Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-28


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_28


Aku masih menunggumu tanpa kata lelah.


.


Salsa POV


Sejam yang lalu Pak Mario mengantarku pulang dan sejak sejam lalu juga aku selalu menangis. Menatap surat perceraian. Bukan ini yang aku inginkan.


Tangisku pecah. Menatap kedua surat itu secara bergantian. Baiklah, bila memang ini yang terbaik. Aku akan mencoba ikhlas. Tidak mengungkitnya lagi.


Bila kami berjodoh, kami akan kembali bersama. Aku mengusap cairan kristalku. Lalu, menarik diriku di sudut kamar. Meringkuk.


“Hiks ... aku ikhlas. Aku akan tabah,” isakku. Aku akan menuruti keinginan Pak Mario.


***


06:00


Aku mengenakan seragamku. Memasang hijabku. Lalu, mengambil tas selempang warna putihku.


“Semangat Salsa!” Aku menyemangati diriku sendiri. Tersenyum cerah. Aku harus baik-baik saja. Ya, setidaknya biarkan aku tegar di luar.


Aku menghampiri kedua orang tuaku. Makan dalam diam. Tak mau mengungkit masalah kemarin. Biarlah waktu yang menjawab.


Aku akan sukses! Setahun lagi untuk lulus dari SMA. Dengan begitu, aku akan mulai menata kehidupanku yang telah berantakan.


Dan, akan aku cari kehidupan yang bisa menjadi penawar lukaku. Meski kutahu penawarnya begitu jauh. Luka ini seperti bisa ular.


“Ma, Pa, Salsa pamit ke sekolah dulu. Assalamualaikum.” Aku meraih tangan kedua orang tuaku.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mama dan papa.


***


Di sekolah baruku, aku mendapat teman. Namanya, Aisyah. Dia gadis cantik yang mengenakan hijab sepertiku. Beruntung bisa sekelas dengannya.


Hanya aku dan Aisyah yang mengenakan hijab. Lainnya tidak. Mayoritas di sekolahku banyak agama Kristen. Walau ada juga agama Islam tidak memakai hijab.

__ADS_1


Aku menyukai suasana di sini. Meski berbeda-beda, tetapi saling menghargai. Sungguh menerapkan makna dari bhineka tunggal ika.


“Kita beli roti sama minuman saja. Aku gak laper,” usulku pada Aisyah.


“Boleh. Aku juga gak lapar.”


Kami berdua ke kantin dan membeli roti. Aku membayarnya dan menunggu kembalian. Setidaknya di sini, aku tak perlu mendapat caci maki dan bullyian.


Aku jadi merindukan kedua sahabatku Sakina dan Afiah. Biasanya Afiah akan merengek di jam istirahat untuk ke kantin dan Sakina akan menampilkan wajah judesnya ketika Afiah mulai menyebalkan.


“Kamu kenapa, Sa? Aku tidak mau mencampuri urusan pribadimu, tetapi wajahmu begitu murung sejak masuk ke sini. Apa kamu tidak menyukai sekolah ini?” tanya Aisyah.


“Bukan tidak suka. Aku hanya punya banyak masalah. Mencoba melupakan dan menganggap seolah semua baik-baik saja. Pura-pura bahagia itu sulit,” lirihku.


Aku membuka rotiku saat tiba di kelas. Memakannya dan mencoba memberikan dorongan kecil dalam diriku agar sadar tentang janjiku kepada Pak Mario.


“Apa pun masalahmu dan seberat apa pun masalahmu, selalu berdoa kepada-Nya. Setiap masalah akan ada jalan keluarnya,” saran Asiyah.


“Terima kasih,” ujarku. Dia teman yang pengertian.


Aisyah mengalihkan pembicaraan. Aku senang saja karena aku mencoba melupakan kenangan yang mulai berputar bak kaset film di dalam otakku.


***


“Kini kita benar-benar terpisahkan. Aku hanya merindukanmu,” lirihku menatap keluar jendela.


Dia hilang bak ditelam bumi. Tak ada kabar tentangnya. Entah, setelah ia memberikanku surat yang menghancurkan segalanya, ia pergi.


Masihkah dia mengingatku? Apakah dia menjaga hatinya untukku atau sekarang dia menikah dengan wanita lain?


“Assalamualaikum, Sa.” Aku menoleh saat mendengar suara Afiah dan Sakina.


Aku langsung memeluk keduanya. Rindu sekali rasanya. “Duduk dulu. Sebentar, ya, aku mau ke dapur dulu,” pamitku meninggalkan mereka berdua. Aku membuatkan jus dan juga membawa kue.


“Kalian gak kabarin buat datang ke sini.” Sakina tersenyum tipis.


“Aku merindukan sahabatku. Apa kabar, Sa?”


“Aku baik-baik saja,” ujarku memberikan senyumku.


“Aku menanyakan kabar hatimu.” Sakina menyentuh pundakku. “Apa dia baik-baik saja?” tanyanya kembali.

__ADS_1


Mataku memanas. Hanya gelengan yang kuberikan. Tak mampu mengatakan tentang kabar hati yang telah pecah berkeping-keping.


“Apa Hot Daddy tidak mengabarimu?” tanya Afiah.


Aku menggelengkan kepala. Mataku menatap foto pernikahanku di kamar. Pria yang menatap begitu dingin di kamera dan aku tak kalah dinginnya menatap lensa saat itu.


Aku beranjak dan mengambil surat di laciku. Surat terakhir dari suamiku. Ya, surat inilah yang membuatku berusaha ikhlas dan tabah. Berusaha tegar meski badai menerjang.


For Istri Bocah Liarku.


Salsa


[Sayang, ciee senang dipanggil sayang, ‘kan? Aku SAYANG sekali sama kamu, Sa. Nyaris setiap malam aku tidak bisa tidur. Bayangan tentangmu selalu datang menghantuiku. Hidupku terasa kelabu sejak berpisah denganmu.


Aku tak tahu meruntuhkan ego kedua keluarga kita begitu sulit. Hingga, ancaman mereka membuatku tidak bisa berkutik. Kamu tahu, Sayang. Beberapa bulan setelah mereka memisahkan kita, aku selalu menatapmu dari jauh. Tak berani mendekat karena aku takut kehilanganmu.


Dibandingkan kehilanganmu, aku rela disiksa rinduku. Sa, jangan menangis lagi. Kutulis surat ini untukmu. Aku mengajakmu untuk berkomitmen menjaga hati kita.


Ini mungkin takdir yang harus kita tempuh. Kerikil dalam rumah tangga kita. Kita pasti bisa melewati semua ini.


Untuk itu cerialah seperti sedia kala. Aku merindukan matahariku. Merindukan sinar dalam dirimu. Aku tak sanggup melihatmu menangis. Aku pamit, Sa. Suatu hari nanti aku akan kembali dan membawamu pergi. Jangan menangis lagi istriku yang liar.]


From Suamimu


Mario Fahreza.


Setiap kali membaca surat darinya aku pasti terpakur sedih. “Dia menulis surat ini untukku, dan aku yakin, suatu hari nanti dia akan datang. Jika, aku tidak akan lelah menunggunya,” ujarku.


Sakina dan Afiah memelukmu erat. Mereka ikut bersedih atas apa yang menimpa rumah tanggamu.


Mario, kamu tahu, aku hampir lulus. Besok, aku akan menghadapi UNBK. Kuharap, setelah semuanya. Kita tata kembali hungan kita.


Berjuang bersama meruntuhkan ego kedua orang tua kita. Dan, dengarkan bisikku, aku masih kuat bertahan dan menunggumu. Semua orang akan menganggapku gila karena secarik kertas yang kamu berikan, aku percaya dan setia.


Surat perceraian dari mama tidak akan pernah aku tanda tangani. Aku masih sah menjadi istrimu dan kuharap ketika kedua orang tuamu memberikan surat cerai untuk kita, kamu tidak menatandatanginya.


***


Bersambung ....


Siapa kena prank kalau ngira surat Pak Mario surat cerai? 😌

__ADS_1


__ADS_2