Stargate : Universe

Stargate : Universe
Outbreak


__ADS_3

Limbo, sebuah tempat virtual di mana seluruh kesadaran mechanoid yang berhasil di reboot akan tersimpan untuk waktu yang tidak diketahui sama sekali oleh siapapun itu. Terletak tepat di bagian paling tengah Bulwark, Limbo juga menjadi salah satu mesin pendorong inti dari Bulwark itu sendiri. Kesadaran mechanoid yang ada di dalamnya sebagai 'penduduk', akan dikeluarkan dari sana jika frame yang baru dan cocok telah ditemukan untuknya. Hanya saja, kebanyakan dari mereka telah dilupakan oleh Bulwark itu sendiri, secara tidak langsung membuat Limbo sebagai sebuah tempat virtual dengan fungsi yang baru, yaitu.......


Sebuah makam kematian


...****************...


“Mati kau, bajingan !!”


Pedang bercahaya Silvia membelah salah seorang Limbo M.I.N.D menjadi dua, dari atas ke bawah. Pada awalnya, Silvia sempat tidak tega untuk membunuh kesadaran yang seharusnya masih dapat untuk kembali hidup di dunia nyata itu, namun semuanya sudah terlambat. Limbo M.I.N.D tersebut telah terinfeksi berat oleh virus yang tidak diketahui, dan kekuatan baru yang diembannya pun juga tidak main-main. Limbo M.I.N.D yang baru saja ia belah menjadi dua itu adalah seorang yang sudah lama dilupakannya, seorang wanita yang sempat menjadi pengurusnya bersama dengan Tamashi saat ia masih kecil. Silvia memejamkan kedua matanya sejenak, mendoakan Limbo M.I.N.D yang dibunuhnya itu untuk dapat beristirahat dengan tenang di kehidupan yang selanjutnya.


“Maafkan aku, Madam Leufyette.”


Limbo M.I.N.D yang mengamuk lainnya masih bergerak menyerangnya. Silvia dengan cepat segera mengakhiri doa nya itu, dan kemudian langsung menebas leher dari Limbo M.I.N.D yang menerjang ke arahnya tersebut.


“Kali ini Jack.......”


Jack, seorang teman lama Silvia yang merupakan mechanoid tipe tank. Ia adalah seorang profesional dalam tugasnya untuk melindungi orang-orang dengan tipe mechanoid nya itu, namun sayang, ia harus gugur di medan perang saat ia mengorbankan dirinya sendiri untuk menahan serangan anomali dari kemunculan Emergence event yang keenam dalam sejarah. Tubuh dan frame nya memang sudah tercabik-cabik hingga tak tersisa, namun tidak dengan kesadarannya. Silvia bahkan sempat berbincang-bincang dengannya lewat Limbo di minggu-minggu awal setelah kematiannya. Silvia sangat ingin untuk bertemu kembali dengannya, namun yang tersisa dari dirinya bagi Bulwark, hanya sejarah kepahlawanannya saja.


“Vita, aku harus segera menyelamatkannya !! Sebelum dia keluar dari Limbo dan mengamuk di sini !!” gumam Silvia pada dirinya sendiri.


Silvia menoleh ke Vierra, yang saat ini masih sedang disibukkan dengan serangan para para Limbo M.I.N.D di sekitarnya. Dengan segera, Silvia pun langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menerobos keluar. Tidak ada satu pun Militus yang sempat untuk menghentikannya. Mereka semua masih harus mengevakuasi para murid baru dan guru-guru akademi ke tempat yang aman.


“Minggir kalian semuanya, sialan !!”


Silvia dengan cepat menebas seluruh Limbo M.I.N.D yang menghalangi jalannya. Pedang bercahayanya terang bagaikan seorang malaikat yang turun dari atas surga untuk menyelamatkan mereka yang terkutuk oleh dunia, membebaskan mereka dari kesengsaraan sekali untuk selamanya. Tiap kali Silvia menebas, ia mengingat kembali orang-orang yang pernah ia kenal dulu, yang tidak berhasil untuk kembali ke rumah mereka. Ia terus melangkah sambil memejamkan matanya, dan akhirnya, Silvia mendaratkan tebasan terakhirnya kepada Limbo M.I.N.D yang berdiri tepat di depan pintu hall utama.


“Hiyaaat !!”


Pedang Silvia menembus masuk ke dalam tubuh Limbo M.I.N.D yang berukuran raksasa tersebut, dan kemudian membelahnya secara horizontal menjadi dua. Hanya tinggal selangkah lagi bagi Silvia untuk keluar dari hall yang penuh dengan keramaian itu, namun ia justru berdiri diam di ambang-ambang pintu itu. Ada sesuatu yang aneh dengan Limbo M.I.N.D yang baru saja ia tebas itu. Ia berpikir dengan keras, menggunakan seluruh neuron miliknya untuk mengingat kembali makhluk yang telah menghilang ke dalam kehampaan itu.


“Yang tadi itu........ Bukan manusia !!”


Itu adalah hal terakhir yang dapat diingat oleh Silvia tentang Limbo M.I.N.D yang terakhir itu. Bagaimanapun juga, ia tetap harus melangkah keluar saat ini, sebelum waktu akan melahap Vita sepenuhnya menjadi salah satu dari mereka yang tersiksa. Silvia menoleh ke belakang, dan terlihat Vierra yang baru saja berteriak kepadanya, sepertinya baru sadar bahwa Silvia akan segera kabur dari hall tersebut, dari pengawasannya.


“Cih, persetan denganmu, sialan !!” seru Silvia sambil segera berlari keluar dari hall utama akademi Stargazer, berbelok ke arah kanan.


“Bajingan itu- !!”

__ADS_1


Vierra sempat ingin mengejar Silvia yang telah keluar dari hall utama, namun dengan cepat teringat kembali bahwa masih ada tugas yang jauh lebih penting daripada pengawasannya terhadap sang idiot tersebut. Ia harus menahan seluruh Limbo M.I.N.D yang mengamuk itu bersama dengan para Militus yang lainnya, memastikan bahwa mereka tidak menyentuh satupun murid baru dengan tangan kotor mereka. Vierra mendecih kesal, dan pada akhirnya terpaksa membiarkan Silvia untuk melakukan apapun yang akan dia lakukan di luar sana.


Sementara itu, di sisi lain. Silvia berlari di lorong-lorong Bulwark yang terkesan sangat sepi. Ia berusaha untuk menghubungi Maria lewat comms miliknya berkali-kali, namun itu semua hanyalah kesia-siaan belaka. Hanya ada suara statis yang di dengarnya, dan itu semakin membuat dirinya menjadi lebih khawatir daripada sebelumnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa outbreak dari Limbo akan menyebabkan kekacauan yang separah seperti saat ini.


“Sialan, sialan !! Maria, jawablah bangsat !!”


Setelah berlarian melewati beberapa lorong yang ada di sampingnya, Silvia kemudian berhenti seketika, menghadap ke arah lorong yang ada di sebelah kirinya. Itu seharusnya adalah jalan tercepat untuk menuju ke pusat Bulwark, namun sepertinya hal yang sama tidak berlaku lagi untuk saat ini. Ada dua Militus yang baru saja terbangun dari atas lantai, menghadap ke arahnya sambil mengeluarkan pedang dan pistol mereka. Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun kedua Militus itu terlihat sedang tidak ramah kepadanya, berkat bayang-bayang gelap yang menyelimuti keduanya.


“What the...... ??” gumam Silvia pada dirinya sendiri.


Tanpa basa-basi, kedua Militus itu menembakkan peluru pertama dari pistol mereka di waktu yang bersamaan, yang membuat Silvia menghindar seketika, masih di tempat yang sama.


“Oi, kalian ini kenapa !!?”


Kedua Militus itu tidak menjawab, dan sepertinya juga tidak menghiraukan pertanyaannya sama sekali. Mengetahui bahwa tembakan mereka tidak mengenai sasaran, kedua Militus itu langsung mengayunkan pedang mereka, kemudian berlari ke arah Silvia dengan cepat.


“Cih, terpaksa.....”


Seharusnya, bukan ini yang dilakukan oleh dirinya, namun situasi lah yang memaksa dirinya. Silvia ikut berlari menghadang mereka berdua, dan hanya dalam kedipan mata saja, Silvia telah melakukan tebasan sebanyak dua kali, masing-masing untuk mereka berdua. Bukan sebuah musuh yang cukup tangguh untuk dihadapi oleh dirinya, Namun tetap saja Silvia masih mendapat luka dari pertarungan yang berlangsung hanya dalam hitungan detik itu. Sebuah luka mental lebih tepatnya.


“Maria, Maria !! Kemana saja kamu selama ini !? Aku sudah menghubungimu lebih dari dua puluh kali, bangsat !!”


Oh, begitukah ?? Aku sedang disibukkan dengan masalah firewall sialan saat ini. Cepat katakan, apa mau mu sekarang ?


Silvia menghentikan larinya, beristirahat sejenak sambil mengambil nafas banyak-banyak. Ia menoleh ke sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada Limbo M.I.N.D yang mengamuk ada di dekatnya saat ini.


“Hei, apa ada frame support keluaran terbaru akhir-akhir ini ?? Aku dalam perjalanan ke Limbo menyelamatkan Vita dari sana !!”


(Sigh) Apa kamu bodoh ? Tidak peduli apakah itu frame terbaru atau apa, semuanya tetap saja bergantung pada M.I.N.D orangnya. Tapi setauku, ada frame jenis amplifier baru akhir-akhir ini. Belum resmi juga sebenarnya.


“Amplifier ?? Maria, siapkan frame itu sekarang juga !! Aku akan menjemputnya dengan aman secepatnya !!” seru Silvia sambil melanjutkan perjalanannya, berlari ke arah kanan.


Tunggu dulu, sialan !! Aku bilang kalau frame itu masih belum sepenuhnya selesai- !! Cih, dasar anak jaman sekarang.........


...****************...


Aku akan membersihkan sayap kanan, dan kamu bersihkan sayap kiri.

__ADS_1


Itulah yang diingat oleh Exceels saat ini. Sebuah misi yang diberikan oleh pamannya, Incurso. Peluru energi panas menembus kepala dari beberapa Limbo M.I.N.D sekaligus dengan tepat. Tubuh mereka seketika terintegrasi menjadi sekedar debu saja, menghilang seolah tidak pernah ada sebelumnya. Jalannya kini sudah bersih dari para Limbo M.I.N.D yang mengamuk, memberinya kesempatan untuk mengambil nafas lega sekaligus menurunkan kedua pistolnya. Ia menoleh ke sekelilingnya, dan semua lorong yang ada di sekitarnya hanyalah sebuah lorong kosong seperti yang ada di depannya saat ini. Semua Limbo M.I.N.D yang pernah ada di lorong-lorong tersebut telah habis dilibas oleh rentetan peluru panas miliknya, tidak tersisa.


“Hmph, sangat gampang, seperti biasanya.” gumam Exceels sambil berjalan ke depan.


Exceels mengambil langkah dengan cepat, sudah bosan dengan semua misi yang terlalu mudah ini. Tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki dari lorong yang ada di sebelah kirinya. Exceels dengan cepat langsung menodongkan kedua pistolnya ke lorong tersebut, dan aksinya itu setidaknya berhasil membuat Silvia yang baru saja ingin berbelok terkejut bukan main.


“Hei, kamu ada di sini ternyata.......” ucap Silvia dengan suara yang pelan.


“Kamu juga. Bukannya kamu harusnya ada di Stargazer ?”


Silvia menghela nafasnya, kemudian berjalan melewati Exceels berbelok ke kanan.


“Harusnya kamu tidak perlu bertanya tentang itu. Tentu saja aku akan menyelamatkan Vita.”


“Limbo yang jadi pusat serangannya, Silvia !! Dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi !!”


Mendengar itu, Silvia langsung berbalik ke arah Exceels, menatapnya dengan tajam saat Exceels mengatakan bahwa Vita sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Tidak mungkin jika Exceels telah melupakan pertemanannya dengan Vita sejak dulu.


“Penyebaran nya masih belum menyeluruh, Exceels !! Apa yang sebenarnya membuatmu jadi seperti ini !!? Kamu sudah lupa dengan janji pertemanan kita !!?”


10 tahun yang lalu, adalah saat mereka bertemu bersama sebagai satu party dengan Tamashi adalah komandan mereka. Silvia yang telah kehilangan banyak rekan-rekannya sebelumnya, Exceels yang tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap orang-orang di sekitarnya, dan Vita yang terkenal sebagai mechanoid support yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Ketiga remaja itu disatukan oleh sebuah fist bump yang semenjak itu, telah menjadi janji persahabatan mereka semua. Kekejian perang, kengerian anomali, dan berbagai konflik internal yang selalu mereka hadapi tanpa henti tidak akan pernah menghapus janji persahabatan itu untuk selamanya dari dalam rekaman log mereka. Awalnya memang terasa akan selalu seperti itu, namun kenyataan saat ini, telah menampar mereka kembali ke realita.


“Bulwark lebih membutuhkan kita, Silvia.”


“Komplotan penjajah itu ?? Sayangnya aku jauh lebih memilih untuk menyelamatkan Vita daripada menyelamatkan mereka semua.......”


“Jadi kita berpisah sekarang ?”


“Begitulah, kita berpisah sekarang.” ucap Silvia sambil berjalan meninggalkan Exceels sendirian di belakang.


Exceels menatap punggung Silvia selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghela nafasnya dan berbalik membelakangi Silvia, menuju ke ujung sayap kiri Bulwark. Sebuah perpisahan yang hebat, yang seolah tidak dapat dihindari. Dengan pedangnya, Silvia bagaikan seorang malaikat yang akan turun ke dalam kegelapan dunia untuk menyelamatkan nyawa yang terhilang. Dan dengan kedua pistolnya, Exceels bagaikan seorang pilihan dari para Dewa untuk menghancurkan segala rintangan, sebuah simbol dari kesempurnaan yang tiada tara.


Perjalanan panjang mereka sudah tidak terasa seperti sebuah perjalanan yang panjang lagi. Silvia membuka pintu di mana Limbo interface berada, sementara Exceels membuka pintu di mana ujung sayap kiri Bulwark berada. Silvia memasang kabel Limbo interface pada tubuhnya sendiri, sementara Exceels mengisi kembali magazine pistolnya dengan peluru peledak.


“Aku akan menyelamatkan mu, Vita !!” -Silvia.


“Aku akan melindungi harapan terakhir umat manusia ini, Scire !!” -Exceels.

__ADS_1


__ADS_2