
"Erick, bisa datang ke sini? Aku merasa sangat tidak nyaman sekarang."
"Sudah larut malam."
"Tetapi aku benar-benar tidak enak badan, seperti akan mati."
Amelia menangis.
Kaila sebenarnya tidak merasa kasihan saat mendengar suara itu, karena nada itu terdengar manja dan munafik, tapi dia tidak boleh bersuara sekarang.
"Aku akan menelepon dokter, kamu berbaring dan istirahat yang baik, oke?"
Setelah selesai berbicara, Erick menutup telepon dan menghubungi nomor dokter yang merawat Amelia.
Pria itu tahu segalanya tentang Amelia, tapi bahkan tidak ingat usia Kaila!
Apa ini tidak termasuk sarkas?
Di rumah tadi, pria itu masih menderita sakit perut yang parah, dan memintanya untuk bantu menemukan obat, tapi tidak tega memberitahu Amelia.
Dicintai dan tidak itu mendapat perlakuan yang benar-benar jauh berbeda sekali.
Sungguh ironi!
Suasana mobil akhirnya tenang kembali, Kaila merasa sudah menunda Erick untuk menemani Amelia, jadi bertanya dengan sedikit canggung, "Kalau perutmu sudah tidak sakit pergilah cari Kak Amelia, cukup tinggalkan aku di samping jalanan, lagipula taksi sering lewat di sini."
"Kami tidak tahu tentang beberapa kasus cabul larut malam di kota baru-baru ini?"
Erick bertanya balik.
"..."
Kaila benar-benar tidak tahu!
"Aku akan mencarinya setelah mengantarmu."
Erick berkata dengan kesal.
Seperti yang dikatakannya, dia mengantar Kaila ke pintu rumah sakit dan pergi begitu saja.
Kaila yang berdiri di pintu rumah sakit menghela nafas saat melihat kedua tangannya sendiri yang kosong.
Mereka sudah menikah selama tiga tahun dan hanya memiliki dua akta nikah, bahkan tidak ada cincin kawin!
Erick meninggalkan rumah sakit dengan mobil dan pergi ke Club, ketika William tiba, dia sudah minum-minum sedikit, William duduk di depannya dan berkata, "Kenapa keluar untuk minum-minum selarut ini? Kamu tidak perlu menemani Amelia?"
"Mana mungkin aku menemaninya selarut ini?"
Erick mengeluarkan suara samar dan perlahan merasakan cairan di gelas anggur.
Setelah mendengar ini, William tidak bisa menahan senyum. "Lalu siapa yang ingin kamu temani selarut ini?"
Mata Erick menjadi gelap dan tiba-tiba terdiam.
"Kaila kecil kita? Tapi seperinya kau jijik padanya, jangan-jangan ada yang lain?"
William tiba-tiba menjadi kepo.
"Jangan sentuh dia kedepannya."
Erick tiba-tiba mengatakan itu.
Bola mata William hampir melotot keluar. "Apa yang salah dengan merangkulnya? Ini hanya sejenis kasih sayang yang diberikan seorang kakak pada adiknya, kau tidak sadar dia kesepian? Kau tidak sadar dia kekurangan kasih sayang?"
"Tapi seharusnya bukan kau!"
Setelah Erick selesai berbicara, dia menyesap anggur lagi.
"Jadi siapa yang seharusnya? Kau? Kau itu suami sahnya, kau bisa memberinya kasih sayang, tapi apa kau melakukannya?"
William bertanya dengan impulsif, karena merasa yang dimaksud Erick adalah, kau tidak boleh menyentuhnya, dia bersih, sedangkan kau itu kotor!
__ADS_1
Sial, mereka itu saudara tiri yang tumbuh besar bersama!
Penyakit terobsesi dengan kebersihannya tidak merasa jijik pada wanita, melainkan jijik pada saudara tirinya sendiri?
Erick bahkan lebih kesal dan meminum sisa anggur di gelas.
"Kau tidak mencintainya, bukan hanya tidak mencintainya, tapi akan bercerai dengannya, kau itu mencintai Amelia, sama seperti dulu."
"Begitu ya?"
Erick bertanya balik.
"Memangnya bukan begitu? Selama ini hanya Amelia yang boleh menyentuhmu, coba pikirkan baik-baik, apa ada wanita lain yang menyentuhmu? Kau itu sangat terobsesi dengan kebersihan sampai serasa mau mengelupas kulitmu sendiri kalau disentuh orang lain."
William mengingatkannya.
"Tidak!"
Erick tiba-tiba teringat dengan Kaila.
"Tidak? Siapa lagi yang menyentuhmu?"
William benar-benar penasaran.
"Kaila!"
Saat menyebut nama itu, jarinya yang menyentuh gelas berhenti.
Waktu seolah berhenti juga.
"Kaila? Kau membiarkannya menyentuhmu? Kau tidak merasa jijik?"
"Dia bersih! Jadi jangan sentuh dia!"
Erick tidak lupa untuk terus mengingatkannya akan hal ini.
William ingin mengamuk, tapi pada akhirnya hanya mendengus. "Kau tidak beres."
"Kau tidak memperbolehkanku menyentuh Kaila kecil kita dan bilang dia bersih. Bagaimana kau bisa tahu kalau dia yang tiga tahun tinggal di luar negeri itu masih bersih? Apa dia akan menyimpan keperawanannya untuk seorang pria yang tidak mencintainya?"
William mengisyaratkan Erick agar tidak memikirkan segalanya dengan indah.
Erick memandangnya. "Kami itu suami istri!"
"Hanya sebatas status pajangan saja! Kalian saling bantu menyelesaikan masalah satu sama lain! Kita semua tahu itu!"
"Pernikahan kami dilindungi oleh hukum!"
"Terus?"
"Dia tidak boleh selingkuh dengan status bersuami!"
"Oh! Kalau begitu, kau boleh?"
"Tentu saja aku juga tidak boleh!"
"..."
William menghela nafas dan dengan cepat mendekatinya lagi. "Jadi maksudmu, kau tidak pernah berhubungan dengan Amelia selama ini?"
"Dia seorang pasien, mana mungkin aku boleh melakukan hal seperti itu?"
"..."
William terkejut karena mendengar jawaban itu.
Ponsel Erick berdering lagi, yang menelepon adalah Amelia, tapi tidak diangkat oleh Erick, William yang melihat ini tanpa sadar bertanya, "Kenapa tidak diangkat?"
Sudah larut malam!"
Dengan suara samar, dia mematikan daya ponsel, tapi tak lama kemudian dinyalakan kembali.
__ADS_1
"Kenapa dinyalakan lagi?"
"Kaila mungkin butuh bantuan."
"Kaila?"
William tidak tahan lagi, apa yang sebenarnya terjadi dengan orang ini?
"Kondisinya lebih sulit sekarang, ibu mertuaku, kurang baik."
"Ibu mertuamu? Kau ternyata cukup serius juga dengan status menantu pajanganmu itu, tapi tak lama lagi kau akan dibebaskan dari beban itu."
"Apa maksudmu?"
"Bukannya kalian sudah menandatangani surat pernyataan perceraian?"
"Dia memang sudah tanda tangan."
"Hm?! Apa maksudmu?"
William bingung lagi.
"Ada banyak hal yang terjadi baru-baru ini, dan aku belum tanda tangan."
"..."
Jantung William berdetak bagaikan guntur, dan merasa pria ini lebih dari sekadar orang aneh yang terobsesi dengan kebersihan, pria ini jelas gila tahap akhir!
William tidak ingin berbicara dengannya lagi dan hanya mengirim pesan kepada Kaila.
Kaila menerima pesan dari William.
"Kaila kecil, kakakmu ini mau tanya, kalau ada seorang laki-laki yang mengejarmu sekarang, apa kamu akan mempertimbangkannya?"
Kaila berkata, "Itu akan terjadi kalau sudah cerai."
William akhirnya merasa lebih baik, dan meletakkan ponsel di depan mata Erick.
Erick tanpa sadar mengerutkan kening setelah melihat itu, dia juga punya kontak Line Kaila, tapi tidak pernah dia hubungi selama ini.
"Bagaimana kau bisa dapat kontaknya?"
Erick mengambil ponselnya, melihat tanggal keduanya saling menambahkan teman, kemudian diam-diam melihat timeline Line Kaila.
Postingan terakhir Kaila adalah di bandara dengan koper yang terlihat tidak asing baginya.
"Seharusnya pulang rumah."
Apa yang dimaksud dengan seharusnya?
Erick mengembalikan ponsel William dan pergi ke rumah sakit setelah meninggalkan Club.
Sopir itu menoleh untuk melihat bosnya yang masih berdiri diam di luar rumah sakit sambil bertanya, "Tuan Dawson, Anda tidak masuk?"
"Hem."
"..."
Sopir itu ingin pulang kerja, tapi pada akhirnya hanya bisa duduk di depan, membantu bos mengangkat penutup, dan diam-diam mengirim pesan kepada pacarnya.
Erick melihat jendela rumah sakit yang gelap, dia tidak pernah merasakan debaran jantung pada orang di dalam sana, dia tidak mencintai wanita itu!
Apa ini adalah kebiasaan?
Nama wanita itu sudah tertera di sebelah namanya selama tiga tahun!
Erick terus mempertanyakan perilakunya akhir-akhir ini, tapi dengan cepat mendapatkan jawabannya.
Erick kemudian membuka kontak obrolan antara dirinya dengan wanita itu dan menemukan bahwa mereka telah menambahkan teman satu sama lain di Line selama bertahun-tahun, namun isi obrolannya masih kosong.
Saat membuka timeline di Line Kaila.
__ADS_1
Hm? Kenapa dia tidak bisa melihat apa-apa?