
''tok tok tok,'' bunyi pintu di ketok dari luar ruangan revan, ''masuk,'' kata revan yang mendengar pintu ruangan nya di ketok.
''cekreek,'' bunyi pintu terbukak, dan nampak lah seoarang gadis membawak ranjang bekal, ia melangkah menuju kepada revan yang masih sibuk dengan leptop nya.
''siang tuan, ini makanan untuk makan siang anda,'' ucap delisa saat sudah sampai di dekat meja revan.
mendengar suara yang tak asing bagi nya, revan langsung melihat kepada pemilik suara itu.
''kenapa kau datang kemari? kenapa repot-repot membawak makanan siang untuk ku?'' tanya revan dengan sedikit tegas, ia masih memasang kan wajah kesal nya kepada delisa.
sedangkan delisa lagi memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan pamannya di kantor ini.
melihat delisa diam saja, revan jadi curiga, ia jadi gak marah lagi sama delisa, malahan ingin mengerjai delisa.
revan berdiri menghampiri delisa, yang lagi melamun, ia melambaikan tangan nya di hadapan delisa, tapi delisa masi diam juga, hingga akhir nya revan mendaratkan ciuman di pipi delisa, barulah delisa tersadar dari lamunannya.
delisa terkejut mengapa revan sekarang ada di hadapan nya, dan mencium pipinya lagi, ''benar-benar gak sopan, ini cowok mulai rutin mencium pipi ku, tampak seijinku, gerutunya dalam hati.
''tuan mengapa cium pipi saya?'' tanya delisa.
''kamu mengapa melamun?''
''itu hukuman buat mu karna kau mengabaikan pertanyaan ku.'' jawab revan.
''uhh...,'' delisa mendengus ia berjalan menjauh dari revan, ia kesal dengan revan, tapi kalau berdebat percuma saja, pasti ia akan kalah pikir nya lagi, ia akhir nya duduk di sova, yang ada di ruangan itu.
revan mengikuti delisa, tapi belum sampai ia di dekat delisa, ada suara pintu di ketok lagi, ''masuk kata revan.
muncul lah didit membawak sebuah kotak, ia memberikan kepada revan.
''ini tuan, hp untuk nona delisa,'' ucap didit.
''terimakasih, kamu boleh pergi.
didit akhirnya beranjak keluar ruangan, melihat didit sudah keluar, revan melanjutkan langkah nya, ia memberi kotak itu kepada delisa.
''ini untukmu,'' ucap revan sambil meyodorkan kotak itu di hadapan delisa.
''untuk aku?'' tanya delisa seakan tak percaya.
''ia,'' jawab revan, ''ini akan berguna untuk mu, kalau lagi jauh dari ku,'' ucap nya lagi.
delisa meraih kotak itu dari tangan revan, ia membukak kotak itu yang berisikan hp, ia mencoba memainkan nya tapi ia tidak bisa, maklum hp canggih, hp yang ia punya dulu hp biasa saja.
''kamu tidak berterimakasih dulu kepada aku apa?'' tanya revan.
delisa jadi malu, ia lansung mengucapkan, "terimakasih tuan."
__ADS_1
"masa terimakasih nya cuma seperti itu," kata revan lagi.
"mau bagaimana lagi tuan?" tanya delisa.
"setidak nya cium atau peluk aku," jawab revan.
"tadi kan sudah tuan cium aku," kata delisa.
"itu kan beda sayang, tadi aku yang cium kamu, itu juga sebagai hukuman untuk kamu, sekarang kamu yang harus cium aku," kata revan lagi.
"dasar ini cowok memberi tapi tidak iklas, gerutuk delisa, tapi ia membutuh kan ini," pikirnya lagi, untuk menghubungi pacarnya yang di kampung, jadi gak apalah ia memberi sebuah ciuman kepada revan."
"cuup," satu kecupan mendarat di pipi revan, membuat revan jadi berdebar-debar jadi nya, ia tersenyum kepada delisa, "masa cuma pipi yang kiri di kecup, pipi kanan nya juga dong...! pintak revan.
"iih..., jengkel delisa, ini cowok banyak mau nya pikir nya lagi, ia mencoba meralih kan prmbicaraan.
"tuan sebaiknya tuan makan lah ini sudah jam berapa, nanti tuan telat makan jadi tuan sakit," kata delisa lagi.
"kamu tuh gak usah meralihkan pembicaraan, sok-sok perhatian sama aku," ucap revan, dia tau akalan delisa.
"bukan nya sok perhatian, nanti kalau tuan sakit aku juga yang repot, lagian ini di kantor tuan kalau ada yang masuk gimana, kan jadi malu kalau ada yang lihat," ucap delisa lagi.
"ia ia ia," jawab revan sedikit malas melayani delisa berdebad, "lagian siapa yang berani masuk menyolonong saja di ruangan ku, pintu nya sudah aku kunci juga," kata tevan lagi, emang benar pintu ruangan nya sudah revan kunci setelah didit keluar tadi, ia mengunci nya pakai remot, jadi delisa gak tauh.
delisa tak mau mendengar perkataan revan lagi, ia langsung membukak ranjang makanan untuk revan, dan memberi nya kepada revan.
"aku mau kamu suapin" kata revan lagi.
"aduh.....ini cowok emang gak bisah makan sendiri apa, manja banget, seperti anak kecil,'' rungut delisa di dalam hati, tapi ia menuruti permintaan revan.
"sini aku suapin," kata nya.
"kamu sendiri sudah makan apa belum?" tanya revan.
"sudah tuan," jawab delisa.
"jadi gak asyik kalau kayak gini," gerutu revan sedikit pelan.
tapi delisa samar-samar mendengar nya, "apa tuan?" tanya delisa.
''gak, gak ada," bantah revan.
revan makan dengan lahap nya, sesekali ia mau menyuapi delisa juga, tapi delisa menolak nya, alasannya ia masih kenyang.
pada suapan terakhir revan mengucapkan "terimakasih isteri ku," sambil mengecup pipi delisa lagi, mungkin ini jadi pekerjaan rutin untuk nya setelah selesai di suapi delisa makan, pikir nya lagi, tapi itu membuat delisa jengkel.
delisa membereskan ranjang makanan itu, ia mau cepat-cepat keluar dari ruangan revan, ia mau mencari paman nya di kantor ini pikirnya.
__ADS_1
setelah selesai delisa berkata, "tuan aku pamit dulu mau pulang, terimakasih atas semua nya."
"siapa yang menyuruh kamu pulang? kita akan pulang barengan nanti," jawab revan.
''kamu tunggulah di sini sebentar aku mau rapat dulu sama karyawan ku, tidak lama," kata revan lagi.
revan keluar dari ruangan nya menuju ruangan tempat rapat, delisa yang melihat revan keluar dari ruangan ia mulai ada ide untuk mencari paman nya.
delisa mulai keluar ruangan revan, ia mulai menyusuri ruangan itu, tetapi delisa jadi sedikit canggung karna banyak yang melihat diri nya, ia sedikit malu-malu menyusuri ruangan itu, kenapa mereka melihat aku semua pikir delisa.
tidak lama ia ketemu sama didit, ''nona mau kemana?" tanya didit, dan ia melihat isteri bos nya banyak yang melihat dan banyak yang mengerumpi, akhir nya didit memarahi mereka.
''kalian lihat apa? hah kembali bekerja, apa kalian tidak tau dia siapa?" tanya didit kepada semua karyawn yang melilirik delisa.
hingga ada satu orang bertanya, ''emang dia siapa bos?''
''kamu benar ingin tau, dia itu isteri tuan revan, ayo mintak maaf semua nya kepada nona delisa,'' perintah didit kepada karyawan itu semua.
''hah isteri tuan revan, kenapa dandanannya sederhana sekali! bisik mereka.
''hei apa kalian gak dengar,'' kata didit lagi.
''apa kalian mau di pecat semua sama tuan revan,'' kata didit lagi.
akhir nya mereka semua berlari memintak maaf kepada delisa.
hal itu membuat delisa terkejut, ia bertanya kepada didit, ''hei sebenarnya tuan revan jabatan nya apa disini? kok semua nya ketakutan setelah kau berkata aku isteri tuak revan,'' delisa memang tidak tauh kalau suami nya ceo di kantor itu.
''tuan revan itu ceo di kantor ini nona!'' jawab didit.
delisa yang mendengar itu jadi terkejut, ''oh berarti ia bos di kantor ini, apa gak salah dengar aku'', pikir nya.
''nona mau kemana?'' ulang didit lagi, ''biar aku antar nona, biar nona gak tersesat,'' kata didit lagi.
sebelum delisa menjawab revan dari jauh melihat mereka, dan berteriak ''delisa kamu mau kemana,'' sambil bergegas menghampiri mereka.
''kamu mau kemana sayang?'' tanya revan kepada delisa, dan dia juga bertanya kepada didit, ''dan kamu mengapa bersama isteri ku disini? dekat-dekat lagi, jangan kata kan kalau kau menyukai dia, kalau kau menyukai dia kau harus mengubur perasaan itu dalam-dalam, karna kalau tidak kau akan lenyap di bumi ini aku buat,'' marah revan kepada didit yang tak tau sebenar nya yang terjadi.
''aku tidak seperti itu tuan, aku cuma ingin membantu nona delisa tadi!'' jawab didit, ia sedikit kesal sama bos nya yang sembarangan menuduh dirinya.
''ya sudah pergi sana kamu,'' kata revan lagi.
didit akhirnya cepat-cepat berlalu dari sana, revan membawak delisa keruangan nya lagi.
sesampai di dalam ruangannya, ''kamu kenapa gak tunggu aku di sini saja,'' kata revan sambil mengelus tangan delisa.
''aku bosan disini, aku cuma mau cari udara segar saja tadi,'' jawab delisa, ia sedikit berbohong kepada revan.
__ADS_1
''ya sudah kalau kamu bosan kita pulang saja,'' kata revan lagi, akhir nya mereka pulang kerumah dan delisa masih kepikiran untuk mencari pamannya di kantor suami nya.