Status Gantung Mrs.CEO

Status Gantung Mrs.CEO
Episode 27. Siapa?


__ADS_3

Hello pembaca setia 'STATUS GANTUNG MISS CEO' 


Ingat jadwal update novel ini ya😉


Novel ini up setiap hari SELASA, KAMIS, SABTU. jangan sampai ketinggalan lanjutan kisah cinta mereka ya😘😘


Selamat membaca♥️♥️♥️


------------------------------------


Pembicaraan Aini dan Armila terhenti. Armila duduk menatap Aini dengan kesal.


"Pembicaraan tentang hal ini, cukup sampai di sini. Jangan membuatku jadi membencimu, Aini. Aku tahu, kamu masih merasa sakit hati pada Yusril, tetapi …. Apa kau juga tahu kalau Kimmy masih sangat mencintai Yusril. Alasan dia sama sekali tidak mau menggugat cerai Yusril, karena dia masih mencintainya. Tepiskan jauh-jauh sikap egois kamu. Biarkan mereka menyelesaikan masalah diantara mereka." Armila mengambil mangkuk dan mengisinya dengan bubur yang baru saja matang. Armila meninggalkan Aini yang masih termenung di dapur.


***


Yusril duduk di teras rumahnya, ditemani secangkir kopi dan sebuah majalah.


"Tuan, Nyonya tidak tinggal disini lagi?"


"Dia dikurung oleh ibunya. Oh, iya, Re, tumben kamu sekarang belum pulang? Padahal sudah jam dua siang."


"Tuan lupa, kalau hari sabtu kan saya biasa pulang sore karena libur kuliah."


"Ya, saya lupa. Besok kamu tidak akan kesini. Kalau sudah selesai pekerjaannya, pulang saja tidak apa-apa."


"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi." Rere pulang karena sudah tidak ada pekerjaan lagi. 


Yusril sudah merasa lelah duduk di teras, ia masuk ke dalam rumah. Dari kejauhan, di sebuah mobil hitam, pria yang disuruh Selviana memata-matai Yusril itu segera menelepon Selviana.


"Halo," ucapnya.


[Bagaimana? Siapa wanita yang tinggal di rumah Yusril?]


"Tidak ada wanita yang tinggal disana. Hanya Yusril sendiri. Dan seorang pembantu wanita yang pulang pergi."


[Kamu yakin tidak ada wanita di rumah itu?]

__ADS_1


"Tentu saja aku yakin. Kalau kau tidak percaya, datang dan buktikan ucapanku," ucap pria itu.


[Tidak perlu. Aku percaya padamu]


Sambungan terputus.


"Benar-benar wanita brengsek. Semaunya saja dia memutus panggilan." Pria itu menaruh ponselnya di dashboard dan menurunkan sandaran jok mobil. Pria itu merebahkan tubuhnya yang lelah duduk seharian mengintai rumah Yusril. 


***


"Kan, ini Mama bawakan buburnya. Makanlah," ucap Armila.


"Terima kasih, Ma. Ngomong-ngomong, kenapa Mama membentak Tante Aini?" tanya Okan. Armila melihat Kimmy sekilas.


"Tidak ada apa-apa. Tadi ada kecoa, nempel di baju Aini, jadi Mama refleks berteriak."


"Oh. Kimmy kaget tadi, Tante. Kimmy pikir, Mama dan Tante bertengkar," ucap Kimmy.


Armila hanya tersenyum lalu keluar dari kamar Okan. Okan mengambil mangkuk bubur, tetapi tangannya tidak memiliki tenaga yang cukup. Kimmy mengambil mangkuk itu.


"Biar aku menyuapi kamu," ucap Kimmy sambil tersenyum menatap Okan. Kimmy meniup bubur dan mengaduknya supaya cepat dingin. Setelah buburnya tidak terlalu panas, Kimmy menyuapi Okan sesendok demi sesendok bubur itu.


"Kenapa? Sudah kenyang?" tanya Kimmy. Okan mengangguk. "Oh, sekarang minum dulu. Apa kamu tidak mau berobat?" tanya Kimmy kembali.


"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja." 


Kimmy tersenyum dan bangun untuk membawa mangkuk ke dapur, tetapi Kimmy tidak jadi melangkah keluar saat matanya menangkap sebuah bungkus rokok di samping televisi. Tempatnya memang sedikit tersembunyi tetapi jika melihat dari dekat pintu, bungkus rokok itu terlihat jelas. Kimmy melangkah kembali ke dekat ranjang.


"Kan, kamu sakit karena kamu merokok, benar? Kenapa? Ada apa denganmu? Kamu tahu kalau tubuhmu tidak bisa mentolerir rokok. Katakan padaku, Kan, apa yang membuatmu begitu frustasi sampai berani menyentuh rokok?" tanya Kimmy dengan mata berkaca-kaca. Kimmy sangat khawatir. 


"Tidak ada masalah apa-apa, Kim. Jangan khawatir seperti itu. Kemarin ada teman yang datang, karena dia merokok, jadi aku menemaninya hanya untuk sopan santun. Hanya sebatang, Kim. Tidak usah khawatir."


"Hanya, kamu bilang? Kan, hanya sebatang dan kamu sampai sakit seperti ini. Jangan menyiksa tubuhmu untuk sebuah sopan santun. Aku yakin temanmu juga bisa memaklumi jika kamu berkata tidak merokok. Katakan, ada masalah apa?"


"Kim."


"Kan. Aku akan marah padamu jika kamu tidak mau menjawab."

__ADS_1


"Kim."


"Baiklah! Kamu tetap tidak mau menjawabku. Aku pulang," ucap Kimmy. Ia pergi dari kamar Okan dengan mata berkaca-kaca. Kimmy mengajak ibunya pulang. Kimmy berpamitan pada Armila lalu pergi dengan memesan taksi online kembali.


Setelah Kimmy pergi, Okan segera mengambil dan menyembunyikan bungkus rokok di bawah bantalnya. Okan khawatir ibunya juga akan melihat dan marah seperti Kimmy. 


"Kim, bagaimana aku bisa menjawabnya. Jika alasan aku sesedih ini adalah kamu, Kim. Perasaan cintaku padamu telah tumbuh begitu dalam. Sampai aku merasa separuh hidupku telah pergi meninggalkan tubuhku." Okan bergumam lirih. Gumaman yang pelan tetapi bisa terdengar dengan jelas oleh Armila yang berdiri di depan pintu kamar Okan yang terbuka. Sementara Okan tidak melihat kehadiran Armila karena Okan menatap ke arah jendela kamar.


Armila meneteskan air mata dan pergi ke kamarnya. "Jadi, kamu menyimpan perasaan pada Kimmy. Sejak kapan cintamu tumbuh jadi sedalam itu," ucap Armila pelan di dalam kamarnya. Armila benar-benar tidak tahu jika Okan ternyata mencintai Kimmy. Armila 0ikir selama ini Okan memperlakukan Kimmy sebagai adik.


"Cintamu itu salah, sayang. Kasihan sekali kamu, Nak. Disaat kamu jatuh cinta, kenapa orang itu harus Kimmy." Armila menangis di kamarnya. Ia tidak tega melihat kesedihan Okan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. 


***


Kimmy dan Aini sudah tiba di rumah. Kimmy langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu hingga malam hari.


Tok! Tok! Tok!


"Kim, makan dulu."


"Iya, Ma." Kimmy keluar dan makan bersama Aini. Setelah mencuci piring, Kimmy kembali mengunci diri di dalam kamar.


Aini tidak curiga dengan sikap Kimmy, karena Aini pikir Kimmy masih marah padanya. Aini tidak tahu jika Kimmy sedang kesal dengan Okan. Sampai larut malam, Kimmy duduk termenung di ranjang. Ia tidak bisa menebak isi hati Okan. Apa yang membuat Okan seperti itu juga sama sekali Kimmy tidak mengerti.


Tok! Tok!


Sebuah ketukan halus dan sangat pelan terdengar dari kaca jendela kamar Kimmy. Kimmy mengernyitkan dahinya. Kimmy menajamkan pendengarannya dan kembali terdengar suara ketukan di kaca jendela kamar Kimmy. Kimmy gemetar ketakutan jangan-jangan ada perampok yang sedang mengecek apakah ada orang atau tidak. Kimmy turun dari ranjang dengan perlahan lalu mencari sesuatu untuk memukul. Tidak ada apapun yang bisa dijadikan senjata. Kimmy hanya bisa gemetar ketakutan. 


------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote.


Besok minggu sudah lebaran nih, author mau ucapin


Minnal Aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Jika author ada salah, mohon dimaafkan ya reader😢😢🙏🙏. Selamat Hari Raya Idul Fitri buat kalian semua yang merayakannya. 

__ADS_1


 I Love you, readers ♥️♥️♥️


__ADS_2