Tak Pantas Untuk Cintamu

Tak Pantas Untuk Cintamu
Bab 11 Aku Tidak Peduli Padanya


__ADS_3

"Mungkin sebentar lagi, Kaila kecil kita akan jadi target bapak-bapak tua dan dapat promosi di stasiun TV ini!"


Kata William.


"Iya, Itu termasuk keberuntungannya juga."


Setelah mendengarkan itu, Gabriel sangat setuju, lagipula dengan penampilan Kaila, justru akan aneh kalau tidak menjadi sasaran orang-orang berpengaruh.


"Keberuntungan macam apa itu?"


Erick akhirnya berbicara.


Gabriel dan William sudah menatapnya sejak lama, lalu tiba-tiba tersenyum dan mendekat ke arahnya, "Sejujurnya, istri sendiri yang bahkan belum dicicipi, tapi akan dicicipi oleh pria lain rasanya nyesek bukan?"


"..."


Erick tidak menjawab, hanya memberinya tatapan yang penuh aura membunuh.


Gabriel langsung menjauh, kemudian melanjutkan. "Aku tidak percaya kau tak merasa nyesek!"


William seolah sedang menonton pertunjukan yang bagus, dan berpikir Erick pasti merasa nyesek!


"Jangan provokasi aku dengan kata-kata seperti itu! Kalian tahu aku tak punya ketertarikan seperti itu pada Kaila!"


Erick berkata dengan suara yang dalam, dan membuka kotak rokok logam di atas meja.


"Iya, kau itu suka yang bersikap lembut dan bermartabat, serta depan belakang montok, Kaila kecil kita terlihat seperti kelinci kecil, pasti tidak sesuai dengan seleramu!"


William tiba-tiba mengangguk setuju dengan sudut pandangnya.


Gerakan tangan Erick yang memegang sebatang rokok dan hendak memasukkannya ke mulut langsung berhenti.


Adegan seluruh pakaian Kaila yang basah di kamar mandinya malam itu tiba-tiba muncul di benaknya! Sungguh adegan yang sangat menggoda.


"Aku memang tak suka, tapi dia juga tidak perlu sampai dibungkus pria lain! Dan untuk kalian berdua, sebutan Kaila kecil kita di mulut kalian itu hanya bercanda, kan?"


"..."


William dan Gabriel langsung terdiam.


Erick memegang rokok dan merenung untuk sementara waktu, lalu tiba-tiba meletakkan rokoknya lagi: "Dia tidak cocok dengan lingkungan kotor seperti itu."


William yang baru saja menyesap teh langsung tersedak saat mendengar itu, pikirannya langsung penuh dengan kata-kata Erick bahwa Kaila itu bersih.


Karena ucapan dari Erick barusan, William dan Gabriel semakin yakin bahwa perasaan Erick pada Kaila tidaklah sederhana.


"Kau terlihat seperti sudah diracuni oleh cinta! Jangan-jangan kau jatuh cinta pada Kaila tanpa kau sadari?"


Gabriel bertanya dengan sangat khawatir.


Erick menatapnya dengan dingin: "Tidak mungkin!"


Gabriel hendak mengatakan sesuatu tapi ponsel Erick berdering.


Erick mengangkat telepon dari Amelia dan pergi, sedangkan Gabriel saling memandang dengan William, kemudian bertanya kepada William, "Mau taruhan?"


"Mobil sport barumu!"


William membicarakan aruhan yang diinginkan!


——


Kaila keluar dari stasiun TV saat malam hari sambil memegang beberapa karangan bunga di tangan.

__ADS_1


Sebuah mobil mewah tiba-tiba terparkir tidak jauh, kemudian sopir mobil tersebut keluar dan menghampiri Kaila. "Nona Kaila, bos kami punya sedikit permintaan."


Kaila melihat mobil hitam itu dan menjawab dengan sopan. "Maaf, aku sudah punya janji malam ini!"


"Nona Kaila, bos kami ..."


"Kaila!"


Karena menghadapi Kaila yang keras kepala, saat Sopir ingin merubah sikap, tiba-tiba sebuah mobil sport edisi terbatas berhenti di belakangnya, suara wanita yang lembut terdengar, dan itu membuat sopir itu melihat ke dalam mobil sport tersebut, "Bukannya ini Nona Amelia? Bagaimana kondisi kesehatan anda baru-baru ini?"


Amelia melirik sopir itu dan berkata sambil tersenyum. "Lumayan! Ini adikku!"


Begitu pengemudi mendengar itu, dia melihat orang di kursi pengemudi lagi, buru-buru mengangguk dan berkata sambil tersenyum. "Baiklah saya mengerti, Bos kami hanya ingin traktir Nona Kaila makan malam!"


Kaila hanya berdiri dan menunggu dengan tenang, dia sadar dirinya tidak harus menemani bos manapun untuk makan malam bersama, tapi kedatangan kedua orang itu benar-benar tidak menyenangkan!


"Traktirnya lain kali saja, aku dan Erick mau merayakan sesuatu dengan Kaila hari ini!"


Amelia dengan sopan menolak untuk Kaila.


"Baiklah."


Sopir itu menoleh dan pergi.


Setelah sopir itu pergi, Kaila mengangkat mata dan kebetulan berpapasan dengan tatapan Erick.


Mata pria itu sangat gelap, Kaila terkadang khawatir seolah akan tersedot ke dalam kegelapan di mata itu.


Kaila dengan cepat menurunkan mata. "Kak Amelia, terima kasih!"


"Kami beneran datang mencarimu untuk merayakan bersama!"


Seperti yang dijelaskan Amelia


"Kaila! Yuk kita pergi."


Pada saat ini, seorang pria tampan dengan pakaian kasual turun dari tangga dan datang ke sisi Kaila.


Kaila menoleh, lalu tersenyum dan berkata kepadanya. "Sini kuperkenalkan dua temanku."


Pria itu melihat ke dalam mobil tanpa sadar.


Erick sudah keluar dari mobil dengan dingin dan sombong.


Namun, ketika pria itu pergi ke sisi Amelia untuk membantunya membuka pintu mobil, pria itu bertindak dengan sangat perhatian, dan menutup kepala Amelia karena takut kepala Amelia terketuk atap mobil.


Kaila memperhatikan ini dalam diam, dan merasa senang karena dirinya setuju untuk berkencan dengan orang lain malam ini.


Erick berjalan bersama Amelia, dan Amelia mengambil inisiatif. "Ini?"


"Aku teman Kaila, Nicky!"


"Aku Amelia! Dan Ini Tuan CEO Erick!"


Setelah Amelia memperkenalkan diri, dia tidak lupa memperkenalkan Erick.


Nicky melirik Erick dan tersenyum sedikit. "Kami pernah berbicara di telepon."


Melihat Nicky yang bisa menangani dengan santai, Kaila tanpa sadar menghela nafas lega, kemudian menatap Erick lagi, tapi hatinya langsung terasa sesak.


Pria itu mengenakan kemeja biru muda tanpa mantel hari ini, dan terlihat sangat agresif!


Atau perempuan itu memang secara alami menyukai pria yang jauh lebih kuat dari mereka? Suka didominasi?

__ADS_1


Bagaimanapun, Kaila memang suka tipe laki-laki yang seperti pria itu!


Kaila menurunkan mata dengan cepat: "Aku menghargai keramahan kalian, tapi kita rayakan saja lain hari!"


“Hanya makan bersama saja.”


Erick berbicara dengan acuh tak acuh.


Kaila meliriknya dan berkata sambil tersenyum. "Tetapi mobilmu sepertinya bahkan tidak muat tiga orang."


"..."


Erick tiba-tiba mengerutkan kening, sebenarnya dia tahu saat berjalan ke sini, tapi lupa karena terburu-buru.


"Gimana kalau sama-sama?"


Nicky tiba-tiba mengajak.


Kaila menatapnya dengan heran.


Dia hanya tersenyum pada Kaila. "Lagipula cuma makan bersama saja."


"..."


Kaila tidak menyangka akan berakhir seperti ini, makan malam dua orang berubah menjadi perkumpulan empat orang!


Erick secara alami duduk bersama Amelia, sedangkan Nicky duduk bersama Kaila.


Makan malam ini cukup menyedihkan, terutama penyakit terobsesi dengan kebersihan Erick yang kambuh lagi, itu hampir membuat pelayan ketakutan setengah mati.


Setelah mengeluarkan peralatan makan, meja akhirnya bersih, Erick berdiri dengan kesal. "Ikut sebentar denganku!"


Kaila terkejut, Nicky dan Amelia masih di sini!


"Cepat!"


Pria itu bukan tipe orang yang mudah diajak berkompromi, kalau mudah berarti pria itu merencanakan sesuatu.


Kaila berdiri dan pergi ke toilet di dalam.


Erick meletakkan tangan di pinggang dan melangkah masuk, memperhatikan orang yang berdiri di pintu tanpa bergerak, dia tiba-tiba memerintahkan. "Keluar dari pekerjaan itu segera!"


"Tidak!"


Kaila menolak secara langsung!


Gadis kecil yang dulunya penurut tiba-tiba membuka mulut untuk menolak, Erick langsung mencibir: "Bilang lagi kalau berani!"


Saat pria itu mendekat, Kaila mundur hingga punggungnya menempel pintu yang dingin: "Tidak!"


"Kita belum cerai, tapi kamu sudah berani menolak seperti ini?"


Erick merasa ada sesuatu yang terlepas dari telapak tangannya.


Kaila menatap Erick, dia memang menyukai Erick, tapi suka itu tidak boleh secara membabi buta.


"Ini tidak ada hubungannya dengan sudah cerai atau belum, ini adalah pekerjaan pertamaku, dan aku akan terus bekerja dengan serius."


"Kalai kubilang aku tidak suka?"


Erick meletakkan tangan di samping telinga Kaila dengan kesal.


Jantung Kaila berdetak keras seperti guntur, dia sedang dikabedon pria itu!

__ADS_1


__ADS_2