
#Suamiku_Guru_Dingin
#SGD_27
Tak akan ada bahagia bila bukan bersamamu. Kupastikan bahwa hati ini tetap menjaga namamu.
.
Salsa POV
Termenung menatap hamparan langit yang luas. Betapa pedih memikirkan bahwa aku berada di negara yang sama dengan suamiku, bahkan satu kota, tetapi kami tidak bisa bertemu.
Bertukar pesan saja sudah hampir dua bulan. Kadang ingin lari menemuinya. Akan tetapi, aku selalu ingat pesan mama.
Setiap pelajaran matematik aku selalu menahan tangis. Teringat dia. Tatapan mata elangnya tak akan membiarkan semua orang di dalam kelas bergerak. Namun, kini itu menjadi ilusi.
Masih terekam dengan jelas bahagia Pak Mario saat memberikanku raport. Hari itu, ia meneraktirku. Lalu, besoknya kami ke sekolah setelah dia mengurus semua berkasku.
Andai aku tahu, hari itu menjadi hari perpisahan kami. Aku akan memintanya untuk tetap diam di rumah. Tidak perlu ke mana-mana, karena detik telah terbuang bersam air mata yang tumpah ruah.
Dahiku mengerut melihat taksi singgah di depanku. Padahal, aku tidak memesannya. Bersamaan Mama datang.
“Salsa, Mama gak bisa antar kamu ulang. Mama ada urusan mendadak. Papa sama Mama pulang malam,” ujar Mama.
“Kamu naik taksi saja, Nak.” Aku mengangguk. Melihat mobil orang tuaku menjauh.
Aku ingin meninggalkan taksi itu, sebelum jendela kacanya terbuka. Pupil mataku melebar. Tidak menyangka di dalam itu ada suamiku.
__ADS_1
Aku membuka pintu mobil dan memeluk erat Pak Mario. Cengen. Tak bisa menahan tangis bahagia saat melihatnya.
“Jalan saja dulu, Pak,” pinta Pak Mario kepada sopir taksi.
“Aku kangen,” lirihku.
“Aku juga kangen. Kamu kenapa kurusan gini, Sa? Aku ‘kan bilang sama kamu kalau tetap jaga pola makan dan ingat, aku masih terus berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita,” ujarnya penuh khawatir.
Padahal dia sama kacaunya denganku. Rambutnya tidak tertata rapi. Terlihat kantung matanya. Kami sama-sama menderita dengan perpisahan ini.
“Aku tidak bisa makan. Aku selalu rindu dengan kamu, Kak. Ingin hubungi Kakak gak hafal nomor kakak dan Hpku di sita sama Mama.”
“Sabar, ya, Sayang. Aku juga tidak bisa menemui kamu karena Mama memberikan mata-mata untukku. Aku tidak mau orang tua kita berantem dan kita semakin sulit bersama,” ujarnya.
Pak Mario kembali memelukku. Aroma inilah yang aku rindukan. Dekapan hangat inilah yang kudambakan.
Meresapi kebersamaan dalam beberapa jam saja. Dia membawaku ke sebuah pemandangan. Ilalang melambai-lambai tersapu lembayu.
Kicauan burung menemani kami. Di hari yang semakin sore. Senja bersyair untuk kami. Jemari saling menggenggam erat.
“Sa, aku sulit menemukan Bu Eva. Dia keluar dari sekolah dan tidak tahu kabarnya. Sepertinya dia sengaja. Aku yakin dia mengadu domba keluarga kita. Dan, sekarang aku tidak tahu apa saja yang ia lakukan untuk Mama. Mama selalu mengungkit namanya,” ujarnya.
“Apa kita kabur saja, Kak? Ke mana saja. Aku tidak bisa jauh darimu. Sangat menyiksa, ketika kita berada di kota yang sama, tetapi seperti ada jarak ratusan meter. Kita saling mencintai, tapi kenapa ada tembok tak kasat mata yang menghalangi kita?” tanyaku. Membiarkan netra suamiku menyelamiku.
***
Mario POV
__ADS_1
Aku melihat di mata Salsa ada luka dan kerinduan. Benarkah kita berada di kota yang sama, tetapi rasanya kita begitu jauh.
Pipi yang biasanya mengembung terlihat tirus. Tak ada semangat dalam tinta matanya. Tubuhnya terlihat rapu dan lemas.
Tak akan kumaafkan Eva karena membuat rumah tanggamu sekacau ini. Bila benar kami harus berpisah, maka aku tak akan pernah mencintai wanita mana pun.
Dalam hatiku hanya ada Salsa. Biarlah, aku membawa namanya meski raganya bukan lagi milikku. Namun, akan kuperjuangkan semampuku.
“Jangan kabur, Sa. Aku nekat menemui karena ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Jangan pernah sakit karena sakitmu membunuhku. Dan, jangan pernah terluka karena lukamu adalah deritaku. Kita sama-sama sabar, Sayang. Kita komitmenkan hati kita untuk saling memiliki, menjaga dan mencintai. Walau raga kita terpisah, hati akan selalu tetap menyatu.” Tubuh Salsa bergetar. Isak tangisnya mulai keluar. Namun, ia tak pernah mengalihkan tatapan. Menunduk atau menyembunyikan wajahnya.
“Tak akan kubiarkan orang lain memberiku kebahagiaan. Tak akan kubiarkan orang lan mengisi hatiku. Hiks jaga hatimu untukku,” pintanya.
Aku menunduk. Tak sanggup melihat mata indah yang bebinar itu meredup. Sakit, perih dan pedih. Lengkap sudah balutan dalam sayatan lukaku.
Air mataku jatuh di tangan Salsa yang kugenggam. Aku tidak pernah menangis untuk seorang wanita. Akan tetapi, air mataku jatuh karena Salsa.
“Hiks ... aku menyesal,” lirihku. Salsa memelukku. Kami menangis bersama. Harusnya aku kuat untuknya. Namun, aku rapuh, tak bisa melihatnya terluka.
"Hiks ...."
"Hiks ...."
Aku menyelipkan surat ke dalam kantong almamaternya. Merengkuh erat tubuhnya. Lalu, aku menarik tubuhku. Tangan mungilnya menyeka air mataku walau air matanya pun tumpah.
Aku memejamkan mata dan menciumnya. Semakin kuras air mata Salsa berderai. Maaf harus dengan cara seperti ini, Sayang. Kamu adalah cinta terakhir yang kuinginkan dalam hidupku.
“Akan kujaga hati ini untukmu,” batinku.
__ADS_1
***
Bersambung ....