Suamiku Guru Dingin

Suamiku Guru Dingin
SGD-23


__ADS_3

#Suamiku_Guru_Dingin


#SDG_23


.


Salsa POV


Entah angin apa yang membuat Pak Mario mengajakku liburan. Kami sudah bersiap-siap berangkat ke Yogyakarta. Kata Pak Mario di sana ada rumah neneknya.


“Pak Mario sudah pamit sama ‘kan sama Mama dan Papa?” tanyaku saat ia memasukkan koper kami di bagasi.


“Iya, sudah,” jawabnya.


Aku masuk ke dalam mobil dan memasang setabletku. Liburan pertama kami semenjak menikah.


Di perjalanan, aku memainkan gawaiku. Bertukar chat dengan Sakina dan Afiah. Mereka meledekku habis-habisan karena liburan dengan Hot Daddy.


[Bulan madunya jangan sampai kebobolan bawa ponakan.” Sakina menggodaku lengkap dengan emot menjulur lidahnya.


[Aku senang saja jika ada anggota baru di dalam keluarga kalian, hehehehe.]


Aku menggeleng membaca balasan Afiah yang ikut menimpali godaan Sakina.


[Aku serahkan semua kepada Hot Daddy.]


Aku cekikikan melihat balasannya. Ah, Afiah tiba-tiba offline. Membuatku hanya chat dengan Sakina.


Mataku membulat sempurna saat nama Kak Zerka muncul di kepalaku. Bayangan pria itu meminta aku membantunya sebagai imbalan saat camping hampir kulupakan. Astaga!


[Sakina, kamu sudah baikan dengan Kak Zerka? Dia benar-benar punya memori dan aku selalu lupa mengambilnya dari Hot Daddy. Andai aku belum berangkat, aku akan mampir memberikanmu.]


Aku melihat titik tiga muncul. Sakina mengetik.


[Tidak apa-apa. Kami sudah berbaikan, tetapi berikan aku memori itu. Aku membutuhkannya untuk membalas seseorang.]


[Iya, sepulang dari Yoyga, aku akan berikan.]


***


Tubuhku menggeliat pelan. Saat tepukan kecil terasa di pipiku. Mataku mengerjab menyusuaikan silau.


“Enghhh, kita sudah sampai Pak?” tanyaku.


“Belum, masih lama. Mampir dulu untuk makan.” Aku sontak melihat ke arah jendela mobil. Restoran cepat saji.


“Kamu pasti lapar,” ujarnya. Ia keluar dari mobil. Aku mengambil napas dan membuangnya. Terlalu lama naik mobil membuat kepalaku pening.


Aku orangnya jarang mabuk jalanan. Namun, kalau sudah mabuk jalanan, moodku sudah rusak. Tidak berhenti mual-mual. Namun, aku baru merasakan beberapa gejalanya. Seperti kepala pening dan terasa mau mual.


“Pak Mario kecapean gak? Mau aku gantikan menyetir?” tanyaku sambil mengunyah makananku.


“Kamu bisa menyetir?” tanyanya.


Aku menjawab dengan ragu karena dulu belajar menyetir dan berakhir menabrak pembatas jalan. Mobil papa berakhir di bengkel karena rusak parah. Namun, papa tidak marah, dia bersyukur aku tidak apa-apa.


“Aku ... engh ... sepertinya masih bisa. Walau sempat menabrak pembatas jalan,” ringisku membuat Pak Mario menolak.


“Tidak perlu. Kita bisa berakhir di rumah sakit. Lagian, aku sanggup menyetir sampai ke sana.”

__ADS_1


Aku melanjutkan makanku. Selesai makan, kami mencari masjid untuk salat. Lalu, melanjutkan perjalanan kami.


***


02:00


Aku menatap sekelilingku dengan tatapan bingung. Jalanan lenggang. Meski langit masih gelap.


“Kita sudah sampai,” ujarnya.


“Ah, pegalnya!” keluhku.


Aku turun dari mobil dan menatap sekelilingku. Pemandangan di sini asri dan sejuk. Ada taman bunga dan juga kolam ikan.


Beberapa bunga anggrek mencuri perhatianku saat kami melewati jalan setapak. Sepertinya sang Pemilik Rumah menyukai bunga anggrek.


Tok tok tok!


Ceklek.


Wanita bersurai hitam putih menyambut kami. Ia memeluk Pak Mario dan beralih memelukmu. Dengan kikuk kubalas pelukannya.


“Inikah istrimu, Mario? Cantik sekali,”pp00 pujinya membuatku pipiku berubah merah jambu.


“Iya, Nek. Dia istriku, namanya Salsabila,” ujar Pak Mario.


Kami masuk ke dalam. Interior rumah ini sangat mengangumkan. Banyak benda-benda tradisional di sini.


Mataku menyipit karena senyum saat melihat foto yang terpajang di dinding. Pak Mario mengenakan baju ala khas Yogyakarta.


“Itu foto lama,” ujarnya.


“Nenek sendirian. Tapi, banyak sanak saudara juga di sini berkunjung ke rumah Nenek.”


Pak Mario membawaku ke sebuah kamar. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman. Mataku berkeliling menatap seklilingku.


“Ayo tidur lagi,” ajak Pak Mario.


Aku melemparkan tubuhku kepadanya. Tampak sekali gurat-guratan lelah menghias wajahnya.


***


Mario POV


Aku memutuskan mengajak Salsa liburan. Masalah yang dia dapatkan di sekolah bisa sejenak ia lupakan.


Masih terisisa rasa marah di dalam diri. Perbuatan Bu Eva membuatku geram. Bisa-bisanya dia diam dalam situasi seperti ini.


Ck, pasti dia sengaja. Kenapa bisa aku mengangumi wanita sepertinya? Dia bukan Eva yang aku kenal. Wanita yang tutur bahasanya lembut dan intonasi suaranya yang rendah, telah hilang.


“Aaaaaaaaaaa! Aku dapattttt!”


Suara teriakan Salsa membuatku kaget. Apa yang ia lakukan di luar sana? Dengan cepat, aku ke kamar mandi.


Di kolam ikan terlihat Salsa dan sepupu jauhku memancing. Nenek membuat bara api. Aku bergabung dan ikut memancing.


“Pak Mario, aku dapat ikan! Seru banget pas dia tarik pancinganku,” pekiknya senang.


“Mana ikanmu?” tanyaku.

__ADS_1


“Ini ... aaaa besar banget, 'kan ... 'kan? Pak Mario ayo kita tanding dapatkan ikan lebih besar. Kata Nenek di sini ada ukuran jumbo,” tantangannya.


Aku melihat ikan yang didapat Salsa. Lumayan besar. Nenek memelihara ikan sejak dulu. Sejak mediang Kakek masih hidup, kami sama-sama memelihara ikan.


Waktu liburan semester saat kuliah, aku suka datang ke sini. Namun, sejak menjadi guru waktuku berkunjung ke sini mulai berkurang.


“Sa, kamu panggil suami kamu apa?” tanya Gia kepada Salsa. Dia pasti tidak sadar memanggilku Pak dengan suara keras begitu.


“Enghh ... hehehe aku suka keceplosan manggil dia Pak karena kebiasaan di sekolah,” ujarnya cengengesan.


“Ya sudah. Mancing lagi.”


Suasana ramai karena kedatangan Gia, Feli, Rian dan Anggi. Aku melirik pancing Salsa. Terlihat mulai bergerak. Ia memekik senang. Kenapa dia seheboh itu memancing?


“Aaaa sebentar lagi aku dapat ikan! Semoga saja ikan yang besar tadi memakannya. Aku melihatnya memunculkan wajahnya di permukaan air. Semoga ... semoga ... ayolah!”


“Tarik, Sa!” teriak Feli.


“Ish, kok berat gini,” paniknya.


Ia kesulitan menarik pancingannya. Sampai tubuhnya tertarik. Sontak aku melepaskan pancinganku dan menahan tangannya. Akan tetapi tepi kolam ikan sangat licin hingga tubuh kamu tergelintir jatuh ke dalam kolam.


“Hahaaha.”


Gia, Feli, Rian, Anggi dan Nenek menertawakanku bersama Salsa. Tangan Salsa mengalung di leherku.


“Aku gak bisa berenang,” ujarnya.


Aku membawanya keluar dari kolam renang. Tubuh kami bau amis dan pancing Salsa putus. Dia merengek minta diperbaiki.


“Pancingku rusak. Perbaiki dulu,” pintanya.


“Gak ada mata pancing lagi. Nanti sore kita keluar beli. Sekarang ganti baju dulu,” ajakku.


Kami pamit ke dalam mandi. Untuk mempersingkat waktu, kami mandi berdua. Lalu, bergabung kembali. Ikan bakar telah tersaji.


“Yummy! Tiap hari kita mancing gini. Aku suka banget suasana di sini. Sejuk, dan pemandangannya bagus. Ditambah bakar-bakar ikan,” puji Salsa.


“Nanti sore kita ke kebun stroberi, Kak. Nenek punya kebunnya, loh,” ajak Gia.


“Mau ... mau! Aku jadi betah tinggal di sini. Terus apa lagi di sini?”


Salsa antusiasi sekali mendengar cerita Gia. Nanti sore kami akan ke kebun storoberi. Biarkan istri bocahku melakukan semua keinginannya.


“Habis balik ke kebun, kita beli mata pancingan, ya, Kak,” ujarnya.


“Iya, kamu hobi mancing, Sa?” tanyaku karena dia tidak melupakan masalah mata pancing.


Ia mengangguk semangat. “Aku suka sekali memancing. Tapi, lebih suka mancing Kak Mario hahahaa!”


Aku tercengang mendengar candaannya. Bisa-bisanya dia mengatakan itu saat ada orang lain. Nenek dan lainnya tertawa mendengar perkataan Salsa.


“Dasar nakal.”


Ia malah mengedipkan mata dan terbahak-bahak.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2