
Happy Reading
...
[Cerita berlatar sekitar tahun 1914 hingga tahun 1950-an. Peristiwa sejarah dalam cerita ini di ambil dari kisah nyata, namun para tokoh utama dalam cerita ini hanyalah fiktif]
...
PROLOG
Sore itu langit terlihat begitu cerah, dengan semburat warna jingga yang tertinggal saat matahari mulai terbenam. Cahayanya yang sedikit hangat menyusup di antara tirai jendela yang tipis, angin pelan yang bertiup menggoyangkan daun-daun pohon maple yang memerah dan mulai berguguran. Segera musim selanjutnya akan tiba.
Ini adalah musim gugur ke empatnya di tempat ini, dan mungkin musim gugur terakhirnya, jika melihat kondisinya yang semakin serius dari hari ke harinya.
Seorang pria paruh baya yang duduk menyandar itu, menatap dengan wajah sendu pemuda yang duduk di samping ranjangnya. Bau menyengat dari obat-obatan kini tak lagi membuatnya terganggu, ia sudah semakin tua dan lemah, harapan untuk sembuh sudah tak seperti dulu lagi. Ia sudah merasa cukup hanya dengan melihat orang-orang yang ia cintai menemaninya di saat-saat terakhirnya.
Mata sayunya menatap dengan lekat wajah pemuda itu, lalu bibirnya yang kering itu tersenyum kecil. Pria itu mengulurkan tangannya yang bebas dari infus untuk mengusap rambut pemuda itu.
" Kamu sangat mirip dengan ibu mu.. " Pria tua itu berkata dengan suara seraknya, " Syukurlah.."
Richard menghela nafas berat dan memejamkan kedua matanya, tangannya lalu menyentuh tangan pria itu dengan lembut. Meskipun tersenyum Richard sangat tau jika pria yang duduk menyandar di hadapannya itu telah begitu terluka selama ini.
Namanya Lucas Moura Salviano, orang yang telah merawatnya, pria yang ia panggil ayah.
Dapat Richard rasakan bagaimana tangan yang dulunya begitu kuat dan penuh otot, kini hanya tertinggal tulang berbalut kulit tipisnya, rambut hitam bergelombang yang begitu pria tua itu banggakan kini mulai memudar. Ia juga ingat bagaimana gagahnya dulu pria tua ini, tapi lihat sekarang, untuk sekedar duduk bersandar saja ia membutuhkan bantuan orang lain. Sejujurnya hatinya merasa begitu pedih, melihat orang yang selama ini menjadi panutannya terbaring lemah menunggu ajal.
" Papa istirahatlah, aku ada pekerjaan malam ini dan sebentar lagi aku akan berangkat. Malam ini Helio yang akan menemani Papa. "
__ADS_1
Richard kemudian membantu pria itu untuk kembali berbaring, ia menatap wajah tua yang pucat itu dengan sedikit resah. Saat dirasa pria itu sudah tertidur, Richard pun bersiap untuk pergi setelah sebelumnya menghubungi seseorang yang tadi ia panggil Helio untuk datang menggantikannya di sini.
Namun saat hendak mencapai pintu, sebuah suara membuatnya berhenti dengan di iringi detak jantung yang meningkat.
" Nak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku ceritakan pada mu. Ini tentang ibu mu dan juga.. Ayah mu. "
Richard diam mematung, sebelum perlahan kembali mendekat pada ranjang pesakitan itu, menatap pria itu dengan sorot mata terluka dan perasaannya yang bercampur aduk. Ia memiliki firasat buruk tentang itu.
" Ayah ku adalah kamu.. " ucap Richard dengan suara lambat dan parau, juga mata yang mulai berair.
" Tidak.. Aku tidak ingin memiliki penyesalan saat aku harus meninggalkan kalian. Setidaknya kalian harus mengetahui kebenarannya. " ucap pria tua itu dengan lemah.
" Apa maksudmu ?" tanya Richard, " Orang yang selama ini merawat ku beserta saudara-saudara ku adalah kamu. Ku pikir itu tidak akan berbeda mau kami mengetahuinya atau pun tidak."
" Tidak, Richard.. Ini adalah sesuatu yang penting. Kamu harus tau kebenarannya.. "
" Apakah kamu bisa membawa saudara mu yang lain dan untuk mendengarkan cerita ku ini.. Untuk yang terakhir. " tangan pria itu terulur untuk menyentuh lengan Richard, " Papa mohon Ricard.."
Richard tak menyahuti permintaan dari Lucas dan hanya melenggang pergi, bukan maksudnya untuk mengabaikan orang tua itu. Hanya saja Richard merasa ia perlu membenahi hatinya.
***
Lucas menatap pintu yang menelan Richard dengan perasaan bersalah, ia merasa jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan kebenaran yang selalu ia simpan.
Pria pucat yang terbaring di ranjang pesakitan itu bernama Lucas Moura Salviano, seorang keturunan Italia yang melakukan transmigrasi ke Amerika Serikat bersama kedua adiknya, sesaat setelah kedua orang tua mereka meninggal.
Saat itu tak ada hal lain yang bisa di pikirkan oleh Lucas selain pergi ke negara lain, meski saat itu ia sadar akan bahaya apa yang menanti mereka saat tiba di negara tujuannya. Amerika Serikat menjadi tujuan pertama yang melintas di pikiran Lucas, setelah sehari proses kremasi kedua orang tuanya, Lucas mengirim sebuah surat pada seorang temannya yang ada di sana. Lucas berpikir mati karena wabah lebih baik dari pada ia mati terbunuh karena seorang psiko gila di tanah kelahirannya.
__ADS_1
Ya, sebuah rahasia kematian ayah dan ibunya yang tak pernah ia ceritakan pada Nolle dan Maria. Jika sebenarnya ke dua orang tua mereka mati terbunuh dalam pembunuhan masal yang terjadi pada akhir tahun 1918, namun alasan pelaku membunuh baru Lucas ketahui saat ia kembali dari menjadi relawan perang saat perang dunia ke dua meletus.
Lalu pada akhirnya mereka bertiga melakukan perjalanan panjang dari melewati lautan berbulan-bulan lamanya hingga akhirnya sampai di pelabuhan Manhattan. Saat itu Lucas berusia 20 tahun, Nello adik kedua laki-lakinya berusia 17 tahun, dan terakhir adik bungsunya, perempuan bernama Maria yang baru berusia 15 tahun.
Sekarang usianya sudah hampir kepala 6, dan 5 tahun lalu Lucas jatuh sakit dan kondisinya kian memburuk dari hari ke hari, yang membuatnya harus menjadi penghuni abadi di rumah sakit ini.
Penyakit bernama Guillain Barre Syndrome yang di deritanya 5 tahun belakangan ini, membuatnya hanya bisa duduk dan berbaring di tempat tidur saja. Kondisi langka yang membuat penderitanya mengalami kelumpuhan dan melemahnya otot, bahkan saat ini kondisinya sudah semakin parah. Untuk menggerakkan lengannya saja Lucas harus berusaha keras. Dan kabar buruknya hingga saat ini penyakit tersebut belum di temukan obatnya.
" Ku harap aku masih memiliki sedikit waktu, setidaknya untuk memberitahu anak-anak itu tentang kalian.. " ucap Lucas sambil menatap sebuah figura kecil yang berisi 4 orang dewasa yang sedang tersenyum.
Lucas pasrah jika pada akhirnya ia mati karena penyakitnya ini, jika pun ada yang ia sesali adalah karena ada satu orang yang belum bisa ia temui selama lebih dari 7 tahun ini.
Dan tanpa sepengetahuan siapapun, setiap malam saat Richard ataupun ke tiga adiknya yang berjaga bergiliran pulang, Lucas membuka sebuah buku dan menulis disana. Sebuah catatan harian yang telah ia isi selama lebih dari 5 tahun belakangan ini, semenjak ia di vonis mengidap penyakit langka yang unik ini.
Sedang disisi lain, Richard termenung menatap pintu putih ruang rawat Lucas, ada semacam perasaan janggal yang tertinggal di hatinya. Ia tak bermaksud untuk berlaku seperti itu di depan orang yang selama ini merawatnya, tapi kebenaran yang tak sengaja ia ketahui beberapa bulan lalu membuatnya begitu gusar.
" Aku tidak ingin tau yang seperti itu.." gumam Richard dengan suara berbisik.
Selama ini ia sudah berpura-pura jika semuanya tetap sama, tapi ia tak mengira jika Lucas berencana untuk membuka rahasia itu. Sebetulnya Richard berharap jika Lucas selamanya menyembunyikan fakta mengejutkan itu darinya atau pun yang lain. Namun tak dapat di pungkiri jika sebagian dari dirinya juga penasaran, ia ingin mendengar langsung bukan hanya dari sekedar tulisan rapi di atas buku usang yang mulai menguning.
Tulisan tentang kisah seorang gadis yang jatuh cinta dengan seorang dokter, lalu apa yang salah.. cerita selanjutnya, saat seorang jaksa wilayah mencoba untuk memasuki celah dalam kisah cinta yang tidak utuh itu.
Dan parahnya kisah itu berkaitan dengan kehadiran dirinya di dunia ini.
*** ***
Bersambung.
__ADS_1