
Hidup adalah sia-sia, kataku, sungguhlah sebuah kesia-siaan belaka.
Apa gunanya manusia hidup, berjerih lelah di bawah matahari, jika pada akhir hayatnya pun muka bumi tidak berubah karena seluruh usahanya ?
Apa gunanya manusia dilahirkan setiap harinya, hanya untuk digantikan dengan yang baru hanya dalam beberapa tahun saja ?
Sungguh, aku tidak pernah melihat ada sesuatu yang baru yang bisa ditemukan di dalam muka bumi ini.
Segala yang baru, hanyalah sebuah replika dari pecahan masa lalu.
Aku tidak menemukan apa yang berbeda di bawah matahari ini, selalu.
Aku tidak pernah menemukan bahwa air mengalir di sungai berubah arah dari hilir nya dan kemudian bergegas-gegas menuju laut yang lainnya, ataupun pergi ke daratan untuk mencari udara segar.
Aku tidak pernah menemukan bahwa angin bertiup tidak berputar kembali dari Utara ke Selatan, maupun dari barat ke timur.
Sesungguhnya, tidak ada yang pernah berubah di bawah matahari ini, di dalam muka bumi.
Hikmat seseorang tidak pernah melebihi sesuatu, tidak pernah membantunya untuk terbang bebas ke atas langit atau bahkan melebihinya.
Apa yang datang, akan segera menghilang dan mati menjadi debu. Begitulah seterusnya.
Aku telah melihat banyak domba-domba sesat berusaha untuk membebaskan diri mereka untuk berada di tengah padang rumput yang hijau dan rimbun selamanya, yang mana rumputnya tinggi-tinggi dan hijau-hijau.
Aku telah melihat bahwa domba-domba itu semakin gemuk dan bagus perawakannya.
Mereka bebas di padang rumput yang hijau, dan mereka bersuka ria tiap-tiap harinya.
Sang gembala pun juga membiarkan mereka, seolah tidak ingin memegang dan menanggung nasib mereka di atas punggungnya lagi.
Aku telah melihat, bahwa sang gembala itu membiarkan domba-domba nya mati dimakan oleh serigala dan anjing-anjing liar.
Sungguh, segala hal yang dilakukan oleh manusia adalah kesia-siaan belaka, yang pada akhirnya hanya akan mengantar mereka kembali kepada kematian kekal.
Manusia mengetahui itu, dan aku pun juga sama mengetahuinya.
Namun, keinginanku dan mereka pun juga sama. Bagaikan sebuah mulut besar yang menganga, berharap mampu untuk meraup semua yang ada di dalam bumi tanpa akhir, dan juga tanpa henti.
Sungguh, aku hidup di dalam kesia-siaan di bawah matahari ini.
Manusia, pada akhirnya tidak akan pernah puas memenuhi keinginan dan hasratnya yang seperti seekor anjing liar yang dikurung di dalam sebuah penjara, melihat ke arah piring kosong yang ada di luar penjaranya.
Lidah mereka terjuntai keluar, dan setiap harinya hanya air liur lah yang keluar dari dalam mulutnya.
Mengharapkan sesuatu yang besar, walaupun sesungguhnya itu tidak akan pernah ada di muka bumi ini.
Mengharapkan sesuatu, yang sia-sia.
“(Sigh) Entah kenapa hanya bagian ini saja yang dapat kuingat. Sepertinya, yang dikatakan oleh orang bijak Pendragon itu memang benar, huh ?”
Pria tua yang berjenggot panjang itu duduk di lantai, dan secara perlahan ia meletakkan kuasnya yang bertinta hitam itu di bagian kanan kertas tulisnya. Di samping kirinya, terlihat pemandangan kota Long Zhen yang telah hancur lebur oleh sang 'penjajah'. Kepulan api dan asap membumbung tinggi hingga ke atas langit, membuatnya berwarna gelap di atas sana. Teriakan warga-warga Long Zhen yang berusaha untuk melarikan diri dari ancaman maut terdengar sangat keras, bahkan saat letak kastil pria tua itu cukup jauh dari pemukiman warganya. Terlepas dari semua itu, pria tersebut masih duduk dengan tenang, dan sopan, seolah sedang menunggu tamu kedatangan yang terhormat.
__ADS_1
Hanya selang beberapa waktu saja setelah menghela nafasnya, tamu yang ditunggu-tunggu nya itu memang benar-benar datang, lengkap dengan sebuah tendangan keras yang menghancurkan pintu geser yang jauh di depannya. Beberapa prajurit dalam baju armor yang tidak diketahuinya itulah tamunya, dan kini mereka semua sedang menodongkan senapan mereka ke arah pria tua itu, kecuali satu orang di tengah, yang kelihatannya adalah pemimpin mereka semua.
“Aku dengar kalau namamu adalah Emperor Gu, bukan, orang tua !? Katakan, apa kamu mau tetap hidup sebagai budak, atau mati menjadi pajangan sejarah !!?” ucap prajurit yang ada di tengah itu.
Pria tua tersebut, Emperor Gu, masih diam tak berkata-kata. Ia menghela nafasnya, kemudian berdiri sambil menutup kedua matanya.
“Apa yang kalian inginkan, manusia dari dunia lain ? Membawa kehancuran ke seluruh dunia ini, menjarah seluruh harta benda yang kami miliki di dalam dunia ini ? Perlu ku katakan kepadamu, wahai manusia dari dunia lain, semua yang kalian lakukan di dunia ini hanya akan berakhir sia-sia saja saat waktunya telah menentukan. Dunia ini tidak seperti yang kalian pikirkan, penuh dengan kekuatan gelap dan sisi misterius yang tak terjamah selama bertahun-tahun, bahkan oleh raja yang paling bijak sekalipun. Kalian, tidak akan pernah mampu menginjakkan kaki kalian di seluruh tahta yang dimiliki oleh dunia ini, manusia dari dunia lain.”
“Cih, sudah cukup buat ceramahnya, tua bangka. Aku anggap itu sebagai jawaban 'mati sebagai pajangan sejarah'. Semuanya, angkat senapan kalian ke si tua bangka ini sekarang !! Kita akan menembaknya dalam hitungan ketiga ku.”
Seluruh pasukan itu langsung menjawabnya dengan 'ya' secara serempak, dan senapan mereka pun terarah kepada Emperor Gu. Gu masih tenang tidak bergerak, seolah sudah sangat siap untuk menghadapi dinginnya kematian. Matanya semakin tertutup rapat, dan satu tetes keringat pun tidak mengucur membasahi kulit wajahnya.
Gu Shao, putri kesayanganku. Aku menyerahkan semuanya kepadamu. Percayalah, bahwa engkau adalah seorang wanita yang hebat, dan dirimu adalah tak tertandingi oleh para penjajah ini. Yang mereka lakukan adalah sia-sia. Dunia ini tidak berada dalam genggaman mereka, tapi kita.
Berjuanglah, putriku yang tersayang. Suatu hari nanti, dunia ini akan pulih kembali seperti dahulu kala.
...****************...
“Apa-apaan buku ini ? Ajaran sesat ??”
Pria itu menutup buku baru saja ditemukannya kembali. Ia berdiri di tengah-tengah reruntuhan sebuah gereja suci, penuh dengan darah dan mayat manusia yang bergelimpangan dimana-mana. Pria itu melihat ke sekelilingnya, seolah kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Pada akhirnya, matanya hanya kembali tertuju kepada buku itu kembali, seolah buku itu memiliki daya tariknya tersendiri.
“Kitab Abitrox, huh ? Apa aku boleh menjarahnya ?”
“Tentu saja, anak muda.”
“Aarrrgh, siapa di sana !!?”
Pria itu terkejut seketika, dan ia langsung berbalik ke belakang karena suara yang lembut namun juga agak kasar itu. Ujung-ujungnya, pria itu hanya bisa diam mematung sambil menahan rasa malunya saat yang baru saja mengejutkannya itu ternyata adalah seorang komandan tua dengan jenggot putih pendek memenuhi bagian bawah dagunya. Komandan itu terkekeh, dan sepertinya ia tidak akan pernah berhenti untuk terkekeh di hadapan pria itu.
“(Sigh) Tentu saja. Kaget itu adalah reaksi yang normal buat semua orang, bukan ?”
“Uhhhhh...... Yah, sepertinya memang begitu.”
Suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung di antara mereka, dan juga sangat hening. Pria itu akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa selain memalingkan wajahnya dari hadapan Sean si komandan itu, sebelum akhirnya ia mendapatkan sebuah deheman darinya. Sangat keras, namun tidak kasar.
“Simon, bagaimana perasaanmu, setelah melakukan dosa terbesar manusia bersama-sama dengan yang lainnya saat ini, bersamaku ?”
“Huh ? Bukankah kita seharusnya bangga....... Karena berjuang untuk kelangsungan hidup umat manusia, mungkin ?”
Sean menghela nafasnya, dan kemudian berbalik ke belakang, membelakangi Simon hanya dengan punggungnya saja. Yang Simon lihat hanyalah punggung Sean yang tegak dan tak pernah lelah bahkan saat di usia tuanya, selalu berdiri kokoh memimpin pasukannya dengan bijak dan gagah berani. Namun yang dilihat oleh Simon itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Sean, yang saat ini sedang meneteskan air mata karena seluruh dosanya yang ia perbuat kepada warga Pendragon saat ini.
“Bertarung demi umat manusia, itulah yang mereka selama ini selalu katakan. Tidak peduli saat mereka kehilangan, ataupun saat seseorang menorehkan sejarah baru di lembar kehidupan umat manusia, itulah yang selalu keluar dari mulut mereka. Padahal pada kenyataannya, misi ini sama saja dengan membunuh manusia lain yang tak bersalah, bukankah begitu, Simon ?”
Di kalimat terakhirnya itu, Sean menoleh ke arah Simon, tanpa ragu menunjukkan wajahnya yang terlihat sangat bersalah dan dipenuhi penyesalan karena dosanya yang teramat sangat besar itu. Hanya dengan melihat wajahnya Sean saja, Simon akhirnya dapat menyadari sesuatu yang selama ini ia lakukan bersama-sama dengan tentara Bulwark. Itu, adalah melakukan sebuah dosa besar. Manusia berusaha untuk melakukan segalanya, menjadi penguasa tertinggi di dunia ini. Mereka bahkan rela untuk membunuh sesama mereka sendiri, hanya untuk memuaskan sesuatu yang bertahan hanya sementara.
“Komandan Sean, dari mana anda sadar tentang hal ini ?”
“(Sigh deeply) Tentu saja, dari si mechanoid dingin yang pembuat onar itu.”
“Ah, Silvia...... Dia tidak seburuk yang kita kira, bukan, komandan Sean ?”
__ADS_1
“Yah, sepertinya memang begitu, bocah muda.”
Sementara itu di Bulwark. Silvia sedang dalam penyamarannya saat ini, hanya untuk meminum kopi kesukaannya di kafetaria Bulwark seraya mengingat suatu rutinitas yang selalu dilakukannya di masa lalu. Itu adalah menghabiskan waktu bersama dengan Tamashi, guru privat nya. Kafetaria masih ramai dan penuh hiruk pikuk manusia sama seperti dulu, masih belum berubah sama sekali. Ia menghela nafasnya karena merasa bosan, kemudian menyalakan tabletnya hanya untuk melihat berita-berita kebusukan Bulwark yang lainnya. Terlihat di layar tabletnya yang berwarna biru cerah, bahwa jam masih menunjukkan angka 07.30 pagi. Itulah alasannya, kenapa kafetaria masih terasa sepi walaupun sebenarnya ada banyak orang di sana.
Silvia menggeser-geser layar tabletnya sambil mendengus kencang karena kesal. Tiba-tiba, matanya melihat sebuah titik merah di logo aplikasi email-nya. Dia tahu apa titik merah itu. Sebuah pesan baru dari akademi Stargazer kepadanya, tentu saja. Silvia sangat malas untuk menekan ikon tersebut, namun ia juga sangat penasaran dengan apa isinya. Setelah bergumul dengan pikirannya yang penuh dengan kekacauan, Silvia pun akhirnya memutuskan untuk melihat apa isi dari email tersebut. Hanya sebuah pesan yang sangat singkat, namun dapat membuatnya mengutuki segala yang pernah dilakukannya seumur hidup.
6 hari lagi sebelum akademi akan dimulai sepenuhnya, bersiaplah cahaya-cahaya baru bagi masa depan !!
“Akademi sialan.......” gumam Silvia.
Hanya selang satu detik saja setelah membaca email singkat itu, Silvia langsung membiarkan tabletnya jatuh menimpa meja kaca hingga mengeluarkan bunyi yang sangat keras, seolah seperti meja itu akan segera pecah hanya karena bobot dari tabletnya saja. Silvia bersandar lesu di sandaran kursi kafetaria nya sambil menghela nafas panjang karena kesal. Selama satu bulan ini, yang dilakukannya hanyalah bangun, tidur, makan dan minum, bermain game anak-anak, kemudian istirahat dan pada akhirnya tidur kembali. Hanya itu saja, seolah ia sedang terjebak di dalam lingkaran waktu yang mengurungnya untuk selamanya.
“Bajingan, aku mau melakukan misi Stargate sialan itu lagi, bodoh.......” gumam Silvia pada dirinya sendiri.
“Oh, jadi kamu mau melakukan misi menyeramkan itu lagi, huh, agen penyamaran ??”
Kepalanya yang awalnya menatap langit-langit kafetaria Bulwark itu seketika langsung tegak mengarah ke depan kembali. Terlihat seorang pria atau wanita, tidak jelas gendernya, baru saja mengambil tempat duduk di hadapannya. Kini matanya saling menatap satu sama lain dan terkunci ke arah mata orang yang misterius tersebut. Baru saja bertanya-tanya di dalam hatinya, kini Silvia memutuskan untuk bertanya secara langsung kepada orang aneh yang misterius tersebut, yang terlihat seperti seorang femboy najis di matanya.
“Apa maksudmu dengan ucapan yang barusan itu ? Omong-omong, aku tidak pernah melihat ada femboy di tempat ini, bukankah begitu ?”
“Kamu menyebutku sebagai 'femboy' ? Itu sangat menyakiti hatiku, tahu.”
“Memang kenyataannya keliatan seperti itu.”
Orang yang bertopi fedora ungu dan ada bulu merah di samping kanan depan topinya itu pun kemudian menghela nafasnya sambil menaruh tangan kanannya di dada, memperkenalkan dirinya dengan sopan santun yang tinggi.
“Namaku adalah Maria, murni seorang wanita sepertimu, dasar agen penyamaran.”
“Oh...... Begitu, ya ?”
Suasana menjadi hening sejenak di antara keduanya, terasa sangat canggung bagi Silvia. Hanya butuh satu deheman keras dari Maria untuk mengakhiri situasi yang terasa aneh itu semua.
“Ehem, manusia selalu saja punya keinginan, huh ? Baiklah, langsung ke intinya saja, mechanoid Silvia. Kamu tahu tentang church of the red star, bukan ?”
Penampilan Maria yang tenang seketika berubah menjadi tersentak sebentar saat Silvia mendekatkan wajahnya begitu saja sambil mengangguk setuju. Bukan jawaban yang dia inginkan sebenarnya, namun terserahlah, pikirnya dalam hati.
“Tentu saja, bodoh, aku tahu dengan sangat jelas tentang aliran sesat itu !! Kamu mau aku melakukan apa kepada mereka !? Mengakhiri seluruh kultusnya !!?”
“Wah, benar-benar bertekad sekali kau. Tenang dulu, kita masih belum sampai di situ, oke ?”
Mendengar balasannya Maria, Silvia pun merasa sedikit agak kecewa dan langsung menghela nafasnya, membuat seluruh kegembiraannya itu berhenti seketika. Silvia duduk di atas kursinya kembali, dan terlihat bahwa sepertinya, keinginannya untuk mendengarkan Maria lebih lanjut telah berkurang. Benar-benar menyebalkan, bagi Maria.
“Kamu tahu organisasi besar yang selama ini mulai berkembang di lingkungan Bulwark ? WGARR ? Percaya atau tidak, aku adalah sekretarisnya di sana, dan pekerjaan utamaku yang sebenarnya bisa dibilang semacam mata-mata, termasuk mengawasi gereja sesat sialan itu.
“World Government of Art and Religion Residence, kan ? Apa hubungannya kalian dengan gereja sesat itu ?”
Maria mulai menjadi lebih serius daripada biasanya, dan ia kemudian menatap tajam ke arah Silvia. Mengetahui itu, Silvia pun langsung memasang telinganya tajam-tajam, tidak ingin satu kata pun yang dilontarkan oleh mulut Maria terselip dari indra pendengarannya.
“Kamu tidak perlu memperdulikan apa sebenarnya urusan kami dengan gereja sesat sialan itu, Silvia. Yang paling penting disini adalah fakta rahasia bahwa gereja itu sedang dalam persiapan untuk melakukan penyerangan ke tempat ini, entah kapan itu akan terjadi. Mechanoid Silvia, apa kamu mau bekerja sama dengan kami untuk sementara waktu sampai serangan yang dilakukan mereka itu berhasil dihentikan ??”
Silvia tidak menjawab, dan justru menunduk sambil memijat-mijat dahi kepalanya selama beberapa saat. Ia terlihat seperti sedang berpikir cukup serius, sebelum akhirnya, ia telah memutuskan jawabannya. Silvia kemudian menatap balik ke arah Maria, penuh dengan tekad yang membara.
__ADS_1
“Sebenarnya aku mau membiarkan koloni luar angkasa yang dipenuhi oleh manusia tanpa hati ini dihancurkan saja, tapi berhubung aku sangat sangat sangat bosan....... (Sigh) Baiklah, aku terima penawaran kerja sama mu itu.”
“Akhirnya setelah sekian lama, aku beraksi kembali juga........”