Surat Terakhir Dari Sang Maestro

Surat Terakhir Dari Sang Maestro
Bab 8 Surat Terakhir dari Sang Maestro


__ADS_3

Happy Reading


...


PETI BERISI IKAN BUSUK


Dalam dunia kriminal tak ada yang namanya belas kasih, saat kamu melakukan sesuatu lakukan tanpa ragu. Jika kamu membunuh, maka kamu harus siap di bunuh kapan pun, oleh siapa pun, dan dimana pun kamu berada.


Pukul tiga dini hari saat Marlo mendengar suara ketukan pada pintu penginapannya, ia tak sedikit pun curiga.


Tok


Tok


Tok


Sebuah kotak persegi yang tak terlalu besar mau pun terlalu kecil, menyambut Marlo saat pintu telah terbuka. Tak ada siapa pun di sana, hanya tergeletak kotak hitam itu di sana.


" Orang iseng mana yang melakukan hal ini di jam tiga pagi.. " ucap Marlo sambil menatap kotak itu malas.


Marlo mengecek kotak misterius itu, tertempel sebuah note kecil di ujung sebelah kanan atas kotak itu.


' Kepada Amare : Nikmati sarapan mu dengan hati yang lapang. '


Setelah melihat isi note itu Marlo baru sadar, ia belum melihat Sam sejak kemarin siang. Lalu dengan tergesa-gesa di ikuti rasa cemas, Marlo membuka kotak hitam itu. Bau busuk seketika menyebar tak kala kotak itu terbuka, sekumpulan ikan busuk terlihat begitu menjijikan di sana.


" Ini tak baik." ucap Marlo dengan suara yang serius.


Kotak itu terisi penuh dengan ikan, dalam dunia Mafia pesan yang di sampaikan dengan kepala ikan berarti ancaman kematian. Lalu pesan itu di tujukan pada Sam, temannya sendiri.


***

__ADS_1


" Inikah orangnya ?" ucap Terry dengan nada suara yang pongah.


Seorang pria dengan mata tertutup kain juga kaki dan tangan yang terikat, berlutut dengan kondisi yang berantakan. Ada bekas darah yang sudah mengering pada kameja biru mudanya, juga lebam dan goresan pada wajah tampan itu.


" Hei, kau tau alasan mu ada di sini ?" tanya Terry sambil menginjak bahu pria itu.


" Buka penutup matanya." ucap Terry dengan aura mengintimidasi, pada anak buahnya yang berdiri tak jauh di sana.


Sam menatap Terry dengan wajah yang emosi, agaknya pria itu belum mencerna apa yang sedang terjadi.


" Hei, aku tak suka cara mu menatap ku. Turun pandangan mu." ucap Terry dengan suara yang tegas.


Tapi Sam tak menggubrisnya, " Hei bung, aku tak merasa memiliki masalah dengan mu." ucap Sam dengan nada yang meremehkan.


" Oh, begitukah ?" tanya Terry sambil berjongkok di depan Sam.


Cuh !


Terry meludah tepat di muka Sam, yang mana hal itu membuat Sam tersinggung dan marah. Namun apa daya, tangan dan kakinya terikat.


" Hei bung, kau yang berdiri di sana. " ucap Lucas sambil tangannya memberi gestur untuk mendekat, pada salah satu anak buah Terry yang berjaga di depan pintu.


" Ya tuan." ucap anak buah itu.


" Lepas baju orang itu. Buat dia telanjang. " ucap Lucas sambil menunjuk Sam dengan dagunya.


Terry yang memperhatikan dari samping tersenyum kecil, menunggu apa yang akan di lakukan oleh Lucas.


Lucas berjalan mendekati Sam dengan amarah yang tertahan, kakinya kemudian menendang tubuh yang kini tak memakai sehelai benang pun itu hingga jatuh terlentang ke belakang. Akan, tetapi tak sampai di situ saja, tangannya merogoh ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sebuah terong.


" Tahan kedua tangan dan lebarkan kakinya. " ucap Lucas dengan sorot mata yang penuh emosi.

__ADS_1


" Hei, bajingan apa yang mau lakukan !" teriak Sam ketika empat orang anak buah Terry bergerak memegangi ke dua tangan dan kakinya seperti apa yang di perintahkan oleh Lucas.


" Apa lagi ? Aku hanya ingin membalas mata dengan mata. Kamu memasukan benda kotor mu itu pada lubang anal adik ku kan ? Tapi aku tidak bisa melakukan hal serupa seperti itu. Jadi biarkan benda ini saja yang masuk ke sana. Oke.. " ucap Lucas dengan suara tenang dan sedikit penekanan pada akhir kalimatnya.


Sam membulatkan matanya takut, ia mulai memberontak sekuat tenaga. Akan, tetapi apa daya saat tubuhnya terikat dan juga di tahan oleh empat orang bertubuh kekar. Sam hanya mampu berteriak kesakitan saat Lucas mendorong terong besar berwarna ungu itu dengan sekali hentak.


" Kau harusnya bersyukur, aku hanya memasukan terong, bukan bilah besi seperti yang sudah ku rencanakan. " ucap Lucas dengan senyum sinis, menatap ke arah Sam yang merintih kesakitan.


Lucas melirik ke Terry, " Sisanya terserah padamu saja, tapi jika bisa jangan biarkan dia hidup dengan mudah. " tukasnya.


Terry mengangguk setuju dengan ucapan Lucas, kemudian tanpa berkata apa pun lagi Lucas pergi berjalan meninggalkan ruangan itu.


Selepas Lucas pergi, Terry mengambil sebuah pistol kecil yang selalu ia simpan di laci meja kerjanya. Ia mendekat ke arah Sam yang masih berguling-guling di lantai, kemudian kakinya menginjak dada pria itu dengan kuat.


" Diam sebentar.. " ucap Terry dengan dingin.


Dor


Dor


Dor


Suara ledakan dari senjata api yang di arahkan ke jantung, mulut dan kening. Sam seketika diam tak bergerak, ia telah tewas.


" Buang mayatnya ke perairan. " ucap Terry sambil mengelap tangannya yang terciprat darah.


*** ***


Di sisi lain Chicago, Marlo dan anak buahnya masih melakukan pencarian. Akan, tetapi mereka tak menemukan hasil apapun.


Keberadaan Sam seolah hilang di telan bumi.

__ADS_1


*** *** ***


Tbc..


__ADS_2