Step Of Destiny From Mother

Step Of Destiny From Mother
Bab 18 Kebenaran Yang Menghantui Kehidupan yang terus berjalan walau disangkal 2


__ADS_3

Kebenaran Yang Menghantui Kehidupan yang terus berjalan walau di sangkal part 2


..


...


....


.....


Di sisi lain rumah besar tersebut.


_____________


________


_____


___


Tanpa sepengetahuan mereka, mereka telah di mata-matai oleh seseorang yang sekarang menyamar menjadi salah satu pelayan pria di rumah tersebut untuk mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkannya untuk acara laporan mingguan ke Masternya. Yang sabar menunggu informasi darinya. 🤣🤣🤣🤣🤣


Sekelompok pelayan pria yang sedang bersantai dan bercanda gurau setelah pekerjaan mereka untuk mengakrabkan diri di tempat ini sebab mereka di pilih karena mereka beragama muslim dan memiliki karakter yang baik serta pendidikan yang mampu dari setiap negara mereka berasal, berbagai negara mereka berasal ada yang datang dari jauh dan terpencil seperti afrika 🌍, Indonesia,, Malaysia, Filipina, dan negara-negara yang miliki muslim.


Semua meminum air madu yang hangat di malam yang dingin serta kebab china yang menggoda selera makan di setiap hidangan di atas meja dengan cita rasa yang berbeda tapi bentuk dan warna yang berbeda. Menggugah selera makan dan air liur yang melihatnya seperti Khan yang tergoda untuk langsung mencicipi makanan yang tersaji di depannya sekarang ini. Semua tertawa karena reaksi Khan yang lucu, seperti mereka pertama kali kesini dan di berikan makanan seperti ini oleh senior mereka waktu itu.


"Makanlah dan sebelum itu berdoalah kepada sang pemberi rezeki yang telah menakdirkanmu di sini untuk memakannya hari ini". Khan terkejut doa apa ia adalah seorang Ateis yang tak memiliki Tuhan, nama ini pun hanya samarannya saja, 😵😵 hatinya telah berdetak 5x lebih cepat dari ia berlari maraton di pagi hari saat situasi ini terjadi. 🤯


" Uh itu saya saya....".Khan yang tergagap karena bingung harus berbicara apa kepada mereka semua agar tidak ketahuan dengan alasan apa yang harus ia gunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut yang di arahkan padanya.


" Apakah kamu mualaf? Khan biar kami mengajarimu untuk menjadi muslim yang baik". kata seorang pemuda di kerumunan di baris kiri, pemuda berkulit putih cerah tinggi 173 dengan tubuh yang tak besar tak kurus tapi ideal di tubuhnya, berambut pirang kecoklatan dengan mata berwarna hijau berasal dari turki berkata dengan nada senang diucapkannya yang baru saja di katakan nya barusan.


"Ya katakan Bismillahirrahmanirrahim itu singkat saya berikan padamu yang singkat dulu nanti saya kasih doa yang lebih panjang untukmu Khan"


kata seorang pemuda bertubuh besar dan berkulit tan di sisi baris kanan yang duduk di salah satu sofa di sana sebelah meja makan menimpali kata temannya tadi untuk mengajari Khan agama Islam lebih dalam lagi kedepannya di sini. Khan bereaksi sangat cepat secepat guntur di langit sebelum hujan.


"Iya, kami akan mengajarimu Khan seperti Alan yang dulu tak tau apa, sekarang menjadi sangat taat kepada Sang Penciptanya kedepannya kamu pasti akan lebih baik dari Alan, Khan. hahahaha😂😂😂😂". Zambir berkata dengan terus terang kepada Khan yang di kanannya dengan Alan yang mojok di kursi single berwarna abu-abu tua di antara sofa berwarna coklat dan biru laut terdalam dengan tawa di akhir kalimat yang ia ucapkan untuk Khan dan bercanda kepada Alan yang sibuk dengan buku di tangannya yang berjudul 99 cara agar menjadi muslim yang lebih baik dan taat.


"Jangan menggoda wahai engkau Zambir yang telah berilmu dariku, karena saya tak ingin di ganggu saudaraku Zambir" Alan berkata dengan nada tegas dan keras untuk Zambir yang menertawakannya sekarang ini di ujung meja makan yang tengah memegang perutnya karena tertawa terlalu lama, sebab melihat perubahan wajah di wajah datar acuh tak acuhnya Alan Sang sahabat karibnya selama ini.

__ADS_1


"Zambir, Sudahlah mari makan, kamu juga Alan mari makan, nanti dingin tak enak kebabnya ".Lerai Pemuda yang pertama kali berucap dialog tadi.


" Iya mari kita makan saudara-saudara" kata Khan yang tak tahan melihat makan di depan mata yang telah menggodanya dari tadi saat masuk ke dalam ruangan ini. Matanya telah berwarna cerah sejak melihat makanan di depannya ini dengan aroma makan yang khas enak dari penampilan dan aromanya, tak sabar ia ingin memakannya dari tadi, sekarang akhirnya terlaksana. 😆😆😆


Dengan khimad mereka makan makanan yang tersaji di depan mereka tanpa tersisa meninggal piring-piring yang kosong di atas meja tersebut.


"Nona muda telah kembali pasti semua akan selalu ceria, banyak hal seru akan terjadi". kata Alkan pada para juniornya.


" maksudmu nona muda yang baru kembali hari ini? mengapa demikian? ". kata Zambir terheran-heran pada perkataan senior mereka yang sudah berkerja di keluarga ini selama 8 tahun ini.


Semua juga memiliki pemikiran dan pertanyaan yang sama seperti yang di ucapkan oleh Zambir kepada Alkan. Alkan tersenyum lebar dan berbatuk kecil kepada semua juniornya yang belum ada 4 tahun di sini. Apa lagi Khan orang baru saja masuk kemarin lusa ini. Wajah yang menunjukkan penasaran sekali akan hal yang akan mereka bahas ini. Khan dalam hati'tepat waktu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut'.


"Alkan, cepatlah saya penasaran sangat ini". kata Malik dari malaysia kepada Alkan yang masih mengamati mereka dengan wajah tersenyum indah di wajahnya yang cukup taman bila ia tersenyum.


" Cepatlah berbicara apa yang Anda ketahui agar kami tidak berbuat kesalahan pada nona muda yang baru kamu jumpai selama berkerja di sini". Kata Alan yang juga penasaran dengan kepribadian nona muda yang baru pertama kali dia temui selama berkerja disini dan rasa penasaran itu bertambah setelah ia melihatnya kemarin di pintu masuk mansion ini, wanita yang tubuhnya sangat tertutup dari bawah ke atas hanya menampilkan mata Almond diantara kedua matanya yang berwarna coklat kehitaman yang dalam. Tidak banyak hal aneh yang ia ketahui tentang kediaman ini walaupun sudah di sini selama hampir 2 tahun bekerja di sini sebagai pelayanan di berbagai pekerjaan kebun dan halaman.


"Wah, wah sampai Alan si patung gunung es kita penasaran, baik saya akan bercerita, cerita ini panjang sekali dan akan memakan waktu yang lama jadi jangan ada yang bertanya sebelum saya benar-benar menyelesaikannya terlebih dahulu". Kata Alkan dengan tatapan yang serius dan tegas. Dengan kecepatan merubah wajah yang belum pernah mereka lihat pada Alkan selama ini. Jadi rasa penasaran mereka semua sangatlah bertambah banyak dan menjadi tambah penasaran kepada nona muda yang baru mereka lihat hari ini.


Alkan mulai mengingat semua yang akan dia bicarakan kepada mereka, ia mulai merenungkan dan merangkum semua yang ada selama ini di otaknya dan dari berbagai cerita dan sudut pandang berapa seniornya dulu di Jepang.


" Tolong setelah mendengar cerita saya, saya harap anda semua jangan sampai jatuh hati pada nona kita apalagi memata-matainya kemana pun selama beliau tinggal di sini". kata Alkan serius dengan tatapan tajam mengarah satu persatu pada wajah orang yang berada di ruang itu, untuk memperingati mereka kedepannya.


" iya Apakah sebegitu mempesona nona muda kita ini? ". kata Zambir yang mulai heran akan tingkah seniornya ini. Secantik apapun wanita yang pernah Zambir lihat dia akan merasa wanita itu cantik dan harus di hormati, nona muda mereka selalu tertutup dan tak ada yang bisa melihatnya mengapa ia bisa jatuh cinta kepadanya? bukanlah itu Aneh untuknya dan beberapa orang di sini.


" Zambir, Zambir, Dengar saja dulu kata Alkan kalian akan mengerti kedepannya ". sahut Ubeir pada semua junior-juniornya di ruang itu yang telah lama terdiam diri tanpa bersuara sejak tadi.


" Saya Akan memulainya, tolong dengarkan kata-kata saya karena saya tidak akan mengulanginya untuk kedua kalinya, tapi bila ada kekurangan dan kesalahan tolong pasti untuk senior Ubeir membenarkan atau menambahkannya untuk kedepannya ". kata Alkan sekali di detik ini. semua sudah penasaran apalagi Khan yang mulai memasang telinga dengan baik dari tadi. 'Akhirnya saya akan mengetahui beberapa rahasia yang ada pada salah satu pemilik mansion ini' batin Khan dalam hatinya.


" Dulu saya seperti kalian tidak tahu apa-apa dan banyak melakukan kesalahan di masa kerja saya, apa lagi kala itu saya hanya islam di dalam Kartu Identitas saya, saya sangat sulit mencari kerja di negara saya waktu itu, modal nekat saya pergi ke Jepang karena mendengar negara itu teknologi yang baik dan menggaji orang dengan bayaran tinggi, saya hanya lulusan dari S1 Universitas kecil di Denmark, setelah saya bekerja di kantor selama 1 tahun tapi saya tidak mendapatkan ketenangan di dalamnya saya keluar, saya kerja apa saja waktu itu, saya sudah hampir putus asa waktu itu. Di malam hari yang dingin tanpa ada minuman hangat, saya demam tinggi di saat itu musim Salju yang lebar sedang terjadi, uang yang saya hasilkan di rampok oleh beberapa preman di jalan saya pulang ke apartemen saya. Tak ada yang perduli dengan saya waktu itu karena wajah saya yang lusuh dan baju saya yang kotor dan berapa di tambal, disaat itu saya mulai menyadari bila uang dan harta serta pangkat lebih penting dari apa pun. Saya mulai menyalahkan takdir dan nasib yang di berikan oleh Allah kepada saya waktu itu, itu adalah kenangan buruk di hidup saya tapi, bukankah Allah selalu bilang ada kemudahan dalam kesulitan itu pasti? ". Alkan berhenti bercerita dan mulai menatap mereka satu persatu kembali kecuali para senior yang telah tahu alur cerita di dalamnya.


Zambir dan Said pemuda yang pertama kali berbicara pada Khan ingin melontarkan pertanyaan tapi di batalkan karena Alkan sudah mengisyaratkan untuk diam kembali tanpa suara.


semua melihat pun tak ada yang berani bertanya atau menyela nya terutama melihat senior-senior mereka yang tenang dan menikmati cerita dari Alkan ini.


Alkan mulai lagi ceritanya.


.............................


.................

__ADS_1


........


...


.


" Disaat saya benar-benar hampir khilaf dan demam saya tinggi di arah utara saya mendengar langkah kaki yang ringan tapi tergesa-gesa menuju saya, berdiri seorang berpakaian Muslim hitam dai kepala sampai ujung kaki yang saya kira Malaikat maut sebab demam saya pandang saya kabur dan di malam hari di jalan itu sudah tak ada orang, saya sangat putus asa, saya bertanya-tanya apakah saya harus mati di sini dan mengapa saat saya sekolah dan di Universitas saya tidak memulai belajar dengan giat dan menambah skill saya waktu itu. Saya Sangat menyesalinya dan ingin membalikkan waktu tapi itu hal mustahil sebab itu tidak akan terjadi. Di antara kesadaran yang menipis dan tubuh saya mulai dingin saya mendengar sedikit percakapan antara 2 orang di depan saya waktu itu.


"Nona apakah orang ini yang akan kita tolong? ". Suara seseorang memulai percakapan yang terdengar dari dekat itu adalah seorang pria dan perempuan.


"Ya, kamu benar, cepatlah bawa dia ke mobil". Suara seorang perempuan yang lembut di depannya dengan nada khawatirnya melihat orang di depannya mulai mengalami kelumpuhan pada berapa saraf dan akan pingsan.


"Baiklah nona". jawab cepat Sangat pria yang lalu berjongkok dan mulai mengangkatnya ke dalam gendongnya untuk masuk ke sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan tempat ia akan mati bila tidak ada yang menemukannya pada waktu itu.


Saat saya sadar dan bangun saya telah berada di ranjang rumah sakit di salah satu rumah sakit internasional di kota Jepang saat itu di kamar terbaik, saya heran dan saya bertanya-tanya di dalam diri saya apakah ini mimpi, saya belum mati, dimana malaikat mautnya kemarin? 😳😳😳 , saya masih terlarut dalam banyak pikiran dan tidak mendengarkan pintu yang terbuka dari luar yang masuk 2 orang yang dengan yang satu membuka pintu untuk masuk seorang perempuan kecil yang berpakaian hitam dan berhijab hitam dari atas ke bawah dan jangan lupa cadar yang menutupi seluruh tubuhnya serta hanya menyisihkan kedua bola matanya yang berwarna coklat kehitaman yang indah penuh kepolosan dan kemurnian.


dan seorang pria yang sopan santun di pembawaannya berdiri di samping dengan jarak 100 m dari perempuan kecil tersebut.


"Anda sudah bangun tuan? ". kata perempuan kecil yang membangunkan kesadarannya ke tempat semula, kemudian menatap perempuan yang melihatnya dengan mata tersenyum dan menyempit karena senyum di balik cadar nya itu.


" Sudah, Terima kasih telah menyelamatkan saya tadi malam, dan membawa saya kemari, sekali lagi terimakasih nona kecil".jawab cepat Alkan yang malu pada penyelamat di depannya, Pria di belakang maju ke depan untuk memberikan buah dan madu sebagai nutrisi untuk pasien di ranjang rumah sakit ini.


"Terimakasih Tuan" ucap Alkan setelah melihat makanan yang di bawah oleh mereka dan buah serta madu.


" Iya, kamu harus kembali sehat dan beraktivitas lagi". jawab Al pada Alkan yang tengah menata makan di meja sebelah ranjang rumah sakit ini.


Setelah itu saya di rawat selama berapa hari di sana tapi saya melupakan pekerjaan saya yang belum selesai di kemudian hari itu. Saya lupa uang saya telah habis untuk bayar tunggakan apartemen, listrik dll. Saat itu mereka menolong saya dengan mudah dan tulus tidak takut apapun, saya bingung harus gimana untuk cari kerja lagi tempat tinggal tidak ada, mau cari tempat uang sudah habis di bawah preman, tapi saat itu nona muda yang menolong saya bilang di rumah mereka kekurangan pelayan tapi Tuan yang bersamanya ingin menolak saya untuk ikut tapi nona berkata uang selamanya ini saya pegang dalam hidup saya " Al bila kamu menolong seseorang tolonglah ia sampai tuntas dan hidup dengan baik dengan kemampuanmu tapi bila ia telah kamu tolong dan tidak bisa menahannya berarti dia harus bisa belajar tanpa bantu orang untuk bisa hidup dengan sendirinya, roda itu berputar terus seperti itulah jalannya seperti kita tidak tahu kapan kita akan seperti apa di masa depan cukup berbuat baik dan selalu berbuat baik tanpa meminta apapun dari siapapun dalam hidup ini kecuali orang tua kita yang mampu memberikannya bila tidak kita yang harus usaha dan jangan pernah menyalahkan keadaan sebab bukan keadaan yang tidak bisa di ubah tapi pola pikir dan pandanganmu yang harus kamu ubah.Mengerti Al". ucapan Yang Ling Ya yang panjang untuk mengajari Al tentang hidup ini. Di lorong rumah sakit, saya di pintu membawa tas yang lusuh dan berdebu terharu mendengar kata-kata nona muda itu, orang tua seperti apa yang bisa membesarkan anak secerdas dia dan sehebat dia. Saya kala itu masih di dalam ruang kamar saya di rawat sedang membereskan dan memasukkan pakai dan barang- barang saya ke tas lusuh saya karena pendengar saya yang terlalu baik saya bisa mendengarkan omongan orang dari jarak minimal 5km. Saya mendengarkan semua pembicaraan nona muda dan Tuan yang menolong saya waktu itu dengan akurat. Setelah itu Tuan itu berkata" Ya, nona muda pelayan ini mengerti tolong benahi bila saya melakukan kesalahan nona". "Jangan memandang remeh orang lain Al, kita tidak tahu masa depan seseorang belajarlah dari kisah Umur Bin Khattab, ia yang ingin membunuh Rasul kita saja bisa menjadi sahabat sampai surga dan menjadi 1 dari 10 sahabat Rasulullah disepanjang masa dan menjadi salah satu orang yang kuburannya di samping Rasulullah serta orang yang menentang saat islam datang pun telah jatuh cinta pada Islam kala itu. Masa depan seseorang tak bisa di ukur oleh apa yang di lakukan orang itu di masa lalunya sebab setiap hidayah dari Allah akan membuat siapapun menjadi hambanya yang baik, jangan seperti iblis yang selalu tidak suka ada yang lebih baik darinya sesat nanti kamu Al". perkataan yang selalu berputar di dalam otak saya setelah saya mendengarkannya selama berbulan-bulan kedepannya. Bagi saya dia bukan hanya orang bijak tapi orang yang tahu memperlakukan orang seperti apa, hanya satu dalam pikiran saya ketika saya mendapatkan pencerahan kala itu" Saya harus mengikutinya sebagai pelayan atau murid pada nona ini" kata ini berdengung di hati dan pikiran saya atas kemurahan Allah yang Maha Esa kala itu, saya di pertemuan dengan orang baik yang sangat baik dalam hidup saya. Janji Allah itu pasti mulai saat itu saya hanya yakin Allah ada dan tahu terbaik untuk hamba, saya bersyahadat dan kembali lagi ke jalan yang benar.


...---------------------------...


...--------...


...------...


...----------------...


...---------...


Ada pepatah yang bila 'Setiap orang yang hadir di hidupmu pasti kamu akan memberikan pengalaman dan kebahagiaan saat bersamanya, baik buruk itu tergantung kita menyikapinya di kemudian hari, jangan pernah salahkan orang yang hadir dalam hidup kita sesingkat apapun itu sebab ada kalanya yang terlalu singkat itu terkenang dari pada yang lama bersama kita karena dia hadir untuk sebuah pembelajaran dalam hidup atau untuk kamu memahami sesuatu persoalan dan sesuatu hal dalam kehidupan ini'.

__ADS_1


__ADS_2