
Hai hai, author kembali bersama kisah mereka. Jangan lupa dukung mereka,
Selamat membaca
__________________
Sebulan kemudian.
Okan berdiri di depan cermin dengan menggunakan setelan jas hitam yang sangat pas membungkus tubuh kekarnya. Berkali-kali ia melihat pantulan dirinya di cermin.
"Ma, bagaimana penampilanku? Sudah rapi, kan?" tanya Okan.
"Tentu saja, itu sudah sangat rapi. Anak Mama kan tampan, ditambah pakai jas, siapapun pasti akan terpesona. Sudah cepat! Kimmy sudah menunggu lama," ucap Armila dengan senyuman lebar.
Okan segera keluar dari kamarnya dan mengambil kunci mobil. Armila dan Doni menyusul dengan mobil milik Doni sementara Okan melaju lebih dulu dengan mobilnya.
***
Di sebuah gereja, Kimmy mondar-mandir dengan gelisah menunggu kedatangan Okan. Aini sampai tersenyum geli sendiri melihat tingkah Kimmy.
"Hei, kamu tenang saja. Okan pasti datang," ucap Aini menenangkan Kimmy.
"Ya, Ma, tapi kapan?"
"Sebentar lagi juga datang," jawab Aini.
Okan tiba di gereja dua puluh menit kemudian. Kimmy segera menghampiri Okan di pintu gereja. Okan segera memasang senyum paling manis dan berdiri di samping Kimmy. Kimmy menggandeng lengan Okan dan melangkah bersama menuju altar. Sumpah janji pernikahan mereka ucapkan bersama dan Okan menyematkan cincin di jari manis Kimmy.
"Silakan mempelai pria mencium mempelai wanita," ucap pendeta yang menikahkan mereka.
Kimmy dan Okan saling berhadapan. Okan memeluk pinggang Kimmy dan Kimmy melingkarkan tangannya di leher Okan. Perlahan Okan memajukan wajahnya. Okan dan Kimmy memejamkan matanya, hanya embusan napas mereka yang terasa menyapa wajah. Okan membuka matanya dan semakin mendekatkan bibirnya di bibir Kimmy. Saat tinggal beberapa centi lagi bibir Okan menempel di bibir Kimmy. Tiba-tiba terdengar suara gaduh.
"Kebakaran, kebakaran," ucap Ali.
Okan terperanjat bangun dan kakinya terantuk meja.
"Aww, aduh." Okan mengusap lututnya yang terantuk bagian bawah meja. Ternyata apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi Okan di siang bolong.
__ADS_1
"Nyenyak banget sih, Bro," ejek Ali. Ali adalah orang yang biasa mengantarkan ikan ke kedai makan milik Okan. Ali mengerjai Okan yang sedang tertidur lelap di ruangannya.
"Kamu membuat mimpi indahku jadi berantakan. Padahal sedikit lagi aku bisa menciumnya," gerutu Okan.
"Mencium siapa?" tanya Ali.
"Sudahlah, bidadari dalam mimpiku tidak akan aku beritahu padamu," ucap Okan. Okan mengambil uang dari laci meja kerjanya dan memberikannya pada Ali. Selain menjadi pengantar ikan, Ali juga teman sebangku Okan saat SD. Baik Ali maupun Okan, mereka sama-sama belum menikah. Kadang mereka berdua bermain bersama untuk melepas lelah.
"Hei, Bro, ngomong-ngomong soal bidadari … bagaimana kalau nanti malam kita ikut acara perjodohan? Ibumu dan ibuku selalu mendesak agar kita cepat menikah. Siapa tahu saja ada yang cocok, mau, ya?" tanya Ali.
"Terserah saja, tapi aku hanya bisa dari jam sepuluh malam ke atas. Di bawah jam sepuluh aku tidak bisa. Kau tahu ayah dan ibuku sudah pensiun mengurus kedai ini dan mereka menyerahkannya padaku," ucap Okan.
"Ok. Jam sepuluh malam aku akan menjemputmu," ucap Ali. Ia pergi setelah membuat janji bersama Okan.
Okan memang tidak bisa melupakan Kimmy, tetapi Okan sadar jika dia tidak mencoba membuka hati pada orang lain, ia tidak akan pernah bisa melupakan cintanya pada Kimmy. Okan tidak mau jika sampai nanti ia mengganggu rumah tangga Kimmy dan Yusril. Biarlah Okan ikut berbahagia dengan kebahagiaan Kimmy.
***
Sebulan yang lalu.
Ambulan datang setelah dua puluh menit berlalu sejak Aini menelpon. Yusril segera dimasukkan ke dalam ambulan dengan brankar. Kimmy dan Aini ikut masuk dan duduk di samping brankar. Tubuh Yusril kejang-kejang, membuat Kimmy semakin histeris dalam mobil ambulan. Kimmy sangat takut kehilangan Yusril. Aini memeluk Kimmy untuk memberi kekuatan pada putrinya agar bisa bersabar. Jika Yusril nanti sampai tidak selamat, entah Kimmy bisa melewati dan menerima kepergian Yusril atau tidak.
"Oh, Tuhan. Tolong selamatkan nyawa Yusril atau aku akan jadi pendosa besar karena telah menghalangi cinta mereka. Biarkan Kimmy dan Yusril bersatu di dunia ini." Aini berdoa di dalam hati.
Dua puluh menit kemudian, Yusril sudah terbaring di ruang operasi. Kimmy dan Aini duduk menunggu di depan ruang operasi. Kimmy sangat khawatir melihat luka di kepala Yusril. Kimmy takut terjadi sesuatu yang buruk, bagaimana jika Yusril mengalami gegar otak atau yang lebih parah otak Yusril pecah dan meninggal. Sudah dua jam berlalu, tim Dokter masih belum keluar dari ruang operasi. Lampu merah yang menandakan operasi sedang berlangsung pun belum padam.
"Ma, kenapa mereka lama sekali?" tanya Kimmy sambil terisak.
"Sabar, Sayang. Semoga saja Dokter bisa menyelamatkan nyawa Yusril. Kita berdoa saja," ucap Aini menenangkan Kimmy.
Kimmy dan Aini belum memberitahu Okan, Armila dan Doni. Saking paniknya, mereka tidak ingat untuk memberitahu siapapun atau menghubungi nomor mereka.
Setelah tiga jam, lampu operasi mati dan seorang Dokter keluar dari balik pintu ruang operasi. Kimmy dan Aini segera menghampiri Dokter itu untuk menanyakan kondisi Yusril.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?"
"Operasi berjalan dengan lancar dan pasien sudah melewati masa kritis. Untung saja tengkorak kepala pasien tidak pecah dan hanya mengalami sedikit keretakan. Selain daripada itu, kondisi pasien baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir," ucap Dokter Bambang.
__ADS_1
"Syukurlah. Terima kasih, Dokter." Aini mewakili Kimmy berterima kasih pada Dokter yang sudah berusaha keras menyelamatkan nyawa Yusril.
"Pasien akan dipindah ke ruang rawat besok pagi. Untuk saat ini, pasien akan dirawat di ICU terlebih dulu. Kalau begitu, saya permisi," ucap Dokter Bambang lalu ia pergi meninggalkan Kimmy dan Aini.
Kimmy duduk bersandar dengan perasaan lega. Untuk sementara mereka duduk menunggu Yusril di depan ruang ICU. Ruangan itu bersebelahan dengan ruang operasi. Sudah jam dua dini hari. Kimmy merasa mengantuk.
"Sini, rebahkan kepalamu di pangkuan Mama," ucap Aini.
"Tidak usah, nanti paha Mama kebas," ucap Kimmy menolak.
"Sudah, sini! Jangan membantah!"
Kimmy tidak bisa lagi menolak, ia pun merebahkan kepalanya di pangkuan Aini. Aini merapikan rambut Kimmy dengan lembut. Aini mengucap syukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan doanya. Yusril selamat dan Kimmy tidak akan merasa sedih lagi. Tidak ada yang lebih membahagiakan untuk Aini selain melihat putri semata wayangnya itu bahagia.
_______________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO (END)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa (END)
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu (END)
-Putri Yang Tergadai
-Nazein & Darlan
-Serpihan Hati Yang Hancur (END)
__ADS_1
I Love you, readers ♥️♥️♥️