
#Suamiku_Guru_Dingin
#SGD_21
Proses hidup itu penting. Tak peduli berapa banyak air mata yang harus terkuras. Akhirnya adalah bagian dari sekenario Tuhan.
.
Salsa POV
Aku menyiapkan kartu ujianku dan juga papan ujianku. Mencoba mengingat pelajaranku semalam. Kini tiba ujian semester. Sebentar lagi akan kenaikan kelas 3.
Sebenarnya saat ujian semester, ponselku kusembunyikan di dalam seragamku. Hijabku membantu menyembunyikannya. Hanya mataku yang harus sigap menatap ke depan.
Saat-saat ujian begini, mata siswa lebih waspada daripada mata pengawas. Harusnya pengawas yang mengawasi kami, tetapi diam-diam kami juga mengawasi pengawas.
Mereka lengah sendiki saja, cotekan berjalan. Meski aturannya laci menja harus dibalik menghadap ke depan, tetapi pada dasarnya cowok-cowok di dalam kelasku bagian belakang, tetapi membalikkan mejanya seperti biasa.
“Assalamualaikum!”
“Wa’alaikumsalam.”
“Kalian sudah tahu seperti biasa aturan saat ujian. Namun, Ibu akan kembali mengingatkan. Jangan menyontek, buka buku dan bawa memainkan ponsel saat ujian berlangsung. Apabila kedapatan, Ibu akan menyita ponsel dan lembar ujian kalian,” ujar Bu Leni.
“Baik, Bu!” Ck, itu hanya omongan belaka saja. Kami tetap melanggar aturan dalam ujian. Walau sebagaian siswa menurut mengikuti aturan dan aku salah satu siswa yang tidak menurut aturan.
Bu Leni membangkitkan lembar ujian kepada kami. Aku bersyukur karena berada di urutan ke empat dari depan. Posisiku menguntungkan. Pojok dan cukup terlindung dari tatapan pengawas.
Ujian pertama Bahasa Indonesia. Aku mulai mengerjakannya. Jujur, aku berharap aku masuk dalam 10 besar. Dulu, aku tidak memikirkan berapa pun peringkatku. Namun, ada rasa ingin membanggakan Pak Mario.
Aku ingin membalas semua jasanya untuk mengajariku. Apalagi dia yang membiayai sekolahku.
***
Tidak terasa sudah seminggu aku mengikuti ujian dan hari ini merupakan hari terakhir. Rasanya lega sekali.
“Sttt, Hot Daddy,” bisik Sakina.
Aku melihat ke depan. Ternyata Pak Mario yang mengawas. Angan-angan pengawasan tidak ketat jauh dari bayanganku. Pak Mario duduk tanpa mengalihkan tatapannya menatap kami semua.
Tangannya dilipat di depan dada. Peluh menbajiri pelipisku. Sungguh, kenapa isian yang lima nomor butuh dua lembar kertas jawaban.
__ADS_1
Pertanyaannya sangat pendek. Namun, kata terakhir ‘jelaskan!’ membuat tanganku terasa kram.
Aku menatap Pak Mario. Dia menaikkan alisnya melihatku menangkupkan tangan di depan dada. Memasang wajah memelas agar guru dingin ini meleleh.
Aku menunjuk bajuku. Membuka kancinya, hingga kulihat alisnya mengerut. Muncul kerutan kecil di dahinya. Matanya menatapku tajam saat aku mengeluarkan gawaiku.
“Simpan,” ujarnya tanpa suara. Namun, penuh isyarat ancaman. Dasar suami menyebalkan.
Aku terpaksa menyimpan ponselku. Menatap nelangsa pertanyaan-pertanyaan di depanku. Padahal semalam, aku begadang untuk belajar.
Setiap hari juga, sarapan disiapkan Pak Mario. Dia memintaku hanya fokus pada ujianku. Namun, dalam seminggu itu aku tidak bisa fokus sekali, ada rasa waswas saat aku melihat semua siswa-siswi di sekolahku, hanya menatap penuh kebencian tanpa ujaran atau tindakan seperti biasa.
Tidak ada lagi siraman jus atau air. Namun, justru hal ini membuatku tertekan. Aku merasa waswas setiap malam. Takut menyambut hari esok.
Benda kecil itu berdering nyaring. Tidak terasa waktu telah berakhir. Kami semua naik mengumpulkan ujian kami.
“Ke kantin, yuk!” ajak Sakina.
“Cepat! Aku sangat lapar. Soal Bu Desi membuat cacing-cacing di dalam perutku mendemo,” timpal Afiah.
“Khm.” Deheman Pak Mario membuat kami menggeser tubuh. Ia melewati kami begitu saja. Dari belakang saja terlihat begitu tampan.
“Hot Daddy, pria idaman,” puji Afiah dengan wajah begitu memuja.
***
Waswas yang kurasa bukan tidak beralasan. Perubahan semua orang di sekolah menjadi tanda tanya besar dalam benakku.
Kenapa aku harus dibenci, dicaci dan dibully? Bukankah ini tidak adil untukku? Sementara wanita yang harus dibully mungkin tengah menyesap secangkir teh hangat.
Brak! Brak! Byurrr! Brak!
Aku tidak tahu berapa banyak lemparan dan siraman air dan minuman yang kuterima. Saat melewati tengah lepangan, pantas saja beramai-ramai. Kedatanganku sudah ditunggu sejak tadi.
Mereka tertawa tanpa iba. Menyiksaku tanpa belas kasihan. Biasanya aku tegar, tetapi aku juga wanita yang lemah dan punya perasaan. Menahan berminggu-minggu bullyian dan cacian, sepertinya sudah menumpuk dan tak mampu kubendung.
Lelehan membelai netra hitam putihku. Bibirku bergetar mengeluarkan isak memilu. Akan tetapi, bibir-bibir dari mereka sedang tertawa.
“Hahahaha seorang pelakor pantas mendapatkannya!”
“Apa yang kalian lakukan?! Aku akan mengatakan pada kepala sekolah mengenai tindakan kalian!" teriak Sakina murka.
__ADS_1
Aku menunduk seperti orang bisu. Bodoh! Ke mana nyaliku untuk teriak?! Retakan dalam dada, membuat tungkaiku melemah. Hingga sebatas isak tanpa suara untuk menjerit marah.
“Kalian!” Tubuku direngkuh oleh seseorang. Seseorang yang menjadi tempat sandaranku. Suamiku, ya, dia memelukku di kerumuan orang.
“Kenapa kalian melakukan bully di sekolah?!” tanya Pak Reno. Kulirik semua guru-guru berkumpul.
“Pak, Salsa mencoret nama baik sekolah. Kecil-kecil menjadi pelakor. Lihat, dia bahkan memeluk Pak Mario. Sangat tidak sopan, seorang murid menggoda gurunya sendiri!” teriak salah satu murid di sekolahku.
Aku memeluk suamiku karena aku tidak mampu menahan gejolak dalam diri. Bukan aku yang memeluknya pertama, tetapi aku membalas pelukan suamiku sendiri. Dia bukan orang lain.
“Salsa, kenapa kamu menggoda gurumu sendiri?”
“Astaga, aku tidak menyangka. Padahal anak ini, tidak terlihat nakal. Di dalam kelas pun, dia kalem. Lalu, kenapa bisa berbuat serendah ini?”
“Salsa, lepaskan Pak Mario!” teriak Bu Leni. Bukankah dia tahu kebenarannya?
Kenapa semua menyalahkanku. Hingga saat semua orang memojokkanku. Aku tidak menyangka Pak Mario mengambil keputusan terbesar. Keputusannya—
“Salsa, istri saya. Dia bukan penggoda atau seorang pelakor. Dia istri sah saya. Bahkan sekalipun saya berangkat ke sekolah atau ke mana pun, kami bebas melakukannya. Dan, Bu Eva dan saya tidak pernah memiliki hubungan apa-apa.”
Semua terecengan mendengar jawaban Pak Mario. Terlihat dari pupil mata Pak Reno dan beberapa guru lainnya melebar. Mulut mereka terbuka setengah.
“Tidak ada hak kalian membully Salsa. Untuk Bu Eva—“ Pak Mario menatap Bu Eva dengan tatapan tajamnya. Tatapan yang sering ia berikan kepada kami ketika nilai kami di bawah standar. “Anda tahu semua ini. Akan tetapi, kenapa anda sama sekali tidak membantah jika kita memang tidak punya hubungan apa-apa,” lanjutnya.
“Apa maksud semua ini?!” tanya Pak Reno marah.
“Sa—saya tidak mengatakannya karena saya tidak memungkin mengatakan jika Salsa sudah menikah. Sa—saya hanya menyelamatkannya,” ujar Bu Eva gugup.
“Menyelamatkannya?” Pak Mario tertawa remeh. “Justru, saya merasa Anda mendukung tindakan bullying di dalam sekolah.”
“Sudah ... sudah ... sekarang, kalian semua pulang. Tidak ada lagi siswa di sekolah. Dan, Pak Mario, Salsa dan Bu Eva ke ruangan saya,” titah Pak Reno.
“Ingat, untuk semua warga sekolah. Sembunyikan kejadian ini di luar sekolah.”
Semua bubar. Sakina dan Afiah memelukmu erat, Mereka menangis, dan pamit pergi. Aku tahu mereka tidak mau meninggalkanku, tetapi ini titah kepala sekolah.
“Hikss ... hikss ... hikss ....” Tangisku pecah kembali saat hanya aku dan Pak Mario di sini.
“Kita hadapi bersama. Keputusan saya sudah bulat, Sa. Dan, aku minta kepadamu untuk jangan diam dan tidak memberitahuku mengenai sakitmu. Berbagilah kepadaku,” ujar Pak Mario.
Kupeluk erat tubuhnya. Takut rasanya untuk melangkah. Entah, apa yang menantiku di depan sana. Semua keputusan berada di tengah Pak Reno.
__ADS_1
***
Bersambung ....