
#Suamiku_Guru_Dingin
#SGD_29
.
Salsa POV
Selamat tinggal putih abu-abu. Masa remajaku telah usai. Membuka lembar baru. Yang tak tahu bisakah lebih baik atau bahkan sangat buruk dari tahun lalu.
Dia yang kunantikan, belum pernah datang menemuiku. Semua orang melompat kesenangan. Bukankah, aku harusnya ikut senang atas kelulusanku? Namun, aku memisahkan diri dari kerumuan siswa lainnya.
Mencari taksi dan kembali ke rumah. Tak ada istimewa mengenai hari kelulusanku. Apa artinya menjadi lulusan terbaik? Saat bibirku tak mampu tersenyum.
Sesampainya di rumah, aku mendapati kedua orang tuaku bersama pasutri yang sebaya dengannya. Di sana, ada seorang pria. Mereka menatapku sembari menyunggingkan senyum.
Aku hanya memasang wajah linglung. Apa yang terjadi di sini. Mama menarikku ke kamar dan mengambil surat perceraian di atas laciku.
“Tanda tangani ini, Salsa. Mama mohon sama kamu. Lupakan Mario, kamu pantas bahagia dengan yang lain, Nak. Yoga—dia orang yang baik.” Aku menatap Mama dengan pandangan tak percaya. Kenapa Mama selalu menjodohkanku?
“Ma, Salsa gak akan pernah mau tanda tangani surat itu. Sampi kapan pun! Salsa hanya mencintai suami Salsa!” Aku mundur ke belakang. Menangisi takdirku.
“Apa yang kamu harapkan dari Mario?! Dia bahkan sudah bahagia dengan wanita lain?! Kamu jangan bodoh, Salsa! Mama tidak akan membiarkan keluarganya melukai harga diri kita!” teriak Mama marah.
“Harga diri? Hiks, harga diri apa, Ma? Harga diri seperti apa yang mencoba Mama lindungi?! Aku menderita, Ma! Hiks, aku menderita!” Genangan embun tumpah ruah di pelupuk mataku. Aku menggelengkan kepala. Kenapa orang tuaku bisa seegois ini?
“Selia begitu pamer jika putranya akan menikah dengan seorang wanita berasal dari keluarga kaya raya. Nama wanita itu Eva. Mama tidak mau kamu semakin terluka,” lirih Mama.
Eva? Maksudnya Bu Evakah? Bagaimana bisa mertuaku menjodohkan Pak Mario dengan wanita iblis itu? Hey! Aku masih sah menjadi istrinya! Dia tindakan memaduku.
“Semua bohong, Ma. Hiks ... Eva, wanita itu guruku. Dia hiks, dia juga yang membuat kalian semua salah paham, karena dia mencintai suamiku,” isakku.
Mama teguh dengan pendiriannya. Ia melemparkan surat cerai yang terlah diutusnya. “Ceraikan Mario! Mama tak habis pikir, begitu bodohnya kamu membelanya! Jangan durhaka, Salsa. Mama akan melanjutkan perjodohan kamu dengan Yoga!”
Blam!
Mama meninggalkan kamar dengan amarahnya. Batinku begitu pilu. Memanggil nama Pak Mario.
“Aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki mana pun, hiks.” Aku mengambil surat cerai itu dan merobeknya. Aku benci kata perceraian!
“Huwaaaaa!”
__ADS_1
***
Jangankan untuk menyapanya, memandangnnya saja aku enggang. Sejak tadi, kami hanya diam. Ah, lebih tepatnya aku yang diam. Walau dia terus mencoba mengajakku mengobrol. Aku acuh tak acuh dengannya.
Mama memaksamu untuk jalan dengan Yoga. Pria yang menjadi pilihannya. Jangan harapkan keramahan hatiku.
“Kamu mau lanjut kuliah di mana, Sa?” tanyanya.
“Di sini,” jawabku sekenanya.
“Kamu mau ambil jurusan apa? Aku mengajar di Universitas terdekat di rumah kamu. Aku dosen Matematika,” ujarnya mencoba SKSD.
“Kalau sudah selesai makan, aku mau pulang.” Aku berdiri. Tak peduli wajah kecewanya.
“Sa, kita jalan-jalan dulu. Kamu mau ke mana?” tanyanya. Apa dia tidak menyerah, setelah seminggu tidak ada perubahan dengan sikapku?
“Tempat paling aku inginkan adalah di mana suamiku berada!” Aku meninggalkannya.
Mario, bahkan satu tahun telah berlalu. Kamu belum datang. Apakah janjimu telah kau ingkari? Jangan membuatku menunggu dengan janji yang tak tahu kapan pastinya kau tepati.
Aku juga berharap, Yoga mengerti. Tak seharusnya dia memperjuangkanku yang masih mengharapkan suamiku.
Andai, aku berpisah karena bertengkar hebat dengan Mario, mungkin ada jalan untuk membuka hati. Namun, perpisahan ini, sama sekali bukan keinginan kami berdua.
***
Aku mengambil gawai dan mengirim pesan kepada Sakina dan Afiah.
[Sakina, Afiah, aku merasa tidak enak. Gelisah seharian.]
Aku mendadak resah melihat centang satu. Kedua sahabatku tidak online. Hingga ketukan pintu terdengar.
“Siapa?” tanyaku. Ternyata Mama.
“Sa, Mama sama Papa keluar kota malam ini. Kamu baik-baik di rumah.” Aku mengangguk.
Kepergiaan Mama akan aku maanfatkan. Aku menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Mencari gawaiku. Di mana benda itu?
Di lacinya pun tidak ada. Lalu, di mana lagi? Lemarinya terkunci. Setiap lembar berkasnya aku buka-buka. Barangkali ada terselip di sana.
“Di mana, ya?” gumamku.
__ADS_1
Hampir putus asa. Sampai aku menemukan kunci. Aku mencobanya dan terbuka! Yes! Akhirnya.
Aku segera mencari gawaiku. Ketika melihatnya di bawah tumpukan baju Mama, aku langsung mengambilnya.
Ting-tong!
Gawiaku kusimpan di dalam saku baju tidurku. Siapa malam-malam bertamu ke sini? Mama dan Papa ‘kan baru saja keluar.
Saat membuka pintu, ternyata Yoga yang datang. Kenapa dia ke sini?
“Aku datang karena permintaan Tante,” ujarnya. Aku membuka pintu membiarkannya masuk.
Kami duduk di sofa. Bulir keringat muncul di permukaan tanganku. Beberapa kali, aku memerogok Yoga menatap ke arahku.
Ada perasan waswas ketika dia menatapku, terlihat seperti tatapan—engh mesum. Pikiranku mulai berkecamuk. Aku pura-pura pamit ke kamar mandi.
Aku segera menyalakan ponselku. Ternyata masih ada baterainya walau hanya 50%. Lalu, mencari kontak Pak Mario.
Nada dering mulai tersambung, tetapi tidak ada yang menjawabku. Bahkan hingga naka sambung ke empat, tidak ada yang menjawabnya.
“Kak Mario, kamu ke mana, sih?” resahku. Tubuhku menengang saat mendengar suara derap langkah kaki.
Brak!
Tubuhku tersentak kaget. Yoga membuka kasar kamarku. Degup jantungku menggila. Aku berusaha tenang. Jangan panik! Jangan panik! Calm down, Sa!
“Ka—kamu nagapain ke sini?” tanyaku.
Yoga mendekat—tatapannya terlihat menyeramkan. Aku mulai ketakutan. “Kenapa kamu tidak mau denganku, Sa? Aku sudah berusaha untukmu selama ini? Apa yang kamu harapkan dari pria tidak bertanggung jawab seperti Mario?" tanyanya.
Beraninya pria brengsek ini mengatai suamiku! Aku geram dibuatnya. “Jangan pernah mengatakan dia Kak Mario tidak bertanggung jawab!” Rahangku mengeras.
Dia menyeringai licik. Tatapannya membuatku ingin melayangkan tamparan keras. Ia mendorongku, sampai aku terjatuh di atas kasur.
“Ap—apa yang kau lakukan, Brengsek?!” teriakku marah.
“Aku akan memperkosamu. Jika, kau mengandung bayiku, kita akan menikah,” ujarnya.
Aku meronta kuat. Cekalan tangannya semakin kuat. Ya, Allah, sekarang aku merasa hina. Dilecehkan.
“Lepaskan!” teriakku.
__ADS_1
***
Bersambung ....