
“Jadi, bagaimana situasi di luar sana ?”
Situasi di ruangan konservasi sangat tegang. Udaranya terasa sangat berat, juga sesak untuk dihirup oleh hidung manusia. Mungkin itu semua terjadi karena banyaknya orang yang berkumpul di satu ruangan kecil itu. Bukan hanya para warga dan murid akademi saja, namun juga para petinggi Militus seperti komandan dan yang lainnya, bahkan pemimpin dari Bulwark itu sendiri. Apalagi, hampir kebanyakan dari mereka sedang berbaring lemah di atas lantai Bulwark yang keras, membuat ruangan kecil itu terasa lebih sempit daripada kelihatannya. Mereka semua, adalah korban yang terluka akibat serangan dari Limbo M.I.N.D.
Di ujung ruangan itu, Victor dan para petinggi yang lainnya berkumpul dalam kelompok kecil mendiskusikan tentang sesuatu. Bukan seperti meeting mereka pada umumnya, namun apapun akan mereka lakukan, tidak peduli seliar dan sekacau apapun situasinya. Begitu Victor menanyakan pertanyaan tersebut, mereka semua langsung menundukkan kepala mereka ke bawah. Tangan para petinggi itu mengusap dagu mereka, dan semakin lama waktu berlalu, semakin dalam mereka terjatuh ke dalam pikiran mereka sendiri. Situasi menjadi hening beberapa saat, sebelum akhirnya sebuah deheman terdengar dari arah barat di antara mereka, memecahkan keheningan tersebut seketika.
“Bisa kita lewati momen 'pemikiran mendalam' ini ? Masih ada banyak yang harus ku lakukan saat ini.”
“Dan seperti yang kamu bilang sendiri, kenapa kamu ada disini- !!?”
Belum dapat menyelesaikan kalimatnya, jenderal berambut putih tersebut seketika dibuat diam saat jari telunjuk Incurso tiba-tiba saja sudah berada di dekat mulutnya. Incurso mendekatkan wajahnya ke wajah jenderal itu, kemudian mengucapkan 'sssstt' untuk mendiamkannya.
“Kamu mengganggu mereka yang beristirahat dengan tenang, pak tua.” bisik Incurso kepadanya.
Seluruh mata para petinggi Bulwark, termasuk Victor, menatap ke arah Incurso di saat itu juga. Incurso kemudian membenarkan pose tubuhnya dan mengalihkan pandangannya dari jenderal tua itu, kembali ke wajah seriusnya yang terlihat seperti kekurangan ekspresi.
“Kita persingkat ini saja. Di luar sana, bukan hanya orang-orang Limbo yang mengamuk, tapi juga infeksi misterius yang entah apa itu sebenarnya. Masih belum diketahui sampai sekarang.”
“Sebuah virus !? Kenapa kita baru tahu tentang ini sekarang ??” tanya seorang komandan wanita di umur ke 40 tahunannya.
“Karena kita memang tidak tahu sebelumnya. Hanya itu saja.”
Seketika itu juga, seluruh orang yang ada di dalam ruangan tersebut bangkit dari posisi berbaring mereka. Suara-suara bisikan mereka terdengar, dan kebanyakan dari mereka terdengar seperti suara-suara kepanikan. Hanya dengan satu kata itu saja, Incurso telah berhasil membangkitkan monster tak terlihat di antara mereka semua. Seorang kepala keamanan Bulwark kemudian sedikit berjalan ke depan menghampiri Incurso, dan matanya melayang memperhatikan situasi yang kacau itu.
“Kamu membuat mereka panik, Incurso. Bisa jadi mereka akan jadi seperti zombie yang berlarian kemana-mana setelah ini.” ucap orang tersebut.
“Memang begitulah kenyataannya. Kita hanya lari dari fakta bahwa monster tak terlihat itu sebenarnya memang ada di antara kita.”
Mengetahui bahwa mereka mulai melenceng dari pembahasan utama saat ini, Victor menghela nafasnya, menaruh tangannya di atas pundak kepala keamanan itu dan memundurkannya dari hadapannya. Kali ini, sang pemimpin sendirilah yang mengambil alih pembicaraannya.
“Cukup dengan itu semua, Incurso. Kira-kira seberapa bahayanya virus yang tidak diketahui itu ?”
Incurso sempat terlihat tersenyum kecil, sebelum akhirnya ia menyuruh seorang wanita yang sudah ada di belakangnya sejak ikut berpartisipasi dalam meeting kecil-kecilan itu.
“Helena, tunjukkan rekamannya.”
Tanpa menjawab apapun, wanita bertudung hitam itu kemudian menampilkan sebuah layar hologram dari pergelangan tangannya. Setelah beberapa saat mengeluarkan suara-suara melengking dan berada dalam keadaan buram, layar hologram itu akhirnya menampilkan rekaman yang tersimpan dengannya. Di layar tersebut, terlihat seorang Militus yang tiba-tiba bangkit dari apa yang nampaknya adalah sebuah kematian, kemudian menoleh ke arah kamera dan meneriakkan raungan keras ke arah orang-orang yang merekamnya saat itu.
Sialan, apa-apaan itu !!? Tembak dia sekarang !!
Sebuah suara tembakan terdengar jelas dari rekaman tersebut, dan tidak lama kemudian terlihat, bahwa Militus yang bangkit dari kematian itu akhirnya kembali ke alam kematiannya seketika setelah sebuah peluru akhirnya bersarang di dalam kepalanya. Rekaman pun selesai, dan Helena mundur beberapa langkah ke belakang Incurso sekali lagi, menghilang di balik tubuh Incurso yang bagaikan seperti sebuah tembok perlindungan baginya. Semua orang dan para petinggi itu terlihat ketakutan setelah melihat rekaman tersebut, namun tidak untuk Victor. Ia hanya menghela nafasnya sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya dengan tangan kiri sesaat, setelah itu menatap ke arah Incurso lagi.
__ADS_1
“Jadi, itu semacam virus zombie........ Yang membuat seseorang hidup untuk yang kedua kalinya ??”
“Begitulah. berdasarkan kalkulasi yang sempat dia lakukan sebelumnya, virus ini sudah menyebar hampir di 90% Bulwark, dan jangan lupa kalau mereka juga mulai menghancurkan sistem-sistem kita secara perlahan dari dalam di saat yang bersamaan juga.”
“Secepat itu !!?” tanya seorang jenderal tua yang lainnya.
“Pusat serangannya berasal dari Limbo kita. Baik dengan menghentikan semua pekerjaannya atau menghancurkannya, dua-duanya sama-sama punya tingkat pengurangan infeksi yang agak efektif, dan juga mengerikan buat kita sendiri.”
“Menghancurkan Limbo katamu !!?”
Semua orang yang terlibat di dalam pertemuan tersebut tidak menolak untuk tidak menatap tajam ke arah Incurso, bahkan Victor sekalipun. Apa yang baru saja Incurso katakan terdengar seperti sebuah kebodohan yang tidak dapat dipercaya bagi mereka. Seolah tidak mengetahui bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian saat ini, Incurso malah mengambil duduk di atas meja yang ada di dekatnya selama ini, dan masih dengan wajah tak berekspresinya, ia menatap balik semua orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Aku tidak menyuruh kalian buat mengambil palu kemudian memukuli mesin yang sebesar menara Babel itu. Aku hanya mengatakan, kalau kita hanya perlu memusatkan usaha kita ke menara mesin itu kalau mau menyingkirkan infeksi ini dari Bulwark. Seseorang, atau siapapun itu, harus ada yang pergi ke Limbo dan melakukan sesuatu dengannya.”
“Seseorang mengatakan 'harus pergi ke Limbo' ? Aku dengar itu dengan jelas soalnya.”
Perhatian mereka semua seketika beralih menuju ke arah seorang wanita dengan pakaian ungunya yang mencolok di dekat gerombolan warga yang terbaring di lantai, baru saja berdiri dan akan segera menghampiri mereka. Wanita itu kemudian melepaskan topi fedora nya, dan wajah dengan senyuman kecilnya pun akhirnya dapat terlihat dengan jelas oleh mereka semua. Wanita itu, seperti sebuah cahaya di antara kegelapan. Sebuah senyuman di antara kesesakan, tidak terlihat seperti sesuatu yang buruk memang, namun itu adalah sebuah keanehan bagi Incurso.
“Aku Maria, dari WGARR. Kalian harusnya tahu tentang organisasi ini, bukan ?”
“Seaneh seperti outfit mu, begitu juga dengan kehadiranmu di sini. Mau presentasi tentang seni baru kalian ??” tanya Incurso dengan nada sinis.
Incurso seketika memalingkan wajahnya dari Maria dengan malas. Hanya dengan mendengar sebutan 'pengacau' itu dari mulutnya saja, ia sudah tahu siapa orang yang menyusup ke dalam Limbo tersebut. Ia menatap ke arah Victor dan yang lainnya, menyerahkan semua sisanya kepada mereka.
“Seseorang memang terkadang harus keluar dari stigma nya. Katakan, apa yang harus kita lakukan untuk membantunya sekarang ??” tanya Victor dengan wajah yang terlihat melega, seolah akhirnya menemukan sebuah jalan keluar dari keadaan yang penuh dengan kekacauan saat ini.
Ia seketika mendapatkan tatapan ketidakpercayaan dari Incurso dan yang lainnya, namun ia tidak menghiraukan mereka sama sekali. Apapun jalan keluar itu, ia akan menggunakannya, bahkan saat jalan keluar tersebut berdasarkan pada seseorang yang disebut sebagai 'pengacau' di antara orang-orang. Lagipula, yang ia pertahankan saat ini adalah kelangsungan hidup umat manusia.
Maria terlihat sangat senang dengan keputusan dari Victor itu. Ia memberikan sebuah hormat yang singkat kepadanya dengan membungkukkan badannya, kemudian mulai berbicara.
“Sebenarnya, yang dia lakukan di sana hanya sekedar untuk menyelamatkan satu temannya yang kalian lupakan di Limbo sejak lama. Tapi, selama dia masih bergulat di dalam sana, kita bisa menyuruhnya buat melakukan apapun itu yang kalian mau. Kalian, hanya perlu menyiapkan frame amplifier yang baru kalian rilis akhir-akhir ini, itu saja yang dia inginkan.”
Sialan, aku benar-benar bijak !!
Selesai dengan ucapannya, Maria mulai mengamati gerak-gerik semua orang yang ada di hadapannya saat ini. Mereka semua terlihat seperti jatuh ke dalam pikiran mereka sendiri, sama seperti yang sebelumnya. Apapun itu, yang baru saja ia beritahu nampaknya berhasil membuat mereka memikirkan dalam-dalam tentang itu. Seisi ruangan konservasi tersebut akhirnya menjadi hening kembali, dan itu mulai terasa seperti akan berlangsung untuk selamanya bagi Maria. Ia mulai tidak dapat menolak keinginannya untuk melihat sekitar, membuat tatapannya berakhir dengan menemukan seseorang berambut merah dari kalangan ilmuwan yang menatapnya dengan tajam. Ia tahu siapa orang itu, dan juga tahu apa yang harus dilakukannya. Maria menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, berusaha untuk menahan tawanya yang akan segera meledak tidak lama lagi. Dari kejauhan, ilmuwan berambut merah itu mendecih kesal, kemudian memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Sepertinya, ia harus melakukan hal yang sama kepada mereka di lain waktu setelah semua ini selesai.
“Apa yang dia inginkan dengan frame baru itu, Maria dari WGARR ?”
Pertanyaan dari Victor membuatnya menoleh kembali ke arahnya. Ia bahkan masih belum selesai dengan 'menahan tawanya'.
“Uh, ya........ Uhmmmm, sebentar........ (Sigh) Yah, sebenarnya itu hanya untuk temannya saja. Tapi bagaimanapun juga, frame itu juga bisa menyerap virus-virus ini kalau selesai dengan Limbo saja masih belum menyelesaikan masalah sialan yang besar ini, bukan ? Berdasarkan dari kata-kata si rambut merah berotak besar itu.” ucap Maria sambil menunjuk ilmuwan berambut merah yang ada di pojok kanan ruangan sana.
__ADS_1
“Kalian punya mata-mata selama ini ??” tanya Incurso seketika.
“Uh, sebenarnya, semua orang yang ada di WGARR adalah mata-mata. Dan kebanyakan dari kita, lupa mengucapkan 'permisi' sebelum melakukannya.”
Beberapa dari warga yang ada di belakangnya mulai tertawa kecil. Mereka bisa dibilang cukup terhibur dengan keberadaan Maria saat ini, sementara para petinggi itu justru mulai menanyakan pada satu sama lain apakah Maria benar-benar bisa mereka percayai.
“Pak Victor, bisa kita selesaikan ini lebih cepat lagi ? Sementara kita masih berbincang-bincang ria di sini, beberapa dari orang-orang kesayangan kalian sedang sibuk dengan masalah-masalah ini, termasuk orang yang namanya Exceels.”
“Kamu juga tahu tentang Exceels, bocah WGARR !!?” tanya Incurso lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.
Helena dengan cepat segera menenangkan Incurso yang nampaknya sudah mulai kehabisan kepercayaannya pada Maria. Komandan wanita yang ada di antara mereka kemudian menyuruh keduanya untuk mundur sejenak dari meeting tersebut. Lagipula, seseorang yang tidak dapat mempercayai orang lain tidak diperlukan dalam sebuah pertemuan untuk kelangsungan hidup umat manusia.
“Dan juga sebuah tambahan. Usaha kalian untuk membunuh semua Limbo M.I.N.D yang ada di seluruh Bulwark saat ini sama saja seperti menebas udara, sia-sia secara singkat. Virus itu hanya akan membuat zombie baru yang lainnya, karena mereka semua sudah tersebar hampir di seluruh spaceship ini, kan ?”
Kalimat dari Maria itu nampaknya sudah cukup untuk membuat Victor membulatkan keputusannya di tengah situasi yang liar ini. Ia menghela nafasnya, berharap bahwa apa yang dikatakan oleh Maria sebuah jalan keluar yang tepat. Seluruh orang yang ada di Bulwark, saat ini sama saja sedang menaruh harapan mereka pada satu orang yang mereka sebut sebagai pembawa masalah. Namun tetap saja, semua akan ia lakukan, jika itu adalah untuk kelangsungan hidup umat manusia.
“Jadi, apa rencana mu sekarang, Maria dari WGARR ??”
“Kita akan menyerahkan semuanya pada mechanoid yang gagal itu ? Yang menyerang Jenderal Nero dan juga melewati semua ujian dari Stargazer ??”
“Victor, mechanoid itu........ Kita tidak bisa mempercayainya !!”
Semua petinggi dan para Militus pun juga mengatakan hal yang sama. Lagi-lagi, ruangan itu menjadi ribut kembali seperti semula. Namun semua keributan itu seolah tidak dapat mengusik Victor sedikitpun. Dalam keributan, ia diam. Dalam kekacauan, ia tenang. Dalam keputusasaan, ia menyerang balik.
“Semua orang punya kesempatan kedua, semua orang layak untuk dilahirkan kembali. Begitu juga dengan orang yang kalian sebut sebagai 'pengacau' itu.”
Semua petinggi yang ada di dalam ruangan tersebut diam seketika. Lagipula, tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi, selain menggantung harapan satu-satunya mereka pada si 'pengacau' tersebut. Mereka memang menyerah, tapi tidak menyerah sepenuhnya. Yang dikatakan Victor memang benar nampaknya, bahwa setiap orang layak untuk memiliki kesempatan kedua.
“Itu adalah keputusan yang bagus, Tuan Bulwark. Jadi, kita bisa mulai rencananya sekarang.”
Maria maju ke tempat mereka berdiri, tentu saja dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya. Itu sebuah satu poin plus untuknya, bahwa ia berhasil membuat para petinggi Bulwark akhirnya setuju dengan rencananya. Maria menatap ke arah Victor dan petinggi yang lainnya dengan santai, seolah tidak ada perbedaan kelas di antara mereka. Sementara itu di belakang, Incurso menyalakan comms miliknya, menyuruh semua Militus dan mechanoid yang ada di dalam ruangan itu mendengarkan rencana dari Maria itu. Seketika itu juga, Vierra, Bastion, Amelia, Echo, Mox Luna, Gamma, dan mechanoid yang lainnya langsung memasang telinga mereka tajam-tajam untuk mendengarkan suara dari Maria itu. Tidak perlu lagi memikirkan siapa yang akan mereka bantu di misi ini, yang penting adalah hasilnya akan mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia. Nama sebutan sang 'pengacau' itu sudah tidak ada lagi di katalog memori mereka. Mereka sudah melupakannya, dan mereka terlahir kembali menjadi baru, bersatu untuk menyelamatkan harapan terakhir yang tersisa dari umat manusia.
“Pertama, kita akan membersihkan jalan menuju Limbo, sekalian mempersiapkan frame amplifier baru untuk Vita juga. Kedua, kirim beberapa orang terbaik kalian untuk menghalau para Prophet sialan itu keluar dari, kita akan menangkap dan menghajar mereka habis-habisan karena serangan yang parah ini. Ketiga, kita suruh Silvia dan Vita, jika mechanoid itu berhasil, keluar dari Limbo selagi mulai mematikan seluruh sistem-sistem nya. Begitu mereka keluar, kita akan paksa dua Prophet itu membersihkan semuanya, dan jika sudah terlambat, hanya Vita lah satu-satunya harapan kita. Segampang itu memang, tapi jangan lupa kalau kita harus menjaga orang-orang di ruangan ini juga.”
Maria kemudian memberi hormat kepada Victor, setelah itu pergi dari antara para petinggi itu. Incurso menunggu selama beberapa saat, dan setelah akhirnya ia mendapatkan anggukan dari Victor, ia pun mengganti saluran comms nya menjadi global, tersambung seketika ke seluruh mechanoid yang berada dalam keadaan online.
“Mechanoid, ALL OUT !!”
Mereka pun akhirnya dikerahkan untuk menuju Limbo, untuk menyelamatkan seseorang yang menyusup ke dalam sana yang mereka sebut-sebut sebagai 'pengacau'.
Untuk umat manusia !!
__ADS_1