Step Of Destiny From Mother

Step Of Destiny From Mother
BAB 21 Kebenaran Yang Menghantui Kehidupan yang terus berjalan walau disangkal 5


__ADS_3

Kebenaran Yang Menghantui Kehidupan yang terus berjalan walau disangkal Part 5


...*********...


...****************...


...*************...


Hari-hari telah berlalu seperti lembaran kerja yang cepat terbuka bila dibaca terus menerus, kehidupan damai keluarga besar Yang Tang di kota Beijing.


Tapi tidak Untuk Yang Ling Ya ketakutan setengah jiwanya belum pulih, wajah pucat yang terlihat di cermin lebih pucat dari biasanya di kulitnya yang putih bertambah putih. Apa yang dilihatnya masih berputar di otaknya yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidup ini. ia melihat di pelbagai penjuru di dunia yang langitnya hitam kemerahan berbagai bentuk makhluk yang belum ia lihat terlihat sangat menyeramkan dan sangat tangguh tapi yang lebih aneh mereka memanggilnya dengan sebutan Tuan Putri tertinggi. Apa ada hubungannya mereka dengannya. Ia telah memikirkan selama 17 tahun ini rencana apa yang disiapkan ibunya dengan berbagai riset, ekspedisi, penelitian, dan berbagai uji coba berbagai negara dan dunia. apakah ada hubungannya dengan apa yang ia lihat lihat berapa waktu lalu setelah melepaskan dan membuka mata batinnya kembali. Sungguh ia sangat takut dan penasaran dengan berbagai rahasia dan teka teki di dalam hidup orang tua mereka tapi kata umi_Yang Sha. bila umurnya 18 tahun dan telah lulus semua pelajaran dan sekolah rekomendasi ibunya ia akan di berikan tulisan langkah-langkah rencana ibunya untuk ia lakukan dan di terapkan agar semua cita-cita dan harapan hidup terwujud di dalam hidup Yang Ling Ya.


"Sebenarnya apa yang engkau sembunyikan wahai ibuku" guman Yang Ling Ya di cermin yang memperlihatkan semua wajahnya seperti pinang di belah dua Yang Yungra dengan sedikit warna kulit dan pembawaan yang berbeda.


' ini pasti ada kaitannya dengan darah dari keluarga ibu dan ayah tidak mungkin bila saya di panggil dengan tuan putri tertinggi tanpa sebab dan alasan pasti, pasti ada masalah di dalamnya, aku harus segera menyiapkan segala dengan baik mulai sekarang' renung Yang Ling Ya dalam hatinya yang berkecamuk ini.


Berapa saat masih berdiri di depan cermin lalu mengambil cadar di samping meja laci tempat tidur kemudian diikatkannya cadar itu di wajahnya hanya menampakkan kedua matanya yang indah berbinar galaksi di mata coklat ke hitamnya.


#############


#########


####


1 tahun kemudian


Banyak hal telah terjadi, banyak hal yang berubah terutama kepada dunia yang telah berubah ini, bumi yang semakin tua dan alam semesta yang telah lama ada. Semua akan kembali kebentuk semula.


Yang Ling Ya, gadis yang terlahir biasa tapi memiliki banyak keistimewaan karena Sang Ibu yang telah memberikannya keindahan dunia dan akhirat baik ibu kandung maupun ibunya sekarang Yang Sha.


########


#######


######


Termenung melihat langit senja menunggu magrib datang Yang Ling Ya ada dihadapan banyak masalah yang ada dipikirkannya sekarang, apa yang ia lihat semalam di mimpinya yang terasa panjang bukan hanya mimpi belaka tapi kejadian yang akan terjadi 1 minggu yang akan datang.


Untuk memastikannya Yang Ling Ya harus ketat pada dirinya sendiri.


"Allah, Tuhanku lindungilah kami dari segala bahaya dan murkamu atas dosa kami makhluk bumi tak ada yang pasti kecuali cintamu dan janjimu, Aamiin Ya Robbal Alaminn".


"Semoga kalian hidup baik dimana saja atas kebaikan menolong saya kepada para penolong saya".


Memandang pemandangan langit yang hampir gelap Yang Ling Ya. batinnya menjerit " Lindungi seluruh makhluk ya Allah ".


# ####


#####


#####


Di sebuah rumah yang indah dengan nuasa hangat dan sederhana di dekat pantai.

__ADS_1


Meninggal suasana santai berdesir angin pagi yang sejuk


Yang Ling Ya telah tinggal di sini selama beberapa hari bersama pengawalnya Al dan perawatannya Bi Ulya, pelayannya dari kecil.


Telah banyak hal terjadi dalam setahun ini karena berapa hal ia pergi berkelana dengan keduanya untuk memulai menjalankan takdir dari ibunya serta takdir yang ingin ia tulis sendiri hanya Allah yang tahu.


"nona, mari pergi sekarang untuk jadwal hari ini kita akan pergi ke makam seorang kenalan"


"Iya Bi. Mari" jawab cepat Yang Ling Ya di tepi pantai sambil berdzikir.


Tap.... tap.... tap... tap... tap


Langkah kaki keduanya yang terbentang di pasir yang terinjak oleh keduanya mulai tersapu ombak laut.


Keduanya melangkah ke dalam rumah yang indah dan santai sambil berbincang-bincang di antara langkahnya menuju rumah sederhana di depan.


"Nona, semua telah siap mari pergi".


" Baiklah".


Yang Ling Ya terkejut Al telah menyiapkan segala hal yang di perlukan tanpa kecuali. Yang Ling Ya tersenyum di balik cadar yang dikenakannya.


Al yang melihat kerutan di matanya langsung menundukkan kepalanya serta menggenggam bagi hatinya.


'Nona sangat menawan'.


Mereka bergegas ke dalam mobil, Al mengambil bagian co-pilot dan kedua perempuan yang bercadar mereka duduk di belakang, Yang Ling Ya, bagian kanan. Bi Ulya di bagian kiri mobil.


Berjalanan mereka lancar sampai di pegunungan yang sepi, Yang Ling Ya yang memiliki pendengar sensitif segera menyadari ada yang tidak beres terjadi di depan jalan yang akan mereka lalui.


"Nona ada apa? ". kata Bi Ulya yang bingung dengan situasi sekarang ini, mengapa harus berhenti di tempat sepi ini, yang membuat bulu romannya merinding.


Tanpa bertanya Al mulai menggunakan kemampuannya untuk mendeteksi semua hal di depannya sampai radius 10 meter.


selang berapa menit Al terkejut, di depannya ada pertarungan sengit antara berapa mobil hitam yang menghalangi sebuah mobil tanpa merek di depan sana.


"Nona sedang terjadi pertarungan di depan sebuah mobil hitam tanpa merek dengan berapa mobil hitam luar negeri ".


" Appa? nona, kita harus kembali nona, lanjutkan perjalanannya besok saja nona".


"Mari tunggu di sini, kita akan penyelamatan orang ini"


"Nona sebaiknya kita tak perlu ikut campur urusan orang lain dan mari kita mundur"


"Benar apa kata Al nona, menolong orang tentu baik tapi nyawa kita juga harus di jaga apa lagi nyawa nona".


" Tidak, petarungan mereka akan selesai, mari kita tunggu sebentar ".


semua terkejut mendengar suara tembakan yang terdengar keras di depan sana.


Clek.... Clek.... Clek.... Clek


" Buka pintunya Al sekarang "

__ADS_1


"Tidak nona itu bahaya"


"Benar nona itu bahaya" kata Bi Ulya sambil menangkap tubuh Yang Ling Ya ke dalam pelukannya.


"Lepaskan Bi". sambil meronta-ronta di dalam pelukan Pelayannya.


" Mereka sudah pergi nona para pembunuh itu" meninggalkan mobil hitam yang tak bergerak sedikitpun dari dalamnya.


"Buka pintunya Al"


"Baik nona".


" nona" sambil menggadah ke atas melihat nonanya dimasih meronta-ronta dalam pelukannya. Bi Ulya bingung haruskah di lepaskan?


"Bi tolong lepaskan".


" Baiklah nona".


"Mari berjalan semuanya".


Mereka keluar dari masing-masing pintu mobil menuju arah tempat kejadian.


Baru berapa langkah Yang Ling Ya berhenti.


" Nona" keduanya memanggilnya tapi tidak di dengarkan oleh nona mereka yang telah mengangkat satu tangan di mata kirinya.


Dalam benak Yang Ling Ya Terjadi masa depan yang akan terjadi untuk berapa waktu akan datang


Tap Tap Tap


suara langkah kaki orang sedang berbicara dan membawa pistol di antara salah satu tangannya.


Dor...Dor.. dor... dor


menembak pada beberapa musuh di antara balik pohon dan persembunyiannya.


"Red, cari jejak tuan muda pergi, musuh licik telah menyerang Tua tertua kita"


".................... "


"saya tidak tahu mereka dari siapa mengetahuinya tapi saya punya firasat bila tua muda tengah keadaan kacau".


"............................. "


"Sialan mengapa mereka bisa tahu bila hari ini tuan tertua kembali ke negara ini dan diserang. Bajingan mana yang berani, sialnya lagi saya tidak ada di samping Tuan tertua. Para Banjingan ini akan aku bunuh kalian bila terjadi sesuatu pada Tuan Muda tertua saya".


Terus berlari dan nembak para musuh di depan sana.


````~````~`


"Al kembali ke mobil mari kita kedepan sana".


" Baik nona"

__ADS_1


"Baik nona, mari" Al terulurkan tangan sopan untuk membawa nonanya tapi di tepis oleh Bi Ulya yang lebih dulu menggandeng nona mereka.


Yang Ling yang melihat mereka hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, kekanak-kanakan mereka tidak sesuai usia.


__ADS_2