Surat Terakhir Dari Sang Maestro

Surat Terakhir Dari Sang Maestro
Bab 11 Surat Terakhir dari Sang Maestro


__ADS_3

Happy Reading


[ Mulai dari sini kisah berlanjut menurut sudut pandang Terry ]


....


COMMEDIA DELL'ARTE


Maria menatap wajah letih Lucas yang terbaring di ranjang, sudah tiga hari pria itu jatuh sakit. Setelah kepindahan mereka ke Amerika, Lucas berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Pada awalnya Lucas bekerja pada seorang pria yang membuka sebuah pub malam, dia menjadi bartender di malam hari. Terima kasihlah pada teman lamanya yang telah mengenalkannya.


Tapi ketika memasuki pertengahan tahun 1929 terjadi sesuatu yang gawat pada tatanan ekonomi Amerika. Semua berawal dari hancurnya pasar saham Wall street. Pub tempatnya bekerja pun terpaksa tutup karena kemerosotan ekonomi yang tak terkendali. Ia bolak-balik mencari pekerjaan kesana-kemari, hingga akhirnya jatuh sakit seperti itu.


Saat Lucas sedang sakit, Nolle sebagai anak laki-laki ke dua merasa bertanggung jawab untuk menggantikan kakak sulungnya mendapat pekerjaan. Maka dengan tekad yang menggebu Nolle pergi keluar.


Tersisa Maria yang merawat Lucas, sebenarnya Maria pun sedikit merasa bersalah pada kakak sulungnya itu. Semenjak kedua orang tua mereka tiada, semua tanggung jawab di ambil oleh Lucas, padahal di usianya banyak pemuda lain yang hidup bebas tanpa terikat beban merawat dan menghidupi adiknya.


Maria sangat bersyukur memiliki seorang kakak yang begitu baik seperti Lucas. Namun disisi lain ia pun merasa cemas dengan kakak keduanya. Ada sebuah alasan mengapa Maria begitu mencemaskan Nolle, ini berhubungan dengan kejadian 5 tahun lalu saat Nolle baru bekerja sebagai jurnalis.


" Kenapa rumah begitu sepi ? Kemana Nolle ?" tanya Lucas dengan suara lemah. Matanya sayu dan sedikit merah.


" Kak Nolle_"


Belum sempat jawaban keluar dari bibir Maria, suara pintu yang di buka dengan keras mengejutkannya. Di ambang pintu Nolle berdiri dengan nafas terengah-engah.


Maria menatap bingung pada wajah kakak keduanya yang justru terlihat sumringah, bibirnya tersenyum dengan mata yang berbinar.


" Aku dapat pekerjaan.. " seru Nolle setelah nafasnya sedikit stabil.


Maria menutup mulutnya dengan mata membulat terkejut, kemudian terdengar suara pekikan kecil dari bibirnya.


" Sungguh? " tanya Maria sambil menghampiri Nolle, matanya ikut berkaca-kaca karena senang dan terharu.


Lucas yang melihat ke dua adiknya begitu gembira hanya tersenyum kecil, sejujurnya ia merasa sedikit malu. Dalam hati Lucas pun bertekad ia harus cepat sembuh, dan kembali mencari pekerjaan.


***

__ADS_1


" Kalian tau ? Aku akan melakukan pertunjukan di pesisir pantai 3 minggu lagi. " ucap Nolle dengan riang.


" Sungguh ? Pertunjukan apa ?" tanya Maria dengan penasaran.


" Oh aku berkerja di kelompok orkestra, jika tak salah ingat namanya Commedia dell'arte."


" Wah ! Bukankah kita harus ikut melihatnya, benarkan kak Lucas !" ucap Maria dengan antusias sambil menatap Lucas penuh harap.


Lucas mengangguk sebagai jawaban, " Tentu kita harus menonton Nolle."


Sarapan pagi itu terasa begitu ramai, dengan coletehan riang Nolle yang menceritakan kelompok orkestra tempatnya bergabung.


" Kalau begitu aku pergi bekerja dulu. " ucap Lucas dengan semangat.


Selepas sarapan bersama Nolle langsung berangkat dengan penuh semangat, hari ini kondisi Lucas sudah berangsur membaik. Sudah dua hari ini Nolle selalu berangkat pagi hari dan pulang saat matahari mulai terbenam.


Baru-baru ini sebuah kelompok orkestra asal Italia, menjadi begitu terkenal di daerah Chicago. Orang-orang ini melakukan pertunjukan dengan memasang tiket sebagai pembayaran. Meski bukan kelompok orkestra besar tapi mereka cukup di kenal, dengan anggota sekitar 30 orang.


" Aku senang Nolle menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya." ucap Lucas sambil menatap pintu di mana Nolle menghilang di baliknya.


" Rasanya baru kemarin kita pindah ke sini. Tak taunya 9 tahun sudah berlalu.. " ucap Maria lalu tersenyum simpul.


Lucas tertawa kecil mendengar ucapan Maria, " Ya cukup mengesalkan, saat aku tau jika ke dua adik ku sekarang sudah tumbuh dewasa. "


" Hei harusnya kakak senang aku sudah tumbuh dewasa dengan baik seperti ini. " ucap Maria sambil merengut lucu.


Lucas tertawa lalu tangannya terjulur untuk mengusap kepala adik bungsunya tersebut, " Iya, iya. Baiklah aku bahagia saat ini, adik ku tumbuh dengan baik dan menjadi gadis yang cantik. "


Maria tertawa lepas mendengar ucapan terakhir dari Lucas.


" Ah sepertinya aku juga harus menyiapkan hatiku, karena kamu sudah tumbuh dan jadi cantik, pasti ada banyak pejantan muda yang berkeliaran di sekitarmu. " ucap Lucas dengan suara yang di buat sedih.


Maria seketika menatap Lucas dengan garang, matanya melotot lucu, " Aku.. anu.. itu.. aku tidak akan meninggalkan kakak sampai ada seseorang yang mau merawat kakak. "


Lucas tak mampu menahan tawanya, saat melihat Maria berbicara gagap seperti itu.

__ADS_1


" Maka dari itu kakak, kapan kakak akan memberikan ku kakak ipar." tanya Maria sambil bersedekap tangan di dada.


" Hah ?" Lucas terkejut dengan pertanyaan Maria.


" Itu loh kakak, pria yang seusia dengan kakak di luar sana bahkan sudah memiliki 2 anak. Aku ingin keponakan ku.. "


Lucas terpojok dengan obrolan ini, ia sendiri tak menyangka jika sesi obrolan pagi ini akan menjurus ke hal yang seperti itu. Sebenarnya bukan tak mau, tapi yang saat ini ia prioritaskan hanyalah kehidupan adik-adiknya.


" Oh, sudah sangat lama aku ingin menanyakan ini, aku sering melihatmu membuka jendela di malam hari. Itu tidak baik, jangan terlalu sering." ucap Lucas mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


" Itu.. aku hanya merasa butuh udara segar. "


Lucas memicingkan matanya, memang benar Maria belakangan ini selalu melakukan hal itu. Lucas diam-diam mengamatinya, Maria selalu memandangi keluar jendela dan betah berlama-lama di sana.


" Kamu yakin ? "


Maria mengangguk dengan cepat, wajahnya bersemu merah. Lucas sedikit curiga..


*** ***


" Oh Nolle kamu sudah datang ? Kemarilah.." seorang perempuan memanggil Nolle sesaat setelah dia datang.


" Baik Nyonya !"


Namanya Alexandra pemilik dari kelompok orkestra yang telah merekrutnya.


" Kamu bilang dulu pernah bermain biola kan? Kebetulan ada satu anggota yang mengalami cedera pada jarinya. Apa kamu bisa menggantikannya. " tanya Alexa.


Nolle membulatkan matanya terkejut, " Tentu !" ucapnya tegas.


Nolle memang berkata jika kelompok orkestra tempatnya bekerja akan melakukan pertunjukan tak lama lagi, tapi ia tak pernah bilang jika dirinya hanyalah bagian dari petugas yang hanya menyiapkan alat-alat musik yang akan di pakai, bukan sebagai anggota yang akan melakukan pertunjukan nanti.


Syukurlah aku bisa ikut tampil dalam pertunjukannya..


Batin Nolle sambil tangannya mengusap air mata yang meleleh di sisi kanan dan kiri matanya. Ia benar-benar terharu.

__ADS_1


Tbc..


__ADS_2