Stargate : Universe

Stargate : Universe
Captain Clown


__ADS_3

Di padang rumput yang indah, aku melihat seorang bidadari yang menjaga jiwa.


Menjaga jiwa, agar mereka tidak tersesat dari jalan kebenaran dunia.


Di tangan mungilnya adalah sebuah pedang, dan di dalam hatinya adalah sebuah tekad yang tak pernah terpadamkan.


Rambut pirangnya bagaikan sebuah cahaya pijar dari surga, dan kulit putihnya adalah air suci pertobatan, yang menjernihkan dosa, dan mencelikkan mata orang yang buta.


Aku ingin mendekatinya, mengungkapkan perasaan ku kepadanya yang telah terkubur lama di bawah tumpukan sampah kebusukan duniawi.


Namun apa daya, aku hanyalah seorang badut yang terkurung di dalam teater keabadian.


Pintu yang tidak pernah terbuka, dan tirai yang tidak pernah diturunkan.


Aku hanya menunggunya di dalam bayang-bayang hiburan sementara, sambil memainkan lima bola kebodohan manusia.


Pengharapan, tekad, keinginan, kesenangan, dan kesia-siaan.


...****************...


Flambeau terbangun dari pingsannya, dari mimpinya yang terus terulang-ulang tanpa henti. Turbulensi pesawat yang terjadi berkali-kali, membuatnya sampai sempat hampir muntah. Benar-benar tidak nyaman, keluhnya dalam hati. Betapa mengejutkannya, bahwa dua luka tembakan dari Hassen tadi kini telah menghilang seolah dirinya tidak terkena apa-apa barusan. Ia ingin kembali ke dalam dunia mimpi itu, namun Nihilism sepertinya sudah mengamatinya sejak dari tadi, menunggunya untuk terbangun dari pingsannya. Puisi itu, adalah puisi yang dibuatnya di masa lalu, saat ia merasa tertarik kepada Aestus untuk pertama kalinya.


Flambeau menghela nafasnya, kemudian memutuskan untuk membuang jauh-jauh lamunannya itu saat Nihilism akhirnya datang menghampirinya.


“Hei, gran chico, di mana Aestus sekarang ??”


“Jangan bilang, kau ingin menggodanya lagi seperti biasa ? Berusahalah untuk menahan nafsu mu yang menjijikkan itu.”


Sungguh sebuah ceramah yang tidak terduga oleh Flambeau, juga tidak ia inginkan sama sekali. Namun, setidaknya ia sudah terbiasa dengan hal 'ceramah di saat yang tak terduga' itu, apalagi jika ia sedang berbicara dengan sang pendeta besar, Nihilism itu sendiri. Begitulah yang selalu terjadi jika seseorang selalu berbicara dengan seorang pendeta yang suci pikiran dan perkataan-perkataannya. Flambeau menghela nafasnya, kemudian mengalihkan topik pembicaraan ke sesuatu yang lain.


“Omong-omong, orang besar. Sudah sampai di mana kita sekarang ??” tanya Flambeau sambil mendongak ke Nihilism yang tubuhnya sangatlah tinggi seperti gedung pencakar langit di bumi fana.


“Kamu bisa lihat sendiri. Kita semakin dekat dengan tempat tinggal manusia fana itu sekarang.”


Flambeau rasanya seperti ingin menampar kepala Nihilism yang selalu ditutupi oleh topeng tengkorak itu. Namun apa daya, tingginya saja tidak sebanding dengan Nihilism itu sendiri. Flambeau pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasurnya, kemudian berjalan menuju jendela pesawat luar angkasa itu dengan agak sedikit sempoyongan. Kepalanya masih pusing ternyata. Meskipun Nihilism nampaknya mengetahui itu, namun ia tidak bergerak sedikitpun untuk menolong Flambeau. Seperti biasa, selalu ingin suci dan tidak pernah ternodai oleh siapapun, bahkan temannya sendiri.


Setelah menoleh dan menatap Nihilism dengan agak tajam, Flambeau pun pada akhirnya melanjutkan langkahnya kembali menuju jendela yang ada di kedua sisi, kiri dan kanan. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan bagi Flambeau, walaupun itu hanya butuh beberapa langkah saja untuk menuju ke arah kedua jendela tersebut. Sambil menyangga tubuhnya dengan memegang bingkai jendela, Flambeau membuka penutup jendela pesawat luar angkasa itu, seketika dihadapkan oleh sebuah pemandangan luar angkasa yang tak terbatas jangkauannya. Flambeau mengamati kegelapan luar angkasa tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya langsung teringat kembali dengan misinya untuk menyerang tempat berlindung terakhir dari umat manusia yang fana itu bersama dengan teman-temannya.


“Oh, sudah di luar bumi ternyata.......” gumamnya.


Keadaan di dalam kapal luar angkasa tersebut cukup hening dan tenang, tidak seperti yang seharusnya terjadi saat dua Prophet saling berkumpul di satu tempat yang sama. setelah terus berdiri di tempat yang sama, yaitu di depan kasur yang Flambeau barusan tempati, Nihilism pun akhirnya memutuskan untuk kembali memegang kendali pesawat luar angkasa tersebut. Ia berjalan beberapa langkah melewati Flambeau yang kelihatannya sedang sangat menikmati pemandangan luar angkasa yang kosong itu, sebelum akhirnya sebuah guncangan menghentikan aktivitas mereka berdua seketika. Flambeau dan Nihilism menatap ke arah yang sama, yaitu bagian atas dari pesawat luar angkasa yang sepertinya baru saja di bombardir oleh sebuah serangan misterius yang tidak diketahui asalnya dan pelakunya.

__ADS_1


“Itu hanya turbulensi biasa saja, sepertinya.”


“Sepertinya ?? Terdengar tidak terlalu meyakinkan di telinga ku.” ucap Flambeau sambil memandang ke arah kekosongan luar angkasa sekali lagi.


Setelah beberapa saat keheningan di dalam pesawat luar angkasa, guncangan itu akhirnya muncul kembali. Kali ini jauh lebih keras daripada yang sebelumnya, serta juga diiringi oleh ringikan dan desisan misterius yang berasal dari luar. Flambeau pun menoleh ke arah Nihilism, seolah sedang mengejek tentang perkataannya barusan itu. Flambeau dan Nihilism saling menatap satu sama lain sejenak, sebelum akhirnya Nihilism mengeluarkan pedang bercahaya merahnya dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


“Tenang saja, mereka masih belum menyadari keberadaan kita.”


“Oi, tunggu dulu, gran chico.”


Nihilism menghentikan langkahnya seketika setelah itu, kemudian menghela nafasnya dan menoleh ke arah Flambeau dengan agak kesal, saat ia melihat senyuman miring di wajah Flambeau itu. Itu adalah pertanda bahwa Flambeau sedang ingin melakukan sesuatu sekuat yang dirinya mampu.


“Badut ini masih ingin memutar bola keempat kebodohan manusia, tahu.” ucap Flambeau sambil berjalan menghampiri Nihilism, kemudian melewatinya.


Kini Flambeau telah membelakangi pintu keluar pesawat luar angkasa, menghalangi Nihilism untuk keluar bertarung dengan entah apa itu sebenarnya. Flambeau sempat melakukan beberapa kontak mata dengan Nihilism sambil mendongakkan kepalanya ke atas, karena tinggi Nihilism yang jauh melampaui dirinya itu. Setelah beberapa saat melihat senyuman miring yang selalu sama itu, Nihilism pun akhirnya menghela nafasnya dan memutuskan untuk mengalah kepada Flambeau, mematikan pedang bercahaya miliknya.


“(Sigh) Terserah, tapi pastikan kamu selalu menghubungi ku lewat Star Net, paham ??”


“Ya ya....... Selalu saja menggunakan benda kuno itu seperti terjebak di masa lalu.” ucap Flambeau sambil membalikkan badannya, menghadap ke arah pintu keluar pesawat luar angkasa yang mereka tumpangi.


Flambeau kemudian mengulurkan tangannya ke arah kanan, dan dengan kemampuan telekinesis miliknya, ia menarik kedua senjata favoritnya itu, sebuah parang dan juga shotgun peledak. Flambeau tersenyum kecil sesaat, sebelum akhirnya melangkah ke arah pintu keluar pesawat luar angkasa dan meninggalkan Nihilism di dalam sana sendirian.


...****************...


Flambeau berlari keluar ke bagian atap pesawat luar angkasa itu, dengan cepat langsung merasakan dinginnya luar angkasa yang hampa udara. Itu seharusnya segera membekukan atau bahkan menghancurkan seseorang tanpa baju astronot yang melindunginya, namun hal yang sama sepertinya tidak berlaku pada Flambeau. Kekuatan sang bintang merah telah mengalir di seluruh tubuhnya, melewati berbagai pembuluh darah bagaikan hiruk-pikuk sebuah lalu lintas yang padat dan ramai.


Matanya langsung melihat sebuah sambutan dari ribuan makhluk aneh bersayap yang menempel-nempel di seluruh badan pesawat luar angkasa. Kaki depan mereka tajam, bahkan bisa dibilang kalau itu adalah sebilah pedang yang selalu di asah dengan cukup baik. Makhluk-makhluk itu masih menempel di seluruh badan pesawat luar angkasa selama beberapa saat, sebelum akhirnya mulai terbang melayang saat menyadari kehadiran Flambeau di antara mereka. Mata mereka ada yang berwarna merah, dan ada lagi yang berwarna hijau cerah, menatap tajam ke arah Flambeau, kemudian langsung mengeluarkan raungan mereka yang menggelegar.


“Ah, benar-benar sebuah sirkus pertunjukan !!”


Salah satu makhluk bersayap itu terbang ke arah Flambeau, dan Flambeau hanya merentangkan kedua tangannya sambil menatap ke arah makhluk itu, seolah sedang menyambutnya dengan baik. Flambeau tetap diam di tempatnya, sampai pada akhirnya kedua kaki makhluk bersayap itu menyerangnya, hanya untuk dihalangi oleh sebuah perisai berwarna merah ke oranye-an yang melindungi Flambeau.


“Sorpresa !!”


Flambeau membiarkan makhluk itu menyerang perisainya selama beberapa saat, yang tentu saja tidak menghasilkan apa-apa. Setelah cukup bermain-main dengan makhluk fana itu, Flambeau pun langsung membelah tubuhnya menjadi dua dengan sebuah tebasan dari bawah ke atas. Tubuh makhluk itu sangatlah rapuh, sangat mudah untuk dihancurkan bahkan dengan kekuatan paling kecil sekalipun. Sisa dari tubuh makhluk itu pun akhirnya menghilang entah kemana, tepat di depan mata Flambeau.


Hei, bagaimana keadaan di sana, Flambeau ??


Flambeau kembali ke pose santainya, sambil berjalan ke tengah atap pesawat luar angkasa itu. Para makhluk bersayap tersebut tidak menyerangnya lagi, sepertinya karena sudah sadar perbedaan di antara mereka dengan Flambeau yang sangat besar. Flambeau hanya diam saja di tengah-tengah mereka, seperti sebuah pilar kecil yang dilewati oleh ribuan burung di udara.


“Oi, gran chico, sepertinya mereka itu adalah sisa dari anomali event Emergence beberapa tahun yang lalu. Jadi ke sini perginya mereka ??”

__ADS_1


Terserah apa katamu. Yang penting segera bersihkan makhluk-makhluk kotor ini sekarang juga. Pesawat ini akan menjadi sangat mencolok bagi orang-orang itu kalau ini dibiarkan terjadi terus-menerus.


“Ya ya ya, tapi informasi rasanya lebih penting buat aku.......” ucap Flambeau sambil menyeringai.


Flambeau kemudian menodongkan shotgun nya ke arah salah satu makhluk terbang yang memiliki mata berwarna hijau di antara yang lainnya. Flambeau sempat mengulur waktu untuk tidak menembak mati makhluk tersebut, namun tetap saja tidak ada salah satu dari makhluk tersebut ingin menyerangnya sama sekali.


“Kemari lah, cobarde !!”


Flambeau sudah tidak sabar lagi melihat para makhluk terbang itu tidak melakukan apa-apa sedikitpun kecuali mengamati dirinya saja. Jarinya ia gerakkan untuk menarik pelatuk shotgun miliknya, menembakkan sebuah peluru api yang melesat kencang ke arah makhluk terbang bermata hijau yang malang itu, yang menerima kematiannya sendiri tanpa perlawanan apapun. Makhluk itu meledak seketika, dan darah hijau dari makhluk itu pun jatuh ke atas atap pesawat luar angkasa tersebut dan menciptakan tiga genangan racun yang terus mendidih dan seolah tidak terpengaruh oleh luar angkasa sama sekali. Flambeau yang sangat penasaran pun langsung menghampiri tiga genangan racun tersebut, dan lagi-lagi tidak ada satupun makhluk terbang yang ingin menyerangnya ataupun berusaha untuk menghalangi jalannya.


“Hmmmm, racun ini....... Sepertinya aku kenal dengan racun ini ??” gumam Flambeau sambil mengelus-elus dagunya sendiri dengan kedua jari.


Tiba-tiba saja, ada salah satu makhluk terbang yang mendarat tidak jauh dari belakang Flambeau, kemudian terbang ke arahnya dan langsung mengangkat kedua kaki depannya untuk bersiap-siap menyerang Flambeau secara diam-diam. Sayangnya, kemampuan diam-diam milik makhluk tersebut tidak cukup bagus untuk membuat Flambeau tetap lengah. Begitu makhluk terbang tersebut menebas menggunakan kedua kakinya, Flambeau telah melompat ke arah kanan sambil membalas serangan makhluk itu dengan menggunakan parangnya yang berapi-api. Seharusnya, tebasan dari parang Flambeau memotong kaki makhluk tersebut, namun Flambeau dapat merasakan bahwa parangnya justru terpantul ke belakang seolah baru saja menebas baja yang tak dapat dihancurkan. Flambeau pun akhirnya menyeringai setelah mendarat kembali, karena situasi nya menjadi jauh lebih menarik daripada yang awal itu. Kini, makhluk-makhluk tersebut terbang ke belakang si makhluk terbang bertubuh besi, seolah sedang mengikutinya sebagai seorang pemimpin.


“Ara, kalian ternyata menganggap yang paling kuat sebagai pemimpin juga ?? Interesante !!”


Flambeau langsung berlari menuju ribuan makhluk terbang itu dengan sangat bersemangat. Sebuah keingintahuan yang walaupun ia tahu hanyalah fana dan tidak berguna, namun masih ia gunakan untuk memuaskan rasa penasarannya yang tinggi itu. Satu per satu dari makhluk terbang itu mulai mengeluarkan raungan mereka yang keras dan mengerikan, kemudian terbang ke arah Flambeau dalam bentuk sebuah kerumunan besar yang mematikan. Flambeau dapat dengan mudah menghindari berbagai serangan gerombolan makhluk terbang tersebut sambil membunuh beberapa dari mereka tentu saja, namun ia masih tetap kewalahan karena jumlah mereka yang seolah tidak ada batasnya.


Hei, Flambeau, kamu masih berkutat dengan anomali-anomali fana itu ?? Cepatlah, mereka sudah menyorot lampu mereka ke arah sini, badut !!


“Oi oi oi, di mana iman mu itu, gran chico ?? Mereka ada ribuan seperti hamparan pasir di tepi pantai, tahu !!”


Nihilism berhenti menghubungi Flambeau lewat Star Net sejenak sebelum akhirnya kembali lagi dengan suara yang terdengar seperti semakin keras di telinga Flambeau. Dan entah kenapa juga, Flambeau dapat merasakan bahwa kekuatannya meningkat secara drastis tepat setelah Nihilism menghubunginya kembali barusan.


(Sigh) Flambeau, aku memasukkan mu ke dalam Synchron mode milik Star Net. Pakai kekuatan dari sang bintang merah itu dengan bijak, atau kau bisa saja juga ikut menghancurkan pesawat luar angkasa ciptaan manusia fana itu juga.


“Oh, pantas saja.......”


Flambeau mengamati tangan kanannya yang memegang parang itu selama beberapa saat. Bercahaya merah membara, seolah terbakar oleh api yang berkobar dengan dahsyat. Selama itu juga, para makhluk bersayap itu terbang ke arahnya dari berbagai arah, membentuk sebuah lingkaran besar tanpa celah satupun di seluruh bagiannya. Flambeau membiarkan dirinya dikepung oleh ribuan makhluk terbang itu, sebelum akhirnya meledakkan mereka semua dengan kekuatan Synchron dari Star Net, sebuah pemberian langsung dari sang bintang merah.


Beberapa dari makhluk bersayap yang berhasil selamat itu masih mencoba untuk menyerang Flambeau kembali, namun tebasan parang milik Flambeau kini menjadi semakin kuat dan lebih sulit diprediksi, penuh dengan ledakan api liar yang muncul dimana-mana. Sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk mengalahkan Flambeau. Makhluk terbang yang ber armor itu akhirnya mengambil langkah cepat untuk meninggalkan Flambeau, kemudian diikuti oleh sisanya yang lain. Namun Flambeau melihat hal itu, dan ia tidak akan pernah membiarkan hal itu untuk terjadi. Flambeau menancapkan ujung parangnya ke seekor makhluk bersayap yang sekarat yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri, kemudian mulai memutar-mutarnya dengan kekuatan penuh Synchron yang ia miliki.


“Hei hei hei, pertunjukannya baru saja dimulai, tahu !!!!”


Flambeau melemparkan makhluk bersayap yang sekarat itu ke arah pemimpinnya sendiri. Tubuh keduanya saling bertabrakan satu sama lain, musnah seketika seperti sebuah tubrukan antar dua planet yang berbeda. Flambeau akhirnya dapat berdiri dengan santai kembali, mengamati ledakan kembang api di luar angkasa itu dengan perasaan penuh kepuasan. Terlihat sungguh indah, sebuah api di antara kegelapan abadi.


Dan....... Badut ini akhirnya membuktikan bahwa dirinya masih layak untuk tampil di atas panggung sekali lagi.


Bidadari ku, lihatlah......... Aku masih layak untuk memutar bola kebodohan manusia itu lagi.


Aestus, apa kamu bisa melihat pesta akhir pertunjukan sirkus ini dari bawah sana ??

__ADS_1


__ADS_2