Surat Terakhir Dari Sang Maestro

Surat Terakhir Dari Sang Maestro
Bab 4 Surat Terakhir dari Sang Maestro


__ADS_3

Happy Reading


...


ANJING YANG TERSESAT


Malam yang dingin saat butiran-butiran salju putih berjatuhan dan mulai menumpuk, menutupi setiap jejak yang tertinggal.


" Hei, jangan terlalu di pikirkan, ingat kamu sudah berusaha." ucap seorang pria dengan mantel hitam yang menutupi tubuhnya.


" Aku tau. "


Luke menyusuri jalanan yang cukup sepi, sudah dini hari saat ia duduk menepi di bawah pohon. Matanya menatap tumpukan salju didepannya dengan pandangan kosong, kilas balik kejadian sore tadi kembali membuat rasa sesak dalam dadanya muncul.


" Harusnya aku lebih berusaha.."


Sore tadi ada seorang pria paruh baya yang menggendong seorang anak kecil datang ke rumah sakit tempatnya bekerja, pria paruh baya tersebut begitu panik dan mulai menangis.


Luke menghampiri keduanya dan melihat apa yang terjadi pada anak kecil tersebut, namun sayangnya saat tangan Luke mulai menyentuh lehernya untuk memastikan denyut nadinya, ia tak merasakan apapun di sana. Tak ada detak jantung, tak ada suara hembusan nafas.


Ini bukan hal aneh pada saat itu, mengingat adanya wabah yang menyebar. Sebuah flu yang mematikan.


Anak itu bukan satu-satunya di rumah sakit itu yang terkena infeksi wabah, sudah ada lebih dari ratusan anak-anak dengan gejala yang sama. Dan sebagain dari mereka pun tewas, karena lambatnya penanganan dan juga kurangnya pengetahuan tentang wabah tersebut.


Luke yang baru melakukan tugas prakteknya beberapa bulan lalu di rumah sakit, merasa sedikit terpukul dengan kenyataan bahwa ia tak mampu melakukan apa-apa. Dalam kurun waktu yang singkat itu, Luke sudah melihat berpuluh-puluh korban tewas akibat wabah.


Melihat pasien yang sudah terbujur kaku tanpa nyawa, adalah sebuah pukulan berat bagi setiap tenaga medis.


" Sepertinya aku harus istirahat.. " ucap Luke sambil bangkit dari duduknya.


Saat langkah pertama kakinya berayun, matanya tak sengaja melirik pada seorang gadis yang juga menatapnya dari jendela yang terbuka.


Luke sempat terkesima dengan paras gadis itu, tapi tak ada hal lain selain ia sempat termenung sesaat.


Itu adalah pertemuan pertamanya dengan gadis yang akan menjadi sosok penting dalam hidupnya.


***


Pagi-pagi sekali Maria sudah sibuk di dapur, Lucas dan Nolle terbangun oleh aroma sedap yang menguar memenuhi seisi rumah.


" Selamat pagi !" sapa Maria dengan ceria.


Lucas dan Nolle mengangguk dan duduk bersebrangan di meja makan, Maria tertawa kecil melihat bagaimana kedua kakaknya itu terlihat begitu lucu dengan rambutnya yang mencuat kesana-kemari.


" Wah kamu sudah berani menertawakan kakak ya.. " ucap Lucas dengan nada main-main.


" Ah itu, tentu saja tidak. " ucap Maria berkilah.


" Anu, apa kakak ada pekerjaan hari ini ?" tanya Nolle dengan suara serak.


" Tidak. "


" Aku ingin melihat-lihat sekitar, dan aku juga ingin pelihara anjing, apa boleh ?"


Lucas mengangguk setuju, tidak ada yang salah dengan berkeliling lingkungan tempat tinggal barunya. Lagi pula untuk dua hari ke depan dirinya memang masih libur.


" Tapi kenapa tiba-tiba ingin pelihara seekor anjing?" tanya Lucas sambil menyantap sarapannya.


" Itu.. Tetangga di samping rumah kita memelihara seekor anjing yang cukup besar, kupikir itu benar-benar lucu. "

__ADS_1


Tuk


Potongan pancake berguling di atas meja makan beserta garpunya, tangan Lucas mendadak kaku seusai mendengar ucapan Nolle.


" Wah apa ini pertanda ?" tanya Maria dengan nada main-main.


" Kamu tidak sakit ?" tanya Lucas dengan raut wajah khawatir.


Nolle memandang wajah kakaknya lalu menghela nafas lelah, ia tau apa yang membuat kedua saudaranya bersikap seperti itu. Dulu sekali saat mereka masih kanak-kanak, Nolle pernah di kejar oleh seekor anjing milik tetangganya, anjing itu jenis golden retriever dan itu anjing jinak, tapi karena dulu Nolle masih sangat kecil sekitar 5 tahunan, saat di kejar oleh anjing itu Nolle menangis sambil berlari menghindari kejaran anjing tersebut. Alhasil Nolle kecil pun jatuh terjerembab dan lututnya lecet.


Nolle yang menangis histeris itu pun makin menjadi saat anjing kuning itu semakin mendekat, padahal anjing itu hanya ingin mengajaknya bermain. Terbukti saat sudah dekat anjing itu duduk dan menggoyangkan ekornya dengan semangat, bahkan anjing itu menjilati lengan Nolle.


Semenjak saat itu Nolle selalu menghindari hewan satu itu, tapi sekarang tiba-tiba ia meminta untuk memelihara seekor anjing. Itu sedikit di luar dugaan.


" Oke, oke, baiklah kita akan pelihara seekor, kupikir rumah ini terlalu senggang dengan hanya kita bertiga." ucap Lucas sambil tersenyum kecil.


" Boleh aku pilih anjingnya ?" tanya Maria dengan menatap ke arah wajah Nolle.


Nolle mengangguk, " Oke, terserah padamu. "


Maria memekik senang, dari dulu ia memang begitu menyukai hewan satu itu.


*** ***


" Selamat siang, hewan apa yang anda sekalian inginkan?"


Seorang pegawai menghampiri Lucas beserta dua adiknya, Nolle dan Maria. Seperti yang sudah direncanakan saat sarapan tadi, mereka mengelilingi lingkungan sekitar untuk melihat-lihat dan juga sekalian berbelanja keperluan sehari-hari, dan terakhir mereka mengunjungi sebuah toko tempat adopsi hewan, baik kucing maupun anjing dan beberapa hewan berbulu dan reptil yang sudah di jinakkan.


" Kami mencari seekor anjing untuk di pelihara. " ucap Lucas.


" Ah anjing jenis apa yang anda inginkan ?"


Pegawai toko itu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, " Baik mari ke sebelah sini, anda bisa memilih hewannya di sini. Semuanya jenis anjing yang jinak dan bersahabat dengan manusia."


Lucas menyusuri kandang anjing di sana dengan teliti, di belakangnya Maria begitu antusias melihat hewan-hewan yang menjulurkan lidahnya dan menggonggong tersebut.


" Jika boleh menyarankan, ada beberapa anjing yang begitu di gemari di komunitas, apa anda ingin melihatnya ?" tanya pegawai tadi.


" Oh benarkah? "


Pegawai itu mengangguk dan membimbing Lucas menuju sebuah kandang dengan ukuran kecil.


" Ini jenis anjing baru yang di ternakkan di jepang, namanya Japaneze Spitz, bulunya halus dan mungil. Anjing ini begitu populer baru-baru ini apalagi dikalangan keluarga yang memiliki anak kecil sebagai teman bermain. " ucap pegawai itu menjelaskan dengan rinci.


Lucas mengangguk-angguk, anjing itu memang lucu dengan bulu putihnya yang halus.


" Woahh, anjingnya sangat lucu.. " ucap Maria tiba-tiba.


" Kakak boleh kita bawa dia."


" Bagaimana menurut mu Nolle ?" tanya Lucas pada adik pertamanya.


Nolle mengangguk setuju, " Ya kupikir dia lucu.."


" Kami pilih yang ini saja. " ucap Lucas pada pegawai toko.


Lucas berjalan mengikuti si pegawai toko untuk mengurus pembayaran, sementara Nolle dan Maria menuntun anjing itu mengikuti di belakang.


Setelah mengurus pembayaran mereka membawa anjing itu pulang, Lucas juga tak lupa mampir ke toko yang menjual makanan dan keperluan sehari-hari untuk si anjing mungil itu.

__ADS_1


*** *** ***


Sore ini sepertinya salju tak akan turun, Maria pamit pada Lucas untuk membawa anjing barunya berjalan-jalan di luar.


" Kakak aku mau membawa Pompy main di luar ya.." ucap Maria cukup lantang dari pintu depan.


" Ya.. " ucap Lucas dengan tak kalah keras dari dapur.


Pompy nama anjing putih itu sekarang, ia berjalan dengan lucu sambil menggoyangkan ekornya ke kiri dan kanan. Sepertinya begitu senang untuk berjalan-jalan di luar.


Tapi kemudian Pompy berhenti dan menggonggong pelan ke arah sebuah pohon dipinggir jalan, ia terlihat begitu gelisah.


" Hei Pom, ada apa ?" tanya Maria sambil berjongkok di samping Pompy.


Tapi Pompy terus bergerak gelisah, ia terlihat berputar-putar dan mendengking saat sebuah siluet keluar dari balik pohon itu. Seekor anjing kecil berwarna coklat hitam berjalan pincang, sepertinya Pompy gelisah karena bertemu spesies yang sama dengannya.


" Ya ampun, dimana pemilik mu ? Kamu tersesat ?" tanya Maria pada anjing itu setelah melihat sebuah kalung terlilit di lehernya, yang menandakan ia milik seseorang.


" Ayo ikut dulu dengan ku, aku bantu cari pemilik mu.." ucap Maria sambil menggendong anjing kecil itu.


Maria bingung, kemana ia harus mencari pemilik dari anjing kecil itu. Ia hanya berjalan bolak-balik di sekitar taman tak jauh dari tempat anjing itu tadi.


" Bagaimana ini ?" tanya Maria entah pada siapa, ia melirik sekitarnya yang sepi.


" Mari tunggu beberapa saat lagi.. "


Hingga satu jam berlalu, Maria pun memutuskan untuk membawanya pulang saja. Hari sudah mulai gelap, dan suhu semakin dingin.


Tapi baru beberapa langkah kakinya meninggalkan taman, suara langkah kaki yang berlari terdengar di belakangnya. Maria menoleh dan melihat seorang laki-laki yang terlihat kebingungan dan mencari sesuatu.


" Permisi.." ucap Maria.


Seketika pria itu menoleh dan berhenti, pandangannya jatuh pada anjing kecil dalam gendongan Maria.


" Oh Molly !" ucap pria itu dengan terkejut.


" Saya menemukannya di sana, sepertinya kakinya terluka." ucap Maria sambil menunjuk ke arah tempat ia menemukan anjing itu.


" Terima kasih. " ucap pria itu dengan penuh haru.


" Saya sangat kebingungan saat pulang ke rumah dan Molly tidak ada. Saya sungguh berterima kasih. "


" Tak apa. Saya hanya tak sengaja menemukannya.. "


" Oh saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Maria. " ucap Maria sambil mengulurkan tangannya.


" Ah, saya Luke." ucap Luke sambil menjabat tangan Maria.


Mereka pun berakhir mengobrol sambil duduk di bangku taman, Maria mengurungkan niat nya untuk pulang dan bertahan sebentar di sana.


Maria sangat senang ternyata mereka memiliki banyak hal yang mirip, seperti menyukai anjing dan suka musik.


" Wah saya tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama. " ucap Maria dengan senang.


" Kapan-kapan tolong nyanyikan satu lagu untuk saya. "


Luke tertawa kecil dengan permintaan Maria, tapi pria itu menganggukkan kepala setuju. Maria mengucapkan terimakasih dan pamit pulang, karena tak terasa hari sudah gelap. Luke menatap dalam diam punggung kecil gadis itu yang kian menjauh, bibirnya tersenyum simpul saat mengingat bagaimana mereka berbicara satu sama lain.


*** *** *** ***

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2