Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-31


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SGD_31


Kuterima segala kekuranganmu.


.


Salsa POV


Kelopak mataku terbuka dan kepalaku terasa berdenyut-denyut. Ringisanku mulai terdengar. Kamar ini, aku kembali ke sini. Mataku mencari sosok Pak Mario.


Di mana dia? Apa yang aku pikirkan setelah mengakui bahwa aku wanita hina dan kotor. Pasti dia pergi, meninggalkanku seorang diri sini.


Perlahan aku mulai bangun, menatap kosong ke depan. Sekarang, aku tak tahu cara untuk bernapas. Satu-satunya orang yang menjadi sandaranku, telah meninggalkanku.


Napasku kembali tersesat. Bayangan-bayangan itu mulai muncul. Aku berteriak histeris. Hingga seorang pria datang dan memelukku.


“Hiks ... lepaskan! Hikss ... jangan sentuh aku! Pergi!” jeritku merasa jijik.


“Salsa!” Aku terhenyak dengan bentakannya. “Ini aku, Mario,” ujarnya.


Mata sembapku menatapnya—ia terlihat khawatir. Hingga jarinya mengusa bulir-bulir kristal yang berjatuhan di wajahku. Dengan lemah, aku menyandarkan tubuhku. Rasanya teramat lelah. Bisakah aku beristirahat sejenak? Walau hanya untuk sedetik saja.


“Kamu tenang, ya, jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu,” bisiknya bagai mantra untukku. Tentang dan damai, walau hany sesederhana itu yang ia ucapkan.


Tangannya membelai suraiku. Begitu lembut sekali, seolah aku adalah kain sutra yang ia belai.


“Aku kotor,” isakku. Ia melonggarkan pelukannya untuk menatap wajahku dan aku tidak tahu seberantakan apa waahku saat ini.


Kepalanya menggeleng, tidak membenarkan perkataanku. “Kamu tetap wanita berharga. Kamu tidak kotor, lelaki ******** itu yang kotor. Jangan pernah anggap dirimu hina, Sayang,” ujarnya.


Dahi kami menyatu, biarkan harsa ini. Hidupku telah terluluh lantahkan. Kapal yang mencoba berlayar, tenggelam di dasar lautan yang paling dalam. Luka yang tertacap di ulu hatiku, menjadi trauma terbesarku.


Dan, meski kini semua mengatakanku, aku wanita gila, tetapi suamiku tetap berada di sampingku. Hingga dunia ingin tahu penyebab aku yang selalu keutakutan dan histeris di dalam kelas.


Mereka hanya ingin tahu dan ingin mengatakan bela sungkawa terhadap kejadiaan naas yang menimpahku, tanp mereka peduli bahwa lukaku semakin menganggap setiap kali kejadian terburuk itu dibicarakan.


Mereka tak tahu, aku terluka untuk mengingat semua itu dan di sini aku berjuang untuk melupakannya.Walau semain aku mencoba mencari cahaya, tetapi kegelapan yang kutemukan. Aku telah terperangkat di dalam lukaku.


***


Mario POV


“Dia trauma karena pelecehan, dan mentalnya sudah buruk sejak lama. Ia terlalu tertekan dan stress, sampai masalah ini datang, memicu mentalnya. Ia akan ketakutan saat semua kejadian itu kembali ia ingat. Seseorang yang trauma, harus punya keinginan kuat untuk sembuh dan dukungan dari orang sekitarnya, terlebih pada keluarganya sendiri.”


Masih terginang penjelasan dokter psikiater Salsa di kepalaku. Aku pergi bukan untuk melihatnya menderita. Setelah pertemuan terakhir kami, aku terpaksa meninggalkannya tanpa pamit, karena tidak tega melihatnya menangis.

__ADS_1


Keberadaan Medusa itu harus aku cari dan juga ancaman Mama tentunya. Bukan takut dengan Mama, tetapi berharap dengan ada waktunya, mereka bisa mengerti.


Namun, aku salah, justru ruang yang telah kuberikan digunakan dengan pikiran semakin buruk. Hingga aku tahu ternyata Eva selalu mengirim Mama pesan. Menghasutnya semakin dalam.


Lalu, perjodohan dan surat cerai yang Mama berikan membuatku murka. Aku kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di Australia.


Bukan tanpa alasan juga aku ke sana, aku membangun perusahaanku sendiri. Memulai dari nol tentunya butuh waktu yang lama dan setelah satu tahun, perusahaanku mulai berkembang. Di sana aku menitip pada orang kepercayaanku selama aku pulang.


Dan sekarang, aku datang ke rumah. Keputusanku sudah bulat dan biarlah terjadi, waktu akan memperbaiki segalanya.


“Ma, Pa, aku ke sini mau bicara sesuatu,” ujarku. Aku duduk di depan kedua orang.


“Apa yang mau kamu katakan, Mario?” tanya Papa.


Aku menarik napas dalam dan menatap kedua orang tuaku. Berat, tetapi harus aku lakukan. Salsa adalah tanggung jawabku.


“Ma, Pa, aku sangat minta maaf, tetapi aku memilih bersama Salsa.”


Plak!


Rasa panas menjalar ke permukaan wajahku. Mama menamparku atas keputusan yang kuambil.


“Kamu menjadi anak durhaka karena istrimu! Mama akan mencoret nama kamu dari keluarga kita! Sekarang pergi!” usir Mama.


Papa berusaha menenangkan Mama, tetapi Mama semakin berang. Aku meninggalkan rumah.


***


“Salsa, kamu makan dulu,” ujarku membangunkan Salsa dari lamunannya.


“Sa,” panggilku. Bukan ia menjawab, melainkan bulir embun yang menetes membalai pipih putihnya.


“Jangan menangis dan larut dalam kesedihan. Aku tidak jijik atau membencimu, semua bukan karena keinginanmu. Sekarang kita makan dulu, aku akan melakukan sesuatu kepadamu,” ujarku seraya mengusap pipinya dengan jempol tanganku.


Melihat dia masih murung, aku menarik kedua sudut bibirnya agar membentu senyuman. Perlahan ia tersenyum—namun, sangat menyanyat karena senyum itu bukan senyum menggoda seperti biasa, tetapi senyum kepedihan.


“Kamu mau makan apa?” Dia menggelengkan kepalanya dan berbaring.


Wajah Salsa semakin tirus dan bibirnya yang selalu merona merah, kini terlihat membiru. Sakina, Afiah, Zerka dan Bayu sering datang ke sini untuk menghibur Salsa, tetapi wanitaku terlihat seperti patung.


Setiap kali aku mencobanya bicara, dia hanya menangis dan menangis. Ingin sekali membunuh keparat sialan itu. Gara-gara dia istriku seperti mayat hidup.


Aku mengambil gawaiku di atas meja. Menelepon Doter Yuandi untuk datang ke rumah. Ya, rumah yang kami tempati adalah rumah minimalisir yang kubuangun untuk kami berdua. Aku juga membangun kolam ikan untuk Salsa, walau ikannya masih kecil.


Aku mencium keningnya dan keluar dari kamar saat bunyi bel terdengar setealah beberapa menit. Kebetulan Dokter Yuandi sangat dekat di sini.


“Silakan masuk, Dok,” ujarku.

__ADS_1


“Iya,” sahut Dokter Yuandi.


Aku mengiringnya ke kamar. Dia mulai memeriksa kondisi Salsa. Melihat Dokter Yuandi menghela napas berat, rasanya bogem mentah menghantam ulu hatiku.


“Kita bicara di luar,” ujar Dokter Yuandi.


Kami keluar dari kamar. “Kondisi Salsa semakin buruk. Dia seolah mengurung diri sendiri di tempat yang jauh dan gelap, di mana tak ada satu orang pun di sana. Kondisinya seperti ini akan membuat dia terpasung dalam masa lalunya. Ini sangat bersifat fatal, Pak Mario. Apakah dia melakukan sesuatu?” tanya Dokter Yuandi.


“Dia hanya diam tanpa mengucapkan satu patah kata lagi, Dok. Biasanya saya melihat dia menangis. Setiap kali saya mengajaknya bicara, dia akan berbaring,” jelasku. Aku mengusap wajahku mendengar kondisi Salsa.


“Apa yang membuat di trauma, itu bisa menjadi obat untuk dia sembuh. Salsa truma melihat seorang laki-laki dalam kondisi tertentu, apalagi saat bayangan pelecehannya muncul. Semua berhubungan dengan laki-laki itu pun dia trauma,” jelas Dokter Yuandi. Aku menyimaknya. Demi Tuhan, apa pun akan kulakukan demi kesembuhan istriku.


“Setiap dia ke kampus dia akan histeris, Dok. Kata mertua saya, ini karena pria itu seorang Dosen, dan juga setiap kali saya datang dan menyentuh tangannya, dia akan histeris.”


“Pak Mario, coba terus bicara dengan Salsa sampai dia sadar dan tidak hayut dalam kesedihannya. Jiwanya seperti terkurung di suatu tempat dan buat dia marah, menangis tahuu apa pun yang bisa mebuat dia mengeluarkan semua emosinya, dan juga perasaan yang dia rasa saat ini,” ujar Dokter Yuandi.


Aku mengangguk dan mengantarnya ke depan setelah dia pamit pulang. Setelah Dokter Yuandi pergi, aku kembali ke kamar menemui Salsa.


Brak!


Aku terperanjat kaget saat membuka kamar. Dia menatapku dengan ketakutan. Walau berusaha menyebut namaku dia tetap histeris. Kondisinya semakin buruk.


“Pergi!” teriaknya.


“Sa, ini aku Mario,” ujarku.


“Hiks, pergiiiiiii!” jeritnya.


Brang!


Dia melempar bantal ke arahku. Menatapku penuh ketakutan dan benci. Pasti traumanya kembali kambuh. Aku mencoba menggapainya, tetapi dia meronta.


“Sayang, ini aku Mario.” Salsa semakin meraung.


“Hiks ... pergi kau, ********! Hiks ... jangan sentuh aku! Jangan!” teriaknya.


“Sa,” panggilku saat dia memegang ponselnya. Ia melemparkan ke arahku. Kepalau terasa berdenyut. Merasa sesuatu mengalir di pelipisku, aku menyentuhnya. Darah.


Tapi aku tidak peduli, mencoba mendekati dan memeluknya. Ia meronta-ronta sampai mulai tentang. “Aku Mario, suamimu,” lirihku.


“Hiks ....”


Begitu pedih lukamu, Sayang.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2