
Happy Reading
....
MALAM DI MUSIM DINGIN
[ Mulai dari chapter 3 sebagian besar berisi Flashback dari sudut pandang Lucas ]
Lucas duduk menyandar dengan arah pandangan yang menatap jauh ke luar jendela kamar inapnya, tak sedikitpun terganggu saat suara pintu terbuka dan kembali ditutup. Seorang pemuda dengan rambut hitam dan mata birunya duduk di samping Lucas, tangannya terjulur menyentuh jemari yang terlihat begitu kurus, seperti tulang yang hanya di lapisi kulit.
" Papa.. " panggil pemuda itu, namun Lucas tetap tak bergeming.
" Papa. " kembali pemuda itu memanggil kini dengan suara yang agak keras, dan baru Lucas terlihat mengerjapkan matanya dan mulai menoleh.
" Papa melamun lagi.. " kata pemuda itu tersenyum kecil.
Lucas yang melihat Allano datang menjenguknya turut tersenyum hingga kerutan di wajahnya kian nampak jelas.
".. Kenapa ?" tanya Lucas saat Allano hanya diam dan menunduk. Meski pun biasanya Allano memang pendiam tapi Lucas sangat mengenal mereka, ia sangat hafal bagaimana kebiasaan masing-masing dari mereka.
" Sejujurnya aku tidak ingin mengetahui masa lalu apa yang membuat Papa berakhir mengadopsi kami, meski pun aku penasaran pada kebenaranya tapi aku takut pada hati ku.. " ucap Allano seraya menatap tepat di kedua mata Lucas dengan pandangan yang gelisah.
Lucas tersenyum kecil mendengar ucapan Allano yang terdengar seperti rengekan di telinganya.
" Apa kamu tau, nak. Ada dua alasan mengapa aku menceritakan masa lalu itu, selain karena rasa bersalah ku ada satu hal penting yang bahkan aku tidak mampu melakukannya.. Mungkin ini keinginan egois ku, tapi aku berharap saat aku selesai menceritakan semuanya pada kalian, kalian bisa melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya terhenti karena kondisi ku.. "
Allano tertawa getir mendengar ucapan Lucas yang terdengar putus asa itu.
" Pa, ku pikir papa tak seharusnya berkata seperti itu. Apa papa tau sekeras apa Kak Helio berusaha untuk mencari obat untuk papa .. " ucap Allano dengan kening yang berkerut.
" Papa lega, setidaknya kalian sudah dewasa ketika papa pergi. Jangan menyalahkan siapa-siapa dan hiduplah dengan baik. "
Allano bungkam mendengar kata-kata Lucas yang begitu menyakitkan baginya. Ia sendiri pun sadar penyakit apa yang kini di derita oleh Lucas, tapi hatinya menolak untuk menerima kenyataan jika obat untuk penyakit itu belum di temukan.
Suara pintu yang terbuka memecah suasana aneh dalam ruangan itu, tiga orang pemuda dengan wajah terbilang tampan berjalan masuk.
" Wah tak ku sangka Allano tiba paling awal hari ini. " ucap Helio sambil duduk di dekat kaki Lucas yang sedang duduk menyandar.
" Sepertinya adik pendiam ku ini begitu semangat mendengarkan cerita sebelum tidurnya.. " Ucap Richard kali ini dengan maksud sedikit menggoda Allano.
" Astaga sudah hentikan, lihat wajah kak Allano yang tersipu malu itu, sedikit membuat ku merinding. " timpal Alessio yang ikut menggodanya bersama Richard.
Lucas tersenyum lebar melihat interaksi anak-anak itu yang begitu riang dan akrab, itu kembali mengingatkannya dengan ke dua adiknya dulu.
" Hei sudah, ayo duduklah. " Ucap Helio menengahi saat akhirnya Allano yang kesal berusaha untuk mengapit kepala Alessio di ketiaknya.
" Papa ayo.. Kami sudah siap.. " ucap Helio tersenyum menatap Lucas. Tapi meskipun bibirnya tersenyum manis seperti itu, Lucas tau bagaimana perasaan anak itu yang tak jauh berbeda dengan Alessio.
" Baiklah, anak-anak kemari mendekat pada Papa.. " ucap Lucas. Dan Lucas pun kembali bercerita, melanjutkan kisah yang terpotong kemarin.
" Saat itu.. Bulan November tahun ... "
[ 26 November 1920, pelabuhan..
__ADS_1
Suasana di dermaga begitu sibuk, Maria menatap takjub pada sebuah kapal besar yang menepi di pinggir dermaga. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan perjalanan panjang dengan kapal. Awalnya Lucas sedikit khawatir karena ini adalah pengalaman pertama, tapi setelah melihat respon adiknya yang begitu antusias melihat kapal-kapal di dermaga dan bertanya dengan riang kapan mereka berangkat, Lucas sedikit merasa lega.
" Kakak kapan kita berangkat. " tanya Maria.
" Sebentar lagi.. " jawab Lucas sambil mengusap rambut panjang adiknya dengan lembut.
" Kak kita akan kemana ?" tanya Nolle.
" Kita akan ke Amerika, kebetulan di sana ada kenalan ku. " jawab Lucas, " Oh ayo, itu sudah di buka, kita cepat mengantri !"
Lucas membawa ke dua adiknya untuk memasuki antrian, dan tak lama mereka pun naik ke atas kapal.
" Kak apakah Amerika itu sangat jauh ?" tanya Maria, sesaat setelah mereka memasuki kamar yang ada di atas kapal.
" Tentu, sangat jauh.. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. " ucap Lucas, " Kalian istirahatlah, kakak keluar sebentar.. "
Selama perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu itu, tiga bersaudara itu terlihat begitu menikmati kebersamaan mereka. Sepertinya keputusan Lucas untuk pindah ke tempat yang jauh sudah tepat, perlahan kesedihan yang bercokol di hati mereka perlahan memudar, meski terkadang masih ada rasa sesak yang datang tak kala ingatan itu kembali melintas tapi setidaknya sekarang sudah membaik.
***
Hiruk pikuk kehidupan di kapal pesiar seperti tak ada hentinya, pegawai hilir mudik membawa nampan.
Lebih dari 30 malam berlalu dengan sangat lambat bagi Maria, dan dalam waktu itu pula sudah cukup bagi gadis remaja itu untuk membuat sebuah kebiasaan untuk sekedar melampiaskan rasa frustasinya.
Sudah menjadi kebiasaan saat malam hari Maria akan duduk di geladak kapal sambil menatap langit, hal itu terkadang membuat Lucas khawatir. Angin malam di laut terkadang cukup kencang dan dingin, Maria selalu melupakan jaket dan selimutnya. Pernah sekali Maria jatuh sakit karena terlalu lama berada di geladak, dan sejak itu Lucas selalu memantau keberadaan adik bungsunya itu dengan lebih ketat.
" Nolle, dimana Maria ?" tanya Lucas malam itu sesaat setelah makan malam usai.
" Aku tidak bersama dengannya sedari tadi. Mungkin sudah kembali ke kamar. " jawab Nolle. " Tadi dia mengobrol dengan nona Davofhile. "
" Maria? " panggil Lucas saat tiba di geladak dan melihat Maria yang duduk dengan memeluk kedua lututnya.
Maria yang merasa namanya di panggil menoleh lalu tersenyum kecil saat melihat Lucas datang menghampirinya dengan selimut, dengan suara tawa kecil Maria menerima selimut yang di sampirkan di bahunya dengan lembut.
" Ayo kembali, ini sudah terlalu larut. " ucap Lucas seraya tangannya mengusap rambut dan kepala gadis itu.
" Tunggu sebentar lagi kakak.. " ucap Maria, " Aku ingin sedikit lebih lama, karena mungkin besok malam aku tidak akan bisa melihat pemandangan seperti ini lagi. "
Langit malam yang di lihat dari dek kapal di tengah malam, memang begitu indah bahkan jika beruntung mereka bisa melihat Aurora yang menari di atas permukaan air laut.
Lucas mengangguk kecil sambil ikut duduk di samping gadis itu, mereka berdua memandang langit dengan perasaan yang berbeda-beda.
" Kakak.." panggil Maria.
" Ya ?" jawab Lucas sambil menoleh ke arah adiknya itu, tapi Maria masih terlihat memandang ke arah langit.
" Aku pernah dengar, katanya saat manusia meninggal, mereka akan berubah menjadi bintang. Apa ayah dan ibu ada di atasnya, sedang menatap ku juga.." ungkap Maria dengan suara yang parau, seakan menahan tangis.
" Apa kamu ingin jawaban jujur ku atau hanya sekedar jawaban yang ingin kamu dengar saja.. " tanya Lucas.
" Aku rindu ayah dan ibu.. " ucap Maria di iringi oleh tangisannya. Ini adalah tangisan kedua nya semenjak orang tua mereka tiada.
Lucas mengerti bagaimana perasaan adiknya itu, ia juga begitu merindukan mereka. Sejujurnya dirinya belum siap jika harus hidup sendiri, sambil merawat ke dua adiknya. Tapi ia tidak bisa memperlihatkan ketidakmampuannya di hadapan ke dua adiknya, ia harus bisa menjadi kakak yang bisa di andalkan seperti kata terkahir ayahnya.
__ADS_1
Malam itu Maria menangis cukup lama di atas geladak kapal, Lucas tak menyuruhnya berhenti ia hanya memeluk adiknya dengan hangat, karena saat ini yang di butuhkan Maria adalah pendengar yang baik.
" Kakak ?" sebuah suara terdengar di belakang Lucas, tapi itu tak cukup untuk menghentikan tangisan Maria.
" Kenapa menyusul ku, sebentar lagi aku juga kembali. Disini dingin.. " ucap Lucas saat melihat adiknya berjalan mendekat.
" Maria kenapa? " tanya Nolle dengan ekspresi yang bingung.
" Hanya merindukan ayah dan ibu.. " jawab Lucas dan menyuruh adik laki-lakinya itu untuk ikut duduk di sampingnya.
" Aku juga.. Rindu mereka.. " ucap Nolle.
Dan berakhirlah Lucas memeluk kedua adiknya yang sedang bersedih karena merindukan ke dua orang tua mereka, Lucas tidak berpikir jika Nolle akan menangis seperti ini bersama Maria. Sepertinya Nolle benar-benar terguncang dengan insiden terakhir itu, Nolle menjadi lebih sensitif.
*** ***
" Akhirnya... "
" Aku suka daratan ! "
Nolle dan Maria menyambut dengan gembira daratan yang ada di hadapannya, setelah sekian lama terombang-ambing di lautan. Akhirnya mereka kembali menapaki tanah.
" Hati-hati saat turun. " ucap Lucas saat melihat Nolle dan Maria begitu antusias turun dari kapal.
Sore hari di bulan Desember, kapal yang telah berlayar untuk waktu yang lama itu akhirnya menepi di dermaga. Suka cita para penumpang yang turun dari kapal begitu riuh, begitu pun dengan Lucas dan dua saudaranya.
Meskipun suhu di bulan ini begitu rendah Maria begitu antusias menyambut tanah baru yang menjadi tempat tinggalnya.
Lucas membawa ke dua adiknya ke rumah baru mereka, rumah yang lumayan besar untuk di tinggali tiga orang anak muda di sebuah daerah yang cukup ramai di Chicago.
" Ini adalah rumah baru kita.. " ucap Lucas sambil memandang rumah barunya dengan harapan yang besar.
Setelah puas melihat-lihat interior rumah baru itu, mereka berkumpul di ruang tengah. Duduk di atas sofa sekedar meluruskan punggung mereka yang letih.
" Malam ini kalian istirahat oke. Kakak akan keluar jangan menunggu kakak, kalian makan malam saja berdua. " ucap Lucas berpesan pada dua adiknya, kemudian bangkit dan mengambil jasnya yang teronggok di sudut sofa.
Nolle dan Maria mengangguk riang, melambaikan tangannya sembari berpesan pada Lucas untuk hati-hati dalam perjalanan.
*** *** ***
Suasana malam di tempat baru terkadang membuat beberapa orang merasa sedikit tak nyaman, terhitung sudah tiga jam sejak Maria tiba di Amerika, tapi rasa kantuk tak kunjung ia rasakan.
Jam didinding menunjuk pada pukul 2 dini hari, Maria membawa tubuhnya yang berbaring menuju ke arah jendela kamarnya. Membuka tirai dan membiarkan cahaya dari lampu yang sengaja di pasang di halaman memasuki ruangan remang-remangnya.
Jalanan cukup sepi meski masih ada beberapa orang yang berlalu lalang, Maria mengamati orang-orang itu di balik jendela yang terbuka, sembari bertopang dagu.
Saat matanya sibuk mengamati tak sengaja Maria melakukan kontak mata dengan seorang pria yang duduk di sebrang jalan, di bawah lampu pijar kuning dengan balutan mantel yang tebal. Itu adalah awal benang takdir seorang gadis imigran dari Italia yang jatuh hati pada seorang dokter muda asal Amerika.
Sebuah kisah cinta yang berujung saling melukai dan membuat derita berlarut-larut.
" Apa yang di pikirkan orang itu. Di cuaca sedingin ini duduk dan melamun di luar. Apa orang di Amerika memang seperti itu.. " ucap Maria tanpa tau jika pria itu adalah sosok yang akan menjadikan dunianya jungkir balik]
*** *** *** ***
__ADS_1
Bersambung.