
...[Keceriaanmu membuat semacam sinar matahari dalam pikiran, mengisinya dengan ketenangan yang mantap dan abadi....
...Keceriaanmu adalah suasana dimana segala sesuatu berkembang, tidak ada yang lebih indah dari keceriaan di wajah cantikmu....
...Kegembiraan membuat hati dan wajah awet muda....
...Tertawa yang baik membuat kita berteman lebih baik dengan diri kita sendiri dan semua orang disekitar kita.]...
Aku senang mendengar celotehan mu walau dari jarak yang jauh aku bisa mendengarnya, keceriaanmu saat berbicara atau bercanda dengan senyum manis yang menghiasi wajahmu. ingin sekali aku mendengarkan kecerewetanmu dengan jarak yang dekat dan dengan memandang wajah cantikmu. Tetapi ini belum saatnya aku datang mendekat kepadamu.
Selamat istirahat dan selamat makan siang gadis cantik ku, jangan lupa dimakan makanannya, aku tahu ini adalah makanan kesukaanmu.
Dari ku penggemar rahasiamu R.K.
Dara memasukan kembali kertas yang berisikan kata-kata yang ditunjukkan kepadanya kedalam amplop, tadi sebelum jam makan siang ada, kurir pengantar makanan untuk. Dara serta sebuah surat yang selalu dia dapat di jam makan siang.
"Mbak Dara, berarti orang ini selalu memantau mbak Dara dengan sangat detail ya mbk. Kok aq jadi ngeri ya mbak, aku kalau jadi mbak Dara udah gak berani keluar rumah, jelas kemungkinan orang ini mengawasi mbak Dara dua puluh empat jam dong". Tanya Adel yang penasaran sekaligus mengutarakan dugaannya.
"Ya..Begitulah del, sampai aku heran nih orang apa gak ada kerjaan lain ya". Jawab Dara dengan mengendikan bahunya.
"Tahu gak del, tuh surat disimpan Dara sampai numpuk satu kardus. Gue heran tuh kenapa gak dibuang aja suratnya". Seloroh Lala.
__ADS_1
"Yang bener mbk Dara?, masa udah satu kardus?". Tanya Adel ke Dara yang seakan gak percaya dengan omongan Lala.
"Dih gak percaya amat kamu del, sama aku". sahut Lala yang cemberut karena Adel seakan tidak mempercayai perkataannya.
"Bukan gak percaya mbak, kadang mbak Lala kan suka iseng ke Adel. Makanya Adel ragu dengan omongan mbak Lala, udah jangan cemberut gitu ampe bibirnya maju lima senti gitu mbak". Canda Adel
Dara yang mendengar perdebatan antara Lala dan Adel hanya geleng-geleng kepala, sudah hal wajar jika Lala dan Adel memperdebatkan hal yang sepele. Karena wajar saja Adel kurang percaya dengan Lala, karena Lala sering menjahili Adel, dengan perkataan konyol nya atau perkataan unfaedahnya.
"Apa yang dikatakan Lala ada benarnya del, surat-surat yang aku dapat dari orang berinisial R.K ini tidak pernah aku buang. Aku simpan aja dan alhasil numpuk sampai satu kardus". Penjelasan Dara membenarkan perkataan Lala, agar mereka berhenti berdebat, jika tidak dilerai maka mereka berdua tidak akan berhenti berdebat.
Saat Lala ingin berbicara ternyata bu Ratih datang dari arah ruang kerjanya. Karena ruang istirahat mereka berada di lantai dua, bersebelahan dengan ruang kerja bu Ratih.
"Ada apa nih kok ribut-ribut? terus kayaknya serius banget kalian". Tanya bu Ratih yang memang dari tadi mendengarkan obrolan ketiga karyawannya dari ruangan nya melalui CCTV.
"Ehh.. ibu Ratih, ini bu biasa kita lagi ngomongin tentang surat-surat yang sering Dara terima bu". Jawab Lala
"Oohh.. Kirain ada hal yang serius. Dara masih sering dapat surat misterius itu?. Tanya bu Ratih yang pura-pura penasaran.
"Masi bu..tanpa terlewatkan malah, maklumlah Dara kan gadis cantik dan imut, hehehe. Dalam sehari mungkin sepuluh surat yang Dara terima bu". Dengan ke pede.annya Dara menjawab pertanyaan bu Ratih.
Kepedean Dara lah yang membuat seorang laki-laki yang sekarang fokus menatap layar ponselnya, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar omongan Dara.
__ADS_1
Sama hal nya dengan bu Ratih yang juga geleng-geleng kepala dan tersenyum mendengar jawaban dari Dara.
"Apa kamu tidak mau mencari orang itu Dara?. Siapa tahu dia selalu ada didekat mu atau bahkan kamu dan orang itu sudah saling tatap muka, tetapi kamu tidak menyadari itu?. Tanya bu Ratih yang mencoba memancing keingin tahuan Dara.
"Sejujurnya saya pengen banget malah bu, tapi setiap pagi atau sore pulang kerja. Saya selalu meminta cek CCTV kepada bu Wanda, tetapi hasilnya sama saja bu. Pasti CCTV bu Wanda rusak atau gak gitu eror. Dan saya juga tidak tahu bu apa pernah bertatap muka dengan orang itu bahkan didalam surat pun tidak ngasih tahu ciri-ciri nya". Keluh Dara.
Bu Wanda adalah pemilik kos tempat Dara dan Lala tunggal, bu Wanda adalah sahabat dari bu Ratih, sejak menduduki bangku kuliah, mereka bertemu saat pertama memasuki kuliah. Sama hal nya dengan bu Ratih, bu Wanda sebenarnya juga tahu siapa yang mengirimkan surat kepada Dara. Karena bu Ratih dan bu Wanda juga turut adil membantu penggemar rahasia Dara yang berinisial R.K.
"Semoga saja orang itu mau menampakan diri secara langsung ke hadapan kamu ya Dar, kalau memang dia benar-benar suka sama kamu, pasti dia akan nunjukin siapa dia". Do'a bu Ratih untuk Dara.
"Iya bu semoga saja, dan semoga saja orang itu tampan seperti mas Rey ya bu. Kalau dia tampan seperti mas Rey, aku mau aja diajak nikah hehehe". Sahut Dara dengan membayangkan mas Rey yang di idolakan.
"Jangan mimpi". Jawab Lala dan Adel bersamaan.
Bu Ratih yang melihat Dara yang sedang, membayangkan wajah tampan anak sulungnya hanya tersenyum.
Begitu pula dengan laki-laki yang masih fokus menatap layar ponselnya pun ikut tersenyum geli melihat ekspresi Dara.
"Ternyata cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan, akan aku perjuangkan kamu gadis manis, tunggu waktunya tiba kamu akan jadi milikku". Batin laki-laki itu.
Bersambung...
__ADS_1