
#Suamiku_Guru_Dingin
#SGD_35(ENDING)
Salsa POV
Aku duduk dengan gelisah menunggu Kak Zerka. Semoga saja ******** itu tidak menyentuhku terlalu dalam.
“Assalamualaikum,” ucap Kak Zerka.
“Wa’alaikumsalam.” Aku langsung berdiri dan ternyata ada Kak Bayu, Sakina dan Afiah juga. Wajar mereka datang karena soda sore, jam pulang kampus juga.
Pak Mario mempersilahkan mereka duduk. Lalu, Pak Mario menjelaskan maksudnya memanggil Kak Zerka.
“Maksud saya memanggil kamu ke sini untuk meminta menceritakan kronologis dari kamu lihat saat menolong Salsa,” ujar Pak Mario.
Kak Zerka terkejut, dia menatapku dan Pak Mario secara bergantian. Seolah bisa menebak bahasa tubuhnya, aku langsungmenyela.
“Aku baik-baik saja, Kak.” Kak Zerka menarik napas dalam dan membuangnya.
“Waktu itu saya datang ke kamar Salsa dan orang itu memang sudah full *****, begitupun dengan Salsa.” Ya Allah, jantungku mulai berdetak sakit.
Kak Zerka memandangku sejenak, mungkin ingin melihat reaksiku, lalu ia melanjutkan perkataannya,”Salsa memang dianggap dinodai, tetapi saya tidak tahu apakah orang itu menggagahi Salsa atau tidak. Saya langsung menarik orang itu dan memukulnya.”
Pak Mario mengusap punggungku saat tahu aku begitu kecewa dengan jawaban Kak Zerka. “Dengar, dinodai atau tidak, kamu tidak boleh menganggap diri kamu hina dan kotor. Bukan kamu yang menginginkannya, tetapi ini musibah,” ujar Pak Mario.
Saat masih mengobrol datang kedua orang tuaku. Apakah mereka masih pantas kusebut orang tua yang telah merenggut kebahagiaanku?
Tatapanku menyalang karena sakit hati sekali, andai saja mereka tidak menjodohkanku dengan pria itu, pasti aku tidak akan mengalami pelecehan.
“Keluar kalian!” bentakku mengusir mereka.
“Salsa,” tegur Pak Mario. Dia manarikku ke dalam dapur. Napasku tersenggal karena emosi melihat mereka.
“Kenapa membiarkan mereka masuk, Kak? Kenapa?! Mereka yang membuat kita berpisah dan mereka yang membuatku mengalami pelecehan!” jeritku.
Pak Mario menangkup wajahku meski aku mencoba menepisnya karena kesal. Dia malah tersenyum membuatku jengkel saja.
“Dia itu orang tua kamu, bagaimana pun sikap mereka. Aku tahu mereka salah, tapi cobalah untuk ikhlas menerima semuanya, Sayang. Hidup kita terus berjalan ke depan, dendam dan kemarahan di hatimu tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan,” ujarnya membuatku berhenti meronta.
“Dia memisahkan kita,” lirihku berharap suamiku mengerti betapa menyakitkan sikap dan tindakan orang tuaku.
Angguk, suamiku hanya mengangguk membenarkan. Namun, ia tetap meminta aku ikhlas menerima semua. Perlahan mencoba melupakan semua karena di balik musibah yang menimpa ada hikmahnya.
“Apa hikmahnya?” tanyaku dengan bibir bergetar.
“Allah mengizinkan kita bersama kembali, orang tuamu sadar dan tidak lagi memisahkan kita,” jawabnya.
“Lalu, kamu sendiri, Kak? Orang tuamu meninggalkanmu,” lirihku.
“Mereka akan mengerti seiring berjalannya waktu, dan jangan coba memikirkan masalah itu. Aku tidak mau kondisimu drop,” ujarnya, “dan soal orang tua kamu, nanti aku yang bicara kalau kamu butuh waktu sejenak.”
***
Mario POV
Kedua mertuaku terlihat sedih karena penolakan istriku. Aku tidak bisa menyalahkan istriku atas sikapnya karena dia sangat menderita selama ini.
“Ma, Pa, Salsa akan menerima kalian, tetapi dia butuh waktu,” ujarku membuat mereka tersenyum paksa.
“Terima kasih, Nak. Maafkan kami selama ini menilaimu salah dan mencoba memisahkan kalian. Mama tidak tega mendengar Salsa diduakan,” ujar mertua perempuanku.
“Aku mengerti, Ma. Maaf soal itu dan aku harapan Mama sama Papa menjadikan ini pelajaran. Aku tidak bermaksud mengguri kalian, tetapi setelah putri kalian menikah, itu adalah tanggung jawab suaminya. Apa pun masalah dalam rumah tangga kami, biarkan kami belajar menyelesaikannya, dan andai salah satu dari kami mengadu atau melakukan KDRT, orang tua berhak ikut campur,” ujarku.
Pernikahan yang selalu dicampuri kedua orang tua akan mengalami kekacauan. Mereka boleh ikut campur apabila suami-istri melakukan KDRT dan ada perbuataan yang bertentangan dengan norma agama dan norma hukum.
Pelajaran yang didapat mertuaku adalah tidak boleh mendengar orang lain tanpa meminta penjelasan kami berdua juga, dan tidak mencampuri hubungan rumah tangga anaknya sendiri.
Keegoisan mereka mungkin terkikis setelah peristiwa mengerikan yang di alami istriku, dan aku berharap hati kedua orang tuaku terkikis juga dan terbuka mata hatinya.
__ADS_1
***
Malamnya aku masuk ke kamar melihat Salsa bermain dengan gawainya. Kondisinya sudah berubah drastis dan dia juga mengajakku untuk shalat bersama.
Sudah lama kami tidak shalat. Betapa tentramnya perasaanku saat kami usai Shalat. Dadaku berdesir hangat kala mendaratkan kecupan di keningnya.
“Kak, aku ikhlaskan semua yang terjadi padaku dan aku ingin lembar baru kita dimulai tanpa ada bayangan masa lalu, benci dan amarah,” ujarnya.
“Terima kasih, Sayang.” Wajah Salsa terlihat bersinar di mataku. Keikhlasan hati atas cobaan yang telah menimpa rumah tangga kami.
Aku berharap sebanyak apa pun dan seberat apa pun cobaan yang datang, kami terus kuat dan tabah untuk melaluinya.
Aku pun mengajarnya untuk bercinta. Tak ada keraguan darinya, ia mengupayakan. Perlahan kudaratkan kecupan mesra pada istriku dan menghapus bekas kenangan pria itu dari tubuh istriku.
***
Terasa menggelitik di permukaan wajahku, membuatku menggeliat. Wajah jahil istriku dengan senyum cerahnya terukir. Dia tertawa melihatku diam mematung.
“Bangun, Kak. Kamu kebo banget, sih. Aku mau memberi ikan kita makanan,” ujarnya menggoyang lenganku.
“Kamu sudah masak, Sa?” tanyaku dan istriku menggeleng.
“Berikan suamimu makanan dulu baru berikan ikanmu makanan,” ujarku membuat dia cemberut. Tubuhnya menjauh saat aku bangun.
“Biasanya Kak Mario yang masak,” ujarnya membuat menarik hidungnya.
“Karena kamu sudah sembuh, maka kamu yang memasak,” ujarku dan menyingkap selimut, dia tidak memekik melihat tubuh polosku. Dasar Salsa, yang ada dia malah tergoda.
“Sana masak,” usirku.
“Dasar suami dingin, bukan berikan morning kiss malah ngusir,” gerutunya.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Kaus oblon dan celana pendek menjadi pilihanku karena kami hanya bersantai di rumah.
“Jadi, sekarang Kak Mario kerjanya apa kalau bukan guru?” tanya saat menggoreng, entah apa yang dia goreng.
“Ya, aku kira Kak Mario sudah jadi seperti CEO-CEO di novel, punya perusahaan kaya raya dan berpengaruh,” gerutunya.
“Enggaklah, Sa. Mana bisa jadi perusahaan berpengaruh, kalau pun berpengaruh paling di kota itu saja dan berpengaruh dengan perusahaan yang diajaknya kerja sama,” timpalku.
“Terus perusahaan Kak Mario di mana?” tanya lagi. Dia masih sibuk dengan spatulanya.
“Di Australia,” ujarku, mendengar dia mengatakan WOW pasti dia menanggapi lain lagi.
“Perusahaan itu bukan milikku saja, Sa. Ada beberapa temanku menjadi foundernya. Di mana bisa aku membangun perusahaan di luar negeri,” ujarku.
“Kak Mario membuyarkan fantasiku. Aku pikir akan memiliki suami CEO, apalagi Kak Mario itu dingin begitu, cocok banget jadi CEO. Rahang tegas, hidung mancung, alis tebal dan bibir—“ Dia menyentuh seluruh permukaan wajahku dan berhenti tepat di bibirku.
“Seksi,” lanjutnya dan terbahak.
Aku menggeleng melihat tingkahnya dan dia mulai menata makanan. Terpaksa Salsa menganggur dulu untuk tahun ini dan aku menjadikan waktu dia untuk menikmati masa remaja yang ia lewati selama ini.
Salsa sering bermain dengan Sakina dan Afiah. Mereka bertiga sering mejok di ruang tamu dan menikmati cemilan keripik. Bahkan kaleng soda sering menempuk karena mereka bertiga.
Aku sendiri memberikan temanku tanggung jawab penuh terhadap perusahaan. Lalu, aku berencana tahun depan melanjutkan studyku, yaitu jenjang pendidikan S3.
Untuk Eva sendiri setelah dicepat karena sifatnya, memang tidak sepantasnya dia berbuat begitu. Akan tetapi, mendengar niat awalnya untuk masuk ke sekolah bukan ingin menjadi guru, melainkan mengincarku. Niat yang tak lurus pada akhirnya hasilnya tidak akan baik. Tak ada pun, meski tidak menutup kemungkinan di luar sana banyak seperti Eva, walau terasa mustahil seorang guru melakukan perbuatan itu.
Semoga dia diberikan kesadaran bahwa cinta tak harus memiliki dan cinta bukan hadir lewat cara kotor. Mencintai seseorang, harus tetap menjaga harga diri. Jangan jatuh karena cinta, karena itu akan membawamu pada lembah dosa.
Meski sekarang tidak tahu kabarnya selain dia membuka restoran, aku berharap dia diberikan hidayah dan kebahagiaan sendiri.
Napasku tanpa sadar berembus sedikit kasar kala mengingat kedua orang tuaku. Meski mereka sudah mengatakan mencoretku, tetapi akhir-akhir ini mereka menemuiku. Meski dia belum bisa menerima sepenuhnya istriku atau mereka sedang gensi? Entah.
Dan terakhir Yoga, pantas prilakunya tidak mencerminkan seorang Dosen, dia memang bukan Dosen. Melaikan asisten Dosen di kampus yang jaraknya cukup dengan rumah mertuaku. Namun, dia sudah mendapat hukuman penjara akibat perbuatannya.
“Aku akan menata masa depan kita yang telah diporak-porandakan, Sa,” batinku.
***
__ADS_1
Deru ombak terdengar, suara gemuruh angin mengeletik. Beberapa remaja dan orang dewasa saling berkejaran satu sama lain. Ada juga yang memainkan bola volly.
Beberapa turis menjemur dengan bekini. Lalu, gadis cantik yang mengenakan topi warna cream, dan baju putih tertawa ke arahku.
“Wahhh ... Kak Mario, aku pertama kali ke Bali, loh,” ujarnya takjub menatap sekelilingnya.
Aku membawa Salsa ke Bali sebagai liburan pertama kami. Keindahan Bali menjadi panorama mata. Sejuk angin meneduhkan perasaan yang sempat layu.
“Aku mau jalan-jalan di bibir pantai, terus mau mandi di sana.” Salsa membuka sepatu dan kos kakinya. Dia mengajakku ke bibir pantai.
Rasa dingin menjalar pertama kali saat kaki menginjak pasir yang basah akibat ombak. Salsa menjerit kesenangan dan mengcipratkan air ke arahku.
“Hahaha, serunya.” Dia malah tertawa melihatku basah kuyup karena perbuatannya.
Aku segera mengcipratkan air ke arahnya. Dia terbahak-bahak dan kami akhirnya saling bekejaran dan jatuh saat ombak menghantam kami. Lebih tepatnya aku berusaha melindungi Salsa dari hantaman ombak, tetapi malah jatuh bersama.
“Hahahaha.” Tawa kami meledak membuat beberapa orang menatap ke arah kami. Pantai sedang ramainya karena weekend.
Seharian kami bermain ombak dan mengabadikan moment kami di sini. Lalu, mencari makanan di sekitar pantai.
“Errr, segar banget! Kak Mario habis makan kita buat rumah pasir,” ajaknya.
“Iya, makan dulu.”
Setelah makan, kami kembali bermain, tetapi kali ini bermain pasir. Salsa membuat rumah dan menulis nama kami berdua setelah selesai.
“Ini rumah kita,” ujarnya seperti anak kecil saja. Namun, senyumku merekah melihatnya.
Aku mengajaknya berjalan menyusuri bibir pantai. Hari pun mulai sore, matahari sudah mau terbenam. Cahaya jingganya begitu memuja.
Aku memeluk Salsa dari belakang. Kami sama-sama menikmati keindahan senja. Meresepai kebersamaan kami di tengah keindahan alam.
Terima kasih Tuhan atas wanita yang jauh lebih indah dan cantik dari senja engkau jadikan sebagai takdirku.
Dan, babku telah usai tentang hari ini. Mengakhiri dengan senja yang menemani kami.
“Kak, apa lebih indah dari senja?” tanya berbalik dan mengalungkan kedua tangannya di leherku.
“Memilikimu,” jawabku membuat dia tertawa. “Kalau kamu?” tanyaku.
“Ini—“ Mataku terpejam kala benda kenyal itu mendarat di atas bibirku.
Dan semoga senja ini sebagai penutup dari segala kesakitan yang pernah kami rasakan.
***
💟TAMAT💟
Pesan Penulis :
Assalamualaikum, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kekurangan dalam tulisanku. Pesan yang aku angkat di dalam kisah Salsa dan Mario adalah, janganlah selalu menyimpulkan masalah sendiri, dan dalam suatu hubungan jangan mementingkan ego dan kurang komunikasi, karena kepercayaan tercipta seiringnya kita berkomunikasi dengan pasangan kita.
Untuk orang tua juga, coba pertimbangkan segala tindakan yang diambil sebelum melangkah jauh, karena penyesalan selalu datang di akhir. Jangan juga ikut campur dalam hubungan rumah tangga putra dan putri kalian apabila di dalam rumah tangga mereka tidak melanggar norma-norma agama dan hukum. Biarkan mereka belajar membina rumah tangga.
Dan, ketika kamu dihadapakan masalah atau musibah yang snagat sulit untuk dilupakan atau membuatmu marah hingga benci, belajarlah untuk memaafkan karena setiap musibah yang menimpa selalu Allah titipkan hikmah dibaliknya. Juga, jangan membuat dirimu jahat karena cinta.
+++
Terima kasih dan saya akan melanjutkan Season Kedua dari Cerbung “Suamiku Guru Dingin” dengan judul “Suamiku Senior Killer” Hanya ganti judul, tetapi ini kelanjutan dari kisah Mario dan Salsa.
Bagaimana Hot Daddy melanjutkan pendidikannya setelah berhenti jadi guru di kampus yang sama dengan istrinya?
Terima kasih supportnya. 💕
Tata
__ADS_1