SURAT PENYEMANGAT

SURAT PENYEMANGAT
BAB 07


__ADS_3

Ekspresi Bang Irfan yang takut dengan Mbak Sarah membuat aku, Bunda, Bram dan Revi tertawa. Bisa dipastikan Bang Irfan bucin terhadap Mbak Sarah, itu sudah terlihat sedari dulu, saat Bang Irfan mengejar Mbak Sarah. Selalu salah tingkah saat bertemu dengan Mbak Sarah, selalu datang kebutik bunda dengan alasan ada urusan dengan bunda. Padahal itu hanya alasan Bang Irfan agar dia bisa selalu melihat Mbak Sarah.


"Sudah-sudah..Sekarang kita makan, nanti keburu dingin makanannya. Dan kamu Reyhan berhenti mengejek Abang mu", ucap Bunda.


"Benar kata tante Ratih, nanti setelah makan baru kamu lanjutin aksi manja kamu itu, biar Bram dan Revi makin mentertawakan mu. Kamu apa gak malu sama adik-adik mu dengan tingkah manja kamu tadi mas", jelas Mbak Sarah.


"Sudah jangan ribut-ribut, tuh lihat para pelanggan melihat ke arah kita", lerai Bunda.


***


"Bagaimana dengan urusan disana Reyhan?", tanya Bang Irfan setelah kita selesai makan.


"Alhamdulilah urusannya sudah selesai Bang. Dan dalang atas kecelakaan ayah sudah ketemu dan dipenjara", terang ku.


"Syukurlah kalau yang mengakibatkan kecelakaan Om Kurniawan sudah dipenjara", ucap Bang Irfan.


"Iya Syukur Alhamdulilah. Bunda juga sudah tenang kalau semuanya sudah selesai Reyhan", sahut Bunda.


"Oya..Tante apa bocah tengil ini pulang dengan tangan kosong?" tanya Bang Irfan.


"Maksudmu oleh-oleh fan?, tante tidak membutuhkan oleh-oleh. Yang penting Reyhan pulang dengan selamat dan sehat, tante sudah senang", terang Bunda.

__ADS_1


"Bukan oleh-oleh tante, tetapi seseorang yang dibawa pulang. Kau di Amerika dua tahun, apa tidak ada wanita yang kau sukai?, dan kau bawa ke indonesia untuk kau kenalkan kepada keluarga kita, sebagai calon istri?".


Ternyata itu yang dimaksud Bang Irfan diumur ku yang ke dua puluh sembilan ini memang seharusnya aku sudah saatnya, memikirkan tentang perempuan yang menjadi teman hidupku. Tetapi aku belum ada niatan tentang itu, lagian aku juga tidak ada pacar.


"Tidak ada Bang. Kalau pun aku menikah aku akan menikah sesama orang Indonesia saja, toh aku juga belum ada niatan tentang hal itu Bang", ucap ku.


"Kau dan Irwan sama saja, yang dipikirkan hanya kerja, kerja dan kerja. Ingat kau ini sudah umur dua puluh sembilan tahun, sudah saatnya cari pendamping", saran Bang Irfan.


"Tante setuju dengan ucapan mu fan!, memang sudah waktunya kamu mencari pendamping Reyhan. Karena bunda sudah ingin menggendong cucu", sahut Bunda.


"Suruh Bang Irwan dulu yang menikah, baru Reyhan menikah Bun. Kalau soal cucu, kan sebentar lagi, bunda akan mendapatkannya dari Bang Irwan dengan Mbak Sarah".


"Apa maksudmu Bram, jangan mengada- ngada kamu. Diam aja kalau kamu tidak tau apa-apa, bicara yang tidak-tidak. Mau aku potong dua puluh persen gaji kamu", sahut ku mengancam Bram, pasti tadi dia memperhatikan ku saat memandang Dara.


Sepertinya Bram memperhatikanku dan memahami, cara pandang ku terhadap Dara tadi. Ah sial hanya menyebut namanya saja membuat detak jantungku tak normal begini.


"Hah..Siapa kak Bram. Karyawan bunda yang mana?", sahut Revi, ku pastikan nih anak, tidak akan berhenti bertanya sebelum dia mendapatkan jawabannya.


"Itu Rev, yang menyambut kedatangan kakak dan kakakmu tadi, kalau gak salah namanya Dara. Rev, kau tau tadi kakakmu itu memandang Dara, tanpa berkedip. Bahkan saat berjalan menuju tangga pun sesekali kakakmu itu akan menoleh kearah Dara", terang Bram.


Sial Bram, ternyata Bram memperhatikan ku yang tadi. Kalau begini pasti Bang Irfan akan memberitahu ke semua sepupuku dan akan menjadikan aku bahan godaan saat berkumpul. Tapi apa memang benar kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya menyebut namanya saja sudah membuatku seperti ini.

__ADS_1


"Benar itu kak?, kalau memang benar tidak masalah iya kan Bun!", tanya Revi yang menoleh kearah Bunda. "Malah Revi dukung. Lagian Mbak Dara orangnya baik, gak aneh-aneh. Lebih baik kakak sama Mbak Dara aja ketimbang sama anaknya Tante Indah yang caper dan centil itu".


"Hus..Gak baik ngomong gitu Rev, kalau bunda sih terserah Reyhan aja. Bunda tau Reyhan pasti bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak", jelas Bunda.


"Anaknya Tante Indah yang mana Rev?", tanya Mbak Sarah.


"Itu loh Mbak, anak Tante Indah yang jadi model yang sering pesan baju di Butik Bunda. Dia kan suka sama Kak Reyhan sedari dulu". ucap Revi.


"Oh.. Oliv" ucap Mbak Sarah yang membulatkan mulutnya, dan hanya di balas anggukan kepala oleh Revi.


"Tuh denger Tante Ratih dan Revi mendukung Bro. Jadi sikat saja, tapi kalau kamu gak mau, biar aku aja yang deketin Dara" terang Bram.


Ku lempar tissue, yang sebelumnya aku remas-remas, kearah Bram. Entah kenapa saat Bram bilang ingin mendekati Dara, seakan aku tidak rela atau tidak terima. Apa iya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.


"Reyhan belum tau pasti Bun. Lagian Reyhan baru bertemu Dara pertama kali ini. Terus apa bunda tidak masalah jika Reyhan, dekat dengan Dara secara. Dara adalah karyawan Bunda?" jelasku.


"Bunda tidak mempermasalahkan sebuah status atau pekerjaan atau sebuah status. Karna menurut Bunda kita sama saja. Bunda tidak memandang status atau drajat", ucap Bunda.


Inilah yang aku suka dari Bunda. Tidak membedakan sebuah status ataupun drajat seseorang, semua kalangan sama saja dimata Bunda. Walaupun Bunda seorang istri pemilik perusahaan RR Grup. Tapi Bunda tidaklah sombong.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2