
Happy Reading
...
KABAR DUKA DINI HARI
Salju-salju putih yang menumpuk di jalanan, perlahan mulai mencair. Suhu perlahan mulai hangat di bulan April tahun ini, tak terasa sudah 4 tahun lamanya Lucas memutuskan untuk tinggal di sini. Sudah banyak momen yang mereka lewatkan bersama, baik suka maupun duka.
Tahun ini Nolle menginjak usia 20 tahun, usia yang cukup dewasa untuk seorang pria memulai sesuatu.
" Aku mendaftar untuk bidang jurnalis, astaga.. Aku tidak sabar untuk mendengar hasilnya. " ucap Nolle dengan wajah gelisah.
" Hei kenapa kamu melamar pekerjaan di sana ?" tanya Lucas, sambil tangannya dengan gesit mengupas kulit apel menjadi bentuk kelinci.
Nolle bergumam sebentar, memegang dagunya berpose seperti berpikir dengan keras, " Entah, ku pikir itu keren.." celetuknya.
Maria mendengar jawaban kekanak-kanakan kakak keduanya itu, hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Namun kemudian bibirnya membentuk senyuman manis, dalam hatinya ia berharap Nolle di terima untuk bekerja di sana sebagai seorang jurnalis. Melihat kakaknya yang begitu antusias dan riang terasa begitu menyenangkan baginya.
Nolle sudah menunggu-nunggu saat ini, ketika usianya sudah memasuki legal untuk bekerja.
" Aku selalu mendukung mu. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. " ucap Lucas, " Aku pergi bekerja sekarang, semoga hari kalian menyenangkan." lanjut Lucas sambil mengusap kepala kedua adiknya dengan lembut.
Nolle mengerutkan keningnya dan menatap Lucas sinis, " Astaga kak, jangan mengelus kepala ku seperti itu. Aku sudah dewasa." ucapnya, tapi tak mengelak dari belaian tangan Lucas.
Sedangkan Maria memejamkan matanya dan tersenyum manis, menikmati perlakuan manis dari kakak sulungnya.
" Ei, aku sedikit tidak rela jika ingat kalian tumbuh dewasa secepat ini.. " ucap Lucas dengan terharu.
***
" Ow, lihat itu Pompy ! Sebentar lagi musim semi, aku sudah tidak sabar melihat pohon maple di sepanjang ujung jalan ini kembali rindang. " ucap Maria sambil berjalan menuntun anjing putih mungilnya yang di adopsi 4 tahun lalu.
" Oh ?!"
Maria berhenti berjalan saat melihat siluet seseorang yang ia kenal di depan sana, berjalan santai dengan seekor anjing kecil berwarna coklat hitam.
" Itu Luke !" ucap Maria dengan suara berbisik.
Maria kemudian berjalan mengendap-endap, menghampiri pria itu dengan pelan. Lalu menepuk ke dua pundaknya dengan di iringi suara pekikan nyaring dari Maria, alhasil Luke pun ikut memekik terkejut dengan tindakan jahil Maria.
Tapi sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
" Membawa Molly jalan-jalan ?" tanya Maria sambil berjalan bersisian dengan Luke.
" Hem, kamu juga ?" tanya balik Luke sambil melirik Maria.
__ADS_1
Maria mengangguk sambil tersenyum. Setelah waktu yang terlewat hubungan kedua orang ini perlahan mulai dekat, terbukti dari percakapan mereka yang pada awalnya sangat formal berubah menjadi santai, dan dari semuanya di mulai dari seringnya mereka bertemu di taman saat sore hari, ataupun berpapasan saat Luke hendak pergi bekerja. Kebetulan rumah keduanya pun tak terlalu jauh, masih di lingkungan yang sama.
" Mau jalan bersama ?" tanya Luke.
Maria melirik Luke dan mengangguk setuju, " Oh ! Tentu.. " ucapnya dengan riang.
Kedua muda-mudi itu pun berjalan beriringan sambil sesekali mengobrol dan bercanda, menikmati waktu yang terasa begitu indah bagi keduanya.
*** ***
Jam di dinding terus bergulir setiap detiknya, Lucas berdiri di samping jendela, menatap pekatnya malam dengan hati gundah.
Tik
Tok
Tik
Tok
Suara dari jam entah mengapa terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian yang terasa janggal, Lucas sesekali menatap ke arah jam itu, yang mana setiap menitnya membuat hatinya semakin cemas.
" Astaga, kemana anak itu ?!" ucap Lucas dengan suara berbisik.
Satu minggu yang lalu Nolle berkata jika ia di terima bekerja di kantor Jurnalis, dan ia pun akan mulai bekerja di sana. Semua berjalan seperti biasa hingga saat ini, Nolle tak kunjung pulang setelah pagi tadi pamit bekerja.
Lucas benar-benar khawatir, belakangan beberapa orang dari dunia bawah membuat ricuh, beberapa kelompok saling bersinggungan mengenai kepemilikan bisnis ilegal milik keluarga Mayner yang terancam gulung tikar. Dan dari semua itu penyebabnya adalah karena adanya kebocoran informasi yang membuat para penegak hukum menciumnya, dan di antara itu para Jurnalis ikut andil di dalamnya.
Mereka menulis tentang berita itu dan menyebarkannya, yang mana membuat masyarakat menjadi waspada dan bisnis itu pun hancur.
Lalu sisanya adalah hal mudah untuk meringkus tikus-tikus yang patah semangat.
" Ku harap Nolle tidak sampai menangani kasus itu.." ucap Lucas sambil menghela nafas lelah.
Mengenai bisnis itu, Lucas kali ini tak memiliki sangkut paut apapun. Sepertinya ia masih memiliki hati nurani, jika harus mencoba bisnis penjualan organ dan manusia yang mana korbannya kebanyakan adalah anak-anak.
Satu jam berlalu, dan Lucas masih di tempatnya. Matanya menatap kosong halaman yang gelap.
Tok
Tok
Tok
Sebuah ketukan pintu membuat Lucas kembali tersadar dari lamunan sesaatnya, dengan cepat tangannya meraih gagang pintu dan membukanya.
__ADS_1
Namun pemandangan menyakitkan tersuguh dihadapannya, saat tubuh adiknya jatuh dan tak sadarkan diri.
" Nolle.." ucap Lucas berusaha memanggil adiknya. Tapi Nolle tetap bergeming.
Lucas dengan cepat kembali tersadar dari terkejutnya, ia membawa Nolle ke kamarnya dan mulai memeriksanya.
Hati Lucas terasa semakin pedih teriris-iris, adiknya mengalami hal yang begitu menjijikan. Sekujur tubuhnya penuh bekas kiss mark dan ******, juga lebam di beberapa tempat dan yang paling penting, lubang analnya yang robek dan meninggalkan bekas darah yang sudah mengering.
" Ha.. Hahaha.. "
Lucas tertawa sumbang, tapi anehnya air mata perlahan turun dari kedua matanya.
" Kakak.."
Lucas menoleh saat mendengar suara yang tak asing memanggilnya dari belakang, Maria diam mematung di depan pintu kamar dengan wajah tak kalah kaget.
Lucas menghampiri Maria dan memeluknya, mengusap kepala gadis itu saat suara isakan mulai terdengar memenuhi ruangan.
*** *** ***
" Hah, apa yang dialami adik anda setidaknya akan meninggalkan bekas trauma. " ucap Luke sambil menghela nafas berat.
...
Pukul tiga dini hari Maria berlari keluar rumah, hanya dengan pakaian tipis dan sandal. Tujuannya hanya satu, rumah Luke yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya.
Dengan masih terisak-isak dan tangan yang sibuk mengelap air mata di wajahnya, Maria mengetuk rumah bercat coklat muda itu dengan keras.
" Tolong, tolong kakak ku.. " ucap Maria di sela isak tangisnya.
Luke yang terbangun akibat ketukan keras di pintu rumahnya, segera keluar dan begitu terkejut saat di lihatnya Maria dalam kondisi kacau balau.
" Kenapa ?" tanya Luke dengan khawatir.
Dengan penjelasan singkat dari Maria yang tersendat-sendat, Luke segera masuk ke kamarnya dan membawa alat-alatnya dan langsung berlari menuju rumah tiga saudara itu dengan Maria yang mengekorinya.
...
Maria jatuh menunduk setelah mendengar kata-kata Luke, ia begitu terpukul mendengar kesimpulan akhir dari kondisi kakaknya.
" Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi pada kakak ku.. "
*** *** *** ***
Tbc..
__ADS_1