SURAT PENYEMANGAT

SURAT PENYEMANGAT
BAB 08


__ADS_3

Jika nanti aku memiliki istri. Aku ingin yang seperti Bunda. Yang tidak memandang sebuah status, drajat seseorang atau pun sombong dengan apa yg dimiliki.


"Kau tak akan menyesal Reyhan. Jika nanti kamu menikah dengan Dara. Dia anak yang baik dan ramah, dia adalah anak pertama dari dua bersaudara, dia mempunyai adik laki-laki.


Alasan dia bekerja disini karna dia ingin, merubah nasibnya dan keluarganya. Dia membantu ibunya mencari uang untuk biaya sekolah adiknya. Ayahnya sudah meninggal karna sakit, maka dialah yang membantu ibunya mencari uang. Karna dia anak pertama.


Cukup banyak aku tau tentang kehidupan Dara. Karna dulu waktu aku masih menjadi karyawan Tante Ratih. Dara selalu curhat tentang kehidupannya, kadang aku ikut pulang ke kampung Dara untuk menikmati masa libur dulu.


Mbak cerita tentang Dara kepada kamu Reyhan, bukan maksud memaksa kamu untuk dekat dengan Dara. Mbak hanya ngasih tau kamu tentang Dara, jika memang kamu menyukai Dara", panjang lebar Mbak Sarah menceritakan prihal kehidupan Dara kepada ku.


"Revi juga dekat dengan Mbak Dara kok kak, orangnya baik, seru, dan ramah. Jika memang kakak benar-benar suka sama Mbak Dara. Revi bisa bantuin kakak buat deket dengan Mbak Dara", saran Revi.


"Entahlah, kakak kan baru bertemu dia tadi di Butik Bunda. Rev".


"Baru ketemu tapi, sudah membuat jantung tidak aman ya Rev. Malah sampai tidak berkedip lihatnya, jalan saja sampai mau jatuh. Hahahaha", tawa Bram yang telah mengejek ku.


"Hahahaha..Dasar bocah tengil, kalau Tante dan Revi sudah oke. mending gas maszehh, pepet terus jangan kasih kendor. Apa mau aku ajarin cara mendekati cewek seperti, yang aku lakukan saat mendekati istriku".


Tuh kan mulai deh Bang Irfan menggodaku, gara-gara Bram nih.


Aku baru bertemu dengan Dara. Akan aku pastikan terlebih dulu hati ini, jika setiap pertemuanku dengan Dara. Jantungku masih merasakan hal yang sama, maka aku akan berusaha mendekati Dara, tetapi dengan cara ku sendiri.

__ADS_1


Aku juga tidak mau salah dalam memilih pasangan hidup. Karena aku hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupku, bersama perempuan yang benar-benar tulus mencintaiku, tanpa memandang kekayaan ku.


"Kakak tau setiap aku ke Butik menemani Bunda. Aku selalu ikut makan siang dengan Mbak Dara, Mbak Lala dan Adel. Kakak tau aku selalu menceritakan tentang kak Reyhan kepada mereka, dan kakak tau siapa yang paling antusias saat aku bercerita tentang kakak.


Mbak Dara lah yang paling antusias, bahkan saat aku memperlihatkan foto kakak, dia seperti terpana dengan ketampanan kakak ku ini. Dan semenjak itu Mbak Dara selalu ingin tau tentang kakak". aku mendengarkan cerita Revi. Seakan aku juga merasakan hal yang sama, saat Mbak Sarah bercerita tentang Dara pun jantung ini tidak aman, seperti yang dikatakan oleh Bram.


"Ooo.. Pantas saja tadi Dara, juga melihat Reyhan dengan mata takjub dan senang, ternyata mereka berdua sama-sama telah menyukai dengan pandangan pertama. Dan aku pastikan jantung nya berdegup kencang, walau hanya mendengar nama Dara" ucap Bram. " Nah kan jantung kami tidak aman bro, hanya mendengar cerita tentang Dara. Hahahah".


"Sialan kamu Bram", garam ku terhadap Bram, yang selalu tau apa yang aku rasakan sedari tadi.


"Coba saja, Nak. Bunda setuju dan merestui jika kamu dengan Dara", ucap Bunda yang tiba-tiba memberi restu.


"Iya Reyhan. Cobalah mendekati Dara, supaya kamu tau kepribadiannya". Mbak Sarah juga memberi saran.


"Enak saja, tidak boleh", reflek aku tutup mulutku dengan tangan saat Bang Irfan menjodohkan Dara dengan Bang Irwan.


"Aku akan mencoba mendekati Dara, dan menyakinkan diri aku terhadap Dara, tetapi tapi tidak secara langsung", terang ku. Aku tidak mau perempuan yang sudah membuat aku begini, jatuh ke tangan laki-laki lain.


Aku akan mencoba mendekatkan diri, kepada Dara. Tetapi dengan cara diam-diam, karena sepertinya aku belum ada keberanian untuk mendekati Dara. Secara langsung.


Mungkin melalui sebuah surat. Aku akan mendekati Dara dengan sebuah surat. Aku juga perlu tau sikap dan kebiasaannya, walaupun Bunda dan Revi sudah tau sifat dan kebiasaan Dara. Akan tetapi aku ingin tau dan melihatnya sendiri.

__ADS_1


"Hahaha.. Lihatlah Tante anak laki-laki Tante ini. Baru aku ancam begitu saja sudah panik, padahal mendekati saja belum, makannya cepat bertindak jangan melamun saja. Jangan di ancam dulu baru mau bertindak", goda Bang Irfan, malah disambut gelak tawa oleh Bunda, Revi, Bram dan Mbak Sarah tentunya Bang Irfan juga ikut tertawa.


"Semua itu butuh proses Bang", ucapku cemberut.


"Sudah-sudah jangan kau goda adikmu lagi Irfan, tuh lihat mukanya sudah cemberut begitu", ucap Bunda. Lalu kita makan bersama-sama.


***


"Tante sudah selesai. Maaf Tante tidak bisa lama-lama disini, karena Tante harus menyelesaikan rancangan pesanan orang", terang Bunda.


"Tidak apa-apa Tante. Terimakasih sudah mampir kesini. Kalian hati-hati dijalan", ucap Bang Irfan.


"Iya Tante, Reyhan, Revi, Bram. Terimakasih sudah mampir. Oya Tante, kalau tante butuh bantuan Sarah. Sarah siap membantu Tante", sahut Mbak Sarah.


"Terimakasih sayang. Nanti kalau Tante butuh bantuan mu, pasti Tante akan menghubungimu. Yang terpenting jaga kandungan mu baik-baik. Jangan terlalu kecapean dan istirahat yang cukup", ucap Bunda memberi wejangan terhadap Mbak Sarah.


Saat ini Mbak Sarah sedang hamil muda. Aku itu , karena saat Mbak Sarah positif hamil. Bang Irfan mengabari ku. Dengan rasa haru bercampur bahagia. Bang Irfan bercerita, bahwa dia akan menjadi seorang Ayah. Enam bulan pernikahan, ternyata Allah memberi kepercayaan kepada Bang irfan dan Mbak Sarah, dengan memberi mereka momongan.


"Aku pamit dulu Bang. Mbak Sarah. Sekali lagi selamat atas kehamilan Mbak Sarah", ucapku memberi selamat kepada mereka berdua.


"Terima kasih Reyhan. Semoga berhasil mendekati Dara", ucap Mbak Sarah dengan memberi semangat. "Ya terimakasih dan hati-hati dijalan. Jika kau kesulitan mendekati Dara, jangan sungkan meminta bantuan ku", jelas Bang Irfan, yang ku balas dengan senyuman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2