Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-25


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_25


Kamu adalah bab yang tak pernah ingin kuakhiri dalam hidupku.


.


Salsa POV


Pagi-pagi sekali aku bangunkan Pak Mario. Dia begitu susah dibangunkan. Siapa suruh semalam sudah kedinginan malah ngajak begadang.


“Kak, bangun dulu. Perbaiki pancinganku dulu.” Aku menggoyangkan lengannya.


“Minta tolong sama Rian, Sa,” ujarnya tanpa membuka matanya. Seberat itukah matanya?


“Hufhhh ... tahu begitu aku gak ladeni semalam. Tapi ‘kan aku juga yang mancing,” gumamku. Semalam memang dingin sekali. Main hujan-hujan membuat selimut tebak tidak mampu mengusir kedinginanku. Aku butuh selimut bernyawa seperti Pak Mario.


***


Aku memancing, tetapi tidak ikan yang memakan umpanku. Beda banget, ya, mancing ikan sama manusia. Lebih mudah mancing Pak Mario kayaknya.


“Kok ikannya pada malas makan, sih,” gerutuku.


“Kita jalan-jalan saja, yuk, Sa. Naik sepeda di sini seru. Kita juga ke pangkalannya Mang Oji. Baksonya enak bangettt!” ajak Gia. Ia mengangkat pancingnya.


“Ya sudah, tapi sepedanya ada berapa?” tanyaku menggulung pancingku juga.


Gia mengajakku ke belakang. Gudang lama katanya. Di sini ada beberapa sepeda. Aku mengambil sepeda warna hitam berpadu warna biru.


“Nenek! Nek, kami mau jalan-jalan dulu! Pinjam sepedanya!” teriak Gia.


“Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut, yo,” ujar Nenek.


“Iya, Nek. Assalamualaikum!”


“Wa’alaikumsalam!”


***


Betapa serunya main sepeda dengan Gia. Aku mengambil gambar dan menjadikannya SW. Seketika dilihat oleh Sakina dan Afiah.


[Enak banget keliatannya, Sa. Jadi ingin ke Yoyga juga.] Aku cekikan membawa komentar Sakina.


[Liburan semester berikutnya kita ke sini bareng-bareng. Seru banget, pemandangannya asri-asri.]


[Iya, pokoknya liburan semester berikutnya kita ke sana. Sa, aku keluar dulu, ya. Kak Zerka suda sampai.]


Aku mengirim jempol kepada Sakina. Sepertinya dia mau kencan. Ngomong-ngomong Afiah taken enggak, ya, sama Kak Bayu. Entahlah.


Kring ... kring ....


Aku menoleh melihat Anggi, Rian dan Feli. Mereka naik sepeda juga. Tapi, sepedanya lebih bagus dariku. Maklum sepeda ini sudah buntut kata Gia. Dari zaman mereka masih SMP dibeli sama Nenek dan tidak terurus.


“Jalan-jalan gak ngajak,” bete Feli.


“Tadi mancing, Cuma ikannya gak mau makan-makan. Ya, akhirnya kita mutusin buat naik sepeda saja,” jelas Gia.


Kriyukkk. Dasar perut tidak tahu malu. Wajahku memanas. Bisa-bisanya dia berbunyi nyaring. Mereka semua tertawa membuatku tersenyum malu.

__ADS_1


Kami akhirnya ke pangkalan Mang Oji yang dimaksud Gia. Namun, aku melihat seseorang yang sangat aku kenali di sana.


“Kek Kak Mario,” batinku.


Semakin mendekat, semakin terlihat jelas. Ah, pria kutub ini kenapa bisa pagi-pagi ke sini? Aku mengambil tempat di sampingnya. Dia malah cuek bebek menikmati bubur ayamnya.


“Kak Mario, kok, bisa di sini?” tanyaku.


“Mau makan,” jawabnya cuek. Ush, menyebalkan.


Aku menatap daftar menu makanan yang dipajang Mang Oji. Ternyata ada bubur ayam. Kupikir tadi hanya bakso saja.


“Aku beli bubur ayam juga. Yang pedas, ya, Mang!” pesanku.


“Tapi, aku mau bakso juga,” lirihku saat melihat mangkuk bakso pesanan Gia. Asap putih yang mengantar aroma sedapnya mengunggah seleraku.


Tapi, melihat Pak Mario begitu lahap dan terlihat enak saat menikmati bubur ayamnya. Aku jadi tergiur. Duh, aku jadi plin-plan gara-gara makanan.


Aku membaca doa dan makan. Besok-besok ke sini lagi. Bubur Mang Oji memang enak. Lezat pakai banget. Besok mesti coba baksonya juga.


***


Mario POV


Tidak terasa liburan semester kami selesai. Aku pamit kepada Nenek dan juga sanak saudaraku yang lain. Terlihat Salsa tidak rela pergi dari sini.


“Nenek mampir ke Bandung, ya. Gia, Feli, Rian sama Anggi juga. Aku bakal kangen banget ancing, naik sepeda, ke kebun bareng, pokoknya semua bakal aku kangenin,” ujar Salsa dengan mata-mata berkaca-kaca.


Padahal baru beberapa hari mereka saling mengenal, tetapi berpisah seolah mereka sudah lama mengenal satu sama lain.


“Mario, Nenek sangat menyukai Salsa. Dia anaknya ceria, dan pasti Nenek akan merindukannya. Bawalah dia ke sini kembali saat liburan,” pesan Nenek.


Kami meninggalkan Yoygakarta. Terdengar isak tangis Salsa. Aku mengusap surainya. Berharap isaknya reda.


“Nanti liburan berikutnya kita ke sini lagi,” ujarku. Ia langsung menoleh. Memastikan ucapanku.


***


Tidak terasa aku sudah tiba di Bandung. Setelah beristirahat sejenak, aku ke sekolah mengurus raport Salsa.


Pak Reno memintaku duduk di sofa. Kami membicarakan prihal tentang Salsa. Ternyata Pak Reno memberikan kebijakan. Ia membiarkan nilai Salsa keluar.


Aku membuka raport Salsa. Bibirku terangkat membentuk senyum tipis. Ia peringkat 2. Pantas saja Pak Reno membiarkan masalah ini.


“Salsa akan diterima di sekolah lain dan tidak perlu mengulang sekolahnya. Saya akan memberikan surat pindah bukan DO. Namun, ini menjadi rahasia kita berdua, Pak. Saya juga sudah merapatkan dengan guru-guru, staf dan dewan lainnya,” ujar Pak Reno.


“Terima kasih, Pak Reno.” Aku menjabat tangannya. Butuh waktu mengurus surat-surat pindah Salsa.


“Pak Mario.” Aku menatap tangan yang mengcekal lenganku. Kutepis kasar.


“Jangan pernah menyentuh saya,” kataku begitu dingin.


“Pak Mario, saya tidak tahu kalau Salsa sampai mendapat tindak bully di sekolah. Saya memang mencintai Pak Mario, tetapi saya tidak sejahat itu sampa---“ Aku memotong ucapannya yang terdengar memuakkan.


“Tidak sengaja? Kamu masih punya muka setelah membuat istri saya dikeluarkan di sini? Kamu mengirim pesan kepada Salsa? Apa maksud kamu dia akan ditendang di keluarga saya? Kamu kenapa, Va. Berubah menjadi jahat.”


“Karena aku mencintaimu! Semua berjalan indah, tapi Salsa datang mengacaukan semua. Dari awal kita sudah bersama. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan cinta?! Kenapa semua orang merebut milikku?! Saat aku mencoba mempertahankan apa yang aku miliki, kenapa semua menghakimiku?! Hiks kenapa?!”


“Bagaimana kamu bisa mendapat cinta, ketika kamu tidak mampu mencintai dirimu sendiri? Love yourslef,” ujarku meninggalkannya.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah berhenti! Lihat saja apa yang akan aku lakukan Mario!”


Aku mengabaikannya. Dia tidak akan macam-macam.


***


“Jadi, aku akan sekolah di sini?” tanya Salsa saat kuajak setelah hampir memakan waktu tiga har mengurus kepindahannya.


“Iya, ayo kita masuk. Melihat-lihat dulu, kamu nyaman atau tidak,” ajakku.


Kami berkeliling di sekolah. Salsa menyukai sekolah ini dan kami menemui kepala sekolah—Pak Bimo. Beliau menyambut kami ramah.


“Besok Salsa sudah bisa sekolah di sini,” ujar Pak Bimo.


“Terima kasih, Pak Bimo. Namun, saya ingin mengatakan sesuatu. Sebelumnya, saya mau mengatakan kalau Salsa ini istri saya.” Pak Bimo sedikit terkejut mendengar pengakuanku. Lalu, ia tersenyum maklum.


“Bukan hanya Salsa di sini yang sudah menikah. Ada dua sampai tiga siswa. Entah karena status ekonomi yang membuat mereka menikah mudah atau ada alasan pribadi lainnya. Selama Salsa bisa membagi waktu dan sekolahnya tidak terganggu, kami bisa memaklumi.” Aku membuang napas lega.


“Terima kasih banyak, Pak. Saya dan Salsa pamit dulu.” Aku menjabat tangan Pak Bimo.


***


Aku mengajak Salsa membeli perlengkan sekolahnya dan juga ke ruang koperasi di sekolah barunya. Membeli seragam yang akan ia pakai.


“Oh, pakai hijab, ya. Sepertinya harus dibuatkan dulu. Di sini semua siswinya tidak memakai hijab,” ujar penjaga koperasi.


“Baiklah.” Aku menunggu Salsa yang diukur. Beberapa siswi masuk dan mencuri pandang ke arahku.


Mereka mengenakan rok warna hitam dan juga seragam warna putih. Lengkap dengan almamater dengan garis merah.


“Katanya kita bisa mengambil seragamnya minggu depan. Bagaimana, dong. Katanya besok sudah boleh sekolah,” kata Salsa.


“Pak Bimo mungkin lupa atau gak sadar kalau kamu pakai hijab. Seragamnya bisa kita ambil saja, roknya menyusul. Di sini pakai almamater, Sa,” ujarku membuat dia menatap sekelilingnya.


“Padahal kita keliling, aku gak sadar lihat seragam mereka, hehehe.”


“Kamu tunggu di sini dulu. Aku bicara sama penjaga koperasinya.”


Aku sudah membayar seragam Salsa. Tingga baju olahraga, dan rok seragamnya. Kami pulang dan mampir ke toko membeli buku. Juga beberapa perlengkan alat tulis Salsa.


“Kamu mau yang mana lagi, Sa? Butuh tas baru, gak?” tanyaku, tetapi tidak ada yang menyahut. Aku menoleh melihat Salsa tertinggal jauh. Ada yang salah dari Salsa.


Lelehan kristal bening di pipinya membuatku membeku. Ia menutup wajahnya. Aku segera menghampirinya.


“Hiks ... hiks ... aku gak mau pisah sama Kak Mario, hiks. Aku gak mau,” isaknya.


“Tenang, Sa. Kamu kenapa?” tanyaku berusaha tenang.


Ia menyerahkan gawainya. Mataku melemah membaca pesan yang dikirim mertuaku.


[Salsa, pulang! Apa yang kamu lakukan selama ini? Kenapa kamu diam saja saat Mario selingkuh di terang-terangan di depanmu. Mama sangat kecewa. Papa kamu akan mengurus surat perceraian kalian.]


“Hiks aku gak tahu Mama bagaimana bisa berpikir kalau Kak Mari selingkuh. Aku gak mau kita pisah hiks. Mama kenapa sejahat ini mau pisahin kita hiks,” isaknya.


“Kita pulang sekarang. Kita bicarakan di sana,” ajakku. Kenapa mertuaku bisa beranggapan kalau aku selingkuh? Dengan siapa?


Rahangku mengeras saat satu nama terlintas di kepalaku—Eva—wanita itu. Pasti ini perbuatannya.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2