Stargate : Universe

Stargate : Universe
Church of the Red Star


__ADS_3

Lihatlah, bagaimana telah melencengnya umat manusia dari yang seharusnya.


Lihatlah, bagaimana mereka terjatuh hingga ke kedalaman yang paling dalam dari jurang neraka.


Tersesat, mereka membutuhkan bantuan.


Sebuah pencerahan.


Sebuah siraman rohani.


Butuh seseorang yang mengkhotbahkan firman-firman suci, yang menumbuhkan iman mereka kembali.


Sesungguhnya, kebijaksanaan Salomo telah menghilang lenyap dari lubuk hati mereka.


...****************...


Seorang pria sedang berjalan di tengah-tengah bumi yang sedang terbakar. Api dan asap mengepul hingga ke atas langit yang tinggi, mengubah warnanya menjadi merah gelap. Tangisan dan teriakan minta tolong dapat terdengar dimana-mana. Puing-puing bangunan menimpa tanah yang pada awalnya menopang ketinggian mereka, dan manusia, bagaikan sebuah berlian yang tersembunyi dalam-dalam di bawah tanah, beserta peninggalan terakhir mereka.


“Manusia yang malang. Apakah ini adalah hukuman dari sang bintang merah karena mereka yang telah melenceng dari perkataan-perkataannya ?”


Pria itu kemudian menoleh ke arah kanannya, dan lihatlah, sebuah buku kuno sedang terbaring di tanah bersama dengan kayu-kayu yang hancur yang tergeletak dimana-mana, bagaikan itu adalah kasurnya. Seakan buku itu memiliki gravitasi nya sendiri, pria tersebut kemudian berjalan menuju buku kuno itu, kemudian membungkuk dan mengambilnya.


“Muy bien damas y caballeros, dengarkan suaraku yang akan membacakan buku kuno yang compang-camping ini.”


Pria tersebut kemudian duduk dengan santainya di atas sebuah puing-puing kayu yang hampir rubuh, tidak memperdulikan pemandangan yang ada di sekitarnya. Setelah menghela nafasnya dengan panjang sambil sekilas membaca judul cover dari buku tersebut, pria itu pun memulai penjelajahannya di antara halaman-halaman buku yang sebagian besar telah hangus terbakar oleh api yang membara.


“Voila ! Lihatlah puisi yang ditata dengan hermoso ini !!”


Mata pria tersebut melebar, seakan baru saja menemukan sebuah harta karun di tengah-tengah pulau yang tak berpenghuni. Dengan penuh keantusiasan yang sangat tinggi, pria itu mulai membaca tiap baris kata-kata puisi tersebut dan berusaha mengolah makna mendalamnya hanya dalam beberapa detik saja setiap kali ia berpindah ke baris puisi yang lainnya.


The snow rains like a waterfall


The fire burns high from the chimneys, and the smoke steaming high as a dragon soaring high to the unknown


The freeze, and the cold


Were like the hidden old demons untold


Hid behind the shadow, and creep from underneath of the shallow


Enveloped by the darkness, and devour the all radiances


Even for the fiercest flame, were only put to a shame


Here comes the tattletale, whispering the lost children a little fairy tale


Giving her a little hope, so her will to survive not comes to avail


Hear the song of the hopeless one, a cry of the gospel


Soon the snow will be sway, and thou can be lay in the warmest day


Just pray and stay


For the one with stillest Faith, wouldn't be slain


Fret not for the fear of the unknown


For thine longing of freedom soon be reborn


The joyous and mellifluous song will be heard forever along


See from the Manchigan horizon, a new dawn comes to Sion

__ADS_1


The rubicund Apollo shall glow bright as the lustrous diamond and gold


The forgotten old book of fable becomes unfold


The hermetically closed pages of new hope soon will be told


When the marches of the valiant knight go whenceforth, so the demons has no hold of this world


'Twas in the morn, a children mirth heard from the unknown


Alas, who know where the desperate shadow has gone long ago ?


“Hmm, ini kelihatannya baik untuk disimpan sebagai kenangan yang indah.” gumamnya.


Pria tersebut kemudian merobek halaman puisi tersebut dari buku yang memilikinya, kemudian menaruh sisa bukunya ke bawah tanah. Pria tersebut beranjak dari duduknya, dan membacanya kembali sambil mengangkat kertasnya tinggi-tinggi di atas udara, memuji keindahannya yang tak tertandingi.


“Bukankah ini akan sangat pintoresco dan Imponente saat dibacakan, damas y caballeros ?”


Pria tersebut tersenyum kagum selama beberapa saat selagi ia membaca kertas puisi tersebut yang diangkat tinggi-tinggi olehnya. Ia bagaikan telah dipikat oleh nyanyian Sirene dari Sirenuse dan Capreae. Namun hanya sesaat kemudian jugalah, wajahnya yang sedang terkagum-kagum itu menjadi datar kembali. Pria tersebut menurunkan kertas puisi itu, kemudian menghela nafasnya karena kesedihan yang mendalam.


“Sayangnya, si escritor sudah meninggal ditelan bulat-bulat oleh bumi, dan ditekan dengan keras oleh creacion nya sendiri. Que Ironico, Vastaya ?”


Pria tersebut kemudian menoleh ke arah kanannya. Terlihat seorang gadis kecil sedang berdiri tenang sambil menatapnya dengan tatapan kosong entah sejak kapan. Namanya adalah Vastaya, dan ia adalah teman dekatnya pria pengagum karya sastra tersebut, atau lebih tepatnya adalah, maniak puisi. Vastaya menghela nafasnya dengan kesal, kemudian berjalan beberapa langkah mendekati pria puitis tersebut.


“Sudah selesai dengan monolog diri sendiri mu, Flambeau ?” tanya Vastaya dengan wajah yang sedikit agak kesal.


“Kalian berdua selalu saja muncul secara tidak diketahui seperti embun di pagi hari, huh, damas ?”


“Cepat selesaikan dialog bodoh dan tidak berguna ini, estupido.” ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja sudah duduk di tempat yang sama dengan yang Flambeau duduki sebelumnya.


Flambeau tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan mereka berdua yang selalu saja tiba-tiba itu. Faktanya, Flambeau tidak pernah terkejut sama sekali dengan kebiasaan mereka.


“Itu kasar sekali, Aestus.” ucap Flambeau sambil sedikit menggoda Aestus di saat yang bersamaan. Aestus tidak bereaksi sama sekali.


“Pakai otakmu itu, bodoh.”


“Corazon ku terasa sangat sakit karena mu, tahu.”


Aestus mendecih kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya sambil mengambil katana miliknya yang ia taruh di tanah selama ini.


“Jangan lupa dengan perkataan Advent lagi. Cari cahaya yang baru.”


...****************...


Pada awalnya, hanya ada kekosongan dan juga kekacauan. Energi kegelapan saling bertumbuk satu sama lain dimana-mana. Hanya ada ledakan, dan percikan-percikan kluster bintang kecil yang tersebar ke berbagai arah.


Namun semua itu berubah, ketika dua entitas yang sangat jauh berbeda antara satu sama lain terlahir ke kegelapan luar angkasa. Mereka adalah Sakarette sang dewa pelahap segalanya, dan Mekhane, sang dewi pengetahuan segalanya. Keduanya awalnya ditakdirkan untuk menghasilkan keturunan dengan berhubungan badan, namun perbedaan pendapat yang berangsur-angsur selama lebih dari ratusan tahun membuat keduanya memutuskan untuk menciptakan keturunan mereka sendiri, tanpa ada hubungan khusus yang terjadi. Sakarette melahirkan manusia, sementara Mekhane melahirkan para Archon.


Keturunan mereka tersebar begitu banyak di berbagai dunia lain, dan keduanya masih terus berkompetisi untuk menghasilkan keturunan yang dapat membunuh lawan mereka. Namun darah dari Sakarette yang mengalir di dalam tubuh seluruh manusia membuat mereka menjadi haus akan kekuasaan dan juga kekuatan yang tak terbatas. Tujuan diciptakannya manusia seperti sudah menghilang ditelan oleh waktu dan sejarah.


Umat manusia telah tersesat dari tujuan awal mereka untuk melayani sang bintang merah sebagai prajurit dalam baju pelindung bercahaya terang mereka. Mereka telah jatuh ke dalam jurang kekelaman dan menemukan kekuatan kesia-siaan. Mekanika harus dihancurkan, namun mereka justru menggunakannya untuk menindas manusia lain yang adalah para prajurit berharga bintang merah.


Dan karena itulah, kami sang cahaya baru datang ke dunia. Untuk mencelikkan mata dari domba-domba yang telah tersesat dan juga selalu keras kepala.


“Mama !? Mama !?”


Tangisan gadis kecil itu menggema di antara bukti dari bumi yang telah terbakar. Bunyi api yang membara adalah apa yang sedang menemaninya saat ini. Semuanya hening, dan tidak ada yang menjawab. Gadis kecil yang masih berumur 4 tahun itu sudah mengalami apa yang namanya kesendirian, ditinggalkan oleh semua orang yang mencintainya dan merawatnya sepenuh hati.


Dari balik sebuah bangunan yang sedang terbakar, Vastaya mendengarkan semua yang ditangiskan oleh gadis itu. Setidaknya itu sudah cukup untuk membuatnya teringat lagi pada hal sama yang juga menimpa ibunya.


“Cahaya yang baru ? Sepertinya dia ini cocok untuk mendapatkannya.” gumam Vastaya sambil mengintip ke arah gadis kecil tersebut.


Gadis itu masih mencari mengais-ngais di antara tumpukan puing-puing bangunan, seperti seorang bajak laut legendaris yang mencari harta karun yang tersembunyi di bawah pasir pantai yang berlumuran dengan darah. Di saat itulah sebuah batu kerikil melesat di depan matanya dari kanan, membuat gadis itu menoleh ketakutan seketika.

__ADS_1


“Siapa itu !?”


Mata biru laut gadis itu bertemu dengan Vastaya yang berwarna kuning bercahaya seperti batang emas di dalam peti harta karun.


“Ikut aku, ibumu sudah mati.”


Suara Vastaya pelan, namun dapat terdengar hingga ke dalam otak gadis kecil tersebut. Sejenak tubuhnya seperti dimanipulasi oleh seseorang, namun kontrol tersebut hilang tidak lama kemudian. Secara tanpa sadar, gadis itu sudah berdiri di dekat Vastaya.


“T-tidak mungkin !! Ibuku masih hidup !! Aku masih bisa merasakannya ada di sini !!!”


“Sia-sia mencari ibumu yang sudah mati itu. Ikut aku, karena aku bisa memberimu 'ibu' yang baru.”


Gadis kecil itu masih mau memberontak, namun seketika otaknya seperti dicuci oleh sesuatu dalam hitungan detik itu. Vastaya pun akhirnya berjalan ke tengah kota, sambil diikuti oleh gadis kecil itu dari belakang seperti seekor anjing yang taat dan setia kepada tuannya.


Tengah kota Pendragon.


“Apa yang kamu bawa ke sini, Vastaya ? Anak kecil ?” tanya Flambeau.


Tatapan wajah Flambeau terlihat begitu mempertanyakan apa yang bisa dilakukan oleh gadis kecil yang dibawa oleh Vastaya kepadanya. Aestus pun juga begitu, langsung menoleh ke arah Vastaya dengan tatapan mengintrogasi nya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sukses membuat Vastaya menjadi kesal. Di kedua tangannya, partikel-partikel berwarna merah terbang di udara, dan mata kuning cerahnya itu berubah menjadi merah darah.


“Ah, lihatlah. Puella kita sedang marah sekarang sepertinya.....”


Untungnya, Vastaya masih bisa menahan emosinya itu dengan mengambil nafas dalam-dalam. Keberuntungan yang seperti itu mungkin saja tidak terjadi untuk yang kedua kalinya kepada mereka.


“Apa kalian lupa darimana aku berasal ? Anak kecil, seperti dia. Karena itu aku yakin, dia bisa sama sepertiku.”


“Jangan bohong. Kamu membawanya hanya karena mau punya saudara, bukan ?” tanya Aestus secara tiba-tiba.


Bagaimanapun juga, yang dikatakan oleh Aestus itu memang tidak salah pula. Setidaknya, Vastaya hanya ingin mempertahankan argumen pertamanya itu.


“Itu tidak salah juga.”


Keheningan menyeruak seketika. Flambeau dan Aestus saling menatap satu sama lain, seolah seperti sedang bertanya dalam diam. Setelah beberapa saat tidak ada suara sama sekali, Aestus pun memecahkan suasana tersebut dengan helaan nafasnya yang panjang, yang sekaligus juga menjawab pertanyaan dalam diam Flambeau. Wajah datar Flambeau pun bersinar kembali.


“Esta bien !! Kalau begitu, kenapa kita tidak mengetes nya saja ??”


“Tes apa, bodoh ?”


Flambeau kemudian menoleh ke belakang, diikuti oleh Aestus dan juga Vastaya. Di kejauhan sana adalah beberapa militer asli dari Pendragon, yang sepertinya sedang mencari korban-korban selamat akibat serangan dari Bulwark. Tanpa perlu dijelaskan lagi, Vastaya pun sudah mengerti apa yang ingin dilihat oleh Flambeau dari gadis kecil itu kepada para tentara tersebut. Partikel merah yang sama keluar kembali dari dalam tubuhnya, dan kali ini, Vastaya benar-benar marah.


“Jangan bercanda !! Dia masih manusia biasa, bodoh !!”


Mendengar bahwa dirinya baru saja diumpat, Flambeau pun berbalik kepada Vastaya, dan kemudian menyamakan tinggi badannya dengan Vastaya. Tatapannya tajam ke arah mata kemerahan Vastaya, membuat pemilik netra itu menjadi merinding seketika.


“Kuarang ajar sekali puella ini. Katakan, apa kamu tidak ingin memberi yang terbaik kepada sang bintang merah ??”


Mulut Vastaya seolah dikunci saat itu juga. Dengan enggan dan sangat terpaksa, Vastaya menggerakkan tubuh gadis kecil tersebut dengan manipulasi pikiran miliknya sambil menunduk karena merasa bersalah, yang secara tidak langsung juga memberitahu keduanya apa yang telah dia lakukan kepada gadis kecil itu untuk mengajaknya ke sini. Aestus dan Flambeau tahu seketika, bahwa gadis kecil itu mengikuti Vastaya bukan karena keinginannya sendiri, namun karena paksaan dari kekuatan milik Vastaya.


“Selalu saja buruk dalam menyembunyikan sesuatu.” gumam Aestus sambil menoleh dan mengikuti kemana gadis kecil itu berjalan pergi.


Dengan tatapannya yang kosong, gadis kecil itu terus berjalan di antara reruntuhan dan di bawah langit yang berwarna merah gelap. Keberadaannya dengan cepat menarik perhatian para tentara Pendragon tersebut, yang mana langsung berlari ke arahnya dan menanyainya sesuatu.


“Hei, gadis kecil, kamu tidak apa-apa ?”


Gadis kecil tersebut tidak menjawab. Pertanyaan yang sama pun diulang kembali, dan gadis kecil itu pun masih belum menjawab juga. Para tentara tersebut pun mulai dibuat kebingungan karenanya, dan mereka langsung menatap satu sama lain, mencoba mengulik kemungkinan jawaban dari teman-teman mereka beberapa kali.


“Oi, anak ini...... Sepertinya ada yang aneh.”


“Huh !?”


Tubuh gadis kecil tersebut seketika diselimuti oleh gas merah darah yang bercahaya terang. Baru saja para tentara tersebut bereaksi terkejut, sabit-sabit besar kemudian muncul entah darimana dan langsung menebas-nebas para tentara tersebut hingga tercabik-cabik tak tersisa. Flambeau dan Aestus tahu bahwa yang dilihat oleh mata mereka itu bukanlah kekuatan asli dari sang gadis kecil, melainkan milik Vastaya. Tapi setidaknya, Vastaya telah berhasil menunjukkan sesuatu yang 'spesial' yang hanya dimiliki oleh gadis kecil tersebut, yaitu kemampuan adaptasi tubuhnya terhadap virus IMP (Insidious Malevolent Protocol).


“Sepertinya puella mu itu adalah medium yang cocok buat kekuatanmu ya, Vastaya ?” tanya Flambeau, yang seketika dibalas dengan tatapan tajam dari Vastaya.

__ADS_1


“Tidak, dia bukan medium kekuatanku. Dia .... Adalah saudaraku.”


__ADS_2