
I'm not fine, but i'm belive you.
.
Salsa POV
“Salsa terpaksa saya keluarkan di sekolah.”
Tubuhku terasa dingin mendengar keputusan Pak Reno. Mataku memanas. Menahan bulir-bulir kristal bening agar tidak tumpah ruah. Tidak boleh menangis di depan Bu Eva. Ia akan merasa menang melihatku menangis.
“Apa tidak ada cara lain, Pak Reno? Berikan dia skrosing saja,” tawar Pak Mario.
Pak Reno menggelengkan kepala dengan menyesal ia kembali mengatakan keputusannya. Seperti ini akhirnya, aku didrop out di sekolah. Bisa kulihat sudut bibir Bu Eva terangkat meski sangat samar sekali dan sekilas.
"Kalau begitu, saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya juga,” ujar Pak Mario.
“Pak Mario,” lirihku.
“Saya rasa, saya salah juga karena menikahi seorang remaja yang masih berstatus pelajar SMA.”
Aku berdiri dan menarik Pak Mario. “Terima kasih, Pak Reno. Saya permisi dulu. Pak Mario pasti hanya kesal, jangan dianggap serius,” ujarku dan segera menarik Pak Mario. Meski ia mengatakan perkataannya serius. Tidak akan kubiarkan dia mengorbankan dirinya.
“Kamu apa-apaan, sih, Sa?! Kalau kamu keluar, aku juga harus keluar di sini!” bentaknya. Ia mengempaskan tanganku kuat.
“Pak Mario, aku mohon. Cukup aku yang keluar dan Pak Mario bisa mengajar di sini. Seperti perkataan Pak Reno, aku di DO dan Pak Mario bisa mengajar di sini tanpa harus keluar,” bujukku.
Napas Pak Mario terdengar memburu. Aku menahan rasa takut saat melihat matanya semakin menusuk ke dalam netraku. Dengan tangan gemetar, kuusap lengannya. Berusaha meredakan emosi yang bersarang di rongga dadanya.
“Kita pulang sekarang, ya?”
Sejenak ia memejamkan mata dan menatapku dengan atensi yang lebih tenang. Tangannya merangkulku dan membawaku pergi dari sekolah.
***
Setelah salat Ashar, aku memasak. Pak Mario ikut membantuku. Namun, dia dua kali lipat lebih dingin dari sebelumnya.
Tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Hanya bisa menduga-duga. Mungkingkah ia marah soal keputusanku?
Aku begini juga karena sudah cukup dia menyelamatkanku dari segela tuduhan dan pembullyian di sekolah. Detik-detik saat ia mengatakan semua, jantungku terasa lepas dari tempatnya.
“Kalau aku di DO, sangat susah mendapat sekolah baru,” batinku.
__ADS_1
Aku menata masakanku di atas meja. Lalu, membereskan piring, dan pisau yang kupakai tadi. Nanti sekalian setelah makan baru mencucinya.
***
Pak Mario hanya menjawab dengan deheman atau jawaban singkat ketika kucoba mengajaknya bicara. Begitu kecewanya dia.
“Pak Mario, setelah ini, kita bicara,” ujarku.
“Iya.”
Aku membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel. lalu, mencucinya. Setelahnya, aku menata di rak piring.
“Pak Mario,” panggilku saat berada di kamar. Ia berbaring membelakangiku.
“Hm,” dehemnya.
Kuberanikan diri memeluknya. “Aku minta maaf soal masalah bully itu. Gak maksud buat menyembunyikannya. Pak Mario sudah terlalu sibuk, dan aku juga maunya fokus sama ujian. Gak tahu hari ini bisa sekacau ini,” lirihku.
Dia masih diam. Baiklah, aku akan terus bicara sampai dia membuka bibirnya. “Dan, aku tidak mau Pak Mario keluar di sekolah gara-gara aku. Aku tahu, itu sekolah favorite Pak Mario sejak dulu. Jangan tinggalkan sekolah itu. Gak apa-apa aku keluar dari sana. Akan tetapi, bantu aku setelah liburan semester mencari sekolah baru,” pintaku.
“Saat kamu terluka, menanggung semua ujaran kebencian, dan tindakan kasar mereka, aku gak tahu. Bahkan saat kamu dikeluarkan, aku merasa tidak berguna, Sa,” gumam Pak Mario.
Pak Mario berbalik. Menghadap ke arahku. “Im not fine, Mario,” lirihku tanpa memanggilnya embel-embel ‘pak’ biarkan malam ini semua kucurhakan perasaanku kepadanya.
***
07:03
Baju olahraga satu set telah kukenakan. Sepatu sport warna putih membalut kakiku. Aku memakai jilbab pasang warna hitam.
“Sudah siap!” teriakku menghampiri Pak Mario. Kami keluar dari apartemen. Rencananya jogging.
“Wah, ramai juga, ya, sekitar sini kalau minggu,” ujarku melihat sekeliling jalanan banyak orang jogging.
“Selalu ramai. Biasanya setengah delapan makin ramai. Waktu kuliah, aku suka jogging juga,” ujar Pak Mario.
“Pak Mario kenapa baru mengajakku sekarang? Kalau aku tahu ada tempat sebagus ini, aku ajak Sakina dan Afiah.”
Pak Mario berhenti berlari. Aku ikut berhenti. “Kenapa?” tanyaku.
“Aku mengajakmu jogging berdua bukan ramai-ramai. Jangan ajak kedua temanmu itu.” Bibirku berkedut mendengarnya. Ah, rupayanya laki-laki dingin ini mulai mencair lagi.
__ADS_1
“Ok, hanya kita berdua!”
Ia tersenyum. Duh, kenapa makin tampan dan hot sekali. Keringat yang menetes di pelipisnya. Padahal dia mengenakan kaus warna putih biasa, dan juga celana trening.
“Masih sanggup satu putaran gak?” tanya Pak Mario.
“Sanggup!”
Kami berlari kecil. Sesekali diiringi obrolan ringan menganai diri kami sendiri. Ternyata Pak Mario orangnya kalau sudah diajak ngobrol nyantai. Walau sikapnya cendurung terasa dingin. Namun, jawaban-jawabannya sudah cukup. Seperti membuka diri.
“Yuk, istirahat sejenak di sana,” ajak Pak Mario.
Aku duduk di sampingnya. Posisi kakiku lurus dan perlahan jilbabku kutarik-tarik kecil. Berharap ada angin yang masuk. Tubuhku sudah lengket gara-gara keringat.
“Aku belikan kamu air dulu,” ujar Pak Mario.
Aku mengangguk. Saat menunggu Pak Mario aku membuka gawaiku. Ada pesan WA masuk dari Bu Eva.
[Selamat pagi, Salsa. Bagaimana kabarmu hari ini? Tentu menyenangkan sekali, ‘kan? Ah, bagaimana rasanya ditendang tepat di hadapan Mario? Uhg, menyenangkan sekali. Saya selalu tertawa ketika mengingat moment itu. Ini masih awal. Kamu sudah ditendang di sekolah, dan sebentar lagi saya akan buat kamu ditendang di keluarga Mario.]
Aku menyimpan gawaiku saat Pak Mario kembali. Ia menyodorkan sebotol air. Aku menerimanya dan membukanya. Pikiranku melayang tentang chat Bu Eva. Apa maksudnya?
“Kamu beda, ya, tadi sudah ceria sekarang kamu melamun. Wajah kamu juga tampa kebingungan,” timpal Pak Mario.
Aku menarik napas dalam. Lalu, merogoh gawaiku. Menyerahkan pada Pak Mario. Lebih baik jujur. Akan merepotkan ketika dia marah seperti kemarin.
Terlihat rahang Pak Mario mengeras. “Kamu tenang, ya. Aku percaya, kok, bahwa Bu Eva gak akan bisa pisahin kita,” ujarnya.
Aku menganggukkan kepala berkali-kali. “Aku percaya sama ucapan Pak Mario,” terangku.
Ya, aku memilih percaya dengan ucapan suamiku. Pernikahan kami memang berawal buruk, tetapi aku suka pada proses dan akhirnya yang indah.
Cinta ... satu kata berjuta makna yang kini kurasakan. Warna merah jambu yang berdegup tidak karuan. Menyimpan nama Mario Fahreza. Pria yang mempertaruhkan hidupnya untukku.
Awalnya, aku lebih takut dengan hantu, tetapi kini ada ketakutan lebih besar dari itu, yaitu kehilangan dari pria yang tengah menggenggam erat tanganku saat ini.
Andai tangan kami harus melepas satu sama lain. Bukan benci yang melepasnya, tetapi ketulusan cinta. Andai waktu yang kita lewati harus diperjuangkan dan dipertahankan. Akan kuserhakan segala waktu yang kupunya untuk mempertahankan milikku.
***
Bersambung ....
__ADS_1