
Happy Reading
...
MALAM PERTUNJUKAN YANG KELAM
" Maria, kakak harus pergi sekarang. Apa tidak apa kamu pulang sendiri ? Atau kamu tunggu Nolle dulu untuk pulang bersama. "
" Tidak usah kak, aku pulang sendiri saja. Aku kan sudah dewasa. " ujar Maria sambil tersenyum manis.
Lucas hanya mampu menghela nafas maklum, akan tetapi meski tadi ia berkata untuk pulang sendiri nyatanya Lucas sudah menghubungi beberapa anak buahnya untuk berjaga di sekitar Maria.
Malam ini mereka berencana untuk menonton pertunjukan Opera dimana Nolle bergabung, tapi tiba-tiba Lucas mendapat panggilan untuk pekerjaannya.
" Hati-hati kakak !" seru Maria saat melihat Lucas yang mulai berjalan menjauh.
Lucas melambaikan tangannya seraya tersenyum dari kejauhan.
Tidak berapa lama setelah Lucas pergi, tirai di panggung terbuka. Menampilkan sederet anggota orkestra yang duduk dengan alat musik masing-masing, di sana Maria melihat Nolle yang duduk di kursi dengan memegang biola.
" Kak Nolle.. " pekik Maria dengan tangan melambai-lambai.
__ADS_1
Di atas panggung Nolle tersenyum kecil, tapi kemudian alisnya berkerut saat tak melihat penampakan kakak sulungnya. Di sana hanya Maria yang duduk sendiri, dengan kursi kosong di sampingnya.
Meski sedikit sedih pada awalnya, akan tetapi semua itu hilang saat melihat senyuman ceria adiknya. Nolle berfikir, mungkin kakaknya sedang memiliki urusan mendadak.
Suara-suara alat musik yang di mainkan secara urut, begitu syahdu dan harmoni. Pertunjukan orkestra itu begitu menghanyutkan para penonton. Hingga saat pertunjukannya selesai, orang-orang ramai bertepuk tangan.
" Syukurlah kak Nolle terlihat baik, ku harap itu akan seterusnya.. " ucap Maria terharu saat melihat kakaknya itu tersenyum begitu lebar.
***
Jalanan cukup sepi saat kaki Maria melangkah pulang, gadis itu bersenandung kecil untuk sekadar mengisi kesunyian.
" Astaga !" pekik Maria terkejut hingga membuatnya jatuh terjerembab.
" Tolong.. " seru Maria dengan suara yang bergetar ketakutan.
Memangnya siapa yang tidak takut, saat kamu dalam perjalanan pulang ada seonggok mayat yang menghadang jalan mu.
Maria masih gemetar saat tempat itu mulai di datangi oleh para agen detektif dan bersenjata, ia duduk tak jauh dari tempat itu setelah salah satu dari agen itu memintanya untuk memberikan kesaksian atas penemuan mayat itu.
Samar-samar dari kejauhan Maria dapat mendengar apa yang sedang di perdebatkan oleh para detektif itu, spekulasi bahwa itu adalah pembunuhan antar geng dan organisasi sindikat kejahatan.
__ADS_1
" Maaf nona, anda harus mengalami hari yang berat seperti ini. Akan tetapi anda tak perlu risau, hal seperti ini bukan sekali dua kali terjadi, jadi anda tak harus memikirkannya berlebihan. Sisanya kami akan mengurusnya. Terima kasih untuk kerjasamanya. " ucap salah satu agen detektif itu.
Maria hanya mengangguk dengan lemas, ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur. Tapi..
" Kakak ! " pekik Maria saat ia memasuki rumah.
Matanya melotot kaget dan cemas, Lucas pun ikut terkejut saat melihat Maria sudah ada di ambang pintu.
Dengan langkah yang tergesa, Maria menghampiri Lucas dan menarik kursi di dekatnya.
" Apa yang terjadi ?" ucapnya dengan suara tertahan menahan tangis.
Lucas merasa bersalah. Ia tak tau jika misinya kali ini benar-benar sulit, ia berakhir terluka dan membuat adiknya menangis cemas.
Lucas tak menjawab apapun, hanya suara isakan Maria yang terdengar di kesunyian malam itu. Meski dengan jemari yang gemetar, gadis itu berusaha untuk membalut luka di bahu dan lengan Lucas dengan hati-hati.
" Kakak, tidak bisakah kamu berhenti ? " tanya Maria tiba-tiba.
Lucas menatap tak percaya ke arah Maria, selama ini ia sudah yakin jika semuanya berjalan serapi, sebersih dan sediam mungkin.
" Kenapa ? " ucap Lucas bertanya dengan suara yang berbisik dan terlampau pelan.
__ADS_1
*** *** ***
Tbc.