Suamiku, Pengkhianat Hati

Suamiku, Pengkhianat Hati
Episode 11.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Hm, aku pakai baju apa ya?" ucap Amelia saat sedang memilih beberapa baju yang ingin di pakainya sebentar lagi saat bertemu dengan sang sahabat.


Ia pun memilih untuk bergaya simpel seperti kesehariannya. Toh, ia juga hanya bertemu dengan sahabatnya di sebuah kafe. Ia juga tidak akan lama saat keluar. Jadi, outfit hari ini yang simpel-simpel saja tapi terlihat sangat cantik saat di pakai ke tubuhnya yang mungil.


Ia pun berdandan ala kadarnya. Memoleskan make up natural di wajahnya yang cantik. Dan di tambah lip tint berwarna pink sehingga menambah kesan girly. Setelah itu ia pun segera bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga rumahnya dengan hati-hati.


Dan menutup pintu rumahnya, saat taksi online yang di pesannya sudah datang. Ia pun segera mengunci pintu pagarnya dan masuk ke dalam taksi.


"Pak, tolong antarkan saya ke alamat XXXX ya pak!" ucap Amelia pada sang sopir taksi saat dirinya sudah duduk di kursi belakang.


"Baik, Bu." ucap pak sopir taksi itu dengan ramah.


Kemudian taksi tersebut meninggalkan pekarangan rumah Amelia menuju ke tempat yang sudah di tujukan. Dan saat di perjalanan Amelia mengirim pesan pada sang suami saat wanita itu melihat pesan masuk yang ternyata dari yang suami. Yang menyuruhnya untuk tidak lupa pulang saat pertemuannya selesai.


Amelia pun tersenyum saat membaca pesan sang suami yang begitu posesif akhir-akhir ini. Entah kenapa. Tapi yang jelas itu yang membuat wanita beranak satu itu merasa sangat diperhatikan oleh sang suami. Orang yang begitu di cintainya itu.


****


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit. Akhirnya Amelia pun sampai. Ia membuka pintu mobilnya dan menatap kafe yang begitu indah di matanya.


Kemudian ia pun kembali masuk ke dalam mobilnya. "Pak, bapak masuk saja bareng saya."


Sang sopir membalikkan badannya dan menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda maaf. "Terimakasih bu atas ajakannya. Tapi.. lebih baik saya tunggu di mobil saja."


"Bapak yakin mau nungguin saya di mobil? Padahal tidak apa-apa kok pak, jika bapak merasa senggang dengan saya. Bapak bisa duduk di kursi yang berbeda." ucap Amelia sembari memasang wajah memohon.


Namun, meskipun telah memasang wajah memohon tidak membuat sang sopir yang sudah menemaninya hampir sepuluh tahun itu puluh dengan wajah itu.


"Sekali lagi terimakasih Bu. Tapi saya lebih baik menunggu di mobil saja." ucap sang sopir sopan kepada sang majikan.

__ADS_1


Hal itu tentu tidak membuat sang majikan marah karena ajakannya di tolak oleh sang sopir. Justru Amelia mengangguk kecil seakan memaklumi bawahannya itu.


"Baiklah, jika bapak tidak mau ikut. Saya juga tidak bisa memaksakan bapak. Yaudah kalau begitu bapak tunggu di sini ya, saya juga tidak akan lama kok." ucap Amelia kepada sang sopir.


Sang sopir pun hanya mengangguk menundukkan kepalanya. "Baik Bu."


Amelia pun keluar dan menutup pintu mobilnya. Lalu, melangkahkan kakinya menuju ke kafe itu dengan langkah yang siapa saja yang melihatnya akan mengira bahwa wanita itu masih belum memiliki suami.


"Hei! Disini...," teriak Melinda yang berada di paling pojok sembari melambaikan tangannya saat wanita itu melihat kedatangan sang sahabat.


Amelia pun yang mendengar teriakannya, juga melambaikan tangannya membalas. Ia buru-buru melangkahkan kakinya agar cepat sampai di tempat di mana sang sahabat berada. Ketika sampai tentu saja keduanya langsung berpelukan dengan erat.


"Melinda, aku kangen banget sama kamu." ucap Amelia saat kedua saling peluk.


Melinda yang pun mengangguk dalam pelukannya menyetujui perkataan Amelia. "Aku juga kangen kamu."


Beberapa saat kemudian. Pelukan keduanya terlepas dan memilih untuk duduk berhadapan dengan perasaan yang bahagia. Namun, itu hanya berlaku untuk Amelia saja, karena Melinda terlihat sangat berbanding terbalik dengan sahabatnya itu.


"Melinda." panggil Amelia saat keduanya sudah memegang buku menu yang di berikan oleh pelayan kafe.


"Sudah berapa lama ya, kita sudah tidak bertemu?" tanya Amelia saat dirinya sedang memilih minumannya.


"Em...," Melinda nampak berfikir sejenak.


"Entah! Kalau tidak salah sudah satu tahunan." ucapnya kembali.


"Satu tahun?" tanya Amelia tak percaya. Selama itukah mereka tidak bertemu?


"Aku hanya menebak-nebak saja Amelia. Kenapa kamu langsung mempercayainya?" ucap Melinda di sertai tawa kecil.


"Eh?"

__ADS_1


Melinda yang melihat sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, mengembalikan daftar menu yang ada di tangannya kepada pelayan saat dirinya sudah memesan dessert serta minumannya.


"Aku tidak tahu pasti sudah berada lama kita tidak bertemu. Yang jelas! Itu sangat lama." ucap Melinda.


Amelia pun hanya manggut-manggut saja saat mengingat dirinya juga tidak tau. Kapan terakhir kali mereka berdua bertemu. Yang jelas apa yang dikatakan oleh Melinda itu semua benar. Bahwa mereka berdua sudah lama tidak berjumpa.


"Lalu, bagaimana kabarmu Melinda? Apakah kamu masih bekerja di perusahaan yang lama itu?" tanya Amelia saat dirinya sudah tidak ingin ambil pusing tentang berapa lama mereka tidak bertemu itu.


Melinda pun hanya mengangguk sembari menyenderkan tubuhnya pada kepala kursi. "Seperti yang kamu lihat! Aku baik-baik saja Amelia. Dan aku juga masih bekerja di kantor itu."


"Wah! Kamu rupanya kuat juga ya kerja di perusahaan itu."


"Em, bisa di bilang begitu. Karena bagaimana pun gaji di sana sangat besar! Kau juga tau itu, kan?" balas Melinda. Dan keduanya pun tertawa bersamaan.


"Terus, apakah kau sudah punya kekasih sekarang?" tanya Amelia lagi.


DEG!!!!


Pertanyaan itu sukses membuat Melinda terdiam. Ia harus mengatakan apa dengan pertanyaan sahabatnya yang terdengar mendadak itu. Tentu Melinda belum menyimpan jawaban yang pas dari pertanyaan itu. Lantas Melinda pun menatap wajah sang sahabat dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.


'Jika aku mengatakan jawabanku yang jujur. Maka, kamu akan merasakan sakit yang tidak dapat kamu sembuhkan amelia.' batin Melinda dengan tangannya yang mengepal erat. Seakan ia tidak dapat menahan emosi yang ada di dalam dirinya.


Sedangkan di sisi lain. Farhan tampak bolak-balik dengan ponsel yang di genggamannya. Laki-laki itu tampak gelisah. Dan mencoba menghubungi seseorang yang telah mematikan ponselnya.


"Aku harus segera menyusul Amelia. Aku takut jika Melinda akan mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga kami." ucap Farhan. Lalu, dengan cepat laki-laki itu meraih jas hitamnya dan keluar dari ruangan menuju mobil.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2