
#Suamiku_Guru_Dingin
#SGD_33
.
Mario POV
Berkutat di dapur sudah menjadi kebiasaanku sejak istriku sakit. Setelah insiden dia mau bunuh diri, dia tidur di kamar. Beruntung dia mendengarkan perkataanku saat itu. Dokter Yuandi datang memeriksa Salsa dan mengatakan ada kemajuan karena Salsa sudah meluapkan perasaan dan amarahnya. Hanya berharap, bahwa kondisinya bisa membaik.
Sahabat Salsa dan mertuaku sudah pulang sejak tadi. Rumah terasa sepi, padahal aku berharap, rumah akan ramai jika kami tinggal bersama.
Aku mengambil wajan dan mengantar bubur ke kamar. Terlihat Salsa masih terlelap. Dia mulai merintih di dalam tidurnya. Bulir keringat menghiasi wajahnya.
“Sa,” panggilku lembut. Menyaka keringatnya dan dia membua kelopak mata.
Ada tatapan takut di bola matanya, tetapi dia terlihat bisa lebih mengontrol ketakutannya. Napasnya yang tersenggal mulai teratur. Ia bangun dan menyeka keringatnya sendiri.
“Kamu makan dulu,” ujarku. Aku sudah siap menerima pil kekecewaan karena tahu dia akan menolak, tetapi dugaanku salah, dia mengangguk. Salsa mengangguk!
Aku tidak bisa menahan senyum bahagia melihatnya mau makan. Dengan sigap aku mengambil mangkuk bubur dan menyuapinya. Wajahnya terlihat masam saat menguyah.
“Pahit,” lirihnya.
Aku mengambil air putih dan menyodorkan ke arahnya. Membantunya minum dan menyuapinya kembali. Salsa menola suapanku setelah dia makan tiga suap. Tidak apa-apa, asal sudah ada yang mengganjal perutnya.
Mangkuk bubur kuletakkan kembali. Ia menunduk dan memainkan ujung kukunya.
“Kamu tidur kembali. Aku akan keluar,” ujarku. Dia menahan tanganku. Rasa dingin menjalar ke permukaan tanganku, tangannya sangat dingin.
“Aku ... takut,” lirihnya.
Aku mengusap sudut matanya. Memberinya senyum agar dia tenang. Tidak akan terjadi apa-apa karena tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya.
“Aku di sini, Sa. Aku mau keluar memberikan ikan kita makanan. Dia belum makan seharian,” ujarku.
__ADS_1
“Aku mau ikut,” ujarnya. Lalu, kepalaku bergerak mengangguk mengiyakannya.
***
Salsa POV
Trauma saat dilecehakan, membuat merasa terjebak di suatu tempat yang sangat gelap. Tidak ada cahaya di sekitarku. Bahkan aku hanya mendengar suara tanpa tahu siapa pemiliknya.
Betapa takutnya setiap ada orang yang mendekatiku. Namun, kemarin, saat aku merasa tak berguna lagi, mengakhiri hidup adalah pilihanku.
Tak ada yang bisa kupertahankan setelah dinodai. Malu untuk bertemu dengan Pak Mario. Jijik dengan tubuhku sendiri, lantas bagaimana dia?
Karena pemikiranku, aku semakin menemukan jalan buntu. Hingga, bentakan keras Pak Mario menyadarkanku. Bukan hanya aku yang terluka, suamiku pun sama terlukanya.
Egois rasanya hanya memikirkan diri sendiri sementara di sekelilingku semua orang berjuang untukku. Dan, aku baru menyadarinya semua. Saat kebodohan yang akan membawaku pada penyesalan dalam seumur hidupku.
Tiga bulan menjadi mayat hidup, akibat perbuatan keji orang. Selama mengikuti kemo untuk kesembuhanku, ternyata tidak ada yang berubah. Hingga aku histeris di dalam kelas.
“Ikan ini masih kecil, Sa. Butuh waktu 2 bulan lagi agar mereka besar, kita bisa mancing di sini,” ujarnya. Ia tersenyum cerah menatap ke dalam kolam.
“Sa,” panggilnya saat menyadari aku menangis.
“Maaf membuatmu lama menunggu, hiks. Aku janji akan berusaha sembuh, Kak,” isakku.
“Dengar kamu mau berusaha sembuh saja aku sudah senang, Sa. Sekarang, jangan pikirkan hal buruk itu lagi, kita tata masa depan kita, Sayang,” ujarnya.
Aku mengangguk dan memeluknya. Percaya dia akan melindungiku, meski aku pun tak tahu bagaimana cara menyingkarkan bayangan bejat itu.
***
Selama menemui Dokter Yuandi, Pak Mario selalu mengantarku. Sakina dan Afiah juga rutin menemuiku. Ketika mereka mengajakku mengobrol, aku mulai ikut ke dalamnya.
“Tahu, gak, Sa. Bu Eva dipecat dari Pak Reno. Pihak sekolah tahu kelakuannya. Gak sepantasnya dia melakukan itu,” ujar Afiah.
“Iya, Sa. Dia dipecat dan katanya sekarang dia membangun usaha restoran sendiri. Dengar-dengar dari kabar angin, dia masuk mengajar karena mencintai Pak Mario sejak semasa kuliah Pak Mario. Gak menyangka banget dia stalker gila. Pantas saja dia cerai, ush kesal banget sama alasan yang dibeberkan saat cerai dan kenyataan gak sama,” kesal Sakina.
__ADS_1
Ternyata Bu Eva menyukai Pak Mario sejak mereka kuliah dan pasti Pak Mario tidak tahu. Ya, cinta membutakan hati Bu Eva. Walau awal mengenalnya, dia wanita lembut dan bertutur sopan, tetapi setelah tahu aku menikah dengan Pak Mario, sikapnya berubah drastis. Apa dia depresi?
Namun, ingatanku kembali melayang, dia mendekati mertuaku sekarang. Masih jelas saat itu mertuaku menginginkan Pak mario menikah dengan Bu Eva dan menceraikanku.
Aku tidak bisa membayangkan hati istri di luar sana yang mengalami hal sama sepertiku. Meski, perkara dalam rumah tangga kami berbeda, rasanya sangat sakit jika ada pihak ketiga mencoba meruntuhkan rumah tangga yang kita bangun.
Semoga tidak ada kejadian serupa yang kualami, harus disingkirkan dengan wanita yang harusnya mendidik, bukan malah menjadi perusak rumah tangga. Mustahil rasanya, tetapi dunia semakin gila dan banyak hal tak terduga yang terjadi di dalam hidup. Bahkan di luar sana, ada yang tega membunuh keluarganya sendir, bagaimana dengan orang yang jelas tak ada apa-apa dengan kita, apalagi statusnya adalah rival.
“Bu Eva dijodohkan dengan Kak Mario,” ujarku.
“Kami juga tahu, Sa. Hot Daddy menolak perjodohan itu dan dia memilih dikeluarkan di keluarganya,” timpal Afiah.
“Semua karena aku,” ujarku.
“Enggak! Hot Daddy hanya mau bahagia dengan pilihannya sendiri. Tahu, gak, Sa. Sekolah kehilangan banget saat tahu yang sebenarnya sama kamu, terus Hot Daddy juga mengundurkan diri dari sekolah setelah dia membuat Bu Eva dipecat,” jelas Afiah.
“Sudah, ini pasti jalan terbaik untuk kalian berdua. Kami doakan semoga kalian bsa bahagia dan pelakor itu minggat secepatnya,” ujar Sakina.
Kami berdua kembali mengobrol dan bertanya tentang kehidupan kampus. Rasanya aku sudah meninggalkan banyak pelajaran dan mengulang semester. Ketika Sakina dan Afiah menceritakan semua yang dilalui suamiku, rasanya dadaku remuk.
Ternyata kepalanya Pak Mario terluka karena aku, walau Sakina mengatakan Pak Mario menyembunyikannya dan beralasan lain. Begitu mudahnya aku melemparnya? Aku melakuaknnya di bawah alam sadarku.
Setiap melihat laki-laki masuk ke kamar, kejadian saat pria itu masuk—arghh! Aku tidak boleh mengingatnya. Perlahan dadaku mulai sesak. Aku menatap seklilingku mulai gelap.
“Tolong! Tolonggg!” batinku mulai berteriak ketakutan sampai aku melihat siluet bayangan seseorang. Dia tersenyum dan mengusap kepalaku.
Mataku mengerjap, dan aku melihat Pak Mario menatapku dengan tenang. Kedua sahabatku terlihat panik. Langsung kupeluk erat tubuh Pak Mario.
“Tidak apa-apa,” bisiknya berulang-ulang.
Ya, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, aku mencoba menenangkan diriku dengana kata-kata penenang Pak Mario.
***
Bersambung ....
__ADS_1