
Episode Sebelumnya..
Mendengar suara suaminya. Amelia langsung tersadar dari lamunannya dan menatap wajah yang kini tampak bingung menunggu balasan darinya. Amelia pun mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya masih memikirkan perihal kejadian baru saja.
"Aku nggak apa-apa kok. Aku hanya bingung saja mau menyiapkan sarapan apa untuk kita sebentar lagi." balas Amelia bohong.
"Sudahlah, lebih baik kita pesan saja sayang." ucap Farhan sembari mengecup tangan istrinya.
"Lagipula, kamu juga pasti sangat kelelahan karena permainan kita tadi malam. Jadi.. sebaiknya kita sarapannya pesan online saja ya." pinta Farhan dengan senyuman yang terpampang di bibirnya. Karena dirinya tau, pasti sang istri sangat kelelahan akibat gempuran yang mereka lakukan tadi malam.
"Tapi, kan...,"
"Sttttt! Turuti saja apa yang aku katakan! Mengerti? Aku hanya tidak mau kamu kelelahan saja." potong Farhan dengan cepat saat Amelia bersuara untuk menolak tawaran itu.
'Mas Farhan. Aku percaya padamu, mas. Tolong jangan membuat kepercayaan ini luntur padamu.' ucap Amelia dalam hatinya. Ia yakin bahwa suaminya itu tidak mungkin membohonginya.
Amelia pun mengangguk sambil tersenyum. "Yaudah, terserah mas Farhan saja kalau begitu. Aku sebagai istrimu hanya menurut saja sama perintahmu."
****
"Sayang." panggil Farhan saat makanan yang di pesannya lewat online sudah datang.
"Iya, mas. Ada apa?" tanya Amelia saat dia baru saja keluar dari kamarnya dengan langkah yang sedikit pelan.
"Ini" ucap Farhan sembari mengangkat plastik yang menjadi bungkusan makanan yang ia pesan, kepada sang istri.
Amelia pun langsung turun dan melangkah dengan sangat pelan lantaran sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Ia pun akhirnya sampai di meja makan dan mulai membantu sang suami menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Beres. Kalau begitu, aku panggil Leo dulu ya. Kamu tunggu saja di sini." ucap Farhan saat ia sudah melesat pergi kembali menaiki tangga menuju ke kamar sang anak.
Tok!! Tok!! Tok!!
Setelah mengetuk pintu kamar sang anak. Farhan membuka pintu tersebut dan mencari sosok anak kecil yang di carinya. Ternyata sang anak sudah siap saat keluar dari kamar mandi. Leo kecil pun melihat keberadaan sang papa dan berlari untuk menyambutnya.
"Selamat pagi pa." sapa sang Leo kecil. Saat dirinya sudah berada di pelukan sang papa.
__ADS_1
Farhan pun yang mendapat pelukan dari dari sang anak
Langsung membalas pelukannya sembari tertawa. "Ha ha ha, anak papa sudah selesai? Kok sudah ganteng aja."
"Sudah dong. Leo sudah selesai dan siap untuk berangkat ke sekolah bareng papa." ujar Leo kecil dengan senyumannya yang terlihat menggemaskan.
"Pintar anak papa. Tapi sebelum berangkat ke sekolah, kita sarapan pagi dulu yuk! Mama sudah menunggu di ruang makan."
"Yuk!"
"Yuk!"
Farhan pun menggandeng tangan sang anak saat akan menuruni anak tangga. Padahal Farhan sudah menawarkan diri untuk menggendong sang putra. Namun, sang anak menolak tawaran itu karena dirinya mengatakan pada sang papa bahwa dirinya sudah besar, jadi sudah tidak perlu di gendong seperti bayi umur 3 tahun.
Memang benar. Leo kecil sekarang sudah menginjak usia tujuh tahun. Sekarang ia pun sudah sekolah dasar. Jadi, apa yang dikatakan oleh Leo bahwa ia sudah besar. Itu benar adanya.
Mereka berjalan berlahan menuruni anak tangga dengan Farhan yang masih terus memegangi tangan sang anak dengan erat. Dan saat sudah di tangga terakhir. Leo kecil melepaskan genggaman sang papa dan berlari menghampiri sang mama yang sudah standby untuk menangkapnya.
"Mama," teriak Leo kecil saat menghampiri sang mama.
Setelah beberapa saat Amelia melepaskan pelukan anaknya. "Leo sayang sudah tampan. Apakah sudah siap untuk ke sekolah?"
Leo kecil mengangguk. "Sudah dong ma. Leo sudah siap."
"Bagus. Kalau begitu sebelum berangkat! Kita sarapan dulu untuk mengisi perut Leo sudah nanti energinya bisa bertambah." ucap Amelia sembari mengusap lembut rambut sang anak.
"Iya."
"Yaudah. Leo duduk dulu nak, sini!" ucap Amelia sembari menyeret kursi untuk Leo kecil.
"Terimakasih ma."
"Sama-sama, sayang."
Mereka bertiga pun sarapan paginya dengan penuh keceriaan. Dan setelah beberapa saat. Mereka bertiga sudah berada di depan rumah dengan Amelia kembali merapikan pakaian sang anak yang terlihat tidak rapi. Lalu, beralih kepada sang suami yang sudah berdiri dengan senyumannya yang terukir di bibirnya.
__ADS_1
Amelia yang melihat tingkah suaminya pun mengernyitkan keningnya. "Mas Farhan kenapa? Kok senyum-senyum gitu."
"Karena kamu sangat cantik hari ini sayang." puji Farhan saat melihat sang istri benar-benar terlihat cantik hari ini di matanya.
"Memangnya hari-hari biasanya aku tidak cantik ya?" tanya Amelia sambil terus merapikan dasi yang di pakai oleh sang suami.
"Tidak! Bukan seperti itu sayang. Di mata ku kamu adalah wanita tercantik di dunia setelah mama. Tapi hari ini kamu tampak berbeda dari biasanya."
"Berbeda?"
Farhan mengangguk. "Iya berbeda. Berbeda karena kamu terlihat sangat cantik hari ini."
Amelia pun selesai merapikan dasi sang suami. "Sudah jangan menggombal pagi-pagi. Berangkat sana! Nanti telat."
"Leo sayang, sampai di sekolah. Leo belajar yang rajin ya sayang, jangan nakal. mengerti?" ucap Amelia menasehati.
Leo pun kembali menganggukkan kepalanya dan mencium pipi kanan sang mama. "Iya ma. Leo akan belajar dengan rajin dan Leo janji gak akan nakal-nakal."
"Pintar anak mama. Yaudah cepat masuk nanti telat." Amelia pun membukakan pintu untuk sang anak.
"Aku berangkat dulu ya sayang." pamit Farhan pada sang istri.
Amelia pun mengangguk. "Iya mas, hati-hati. Oh iya mas aku boleh kan ketemuan sama Melinda?"
Deg!!!
.
.
.
Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya.
Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏*
__ADS_1