
Manusia telah tersesat, dan karena itulah kami berada di sini sekarang.
Membawa sebuah pencerahan.
Pintu besar gereja terbuka, menampakkan Aestus yang berjalan masuk dengan cepat ke dalam altar gereja mendekati seorang biarawati yang sedang duduk di atas singgasana yang terbuat dari daging manusia. Tembok-tembok gereja sepenuhnya dibuat dengan menempelkan manusia-manusia yang masih hidup, dan mereka semua berteriak kesakitan untuk selama-lamanya. Tangisan kesengsaraan mereka bagaikan nyanyian gospel yang indah yang diperuntukkan bagi sang maha kuasa. Sang biarawati tersebut duduk dengan kakinya yang berada di bawah kolam kecil yang dangkal, dan setiap kalinya, tangan-tangan manusia yang masih hidup dari singgasana tersebut akan membasuh kakinya sebagai permohonan untuk dilepaskan dari siksaan yang telah berlangsung selamanya ini. Setelah dekat dengan sang biarawati, Aestus menunduk untuk memberikan hormat, kemudian mulai berbicara kepadanya.
“Advent, bocah kecil kesayangan mu itu berulah lagi. Sudah kubilang dia masih belum bisa memilih cahaya baru.”
Sebuah tangan yang berasal dari sandaran kanan singgasananya kemudian menggenggam erat tangan kanan Advent memohon untuk dilepaskan dari kesengsaraan tiada akhir yang dideritanya, dan Advent pun langsung menjawab keinginannya tersebut. Hanya dengan kekuatan murninya saja, Advent melepas tangan itu dari tubuh aslinya yang tersimpan di bagian dalam singgasana, seketika memenuhi ruangan altar tersebut dengan teriakan kesakitan yang memekakkan telinga. Aestus seketika paham dengan tindakan Advent yang barusan. Itu, adalah sebuah peringatan untuknya.
“Jangan coba-coba kurang ajar, Aestus. Atau kau akan merasakan hal yang sama pula.”
“Maafkan aku, bunda suci.”
Tembok-tembok dan lantai-lantai menangis dengan kencang, merasakan empati terhadap sang tangan yang kurang ajar itu. Advent menatap Aestus dengan tajam, sebelum akhirnya berdiri dari singgasananya serta merentangkan kedua tangannya, memberkati jiwa Aestus yang telah tersesat di tengah kesia-siaan manusia.
“Pulanglah, dan kembalilah menjadi cahaya surgawi bagi jiwa-jiwa yang tersesat di dalam kesia-siaan dunia manusia yang sementara ini. Kembalilah, menjadi cahaya bagi sang maha kuasa bintang merah, dan berikanlah mazmur-mazmur pencerahan kepada mereka yang telah terjatuh ke dalam dosa kekal.”
“Aku menerima berkatmu, bunda suci.”
...****************...
Halaman utama, gereja bintang merah.
Aestus diam di tengah-tengah kubah yang luas dengan atapnya yang berlubang, menyinari dirinya dengan cahaya matahari dari atas sana. Bagaikan telah diberkati oleh cahaya ilahi, Aestus memandang ke atas langit layaknya sedang mengucap syukur kepada sang maha kuasa. Pintu barat halaman utama terbuka, dan disana, seorang pria dengan jubah hitam berhiaskan aksesori-aksesori emas dan mengenakan topeng tengkorak berjalan menghampirinya.
Pedang bercahaya merahnya menyeret di atas lantai keramik halaman utama, meninggalkan retakan di sepanjang jalan. Aestus menoleh ke arah pria tersebut, masih dalam keadaan tenang walaupun sebenarnya merasa sedikit terganggu berkat suara yang dihasilkan oleh pedang milik pria itu.
“Apa kamu tidak tahu, Nihilism, kalau menghancurkan lantai halaman utama sama saja dengan menodai kesucian seluruh gereja ?”
“Katakan, Aestus. Apa yang kamu katakan sampai-sampai membuat bunda suci mengamuk ?”
“Itu adalah sebuah pertanyaan yang bodoh, tahu. Apa mungkin, justru kamu yang membuatnya marah ? Karena beliau masih memberkati ku sebelum aku pergi.” balas Aestus sambil sedikit menyeringai kepada Nihilism.
Nihilism seketika mematikan pedang bercahaya merah miliknya, kemudian mendengus kencang karena sudah dibuat terpojok oleh Aestus hanya dengan sekali balas saja. Suasana menjadi hening sesaat, sebelum akhirnya Nihilism berbicara kembali.
“(Sigh) Lupakan itu. Kamu yang disuruh memimpin serangan kepada makhluk-makhluk sesat di atas luar angkasa itu, kan ? Kenapa kamu sekarang masih saja ada di sini, hah ?”
“Bukan urusanmu. Lagian, aku juga butuh setidaknya satu teman, bodoh.”
__ADS_1
“Jarang-jarang aku mendengarmu merendahkan diri seperti itu. Butuh bantuanku ?”
“Raksasa sepertimu sendiri pun masih belum cukup. Setidaknya, masih harus ada satu lagi.”
“Bah, bilang saja kalau kamu sedang menolak panggilan ilahi, bukan !?”
Aestus menarik pedangnya dari sarungnya, menghunuskan pedang katana berwarna merah darah itu ke arah Nihilism.
“Jangan kurang ajar dulu, bocah besar. Hanya karena kamu satu tingkat lebih tinggi daripada aku, bukan berarti aku tidak bisa mencincang daging-daging fana mu itu, bodoh.”
Tiba-tiba, Flambeau sudah ada di lantai kedua dari halaman utama tersebut. Dengan sambutannya yang bersuarakan begitu indah dan juga merdu seperti nyanyian burung gereja, ia berhasil membuat kedua orang yang ada di bawah sana terkejut dan langsung menoleh ke arahnya saat itu juga.
“Amigo, apa yang kalian lakukan di bawah sana ? Perhatian, cahaya baru kita akan segera terlahir, lho....”
Mendengar itu, Aestus pun langsung menurunkan pedangnya, begitu juga dengan Nihilism yang menjadi tenang seketika. Kelahiran cahaya yang baru dari Flambeau tersebut bagaikan sebuah wahyu yang diturunkan dari surga, menenangkan setiap orang yang saling bermusuhan dan mendamaikan segala hati yang memanas dan terbakar. Tanpa kata-kata, Aestus dan Nihilism pun berjalan memasuki pintu halaman utama bagian selatan, diikuti oleh Flambeau yang membuka pintu selatan di lantai kedua.
Mereka telah bersiap, untuk menyambut datangnya sang cahaya baru.
...****************...
Gadis itu tidak tahu apa-apa sebelumnya. Apa yang terjadi padanya ? Di mana dia saat ini ? Dan siapa yang membawanya ? Yang hanya ia ketahui setelah membuka matanya adalah bahwa dirinya sedang ditenggelamkan di sebuah kolam merah yang secara perlahan menghancurkan tubuhnya, mengonsumsinya secara hidup-hidup. Rasa sakit sudah tidak lagi merangsang sensor di dalam tubuhnya. Ia dapat merasakannya, namun juga tidak di saat yang bersamaan. Gadis itu berusaha untuk mengeluarkan dirinya dari dalam kolam tersebut, namun ia justru hanya tertarik lebih dalam layaknya sedang terjebak di dalam lumpur hisap. Hingga pada akhirnya, yang dapat terlihat dari keseluruhannya hanyalah kepalanya saja, yang tidak berekspresi sama sekali.
“Jangan coba-coba lari dari berkat sang bintang merah, adikku.” ucap seorang gadis kecil yang sepertinya seumuran dengannya.
“Kamu bisa memanggilku dengan Vastaya, adikku.” ucap gadis kecil tersebut kepadanya.
“Tolong aku...... Vastaya.”
Vastaya menggelengkan kepalanya, menolak untuk membantu gadis kecil yang tenggelam di dalam kolam merah tersebut. Mata gadis itu tiba-tiba dapat melihat cahaya berwarna putih terang muncul dari atas atap. Mungkinkah itu adalah cahaya ilahi yang membawa wahyu kepadanya ? Atau mungkin, adalah cahaya dari gerbang kematian ?
“Tidak bisa. Kolam merah itu adalah berkat dan bukti dari kemaha-kuasaan milikNya. Aku tidak bisa mengeluarkan seseorang yang sedang berada dalam berkatnya sang bintang merah.” ucap Vastaya.
“Apa ini....... Berkat ?”
“Jangan tanyakan sesuatu yang sudah jelas. Ini, adalah berkat dari sang bintang merah. Sebuah wahyu. Sebuah cahaya yang akan menuntun jiwa yang tersesat.”
Dan begitulah, bagaimana sang gadis kecil itu mulai menanyakan siapa itu sang bintang merah. Kenapa ia harus merasakan siksaan seperti ini hanya untuk sang bintang merah ? Tidak ada satu orangpun mengetahui jawabannya, ataupun akan menjawabnya juga. Vastaya meninggalkan dirinya sendirian di dalam kolam merah yang melahap tubuhnya secara perlahan itu, di dalam sebuah ruangan yang gelap dan tidak memiliki cahaya sama sekali.
Hari kedua, atau entah hari ke berapa ini sudah berlalu sebelumnya. Gadis kecil itu mulai melihat sesuatu yang menjijikkan dengan kedua matanya sendiri. Seraya tubuhnya hancur secara perlahan, makhluk-makhluk aneh mulai bermunculan dari dalam kolam merah itu. Ia tidak tahu sama sekali kenapa, namun ia selalu memikirkan hal yang sama, bahwa daging yang membangun tubuh para makhluk tersebut adalah daging miliknya sendiri.
“Apa aku akan hilang setelah ini ?” ucap gadis tersebut dengan lirih.
__ADS_1
Tidak ada kekuatan sama sekali. Ia tidak memiliki satupun kemampuan untuk membebaskan dirinya dari dalam kolam tersebut. Ia tidak dapat melakukan apa-apa, selain menerima takdirnya untuk dicerahkan oleh sang cahaya ilahi yang akan segera mencelikkan matanya dari dosa-dosa yang selama ini ia perbuat. Apakah ia pernah melakukan sebuah dosa ? Tentu saja tidak. Ia hanyalah seorang gadis kecil yang ceria dan juga polos, tidak tahu apa-apa selain hidup bersama kedua orang tuanya.
“Kapan....... Ini akan....... Berakhir ?”
Hari selanjutnya. Kolam merah tersebut mulai menjadi surut, meninggalkan tubuhnya yang sudah hanya tersisa tulang-tulang kecil nan keropos. Walaupun begitu, kepalanya masih utuh, menjadi satu-satunya daging yang tersisa dari tubuhnya yang telah lama menghilang itu. Gadis itu hanya terkapar di atas lantai, menatap ke atas langit-langit gelap dari ruangan tempat ia tinggal saat ini.
“Mañana, niña.” ucap seorang pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut bersama dengan beberapa orang yang lainnya.
Gadis kecil itu tidak menoleh sedikitpun. Sendinya sudah keropos, atau bahkan mungkin, telah menghilang sepenuhnya. Pria tersebut, bersama dengan yang lainnya, kemudian mengamati gadis tersebut yang wajahnya sudah tidak dapat berekspresi lagi. Mereka semua menatapnya dengan kesedihan yang mendalam. Bukan karena simpati ataupun empati, melainkan karena gadis tersebut yang ditolak mentah-mentah oleh sang bintang merah, sang cahaya ilahi.
“Puella, kenapa aku hanya melihat tulang-belulang di sini ?”
“Apa aku harus membunuhnya kalau begitu ?”
“Aun no, sebelum dijawab si escaso ini.”
“Cih, kelamaan.”
Pria tersebut, Flambeau, kemudian menoleh ke arah gadis kecil yang malang tersebut. Mulutnya secara perlahan terbuka dan menutup kembali, mencoba untuk mengatakan apa yang dirasakannya saat ini dalam diam.
“Bunuh...... Bunuh aku......”
“Nah, begitulah yang kamu dengar, puella.”
Vastaya kemudian berjalan mendekati gadis tersebut sambil mengeluarkan sebuah sayap berbilah pedang di punggung kirinya. Sayap tunggal tersebut kemudian bercahaya merah terang, bersiap untuk melancarkan serangan coup de grace kepada gadis kecil yang malang itu.
“Maafkan aku, adik.”
Bunuh...... Bunuh aku......
Darah bercipratan kemana-mana. Kepala gadis tersebut berlubang cukup besar di bagian dahi, dan sayap Vastaya menancap hingga ke bagian paling dalam dari otak gadis itu. Namun, sebuah hal yang tak terduga terjadi. Layaknya firman dari seorang yang mah kuasa, yang tidak pernah dapat diterka-terka artinya. Layaknya sebuah wahyu, yang turun untuk mencerahkan seseorang yang tidak pernah ditebak siapa identitasnya.
“K-kenapa ?”
“Flambeau, aku sudah melakukan semua yang terbaik. Oke ?”
Semuanya yang ada di dalam ruangan tersebut menjadi tercengang seketika.
“Harusnya, itu adalah serangan yang membunuh, bukan ?” tanya Aestus tidak percaya.
“Ara ara, apa yang sedang kita lihat di sini sebenarnya ? Yang lebih menarik lagi...... Kira-kira apa yang akan dilakukan Advent setelah mengetahui ini, huh ??” gumam Flambeau sambil tersenyum miring dan mengusap-usap dagunya dengan dua jari.
__ADS_1
Sementara itu, Nihilism sang nabi besar di antara mereka, langsung merentangkan kedua tangannya sambil melihat ke atas. Ia bermandikan dorongan iman, dicerahkan dan disucikan oleh keajaiban dan kemustahilan sang cahaya ilahi.
“Lihatlah, sebuah wahyu...... Telah datang mencerahkan cara berpikir kita.”