ! ITU ADALAH MUSUH !!!” seru seorang prajurit yang membawa sebuah teropong.
“Cih, sialan. Semuanya, pegang teguh iman kalian !! Bertarung lah seperti seorang pria, dan mengamuk lah !! Singkirkan anjing-anjing itu dari tanah suci ini dengan pedang dan tombak, dan murnikan sisa-sisa kejijikan mereka dengan sihir kita !! Semuanya, maju ikut aku !!!”
Dalam pimpinan Lin Chen, semua prajurit itu maju menghadang kapal-kapal luar angkasa yang ada di udara itu. Pedang dan tombak mereka teracung ke atas langit, bagaikan sedang menentang kehendak ilahi. Di antara mereka adalah Lyniette, yang kebingungan akan melakukan apa saat dirinya dalam bahaya. Ledakan demi ledakan bergemuruh di depan gereja suci, menebarkan teror ketakutan bagi siapa saja yang mendengarnya. Mereka berlari di antara reruntuhan bangunan, bukti bahwa kemegahan Pendragon pernah tinggal di atas tanah ini. Rentetan peluru yang membunuh rekan-rekan mereka tidak menggetarkan hati prajurit yang lainnya. Justru, amarah mereka semakin berkobar.
Di tempat inilah, Lyniette menyaksikan kenyataan keji yang terjadi di medan pertempuran. Teriakan kesakitan dan deklarasi dendam, terdengar dimana-mana. Matanya melihat setiap orang yang sempat menjadi teman di bangunan tua nan bobrok itu dihancurkan oleh ledakan. Kehilangan anggota tubuhnya, kehilangan kesadaran, dan juga kehilangan harapan. Hanya yang paling keras kepala di antara mereka lah, yang masih memutuskan untuk maju menyerang sesuatu yang tidak dapat mereka gapai di udara sana. Lyniette berlarian ke seluruh prajurit yang dilihatnya terkena serangan. Tidak ada satupun dari mereka yang masih waras saat bertahan hidup dari serangan itu. Tidak ada yang tidak cacat setelah daging-daging di tubuh mereka dijadikan sebagai landasan peluru kapal-kapal luar angkasa tersebut. Bagi mereka, kematian jauh lebih baik daripada kesengsaraan.
“Ajax, bertahanlah !!” seru Lyniette sambil menggulingkan seorang prajurit bernama Ajax ke hadapannya.
Prajurit itu terengah-engah, berusaha untuk bernafas secara normal namun tidak bisa. Suaranya serak, setelah ia menelan secara langsung campuran antara tanah dengan bubuk mesiu karena ledakan yang menghempaskannya itu. Ia membiarkan kedua tangannya terkulai di tanah, benar-benar ingin melupakan bagaimana rasanya saat memegang sebuah pedang yang pada awalnya adalah salah satu bagian dari kebanggaannya hidup di dunia ini. Ia hanya ingin beristirahat saja, sembari melihat bagian terakhir dari kota suci Pendragon itu diluluh-lantakkan oleh kekuatan superior yang tidak diketahui.
“Lyniette...... Lyniette, dengarkan aku....... Jangan, sembuhkan aku....... Aku sudah tidak punya harapan lagi di sini.......”
“Jangan berpikir seperti itu, bodoh !! Bagaimana dengan keluargamu !?”
“Lebih baik bunuh seseorang yang tersiksa, daripada memberikannya kesempatan kedua hanya untuk membuatnya lebih tersiksa lagi setelahnya. Begitulah yang selalu dipegang oleh orang-orang di sini...... Mungkin, keluargaku akan lebih senang melihatku mati dan beristirahat dengan tenang di dalam kubur, daripada melihatku menjalani hidup yang kedua sebagai orang yang cacat dan tidak berguna......”
Ajax kemudian mengambil sebuah belati dari dalam sakunya, setelah itu menaruh belati tersebut ke kedua tangan Lyniette. Ia melayangkan senyuman kecil terakhirnya kepada Lyniette, dan menatapnya dengan bola mata putih yang menandakan bahwa dirinya sudah buta karena serangan fatal itu.
“Akhiri penderitaanku dengan itu, Lyniette....... Berikan aku...... Kematian yang tidak menyakitkan......”
Hanya itu keinginan terakhir dari Ajax, jadi Lyniette terpaksa untuk melakukannya. Setelah melantunkan ucapan 'minta maaf' berkali-kali, Lyniette mengangkat belati pemberian Ajax itu, sambil menatap ke arah senyuman terakhirnya yang sebentar lagi akan hilang karena tangannya sendiri.
“Maaf...... Maafkan aku...... Ajax !!”
Cipratan darah keluar begitu saja dari dalam tubuh Ajax, saat belati tersebut ditusukkan ke dadanya oleh Lyniette. Matanya melebar, seakan tidak percaya bahwa ia baru saja melakukan ini semua. Ia datang ke medan perang ini untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia, mengakhiri sebuah nyawa dari seseorang.
“Masih ada lagi........ Masih ada yang harus diselamatkan di sini......”
Lyniette berdiri dengan cepat saat itu, berharap bahwa ia dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada kehilangan, namun apa yang dilihatnya begitu mengejutkan dirinya. Para prajurit yang awalnya memiliki tekad membara itu, termasuk Lin Chen, kini sedang berdiri diam di antara ledakan mesiu dan rentetan peluru, tidak ingin menyerang lagi. Ada yang merentangkan kedua tangannya, menyerahkan diri sepenuhnya kepada kematian. Ada yang mengambil tempat bersembunyi dan duduk beristirahat di baliknya, dan ada juga yang hanya menyeret pedang mereka karena kelelahan. Keputusasaan, telah menimpa mereka sekali lagi.
Pada akhirnya, semua prajurit yang pemberani itu hancur lebur tak tersisa oleh sebuah ledakan yang dahsyat. Lyniette selamat dari ledakan itu, namun hanya dirinya saja seorang diri. Begitu ia terbangun sinar fajar menyingsing, membutakan matanya yang berwarna kuning pijar. Ia menoleh ke belakang, dan hanya ada sisa-sisa dari gereja suci di sana. Ia, akhirnya merasakan apa yang dirasakan oleh prajurit-prajurit tersebut.
“Aku...... Tidak menyelamatkan seorangpun......”
Sambil menyeret tongkat sihirnya, Lyniette berjalan menuju sebuah barikade yang telah rata bersama dengan tanah. Di bawahnya, adalah sebuah parit, tempat dimana tubuh Lin Chen terlempar dan tergeletak kaku tak bernyawa. Lyniette menuruni parit tersebut, berbalik ke arah belakang, kemudian duduk diam, seraya mengamati langit sore yang berwarna merah oranye di atas sana. Ia tahu bahwa ia tidak dapat bertahan hidup ataupun mengubah situasi ini hanya dengan tongkat sihirnya saja. Jadi dia hanya duduk diam, dalam keputusasaan kekal.
“Jemput aku, wahai kematian yang kekal......”
Setidaknya, keinginan terakhirnya itu dijawab oleh sang Mahadewa. Suara derap langkah kaki mendekatinya, dan beberapa orang dalam baju aneh yang tidak pernah dilihatnya menodongkan senjata mereka kepadanya. Lyniette tersenyum kecil. Ketakutan sudah tidak lagi mengalir dalam nadinya, itu sudah menghilang sejak lama.
“Bunuh aku, anjing-anjing dari bintang.....”
Di saat itulah, sebuah suara tembakan terdengar, mengakhiri nyawanya. Setidaknya, Lyniette dapat beristirahat dengan tenang, bersama dengan teman-temannya.
Oh wahai domba-domba yang tersesat, mengapa engkau, berjuang hanya dengan kekuatanmu sendiri ?
Serahkanlah tubuhmu, dan engkau akan memiliki kekuatan sebesar kekuatan singa jantan. Taring yang setajam taring serigala hutan, dan mata yang sejeli mata elang.
__ADS_1
Hanya...... Berikanlah daging fana mu itu, kepada kami.....