
delisa akhir nya sadar dri pingsan nya sebelum revan memanggil dokter pribadi nya, ia mngedip ngedipkn mata nya, sambil bertanya dalam hti ''di mna dia sekarang, ini bukan di apartemen lelaki itu pikirnya'', saat ia lgi memikir di mna ia brada pintu kamar terbukak, dan muncul lah beberapa wanita, mereka membungkuk kan badan nya dan mengenalkn diri masing masing.
''sukur lah nona muda sudah sadar'' kta seorang pelayan wanita yang bernama tika, ''kami di suruh tuan revan untuk menjaga nona.''
''apa nona ingin memakan sesuatu?'' tanya pelayan yang di sebelah nya lagi, yang bernama yuni.
delisa msi dalam keadaan diam seribu bahasa.
''apa ada yang nona inginkn sekarang?''tanya pelayan yang satu nya lgi, yang bernama meli, ''jika nona ingin membersihkn diri silakan dan jika ingin ganti baju di lemari itu ada beberapa baju, silakan nona pilih yang mna nona sukah.''
''tidak'' jawab delisa cepat, ia msi dalam keadaan bersedih.
''kami permisih dulu nona, jika ingin sesuatu, segera panggil kmi saja kmi akan datang'' kta pelayan itu semua, dan akhir nya mereka keluar dari kamar itu.
delisa msi dalam keadaan pusing, ia pusing memikirkn keadaannya sekarang, ia msi blum trima knyaatan yang pahit menimpa diri nya, bagaimna ia akan menjelaskn kepada pacar nya di kampung nanti pikir nya.
jika ia pergi dri sini apa yang ia perbuatkn, jangankn memikir tempat tinggal untuk membli sebungkus nasik pun ia tidak punya uang, jika ia ingin mencari kerja, mna mungkin dalam keadaan seperti ini sekarang, ''mna ada kantor menerima karyawan berdandan seperti orang gila'' pikir delisa, ia memang seperti orang gila sekarang, rambut acak acakn, baju robek robek.
revan sebenarnya ada di luar, tepat nya di balik pintu kamar yang delisa tepati, ia takut untuk bertemu dengan delisa sekarang, ia takut delisa pingsan lgi nanti, ia menjaga dri luar saja pikir nya, ia msi takut klau klau delisa kabur lgi, dan ia takut kalau ia di lapor kn delisa ke polisi, atas apa yang ia perbuatkn, ia menyuruh beberapa bodigatnya untuk menjaga delisa, jangan sampai gadis itu kabur.
sambil mondar mandir di balik pintu revan menelpon asisten pribadi nya, yang bernama didit, ia menyuruh didit untuk datang dan membantu menyelesaikn masalahnya.
hampir 3 jam revan di sana, hingga akhirnya ia kekamar mama nya, ia tidak sabar ingin bercerita sama mama nya, dan memintak untuk menyelesaikn masah nya terhadap delisa, walaupun ia akan di marah abis abisan nanti oleh mama nya ia akan terima pikir nya.
delisa akhir nya melangkah untuk kekamar mandi, untuk membersihkn diri nya, sehabis itu ia, memilih bju yang sudah ada di lemari untuk ia kenakan, ia memilih baju yang sedikit tertutup, dan pas untuk ia kenakn.
revan sudah sampai di depan kamar mama nya, baru ia ingin mengetok pintu kamar, mama nya membukak pintu itu dan kluar dri kamar, mama nya terkejut melihat revan dengan wajah yang kusut, dan pgi pgi sudah ada di depan kmarnya.
''ada apa ini'' pikir mama nya dalam hti, karena tidak biasa nya revan menghampiri kmar nya sepagi ini.
''pagi mama'' sapa repan memulai percakapan.
__ADS_1
''pagi juga jawab mama nya, sambil tersenyum.
''ada apa kamu pagi pagi sudah ada di depan kamar mama?'' tanya mama revan lagi, sambil mengajak revan turun ke bawah menuju rungan makan.
''ada yang revan ingin ceritakan kepada mama,'' jawab revan.
''apa sangat penting pagi pagi ini kmu ingin bercerita, apa kamu tidak ke kantor?'' tanya mama nya lagi.
''ia ma..ini sangat penting'' jabab revan sambil menarik mama nya dengan lembut untuk menuju ruangan kerja nya, dengan langkah yang lesu.
sesampai di ruangan kerjanya, revan menceritakn semuanya kepada mama nya, tidak ada yang ia tutupi.
setelah mendengar semua yang revan ceritakan mama nya marah besar tarhadap revan, sebuah tamparan langsung mendarat ke wajah revan.
''kenapa kau lakukan ini revan, mama rasa mama gagal mendidik kamu,'' kta mamanya sambil menangis.
revan masi tak bergeming ia memilih tuk berdiam dan memegang kepalak nya yang sedikit pusing akan masalahnya yang ia hadapi.
''mama memang ingin menjodohkn kamu dengan nya,'' ''dan menikahi kamu dengannya secara baik baik, bukan seperti ini revan'' kta mama nya lagi.
''dimana delisa?'' tanya mama nya.
''ia ada di kamar tamu ma..!'' jawab revan.
''ya sudah mama mau melihat dia dulu, kata mama nya dan melangkah meninggalkn revan sendiri.
revan menyusul mama nya menujuh kekamar yang delisa tepati, tapi sebelum ia sampai di kamar itu, didit asisten nya sudah sampai dan menghampiri nya.
''pagi tuan'' sapa didit.
''pagi jga,'' balas revan dengan wajah yang datar.
__ADS_1
''baik lah kta keruangan kerja ku dulu sekarang,'' ajak revan, sambil ia berjalan dengan tidak bersemangat.
dan didit mengikuti nya dri belakang, dan berpikir dalam hati'' ada apa dengan tuan nya.
sementara itu mama revan sudah sampai di depan kamar tamu yang di tepati delisa, ia mengetok pintu kamar.
''tokk...tokkk..., boleh tante masuk delisa,'' kta nya dri luar.
delisa yang mendengar itu lansung menjawab, ia tante.
mama revan masuk ke kamar delisa, ia melihat gadis itu seakan tak bergairah, dan sedikit pucat wajah nya.
''kamu sudah makan nak?'' tanya mama revan memulai percakapan terhadap delisa, tpi bukan jawaban yang ia dapatkn melain kan tetesan air mata delisa yang mulai keluar membasahi pipi nya yang pucat itu.
melihat itu mama revan memeluk delisa, ia seakan tahu apa yanf delisa rasakn, sambil berkata ''menangislh nak di pelukan tante, anggap aja tante adalah ibu mu,'' ktanya lagi.
delisa yang mendengar perkataan mama revan itu semangkin kencang menangis, ia teringat kepada ibu nya di kampung, dan bagaimna klau ibu nya tau masah ini, ia merasa telah gagal melundungi kesucian dirinya, pikir nya lagi.
''mama tau apa yang kamu rasakan nak....'' revan emang jahat ia tega melakukn itu sama kamu,'' ''mama jga benci sama dia, ini semau akibat ia minum minuman haram itu,'' kta nya lagi.
''tpi mama ini mamanya,'' ''walaupun apa yang ia lakukan mama tidak sanggup membenci dia selama nya'', ''dengan atas nama revan mama mintak maaf sama kamu.'' dan revan akan bertanggung jawab atas perbuatan nya kepada kamu, kalian harus menikah nak,'' kata mama revan lagi.
delisa tak menanggapi perkataan mama revan ia hanya bisa menangisi nasib nya.
sementara itu di ruangan revan, ia menceritakn masah nya kepada didit, dan didit menanggapi dengan serius, revan berkata ''ia tak mau di penjara, ia akan bertanggung jawab dan menikahi delisa'', ujar nya lagi.
''kita coba bujuk dia tuan, semoga ia mau,'' kta didit menanggapi perkataan bos nya.
mama revan mengajak delisa untuk makan berdua saja di kamar itu, walaupun awalnya delisa tak mau, akhir nya setelah di bujuk mama revan ia mau jga untuk makan.
sambil makan mama revan menanya kembali kepada delisa, apa bersedia menikah dengan revan.
__ADS_1
delisa hanya menjawab ia akan ''pipir pikir dulu.''