
Happy Reading
...
RELAWAN PERANG
" Bagaimana ? Apa kau mau mangkir dari surat panggilan itu ?" tanya Terry sore itu.
" Ku pikir kali ini aku tidak bisa mengabaikannya. Sial.. "
Tahun ini pemerintahan sedang gencar-gencarnya melakukan perekrutan relawan untuk perang yang akan meletus tak lama lagi, tidak peduli mau itu seorang bos besar ataupun hanya buruh kecil. Semua pria di atas 18 tahun di wajibkan untuk melakukan pemeriksaan.
Terry, pria licik itu sudah melakukannya, dan sialnya hasilnya ia tidak lulus.
Lucas menghela nafas berat dengan masalah itu, ia sendiri tidak yakin bisa melewatinya seperti sahabat karibnya itu.
Bagaimana bisa Terry bisa lolos dari jerat itu ? Gampang saja, hasil pemeriksaan yang meliputi tes kesehatan jasmani, akan tetapi saat melakukan tes essay dan wawancara ia di diskualifikasi.
Dokter terkait yang bertanggung jawab dalam tes itu menyatakan jika Terry tidak bisa berpartisipasi dalam perang.
__ADS_1
Ini di karenakan Terry memiliki kecenderungan pshyco.
Seseorang yang di nyatakan memiliki kecenderungan pshyco tidak dapat berpartisipasi, hal itu di karenakan pihak militer tidak mau mengambil resiko saat pshyco itu memegang senjata, itu akan lebih membahayakan rekan setimnya ketimbang musuh di depan sana.
" Lalu alasan apa yang akan kamu buat ?" tanya Terry sambil duduk menyandar dengan sebatang cerita di tangan kirinya.
" Entahlah, saat ini aku belum memiliki satu pun solusi. Tapi jika nanti aku benar-benar terjerat, tolong jaga ke dua adikku sebentar. " ucap Lucas dengan serius.
Lucas memilki firasat jika itu akan terjadi.
***
Luke berlutut di bawah kaki Maria, sorot mata yang sarat akan kesedihan terpampang nyata di sana. Bukan karena ia melamar Maria karena terpaksa, tapi karena alasan yang ia gunakan untuk melamar Maria sedikitnya membuat hatinya sakit.
Sebuah tragedi menimpa Maria, malam itu seminggu selepas Lucas akhirnya pergi dalam perang, saat Maria berjalan pulang setelah mengunjungi rumah sakit hewan dan mampir ke toko untuk membeli keperluan Pompy.
Maria menabrak seorang pria asing yang mana membuat beberapa barang bawaannya jatuh berhamburan, lalu sesaat kemudian pria itu mengulurkan tangan seraya mengucapkan maaf.
" Maaf, nona.. " ucap pria itu, " Kamu tak apa ?"
__ADS_1
" Anu, terima kasih tuan " ucap Maria sambil tersenyum kikuk menerima uluran tangan pria itu.
Pada awalnya semua berjalan biasa, setelah insiden tabrakan tak sengaja itu Maria kembali lanjutkan perjalanannya yang tertunda.
Akan tetapi, hari-hari setelahnya entah sengaja atau tidak, Maria menjadi lebih sering bertemu pria itu. Entah saat dirinya jalan-jalan sore bersama Pompy seperti biasanya, atau pun saat ia memiliki keperluan di luar, ia selalu melihatnya seolah-olah pria itu ada di mana pun matanya memandang.
Perlahan rasa takut muncul dalam hati Maria, punggungnya selalu dingin dan berkeringat.
" Ah, ini membuat ku gila. Aku harus bagaimana ?" ucap pria itu dengan suara berbisik.
Mata tajam pria itu yang selalu bersinar saat menatap Maria, seperti tengah merencanakan sesuatu.
Hingga malam itu semua itu pun terjadi, pria itu berjalan di belakang Maria dengan hati-hati. Maria yang sadar tengah di ikuti berjalan semakin cepat di ikuti rasa panik, tapi saat hendak sampai di belokan depan rumahnya sebuah mobil hitam berhenti dan ada beberapa tangan yang keluar dan menyeretnya masuk.
" Kena ! Haha.."
Malam itu Maria tak pernah pulang, membuat Nolle yang menunggunya hingga dini hari di buat kalang kabut.
***
__ADS_1
Tbc