
Dan benar saja sesampainya Dara dan Lala, di butik sudah disambut Adel dengan wajah cemberutnya.
"Sudah lama Del ?". tanya Dara dengan tanpa dosanya sambil nyengir.
"Setiap pagi nunggu kalian, yang datangnya terlambat dan tanpa dosanya tanya gitu lagi. Pasti lagi cek CCTV lagi kan makannya telat terus kalian". tanya Adel.
"Udah deh pagi-pagi jangan ngomel-ngomel nanti cantik nya hilang, mending kita masuk aja, kalau masih mau ngomel-ngomel silakan aja. Aku sama Dara mau masuk". seru Lala yang tanpa dosanya.
"Punya kakak senior bukannya memberi contoh yang baik ke juniornya, eh..ini malah sering datang terlambat". gerutu Adel.
"Udah ah, ayo masuk nanti keburu bu Ratih datang loh". sahut Dara sambil mendorong Adel memasuki butik.
Setelah mereka memasuki butik, langsung saja mereka mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Selang beberapa menit bu Ratih sudah datang.
"Selamat pagi semua". sapa bu Ratih yang baru saja memasuki butik.
"Selamat pagi juga bu". jawab Dara, Lala dan Adel serempak.
__ADS_1
"Dar ikut saya sebentar ya".
"Baik bu". jawab Dara dan mengikuti bu Ratih memasuki ruang kerja beliau.
"Oya Dar, bagaimana gaun pesanan anak tante salma. Audah sampai tahap mana pengerjaannya?. tanya bu Ratih setelah duduk di kursi ruangannya.
"Alhamdulilah sudah tahap delapan puluh lima persen bu, tetapi sepertinya kita membutuhkan bantuan mbak sarah bu, karena untuk pemasangan payet pada bagian sayap gaun Adel belum terlalu bisa bu". sahut Dara
"Emmm...oke nanti saya akan menghubungi sarah untuk membantu pekerjaan kamu".
"Oya Dar, besok kan hari minggu, kamu serta Lala dan Adel datang ke rumah ya jam sepuluh." lanjut bu Ratih.
"Besok saya mau ngadain syukuran kecil-kecilan aja, sekalian kumpul-kumpul keluarga gitu, bisa kan kalian?".
"Kalau saya mah sudah pasti bisa bu bos, saya mah free gak ada kegiatan apa-apa, tapi gak tau kalau Lala sama Adel bu, coba nanti saya tanya ke mereka?". jelas dara.
"Dara jangan panggil saya bu bos, harus berapa kali saya jelaskan cukup panggil bu Ratih, tapi kalau kamu mau kamu bisa panggil saya dengan sebutan Bunda". protes bu Ratih kepada Dara yang selalu memanggil bu bos.
__ADS_1
"Hehehe..jangan marah bu nanti cepat tua loh, bu Ratih kan memang bos kita-kita, saya gak enak bun, saya kan cuman karyawan ibu. Masa iya saya panggil ibu, dengan sebutan Bunda".jelas Dara yang sungkan memanggil bu Ratih dengan sebutan bunda.
"Saya memang sudah tua Dara, saya sudah sepantasnya menimang cucu.Tapi anak sulung saya belum mau menikah, padahal dia sudah mengincar seorang gadis yang dia cintai". keluh bu Ratih yang seakan curhat kepada Dara.
"Hah yang bener bu, mas Ray udah puny incaran seorang gadis?. Yah gagal dong saya mau daftar". keluh Dara dengan wajah lesu nya, Reyhan adalah anak sulung bu Ratih yang baru saja pulang dari Amerika, Rey panggilan yang Dara buat untuk Reyhan.
"Rey?. Maksud kamu Rayhan anak saya Dar?. Kamu menyukai anak sulung saya". tanya bu Ratih dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Hehehe iya bu, Rey adalah panggilan saya ke mas Reyhan, siapa yang gak suka dengan mas Rey bu. Udah baik, tampan, dan ramah, saya mah mau aja kalau diajak nikah sama mas Ray bu. Tapi saya hanya mengagumi aja, karna saya sadar siapa saya bu, apalagi mas Rey anak ibu. Jauh kali bu perbedaannya lagian mas Rey juga udah punya gadis incaran bu".
"Saya senang kalau kamu mau menjadi menantu saya Dar. Dara saya memang punya segalanya, tetapi saya tidak memandang seseorang dengan derajatnya bagi saya kita itu sama, sama-sama manusia, harta yang saya miliki hanya titipan, jika saya meninggal harta tidak saya bawa mati Dar". jelas bu Rati.
Apa yang dikatakan bu Ratih memang benar, dia tidak memandang siapa gadis yang akan mendampingi Reyhan kelak, bu Ratih tidak memandang status maupun bibit bobot bebet seseorang maupun. Karna bu Ratih pernah merasakan berjuang dari nol sebelum sukses seperti sekarang.
"Bu Ratih mau saya menjadi menantu ibu, tetapi belum tentu mas Rey mau bu, dan belum tentu juga saya bukan tipe mas Rey bu. Cukup saya mengagumi mas Rey aja bu, sola jodoh gak nya hanya Allah yang tau".
Dara tidak tau bahwa semua omongannya diawasi oleh seseorang melalu gawai nya, karna orang itu selalu mantau Dara lewat CCTV yang terhubung langsung dengan gawai nya dan bu Ratih tau akan hal itu.
__ADS_1
Kedua sudut bibirnya tertarik menerbitkan seulas senyuman, saat dia mendengar bahwa Dara menyukainya sama hal apa yang dia rasakan, dia menyukai Dara saat pertama bertemu Dara di butik sang bunda.