SURAT PENYEMANGAT

SURAT PENYEMANGAT
BAB 06


__ADS_3

Kini aku, Bram, Bunda dan Revi sudah sampai di restoran bang Irfan. Restoran ini adalah salah satu usaha om Ardian yang sekarang diserahkan kepada bang Irfan, untuk dikelola karena om Ardian sendiri mengelola usaha Restorannya yang lain. Dan Restoran yang dikelola om Ardian nantinya akan diserahkan oleh bang Irwan adik bang Irfan, karena saat ini bang Irwan memilih bekerja di Korea menjadi seorang Chef disana. Karena menjadi seorang Chef adalah impian bang Irwan, dan sekarang impian itu telah terwujud, dan sekqrang dia menjadi Chef di Restoran Korea ternama disana. Sebelum bang Irwan pulang ke Indonesia untuk meneruskan mengelola Restoran om Ardian. Bang Irwan meminta ingin memperdalam keahliannya terlebih dahulu menjadi seorang Chef. Bang Irwan pulang ke Indonesia kalau dia mendapat jatah cuti tahunan.


Kami memasuki Restoran bang Irfan. Restoran ini sangat ramai, setelah memasuki Restoran, aku melihat mbak Sarah yang sedang berada di meja kasir. Dia ikut serta melayani pelanggan yang mau membayar setelah mereka selesai makan.


"Tante Ratih", teriak mbak Sarah yang membuat sebagian pelanggan menoleh ke arah mbak Sarah . Karena teriakannya. Lantas dia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari area meja kasir, dan berjalan ke arah kami untuk menyambut kedatangan kami.


"Tante Ratih, Revi, Bram..Reyhan kapan kamu pulang dari Amerika" sapa mbak Sarah.


"Baru tadi mbak!, dari Bandara aku langsung menuju ke butik bunda, dan terus kesini untuk makan siang bersama" terangku kepada mbak sarah.


"Oh..Sebentar aku panggilkan mas Irfan dulu ya, dia sedang berada di dapur. Karena dia sedang berada didapur sedang mencoba membuat resep baru. Kalian duduklah dulu, dan kamu Reyhan siap-siap menerima amukan abang mu. Karena kau tak pulang saat kita menikah" jelas mbak Sarah yang aku balas dengan cengiran. Setelah mbak Sarah pergi untuk memanggil bang Irfan, kami menuju kesalah satu meja untuk kami duduk.

__ADS_1


Yaa, saat bang Irfan. Dia menghubungiku dan memintaku untuk pulang. Karena ia akan menikah dengan mbak Sarah yang dulunya karyawan butik bunda, karna saat itu penyelidikan akan kasus kecelakaan ayah dan ada pertemuan rapat penting. Aku tidak bisa memenuhi permintaan bang Irfan untuk pulang dan tidak dapat menghadiri permintaan bang Irfan. Bukan hanya aku yang tidak hadir di acara pernikahan bang Irfan.


Bang Irwan pun tidak dapat hadir di acara penting kakaknya. Karena tiga bulan sebelum acara pernikahan bang Irfan, bang Irwan lebih dulu pulang, karna sudah mendapat cuti tahunan. Dan hal itu membuat Bang Irfan marah dan kecewa terhadapku dan terhadap Bang Irwan, marah dan kecewanya Bang Irfan bukan untuk selamanya tapi hanya sesaat. Karena ia tahu akan kesibukanku dan profesi Bang Irwan.


Dari arah dapur Bang Irfan dan Mbak Sarah keluar secara beriringan, dengan Mbak Sarah mengapit lengan kanan Bang Irfan. Dapat kulihat Bang Irfan sangat bagia telah bisa hidup bersama dengan Mbak Sarah.


"Akhirnya kau pulang juga bocah tengil, aku memang menunggu kepulangan mu, dan sekarang kau sudah pulang, tinggal aku menunggu kepulangan Irwan. Tega sekali kalian berdua dihari bahagiaku kalian memang bocah tengil" ucapa Bang Irfan mengeluarkan kekesalannya dengan menarik telingaku.


"Auww..Ampun Bang. Kan Bang Irfan tau sendiri kalau disana. Aku sangat sibuk bang", ucapku kesakitan karena jeweran Bang Irfan cukup kuat hingga telingaku sakit.


"Bang Irfan tenang saja. Hadiah untuk Bang Irfan dan Mbak Sarah, sudah aku kirimkan ke rumah Bang Irfan, dan mungkin sekarang sudah sampai" jelasku.

__ADS_1


"Mas lepasin tangan kamu dari telinga Reyhan, tuh lihat telinga Reyhan sampai merah gitu", sahut Mbak Sarah yang kasihan melihatku meringis kesakitan, akibat jeweran Bang Irfan.


"Mas belum puas menjewer telinga bocah tengil ini sayang, dan terimakasih atas hadiahnya nanti aku akan lihat hadiah apa yang kamu kasih ke aku, awas aja kalau hadiah yang aneh-aneh", ucapa Bang Irfan yang belum mau melepaskan tangannya. Bram dan Revi malah tertawa yang melihatku dijewer Bang Irfan, sedangkan bunda geleng-geleng kepala melihat aku dijewer.


"Kalau mas gak lepasin telinga Reyhan. Nanti malam mas tidur diruang tamu. Lagian kalau mau menghukum ya harus adil bukan hanya Reyhan aja yang mas jewer, tetapi Irwan juga yang mas jewer", ancam Mbak Sarah sekaligus protes ke Bang Irfan.


"Eh..Jangan sayang, oke oke mas lepasin, tapi jangan suruh mas tidur diruang tamu ya, kali ini kami selamat tapi jangan senang dulu, tunggu kalau Irwan pulang akan aku hukum kalian berdua",terang Bang Irwan.


"Huh..Suami takut istri",gumam ku yang ternyata, masih bisa terdengar mereka.


"Apa kau bilang!", seru Bang Irfan. "Sini aku jewer lagi telingamu, kalau perlu kedua telinga mu aku jewer. Biar sama-sama sakit", lanjutnya dengan berusaha menggapai telinga ku lagi, untuk aku cepat menghindar bersembunyi dibalik badan Mbak Sarah. Sedangkan Bram dan Revi makin tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Masss", tekan Mbak Sarah dengan berkacak pinggang dan mata melotot, ku julur kan lidahku ke Bang Irfan dan juga senyum mengejek.


"Tapi dia mengejekku sayang", seru Bang Irfan manja. Aku yang melihat nya malah geli sendiri dengan muka manja Bang Irfan, manjanya Bang Irfan terhadap Mbak Sarah semakin membuat Bram dan Revi terbahak-bahak tak bisa terhenti sampai mengeluarkan air mata.


__ADS_2