Surat Terakhir Dari Sang Maestro

Surat Terakhir Dari Sang Maestro
Bab 2 Surat Terakhir dari Sang Maestro


__ADS_3

Happy Reading


....


[Terdapat alur mundur yang tiba-tiba ]


...


WASIAT DAN SECARIK SURAT


Lucas tersenyum kecil saat tangannya perlahan membalik setiap lembar dari album poto lamanya, kenangan yang tertinggal di 30 tahun lalu. Jemarinya yang kurus kering itu berhenti membalik dan mulai mengusap dengan lembut sosok cantik yang tergambar di sana, perasaan bersalah seketika menyeruak dalam hatinya.


Maria Santa Salviano adik perempuan sekaligus adik bungsunya. Setelah kematian orang tuanya, hal pertama yang ia khawatirkan adalah Maria. Sehari sebelum orang tuanya di temukan tewas, Lucas ingat bagaimana raut wajah mereka saat berbicara padanya.


' Lucas, di masa depan nanti saat kami tidak ada, tolong rawat dan jaga adik-adik mu ya. Sesulit apapun keadaan mu, tolong jangan abaikan mereka. Kalian adalah saudara, apalagi Maria. Dia anak perempuan dan adik terkecil mu. Kalian harus hidup bersama, saling mendukung dan saling melindungi. "


Lucas tidak tahu jika itu adalah pesan terakhir dari ayah dan ibunya.


" Maaf ayah, ibu.. Aku tidak menepati janjiku. Aku tidak berhasil melindungi mereka.. " Ucap Lucas dengan suara seraknya yang parau. Tangannya meremas dan memukul-mukul dadanya yang tiba-tiba sesak, malam itu Lucas menangis terisak seperti anak kecil.


" Papa.. " seorang pemuda menghampiri Lucas dan duduk disampingnya. Memeluk tubuh kurus itu dengan lembut.


Ada 4 orang pemuda di ruangan itu, salah satunya adalah Richard yang kini sedang memeluk Lucas. Seperti yang di minta Lucas kemarin, Richard membawa saudaranya yang lain. Tapi siapa sangka mereka akan melihat kondisi Ayah mereka yang seperti ini, menangis karena rasa bersalah yang terus bertumpuk di hatinya.


Richard tidak tau siapa orang yang selalu di lihat Lucas di album poto itu, yang ia tau hanyalah Lucas selalu menangis saat melihat Poto itu. Seorang pemuda dan gadis yang cantik, yang sepertinya lebih muda dari ayahnya.


Kemarin malam saat Helio hendak pulang, Lucas memintanya untuk membawakannya album poto tersebut. Sepanjang ke empat anak itu beranjak dewasa, tak pernah sekalipun Lucas memberitahu mereka siapa sosok dalam album poto tersebut. Pernah sekali waktu si bungsu membuka-buka album tersebut, dan berakhir dengan kemarahan Lucas. Semenjak saat itu tak seorang pun dari mereka yang berani untuk membukanya.


Tapi sekarang Lucas mengajak ke empat pemuda itu untuk ikut melihat bersamanya, album poto tua yang sudah usang itu. Bahkan beberapa poto sudah terlihat buram karena waktu.


" Aku minta maaf, nak. " ucap Lucas saat tangisnya mulai tenang. " Aku tidak bisa menjaganya, dan membuat hidup kalian seperti ini. "


" Apa maksudnya, papa ?" tanya pemuda lain yang berambut pirang kecoklatan, matanya menatap dengan bingung ke arah Lucas.


" Wanita ini adalah ibu mu, Helio.. dan dia adalah adik ku. " ucap Lucas sambil menyodorkan selembar poto ke arah 4 saudara itu.


Helio dan juga ketiga saudaranya yang lain tentu saja terkejut, orang yang selama ini merawat dan membesarkan mereka ternyata adalah paman mereka sendiri. Fakta yang baru mereka ketahui membuat ke empat pemuda itu mematung dengan perasaan yang semrawut, antara bingung, sedih, dan juga penasaran. Namun demikian tak ada satu pun yang membuka suara, seakan mereka menunggu dengan sendirinya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka.


" Aku sudah tua dan mungkin akan segera mati. Aku tidak ingin merahasiakan hal penting ini pada kalian, aku tidak bermaksud membawa kebenaran ini ikut terkubur bersama ku. Aku bukanlah ayah kandung kalian.. "


Lucas berharap 4 keponakannya ini bisa hidup dengan baik, meski dirinya telah tiada. Ia tidak pernah membayangkan jika saat ini ia telah membuka sebuah rahasia yang selama ini ia tutup rapat. Lucas masih ingat bagaimana 4 keponakannya ini menangis dan merengek padanya, memandikan mereka, menyuapi makan mereka hingga bermain bersama. Sekarang 4 balita itu sudah tumbuh dewasa, sedikitnya Lucas merasa lega.


Lucas tak pernah mengira ke empat balita yang ia bawa bersamanya, kini tumbuh dewasa dengan baik. Lucas tak akan pernah bisa melupakan momen itu, saat ke empat balita itu menangis dan kelaparan di samping jasad ibunya yang sudah mulai membusuk.


" Sepertinya banyak hal yang ingin Papa bicarakan pada kami ya.. " ucap Helio dengan senyumnya yang terasa hangat.

__ADS_1


Di antara ke empat anak itu Helio adalah anak yang peka dan lembut, berbeda dengan Richard yang selalu keras pada dirinya sendiri maupun orang lain dan juga tegas. Ada pula anak ke tiga, Allano yang pendiam dan sedikit cuek, dan anak bungsu bernama Alessio yang sedikit berontak dan sangat riang.


" Iya, banyak sekali sampai rasanya aku takut waktu ku tidak cukup untuk menceritakan semuanya pada kalian.. "


Allano dan Alessio mulai mendekat dan duduk di ranjang di dekat kaki Lucas, sedangkan Richard duduk menyandar di kepala ranjang di samping Lucas dan terakhir Helio yang duduk di kursi di samping Lucas berbaring.


Mereka mendengarkan kisah yang di ceritakan Lucas dengan perasaan yang tak menentu, resah, bingung dan juga penasaran, kebenaran macam apa yang di sembunyikan ayahnya hingga saat ini.


" Ini akan menjadi cerita yang panjang.. " ucap Lucas sambil menghela nafas panjang sebelum memulai kata pertamanya.


Ke empat pemuda itu mendengarkan dengan khidmat, hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepat.


Pukul tiga dini hari Richard, Helio, Allano dan juga Alessio berjalan dengan gontai di lorong rumah sakit, melangkah dengan lesu seakan energi mereka telah habis. Beberapa jam lalu mereka baru saja mendengarkan sebuah kisah pilu yang cukup menyakitkan, tentang masa lalu dari ibu dan pamannya.


Tak pernah terbayangkan jika pamannya menyimpan sebuah rahasia besar yang mengejutkan.


***


[ Luois dan Lucy adalah nama dari orang tua kandung Lucas, pada awalnya mereka berencana untuk pindah pada pertengahan tahun 1918 menuju ke Florida. Namun entah karena apa, rencana itu di tunda hingga pada bulan Oktober mereka di temukan tewas mengambang di perairan selat Sisilia.


Pada saat itu suasana di Eropa sedang genting, buntut dari perang dunia pertama membuat banyak negara berada dalam situasi yang buruk, kerusuhan menyebar dengan tak terkendali. Di tambah pada tahun itu pula, muncul sebuah pandemi yang menewaskan lebih dari sepertiga manusia di bumi. Ada jutaan orang dari Eropa yang melakukan perjalan panjang guna menghindari wabah tersebut, baik itu ke Asia atau pun ke Amerika. Dan salah satunya adalah Lucas yang membawa kedua adiknya berlayar menuju Amerika serikat pada Akhir bulan November 1918. Meski kuat dugaan awal mula wabah menyebar dari Amerika Serikat, tapi Lucas tetap berlayar menuju ke sana.


Pada Januari 1919 Lucas berhasil menepi di pelabuhan Manhattan. Dan memulai hidup baru. ]


*** ***


Malam kemarin setelah pulang dari rumah sakit tempat Lucas di rawat, Richard tak sedetik pun menutup matanya. Pikirannya melayang kembali pada kisah yang baru saja di ceritakan ayahnya, atau mungkin sekarang ia bisa memanggilnya paman.


Ia tidak tau bagaimana harus mengekspresikan perasaannya saat ini, berpikir jika masa lalu orang tuanya begitu rumit.


Lucas bercerita dengan lambat..


"... November 1918, Italia saat itu ... "


...


[ Empat tahun belakangan ini negara-negara di Eropa terlibat dalam perang berskala besar, atau di kenal sebagai pernah dunia pertama. Buntut dari penembakan pewaris tahta Austria-Hungaria Franz Ferdinand yang dilakukan oleh Bosnia berimbas cukup parah.


Saat semua orang berduka atas banyaknya korban jiwa yang jatuh, juga kekhawatiran yang mendera karena wabah yang tak kunjung berakhir. Tapi baru-baru ini Italia di kejutkan dengan ditemukannya banyak mayat yang mengapung di perairan selat Sisilia. Berbeda dari mayat yang tewas akibat wabah, mayat yang di temukan di sana memiliki ciri kematian yang didasari penganiyaan.


Dan kabar duka dari ditemukannya mayat di selat Sisilia itu tiba di kediaman Salviano.


Pagi-pagi sekali halaman rumah keluarga Salviano begitu ribut, banyak mobil terparkir di sana. Beberapa orang keluar dan mengusung dua peti mati yang disambut oleh dua orang remaja, Nolle dan Maria, karena kebetulan Lucas memiliki pekerjaan di luar. Dengan wajah bingung ke dua remaja itu mendekat dan bertanya, hingga seorang tentara kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan cukup singkat.


Maria yang pada dasarnya wanita memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh, menangis dan meratap di samping peti mati itu. Tepat pada saat itu Lucas datang sesaat setelah mendapat panggilan jika ada hal penting terjadi di rumahnya.

__ADS_1


Langkah kakinya yang lebar seketika berhenti, Lucas mematung tak jauh dari kedua adiknya yang kini terlihat sangat menyedihkan. Maria yang mengusap peti mati itu dengan berurai air mata dan Nolle yang terlihat sangat syok hingga tak mampu bersuara bahkan menangis, hanya berdiri menatap peti mati itu dengan wajah pucat.


" .. Maria.. Nolle.. " panggil Lucas dengan suara serak, mendekat kemudian membawa ku dua remaja itu dalam pelukannya.


Merasa tersadarkan, Nolle mulai terisak kecil di bahu kakaknya, tak peduli meski sebentar lagi ia memasuki usia dewasa, Nolle tetap menangis seperti anak kecil dalam pelukan kakaknya. Fakta bahwa Nolle yang tidak pernah menangis kini terlihat sekacau itu, membuat hati Lucas bertambah perih.


Di penghujung hari saat matahari mulai terbenam, keadaan mulai tenang setelah kedua adiknya di akhirnya tertidur dengan wajah sembab dan mata yang bengkak.


Menurut pemeriksaan kondisi ke dua orang tuanya tewas akibat luka tembak di jantung dan kepala, tapi sebelum tewas di duga keduanya mendapat semacam penganiayaan yang cukup parah, dilihat dari bekas memar dan luka di sekujur tubuh keduanya.


Dan kesimpulan yang di ambil oleh tentara militer adalah bahwa kematian ke dua orang tuanya adalah kasus pembunuhan masal, karena pada saat di temukan ada beberapa mayat dengan kondisi yang sama tak jauh dari lokasi ditemukannya mayat orang tuanya.


Lucas tak pernah memberi tahu alasan kematian ayah dan ibunya pada Maria dan Nolle, kedua adiknya itu hanya tau bahwa ayah ibunya tewas tenggelam. Beberapa bulan kemudian setelah kabar duka itu Lucas membawa ke dua adiknya untuk pindah. Dan perjalanan jauh yang mengharuskan melintasi lautan pun di mulai.


" Kita akan pindah hari ini, jangan terlalu sedih. Kita akan memulai hidup baru di tempat yang baru. " Ucap Lucas pada ke dua adiknya, " Ku harap ini bisa setidaknya meringankan kesedihan kita.. " ]


*** *** ***


Pintu ruang rawat dengan nomor 402 VIP terbuka, seorang pria yang duduk menyandar di ranjang rumah sakit itu menyambut mereka dengan senyum tipisnya. Beberapa orang berseragam jadi hitam dengan rambut yang di semir rapi, membungkuk hormat sesaat setelah berdiri d hadapan pria sakit itu.


" Ada apa? " tanya Lucas dengan sorot mata yang serius, senyum tipis yang tadi tersemat sekarang sirna entah kemana.


" Beberapa orang melihat wanita tersebut di sebuah daerah di Brooklyn. Ini beberapa data dan lampiran yang kamu dapatkan. " Ucap pria dengan tubuh tegap dan memiliki mata biru menawan.


Lilia Del Moura, seorang wanita berusia 27 tahun. Bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah kedai minum bernama "Westham" di pinggiran kota Brooklyn. Lilia tinggal bersama dua saudaranya yang bernama Daisy yang berusia 25 tahun dan Allen, laki-laki berusia 22 tahun.


" Bern, ini mungkin aku memang tak tau diri. Tolong anggap ini sebagai permintaan terakhir dari ku. Jika dalam waktu dekat ini aku tiada, bawa anak-anak ku ke tepat wanita ini. Apapun yang terjadi mereka harus bertemu. " ucap Lucas dengan suara serak, Bern sedikit terkejut melihat bagaimana Lucas meminta padanya dengan nada yang putus asa.


Bern adalah seorang pria yang dulunya hanyalah anak gelandangan yang mengais-ngais sisa makanan di jalanan, lalu suatu malam ia bertemu dengan Lucas. Pertemuan mereka terbilang cukup aneh, Bern yang mencuri beberapa bungkus makanan dari kantong belanja Lucas.


Bern tertangkap oleh beberapa pengawal yang ada di sekitar Lucas dan membawanya, Bern pikir ia akan berakhir saat tiba di hadapan Lucas. Tapi Lucas justru bertanya alasan apa yang membuatnya mencuri.


Bukan hal aneh sebenarnya kenapa banyak anak remaja yang melakukan tindakan seperti itu, pada saat tepat 2 tahun setelah Lucas memutuskan pindah ke Amerika. Di tahun 1929 Amerika mengalami krisis besar, salah satunya kejatuhan di sektor ekonomi. Bern yang hanya seorang imigran dari negara yang terjajah dan berkulit hitam membuatnya tak bisa melakukan banyak hal, dan berakhir melakukan profesi sebagai pencuri dan perampok kecil.


" Aku bisa memberi mu makan. Dan mungkin banyak fasilitas lainnya. " ucap Lucas sambil menatap mata itu dengan hangat. " Sebagai gantinya berikan kesetiaan mu pada ku. "


Sekarang Bern melihat sosok penyelamatnya hanya bisa berbaring dan menunggu kematian.


" Apapun permintaan anda, akan saya laksanakan Tuan. " ucap Bern dengan tegas.


" Ini simpanlah surat ini, jika tiba waktunya berikan surat beserta album ini padanya. Jaga mereka saat nanti aku tak ada, dan juga jaga dirimu baik-baik Bern." ucap Lucas, tangannya menepuk pelan bahu pria itu.


Setelah beberapa saat orang-orang berjas itu pamit dan ruang rawat itu kembali sunyi.


*** *** *** ***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2