Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-30


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_30


Kembalikan kebahagiaanku yang kalian rebut paksa dariku.


.


Salsa POV


Bugh!


Bugh!


Kak Zerka datang dan menarik ******** itu. Memberinya bogem mentah dan aku tidak rahu apa lagi yang ia lakukan.


Kosong dan hampa. Dua perasaan yang menyelimutiku saat ini hingga tak peduli sekitarku. Tak tahu seberapa perih tubuhku akibat perbuatan pria brengsek itu.


Tubuh polosku diselimuti Sakina. Ia menangis dan memelukku erat. Tak ada air mata lagi yang menetes. Terlalu lelah untuk menangisi semua takdirku.


Aku dilecehkan dan tubuhku kotor. Tangan keji itu menyentuhku. Hingga tubuhku terasa remuk. Tak tahu berapa banyak memar yang kudapat karena pemberontakanku, meski semua terasa sia-sia karena pakaianku telah terlepas.Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena kegelapan merenggutku.


***


Samar-samar aku mendengar suara orang di sekitarku. Berusaha membuka kelopak mataku yang terasa berat. Rasa pusing mendera saat mencoba memaksakan untuk membuka mata.


Ruang serba putih yang bisa kupastikan ini rumah sakit. Aku mencium bau obat-obatan dan juga infus di jariku.


“Hiks ... hiks ... Salsa, maafkan Mama, Sayang. Hiks, Mama tidak tahu akan begini akhirnya,” isak Mama. Namun, aku diam, enggang menanggapi.


Semangat hidupku telah lenyap. Apa yang sekarang membuatku harus bertahan? Aku telah menjadi wanita hina. Bayangan perbuatan pria itu membuatku menjerit. Aku kotor! Aku kotor! Aku kotor! Batinku terus berteriak, meraung sedih.


“Aaaaa! Pergi! Pergi dari sini! Jangan sentuh aku, ********! Hikss ... jangan sentuh aku! Aku mohon, hiks,” raungku.


“Salsa, tenang, Sayang. Ini Mama, hiks. Maafin Mama, Nak,” isak Mama.


Aku beringsut mundur saat tangannya mencoba menggapaiku. Kekecewaanku sangat besar. Rasa sakit membuat akal sehatku hilang. Aku berteriak lantang mengusir Mamaku dan juga Papaku.


“Hiks ... keluar kalian! Aku tidak mau melihat kalian berdua! Hiks ... keluar! Keluar! Huwaaaa ... keluar! Aku membenci kalian, hiks!” jeritku.


Aku melihat Mama berusaha menyentuhku dan Papa menahannya. Dadaku sesak sekali, ya, Allah. Andai saja, Mama dan Papa bisa sedikit menurunkan egonya dan ini tidak akan pernah terjadi paduku. Andai saja ... semua kini tinggal berandai-andai karena nasib telah menjadi bubur.


“Salsa, hiks,” isak Sakina memelukku. Aku kembali mematung. Hanya lolong isak tangisku memenuhi ruangan.

__ADS_1


“Kamu tenang, Sa. Ada aku di sini,” ujar Sakina. Ia mengusap air mataku. Tatapanku meredup. Apakah aku masih pantas hidup?


Aku telah ternodai. Apakah Mario akan kecewa padaku dan meninggalkanku? Ya, pasti dia pergi. Tubuhku saja tak mampu aku jaga. Dia pasti kecewa sekali.


***


Hari demi hari, kulalui dengan ketakutan. Tidurku tidak pernah nyenyak. Aku selalu memanggil Mario kala bayangan ******** itu muncul.


Aku juga terus menolak dan mengamuk ketika melihat kedua orang tuaku. Bahkan, beberapa kali aku diberikan suntk pepenang. Kata Sakina, aku akan mendapat penangan serius karena pisikisku telah terguncang.


Setiap kali juga, perawat atau sahabat-sahabatku memberikan makanan, pasti aku menolak. Biarlah aku mati saja. Sudah putus asa tentang kehidupan yang kujalani.


“Salsa, maafkan Mama, Sayang. Hiks ... Mama hanya menyanyangimu. Mama tidak tahu kalau dia akan berbuat bejat, Sa,” isak Mama. Dia menutup bibirnya kala tangisnya pecah.


“Bisakah Mama kembalikan kebahagiaanku? Bisakah Mama memutar waktu untukku? Hiks, aku telah ternoda, Ma. Hiks ... aku kotor, hiks. Kotor sekali, dan apa hiks Mama sanggup membuat membuat hal bejat itu hilang? Hiks ... apa Mama sanggup menghapus bekasnya? Hiks, apa Mama sanggup mengembalikan Kak Mario hiks? ” lirihku. Embung pagi telah menjadi rinai hujan, menghiasi mataku.


“Apa hiks Mama sanggup?! Hiks ... satu tahun, Ma, hiks ... satu tahu aku menderita. Hidup tanpa suamiku hiks dan apa Mama pernah mau mendengarkan aku? Hiks, kenapa Mama begitu egois, hiks? Aku sangat membenci, Mama. Pergi!” jeritku.


Aku menekuk lututku. Menyembunyikan wajahku. Tidak peduli jarum infus melukai tanganku. Namun, aku tak sanggup lagi menahan semua perasaan sesak dalam hatiku.


Kebahagiaanku telah direnggut paksa dan kini pun, aku hidup dalam bayangan ******** itu. Aku hidup, ragaku di sini, tetapi jiwaku entah di mana. Jantungku masih berdetak, tetapi napasku separuh telah hilang.


"Kembalikan kebahagiaanku, hiks."


***


Saat semua orang sibuk menikmati masa dunia perkuliahan, aku justru rutin datang ke psikiater. Setelah di rawat selama hampir dua minggu di rumah sakit, aku keluar dengan catatan harus rutin cek up.


Miris memang, tetapi ini adalah takdir yang Allah gariskan untukku. Namun, untuk berdamai dengan masa lalu, aku masih tak mampu. Terlalu berat melupakan semua.


“Sa, kamu mau ke kampus, gak?” tanya Afiah. Dia selalu menemaniku ke rumah sakit.


“Iya, Sakina juga sudah menunggu dari tadi,” ujarku.


“Baiklah. Aku telepon Kak Bayu buat siapkan mobil dulu,” ujar Afiah. Sampai sekarang aku tidak tahu hubungan seperti apa yang dijalani Afiah dengan Kak Bayu.


Sesampainya di kampus, aku segera masuk ke kelas. Entah, aku selalu merasa keringat dingin sendiri saat berhadapan dengan dosen. Tanganku saling bertautan. Pelipisku terasa banjir keringat.


“Dosen.” Suara itu terus datang dan berbisik. Kumohon jangan kambuh sekarang. Bayangan lelaki itu mulai muncul. Napasku tersenggal.


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua orang menatapku. Apakah aku berteriak? Tidak ada yang bisa kulakukan. Sampai kesadaranku hilang.


***

__ADS_1


Di mana aku? Ruangan yang terasa sangat asing saat pertama kali sadar. Mataku berkeliling mencari tahu, kali saja ada jawaban tentang keberadaanku.


Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Sesekali memejit pelipisku. Suara orang berdebat mulai terdengar.


Tubuhku terasa kaku. Tak mampu bergerak saat melihat seorang wanita yang telah menghancurkan rumah tanggaku duduk di sofa.


Dahiku mengerut melihat punggung kokoh pria yang membelakangiku. Meski tidak melihat wajahnya, tetapi aku yakin dia adalah orang yang kunantikan selama ini.


“Mama mau kamu menikah dengan Eva! Dengar, keluarga Salsa hanya mau memanfaatkanmu! Mama kira selama kamu keluar negeri, otakmu bisa berpikir jernih!”


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikahi wanita ini! Dia mencuci otak, Mama. Salsa tidak pernah selingkuh, Ma. Demi Allah, istriku sangat patuh, dan menghargaiku.”


“Ceraikan Salsa! Untuk apa wanita itu kamu pertahankan! Tidak ingatkah kamu saat orang tuanya datang, ha?! Salsa itu gila! Untuk apa dia ke psikiater?!” hardik mertuaku.


“Aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita lain!”


“Pikirkan baik-baik atau Mama akan mencabut namamu dari daftar anggota keluarga kita! Ayo, Eva kita pergi.”


Tubuh tegap itu berbalik dan mata kami saling memandang satu sama lain. Matanya terlihat sayu. Ia berjalan gontai ke arahku. Bibirku mulai bergetar.


“Sa, ak—“


Plak!


Aku mendaratkan tamparan keras di pipinya. Kenapa baru sekarang? Ke mana dia saat aku membutuhkannya? Ke mana dia?


“Hiks, kenapa baru datang, hiks? Ak—aku hiks ... aku, hancur. Hikss ... ya, Allah!” Aku menggelengkan kepala. Meremas dadaku kuat.


“Kenapa, Kak? Hiks ... aku kotor, aku hina dan aku gila!” jeritku.


Tubuhku ditarik ke dalam dekapannya. Aku meronta, betapa sesaknya. Rumah tanggaku hancur.


“Maaf,” sesalnya.


“Hiks ... aku kotor,” isakku. Tanganku meremas kuat baju Kak Mario. Pelukan ini yang sangat aku tunggu selama ini, untuk melindungiku dari pecahan beling yang orang taburkan ke relung hatiku.


Aku melepas pelukanku. Tubuhku merosot jatuh ke bawah. Perlahan aku menarik diriku mundur dan memeluk erat lututku.


“Aku kotor, hiks. Maaf,” isakku.


Da, lagi-lagi, dia merengkuhku. Berapa kali ia mendaratakan ciuman di keningku. Hingga aku kembali jatuh pinsang tak mampu membendung kesedihan dan keterkejutanku.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2