Tak Pantas Untuk Cintamu

Tak Pantas Untuk Cintamu
Bab 5 Perceraian Dapat Ditunda Dulu


__ADS_3

"Aku tidak butuh dirawat olehmu!"


Tetapi mau seberapa hangat tangan pria itu, itu juga bukan untuk menghangatkannya!


Erick tidak menyangka reaksi Kaila akan sebesar itu, jadi mengerutkan kening sambil menatapnya.


Kaila mengambil napas dalam dan menjadi tenang kembali sebelum berbicara perlahan. "Aku pasti akan menjalani hidup dengan baik, tapi Ibu juga harus berjanji padaku untuk tidak menyerah sampai akhir!"


"Ibu tahu! Ibu tahu!"


Ibu Kaila yang melihat kesedihan Kaila langsung membujuk.


Kemudian, kedua orang itu saling menghibur untuk sementara waktu, sedangkan Erick mengeluarkan sebatang rokok di luar, namun tidak dinyalakan.


Kaila yang melihat Erick masih di luar setelah keluar, mau tidak mau bertanya, "Kenapa belum pergi?"


"Kita belum cerai, kenapa seburu-buru itu untuk mengusirku?"


"Aku tidak akan menjadi bebanmu, jangan masukkan ke hati mengenai apa yang dikatakan ibuku."


"Jadi setelah cerai kita bukan lagi keluarga?" tanya Erick sambil melihat rokok di tangan.


"Tentu saja tidak!"


Kalau sudah cerai mana mungkin termasuk sekeluarga lagi?


"Saat ayah dan ibumu cerai, bukankah mereka keluarga?"


"Itu tidak sama," kata Kaila dengan gigih.


"Kaila ...."


Dia menghela nafas dengan tidak sabar.


"Lebih baik panggil nama lengkapku, karena kamu terlihat luang sekarang, kenapa tidak ikut aku ke pengadilan negeri?"


"..."


Erick menatapnya dengan tak percaya.


Wanita ini sedang mendesaknya untuk bercerai?


Kaila tidak mendengar jawaban dari pria itu, jadi menatapnya lagi. "Sekarang bisa, kan?"


"Aku ada rapat nanti! Rapat yang sangat penting!"


Erick melihat ke kedalaman koridor, rokok di tangan langsung dipatahkan dan dikepal ke dalam telapak tangan.


"Kalau begitu kenapa masih belum pergi?"


Kaila bertanya lagi.


Erick mengerutkan kening dan menatap kakinya sendiri, lalu berbalik untuk menatap Kaila, "Masih ada tempat kosong di departemen publisitas perusahaanku, kerjalah di sana saja."


"Aku sudah dapat pekerjaan di stasiun TV."


Kaila tidak menyangka pria itu akan memberinya pekerjaan, dan tentu saja tidak akan dia terima.


Mereka sudah bercerai jadi untuk apa bekerja di perusahaan pria itu? Apa yang akan dipikirkan orang lain nanti?


"Stasiun TV? Kerja apa?"


"Pembawa berita!"


Jawab Kaila.


Erick mengerutkan kening dan tidak mau melepaskannya, membuang muka sambil berkata, "Pekerjaan itu mungkin kurang cocok untukmu."


"Lebih tidak cocok lagi kalau bekerja di perusahaanmu, aku ada urusan, jadi cepatlah pergi!"

__ADS_1


Kaila ingin membeli beberapa perlengkapan mandi, karena akan tinggal di rumah sakit untuk sementara ini.


Kaila berjalan di depan, dan setelah memasuki lift, dia tanpa sadar merasa sedikit sesak begitu melihat pria itu mengikutinya, jadi berbalik untuk melihat ke arah lain.


Perasaan diabaikan membuat Erick merasa tidak mengerti, karena Kaila bukan orang seperti itu.


"Aku tahu masalah ibu mertua memberimu banyak tekanan, kita bisa menunda perceraian untuk sementara ini."


Erick melihat fitur wajah samping Kaila yang kurus.


Kaila tercengang, setelah beberapa saat, dia menghela nafas tanpa daya, dan dengan tenang menjawab, "Tidak perlu."


Kaila tidak akan berjalan keluar bersamanya dari lift, dan karena mengenakan sepatu olahraga, jadi dia bisa berjalan cepat, tapi begitu sampai di pintu, pria itu berdiri di seberangnya. "Mau ke mana?"


Kaila berbalik untuk menatapnya dengan teliti untuk sementara waktu.


Erick sampai merinding karena ditatap seperti itu.


Kaila tiba-tiba membuat gerakan yang mengejutkan, yaitu mencondongkan tubuh ke depan, berjinjit, dan mengangkat kepala, sehingga napas mereka berdua saling bertabrakan.


Erick mundur tanpa sadar.


"Kamu terobsesi dengan kebersihan, jadi sama sekali tidak suka dekat dengan orang lain, jangan memaksakan diri, kita sudah cerai, aku dengan tulus mendoakan kebahagiaanmu dengan Kak Amelia."


"..."


Setelah selesai berbicara, dia berjalan pergi.


Dia tidak bisa tinggal sedikit lebih lama lagi dengan pria itu, karena takut dirinya akan memohon lebih pada pria itu!


Pria itu bisa memperlakukan Kaila sebagai keluarga, tapi Kaila tidak bisa!


Yang Kaila inginkan hanyalah menjadi istri pria itu!


Tidak tahu mengapa angin bulan September sangat kuat, dan itu membuat gaun Kaila berterbangan lagi.


"Kaila kecil!"


"Kak William!"


Keduanya sedikit terkejut melihat satu sama lain, tapi William segera bertanya, "Bagaimana kabar tante?"


"Oh, lumayan."


Kaila mengangguk dan setuju dengan patuh.


William menatap Kaila, tapi begitu teringat bahwa Erick akan menceraikan Kaila, dia tidak bisa menahan diri dan merangkul bahu Kaila sambil menghibur, "Aku tahu kamu menyukai Erick sejak kecil, tapi pria yang serupa itu masih banyak di dunia ini, jangan terlalu sedih, oke?"


Kaila tidak terbiasa dirangkul, tapi mengangguk karena mengerti perhatian dari William.


"Nah memang seharusnya begitu, Kaila kecil kita terkenal pintar dan imut, tidak ada yang bisa menjatuhkanmu."


William terus menyemangati, lalu mengeluarkan ponsel.


Kaila memperhatikan William menghidupkan ponsel sambil menebak apa yang ingin dia lakukan.


"Sini minta nomormu, kamu bisa menghubungi kakakmu ini kalau butuh bantuan!"


"Oke."


Kaila tersentuh, dia mengeluarkan ponsel dan menambah nomor kontak William, kemudian memberi nomor telepon nya.


William membiarkannya pergi setelah mendapat nomor telepon, lalu menarik napas lagi. "Istirahat yang baik beberapa hari ini, kalau ada waktu kita makan bersama yang lainnya."


"Oke."


Kaila tahu itu hanya formalitas jadi setuju seperti biasa.


Setelah itu, William membawa Kaila ke rumah sakit, dan masih meletakkan tangan di bahu Kaila, sedangkan Kaila hanya tersenyum karena tak terbiasa. "Kak William, lenganku serasa mau patah."

__ADS_1


Sebelum William menyadari bahwa tindakannya tidak pantas, dia mengangkat mata dan melihat sosok yang dikenalnya, jadi tanpa sadar tertegun. "Kenapa kau ada di sini?"


"Singkirkan tanganmu!"


Erick mengerutkan kening dan berteriak!


Baru saat itulah William mengangkat tangan dari bahu Kaila, dan berdiri di samping sambil menatap mereka berdua.


Kaila juga terkejut karena pria itu belum pergi.


Pria itu sendiri yang bilang ada rapat penting yang harus dihadiri!


"Kamu tidak pergi rapat?"


"Sebentar lagi! Ambil kartu ini!"


Setelah selesai berbicara, Erick langsung menyerahkan kartu.


Kaila menatapnya dengan curiga, Erick langsung melempar kartu tersebut ke dalam tas yang dibawa Kaila dengan kesal dan pergi begitu saja.


Kaila berbalik dan melihat sosok Erick masuk ke dalam mobil komersial, baru kemudian melihat ke dalam tas setelah mobil itu pergi.


"Erick juga cukup kesulitan."


William tiba-tiba menghela nafas.


"Begitu ya?"


Kaila bertanya dengan santai, tetapi matanya tiba-tiba hampir meneteskan air mata. .


Apa yang pria itu lakukan?


Kalau tidak mencintainya dan ingin cerai, mengapa harus melakukan ini?


"Coba pikirkan, kondisi tubuh Amelia kurang baik, sedangkan kamu selalu di luar negeri, dari luar Erick memang terlihat punya Amelia sekaligus seorang istri, tapi faktanya?"


"..."


Kaila sadar kembali dan menatap William.


"Tidak ada bedanya dengan para bujangan seperti kami."


"..."


Kaila mengerti, tapi tidak percaya!


Sudah berapa tahun Erick bersama Amelia? Mana mungkin sama seperti bujangan?


——


Setelah ibunya tidur saat malam hari dan dia kembali ke kamar pengantin, dia harus mengambil kopernya dan mengembalikan kartu yang diberikan pria itu.


Tetapi dia tidak menyangka saat diam-diam memasuki rumah, pria itu sedang berbaring di sofa.


Dia selalu mengira pria itu tidur dengan Amelia, mengapa pria itu selalu ada di rumah akhir-akhir ini?


Kebetulan atau memang selalu seperti ini?


TV ada di saluran olahraga dan suaranya tidak keras.


Mata pria itu yang menonton permainan bola di TV tiba-tiba menoleh ke arah Kaila, "Kupikir kamu tidak akan pulang ke sini."


Menyadari rasa jijik dari pria itu, Kaila menjawab, "Aku mau mengambil koper, dan juga mengembalikan kartumu!"


Kaila berkata sambil meletakkan kartu di atas meja, kemudian secara tidak sengaja melihat surat pernyataan cerai di atas meja yang belum pria itu tandatangani.


"Kaila, bisa bantu aku cari obat? Aku sakit perut!"


Pria itu tiba-tiba meringkuk dan berkata dengan sedih sambil menekan perutnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2