Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-26


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_26


Berteman sepi.


.


Salsa POV


Aku dan Pak Mario ke rumah orang tuaku. Hatiku tak pernah tenang saat membaca pesan dari mama. Ada firasat buruk. Semoga saja semua baik-baik saja.


Namun, mataku memanas. Tangiksu tertahankan saat kami masuk ke dalam, mama langsung menampar Pak Mario.


“Aku menikahkanmu dengan putriku bukan untuk kau sakiti!” bentaknya marah.


“Mama!” pekikku. Aku menarik Pak Mario. Menjauh dari mama. Aku menggeleng tidak percaya melihat wanita yang selalu menjaga emosinya kin meledak.


Bekas tamparan mama tercetak jelas di pipi suamiku. Tanganku bergetar mengusap pipinya. Tak bisa membendung kesedihanku lagi.


Pak Mario menarikku duduk. Mama menatap kami tajam. Papa hanya diam, tetapi tatapannya bak belati. Pak Mario masih bersikap tenang.


“Mama ingin kalian pisah. Ceraikan Mario, Salsa,” tandas Mama. Bagaimana bisa beliau berkata kejam di hadapan suamiku?


“Ma, hiks Mama kira perceraian itu main-main? Hiks aku mencintai suamiku. Aku tidak mau pisah dengan Kak Mario,” isakku.


“Apa yang kamu harapkan dari laki-laki yang menyelingkuhimu, ha?!”


“Maaf, Ma, tetapi atas dasar apa Mama menuduhku selingkuh?” tanya Pak Mario.


Mama melempar sebuah foto. Foto berukuran 2R itu berceceran di hadapanku dan Pak Mario. Foto saat Pak Mario bersama Bu Eva dan juga foto di lobi apartemen. Ada foto juga saat mereka mau masuk ke dalam apartemen Pak Mario.


Dari mana mama mendapatkannya? Apa jangan-jangan semua ini ulah Bu Eva?


“Ma, ini semua gak seperti yang Mama pikirkan. Kak Mario tid—“ Mama memotong ucapanku dengan intonasi suara begitu tinggi.


“Berhenti membelanya?!” bentaknya.


“Saya dan Bu Eva tidak memiliki hubungan apa-apa. Waktu itu kami hanya di apartemen dan Salsa juga ada. Tidak ada yang kami lakukan,” jelas Pak Mario.


“Itulah kau sangat berani selingkuh terang-terangan di depan putriku! Kamu tidak melihat ini!” Mama menunjuk keras foto Pak Mario di kamar Bu Eva. Aku ingat ini, dia mengantar Bu Eva saat aku menyamar menjadi hantu.


“Kamu di kamar seorang wanita yang tinggal sendiri. Di kamarnya dan kudengar, kamu sering jalan dengannya.”

__ADS_1


Aku ingin membantah ucapan mama, tetapi Pak Mairo menahan tanganku untuk tetap diam. Aku menangisi nasib pernikahanku. Pak Mario memang salah, tetapi itu dulu. Sekarang dia mencintaiku. Tidak bisakah dia mendapat kesempatan?


Bukankah wajar jika waktu itu dia tidak menganggapku? Walau sakit sekali rasanya, tetapi aku sadar, saat itu kami hanya orang asing yang terikat dalam janji suci.


Saat situasi memanas, kedua mertuaku datang. Dia menerobos masuk dan keadaan semakin genting.


“Anak kamu benar-benar kurang ajar! Apa dia ******?! Aku kira dia keluar bersama temannya, ternyata dia sengaja keluar bersama pria lain!” teriak Ibu mertuaku.


Mama berdiri dengan tatapan menyalang. Begitupun dengan papa. Mama yang tidak menerima ucapan mertuaku menyebutku ****** memanas.


“Jangan kamu salahkan anakku. Anakmu yang kurang didikan! Beraninya dia selingkuh terang-terangan dan mempermainkan putriku!” Mama menunjuk mertuaku dengan gigi gemertak.


“Jangan memutar balikkan fakta! Akan aku urus perceraian mereka!” hardik mertuaku.


Mama semakin menyalang. “Dengar, ya. Putriku yang akan menggugat putramu! Pergi kalian dari sini!” usir mama kepada mertuaku dan Pak Mario.


“Hiks Ma, aku mohon. Ini gak seperti yang kalian pikir. Kami saling mencintai,” isakku memohon.


“Ma, Salsa tidak pernah selingkuh. Dia keluar bersama temannya. Aku yang salah di sini. Mama jangan ngomong kasar,” lerai Pak Mario.


Sekereas apa pun kami berdua menjelaskan, melerai dan memehon. Ego kedua orang tua kami yang menang.


Mertuaku menarik Pak Mario keluar. Aku menggelengkan kepala. Menahan Pak Mario agar tidak pergi. Jika pun ingin pergi, aku berharap dia membawaku.


“Salsa, jangan bodoh kamu! Ayo masuk!” papa melepas kasar tanganku.


Apakah mereka tidak melihat aku bersimbah air mata. Memohon penuh iba agar jangan dipisahkan.


“Aku mohon sama kamu jangan menangis. Aku pasti akan menyelesaikan masalah ini. Kita tidak akan pisah,” lirih Pak Mario. Ia memelukmu erat, “tegarlah, Sayang.” Air mataku berderai keluar mendengar bisiknya yang menyayat hatiku.


Pak Mario pergi. Dia benar-benar pergi. Aku meremas dadaku kuat. Ya Allah, cobaan apa ini? Kenapa begitu menyakitkan?


“Jangan pernah berani bertemu dengan pria brengsek itu atau Mama akan mengirimmu ke luar negeri. Mama tidak akan segang-segang melakukannya, Salsa.”


***


Mario POV


“Mama, Papa, kenapa kalian melakukan ini? Salsa wanita baik-baik. Dari mana kalian mendengar soal dia?” tanyaku marah.


“Dengar Mario, berhenti membela istrimu. Dia mencoret nama keluarga kita saja. Mama tidak akan pernah membiarkan kamu bertemu dengannya atau Mama mendatangi keluarganya lagi. Membuat peringatan kepada mereka. Bahkan, Mama bisa membuat mereka malu di depan publik!"


Aku meninggalkan kedua orang tuaku dan masuk ke dalam kamar. Apa yang harus aku lakukan? Jika nekat menemui Salsa, Mama bisa datang ke sana dan mengacaukan semua.

__ADS_1


Mertuaku bisa semakin membencimu. Aku membuang napas kasar dan mengusap wajahku.


Drttt ....


Istriku Bocah Liar.


Aku segera menggeser tombol hijau. Isak tangis istriku menyemabut indra pendengarku. Terdengar pilu sekali.


“Aku hiks ... hiks ... gak bisa pisah sama Kak Mario hiks.”


Setetes kristal bening jatuh di pelupuk mataku. Ia melirih dan memohon. Aku pun tidak bisa, Sayang.


“Sa, kamu tenang dulu. Kita tidak akan pisah. Sekali pun surat cerai itu ada, aku tidak akan menandatanginya. Kamu jangan nangis, Sayang.”


“Hiks bagaimana aku gak nangis kalau kita mau dipisahkan? Hiks ... Mama melarang aku buat ketemu sama Kak Mario. Dia mau kirim aku keluar negeri kalau aku nekat mau ketemu sama Kak mario hiks,” adunya.


Ternyata bukan hanya aku diancam. Salsa juga. Aku tidak menyangka Eva akan berbuat sejauh ini. Dia membuktikan ucapannya. Ingin membuat rumah tangga kami hancur.


“Untuk sementara kita turuti kemauan orang tua kita. Emosi mereka masih menguasai tubuh mereka. Setelah reda dan aku mencari bukti, kita bisa bersama lagi,” bujukku.


“Aku akan merobek semua surat perceraian. Hiks cepat jemput aku, Kak. Buat mereka mengerti kalau kita saling mencintai bukan saling mendua hiks. Memikirkan pria lain saja, aku tak punya waktu hiks. Aku terus memikirkan Kak Mario.”


Aku menahan napas yang terasa menyesakkan. “Aku minta maaf tentang perlakuanku dulu. Mungkin ini karma karena aku pernah menyakitimu,” lirihku.


“Bukan, Kak. Ini bukan karma, tetapi ini ujian. Hiks Kak Mario tidak selingkuh, walau Kak Mario mengajak Bu Eva ke apartemen, ini semua salahku yang selalu menyimpulkan tanpa bertanya kepada Kak Mario. Aku juga salah meminta Kak Zerka membantuku untuk membuat Kak Mario cemburu.”


Aku memejamkan mataku. Berusaha menghibur Salsa. Sampai isak tangisnya reda. Aku memintanya untuk tabah dan bersabar. Walau aku sendiri tidak tahu, bagaimana caranya agar kedua orang tua dan orang tua Salsa percaya.


Dan, hari-hariku terasa, sepi, sunyi dan hampa. Tanpa kehadiran Salsa di sisiku. Teringat setiap pagi dia akan membangunkanku.


Kenangan bersama menjadi penawar ketika rindu datang menyusup. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Melihat dia datang ke sekolah barunya. Wajahnya tak pernah bersemangat.


Ingin menghampirinya, tetapi aku ingat ucapan Salsa dan mama. Begitu berat menjalani hidup tanpanya. Sebagaian diriku terampas.


Ketika kami masih bisa saling menguatkan lewat gawai, semua runtuh saat aku tahu ponselnya disita.


Begitu banyak kata yang ingin kukatakan kepadanya. Banyak rindu yang menemupuk tak bisa tersalurkan kepada sang Pemilik Hati.


Hanya setiap malam, kucurahkan rinduku padanya di setiap sujuduku.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2