Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-32


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_32


.


Mario POV


Wajah damai dan polos istriku saat terlelap membuatku ikut damai menatapnya. Setelah tentang, ia jatuh tertidur di dalam pelukanku. Tanganku membelai surainya.


Ingin sekali mengambil semua rasa sakitnya, agar dia tidak terlalu tersiksa. Jari mungilnya perlahan kucium. Lalu, aku meninggalkannya setelah mendengar adzan.


Aku mengambil air wudhu, dan setelahnya memakai baju kokoh, kopiahku serta menyiapkan sajadah. Aku menyajikan kewajibanku sebagai umat muslim.


Setelah Shalat, aku ke dapur. Selama Salsa tinggal di sini, dia tidak pernah memasak lagi. Aku merindukan masakannya, meski kadang takarannya kurang pas. Namun, masakan anehnya itulah yang paling lezat di lidahku.


Aku mulai memotong wortel, aku memasakkan sup untuknya. Meski aku cukup ragu masakanku layak di makan. Apakah aku memesan makanan untuknya? Sepertinya aku memesan makanan juga.


Aku segera menyelesaikan supku dan mencicipinya. Ternyata lumayan enak, tidak buruk. Aku segera memindahkannya ke mangkuk. Lalu, ke kamar mengambil gawaiku.


Suara rintihan Salsa membuatku meletakkan gawai setelah memesan. Peluh membajiri wajah cantiknya. Ia mulai merintih di dalam tidurnya. Salsa tidak pernah tidur nyenyak, ia akan bergerak gelisah, dan bangun dalam keadaan menangis histeris.


Tanganku bergerak membelai kepalanya. Memberinya kata untuk menenangkannya. Perlahan kerutan dalam dahinya mulai mengendur. Kepalanya mulai tenang kembali.


Tok ... tok ... tok!


Aku segera membuka pintu. Sakina dan Afiah membulatkan pupil matanya saat melihatku. Kenapa dengan mereka?


“Astaga Hot Daddy, kenapa dengan kepalamu?” tanyanya. Rupanya mereka kaget melihat kepalaku.


“Terbentur,” jawabku sekenanya, tetapi Salsa menatapku dengan pandangan menyelidik.


Untung aku sudah memberinya perban, hingga mereka tidak begitu kaget. Bagaimana jika mereka melihatnya saat kejadian itu, pasti mereka sudah menjerit.


“Salsa masih tidur, ya, Pak? Dia masih mengigau atau histeris?” tanya Sakina memandang Salsa teduh.


“Masih,” ujarku dengan lirih.

__ADS_1


Lihat, Sa, di seklilingmu semua menyanyangimu. Sahabatmu ada untukmu dalam suka maupun duka. Jangan bersedih, Sayang. Kita semua selalu ada untukmu. Meski aku menyesal tidak mampu menyelamatkanmu di saat kejadian bejat yang menimpamu.


***


15 menit kemudian, pesananku sudah sampai. Aku memberikan uang kepada kurir. Lalu, masuk ke dalam.


Di dapur aku membuka bungkusan pesananku. Lalu, ke kamar melihat Salsa, Sakina dan Afiah. Ternyata Salsa sudah bangun dan kedua sahabatnya masih mengajaknya mengobrol meski hanya dianggap angin lalu oleh Salsa.


“Kita makan dulu, kalian semua belum makan, ‘kan?” tanyaku diangguki Sakina dan Afiah.


“Sa, ayo kita makan. Aku masih banyak cerita buat kamu,” ujar Sakina.


Ia menarik tangan Salsa dan tanpa bantah Salsa mengikuti begitu saja. Lalu, Afiah menarik kursi untuk Salsa dan aku duduk di depan Salsa.


“Wah, Pak Mario beli kentaki!” teriak Afiah. Aku tersenyum tipis melihat muridku ini. Salsa pernah mengatakan kalau Afiah ini ratu makan. Semua akan dilupakan jika berhadapan dengan makanan.


“Umm ... Sa, kamu makan, dong.” Sakina mengunyah dengan terpaksa. Matanya mulai seperti dinding kaca yang retak.


Namun, Salsa tetap diam membisu. Ia tidak memakan apa pun. Sampai sorenya, Afiah dan Sakina pamit pulang. Pasti hati mereka kecewa, tetapi mereka berjuang juga membuat Salsa seperti sedia kala.


***


Puncak hari ini, aku tak bisa menahan diri. Ketika Salsa mencoba bunuh diri, dia memengan pisau.


“Sa, hiks ... jangan, Sa,” isak Sakina.


“Sayang, turunkan pisaunya. Jangan lakukan itu, Sa,” pintaku.


“Hiks ... pergi kalian! Hiks ... jangan menyentuhku! Aku memembenci kalian! Hiks ... jangan menyentuhku! Hiks ... jangan menodaiku,” pilunya.


Ibu mertuaku terguncang akibat tangisnya. Membuat Papa mertuaku segera memeluknya karena tidak kuasa menahan tubuhnya sendiri.


Situasi di mana Salsa ingin mengiris urat nadinya sendiri. Semua orang panik dan menangis dan di sini, aku mematung melihat sinar mata yang dilancarkan istriku.


Tubuh ringkihnya bergetar, ia terus berteriak. Kenapa dengan cara seperti ini, Salsa? Kamu tidak tahukah, aku di sini sama menderitanya denganmu.


“Jangan mendekat! Hiks, pergi!” teriaknya saat aku mencoba mendekatinya. Ia menunjukkan pisaunya ke arahku.

__ADS_1


“Pak Mario,” panggil Zerka terdengar takut.


“Sa, ini aku Mario,” ujarku.


Dia semakin mundur, meneriakiku sebagai laki-laki ********. Umur Salsa yang menginjak 20 Tahun mendapat pelecehan seksual, benar-benar gadis belia yang menanggung beban sejak SMA.


“Jangan mendekat!” pekik Salsa. Suaranya semakin menunggu bersama isak tangisnya.


“Kenapa, Sa? Kalau kamu mau mati jangan dengan cara seperti ini. Ya, aku sakit, Sa. Sangat sakit. Aku melihat istriku hancur dan aku terlambat menolongnya. Kalau kamu mau mati, jangan dengan cara bunuh diri, Sa. Aku lelah, Sa. Sangat lelah, kata-kata yang tak seharusnya aku ucapkan. Aku nyaris pasrah.”


Aku berhenti melangkah walau dia hanya beberapa langkah dariku. Bibirku bergetar, menyaksikan ketidakberdayaan istriku. Hingga ia berpikir mengakhiri hidup mungkin lebih baik.


“Aku lebih suka kamu sakit, aku rela merawatmu sampai kamu menutup mata. Aku rela, Sa. Tapi, jangan pernah pergi dengan cara bunuh diri! Bunuh aku saja kalau kamu mau mati dengan begini, Sa! Kenapa kamu selalu memikirkan dia?! Aku di depan matamu tak pernah kamu hiraukan selama ini!” teriakku melupakan emosiku. Bukan emosi marah, tetapi emosi karena perasaan yang terasa menyesakkan dadaku.


“Aku cinta sama kamu, Sa. Sampai aku terus berusaha mencari cara agar kamu bsa sembuh. Kenapa kamu membiarkanku berjuang sendiri, Sa. Katamu, kamu mau berjuang bersama?”


“Hiks,” isaknya.


“Aku mohon, biarkan aku hapus kenangan buruk yang kamu dapatkan selama ini. Bila memang menurutmu tidak ada jalan, hanya ada kematian, bawa aku, Sa,” ujarku dengan pandangan terluka. Tak ada lagi topeng ketegaran yang kupasang di depan istri dan keluargaku.


Prang!


Tangannya melepas pisau yang ia genggam. Aku membuang napas lega. Lalu, melanjutkan langkahku. Merengkuh tubuhnya.


“Hiks, aku gak pernah bisa hiks jga diri. Aku merasa hancur, hiks.” Mataku memanas mendengar pengaduan istriku. Tangannya memelukmu erat.


Menangislah sepuasanya, Sayang, karena besok, aku tidak akan membiarkan air matamu kembal luruh. Akan ada lembar baru untuk kita. Usaikan bab paling menyakitkan dalam hidupmu.


“Kenapa hiks dia tega menodaiku? Kenapa Mama sama Papa tega mengabaikan kebahagiaanku demi keegoisan mereka, hiks? Kenapa semua orang mau memisahkan kita? Hiks, kenapa aku selalu menderita, hiks? Sakit sekali, saat aku memohon untuk dipertemukan denganmu, hiks ... semua menentangnya,” isaknya. Mengadulah, Sayang. Keluarkan semua isi hatimu agar bebanmu terangkat.


“Aku tidak punya muka untuk bersamamu, hiks. Ada bekas ******** itu di tubuhku. Aku ... tidak bisa melihatmu karena tubuhku kotor. Aku takut kamu pergi hiks bersama dia yang lebih baik dariku.”


Aku mengeratkan pelukanku, agar dia tahu kalau cinta yang kumiliki tidak pernah berkurang sedikit pun. Usapan tanganku membuat dia terlelap.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2